Masih teringat jelas di benak Mira, ketika ia berdiri menatap sosok pria yang dicintainya sejak masih remaja. Seorang pria yang berdiri di antara keramaian dengan wajah pucat dengan kesedihan yang mendalam. "Aku ikut berduka cita atas kepergian istrimu." Hanya kalimat itu yang mampu terucap dari mulut Mira. Ingin rasanya ia memeluk pria yang menjadi cinta pertamanya itu. Sebuah luka yang terlihat di wajahnya membuat Mira lebih terluka saat melihatnya.
"Terima kasih, kehadiranmu begitu berharga bagiku," jawab Zein Alexander, sosok pria yang baru saja kehilangan istrinya karena sebuah kecelakaan beruntun di jalanan menuju kantornya.
Tersirat berbagai kepedihan dalam setiap kata yang keluar dari mulutnya. Hati Mira berdesir hebat, ia tak mampu melihat orang yang dicintainya harus terluka. Bahkan wanita itu rela jika ia dapat menggantikan seluruh luka di hati Zein.
Tiga bulan berlalu. Sejak hari di mana Mira harus melihat Zein terluka begitu hebat, ia tak pernah lagi melihat lelaki yang dicintainya itu. Namun takdir berkata lain, ketika wanita itu baru saja pulang dari kampusnya tanpa sengaja Mira menolong seorang gadis kecil yang sedang terjatuh di taman. "Apa kamu terluka?" tanyanya pada seorang anak perempuan yang sangat cantik.
"Aku baik-baik saja, tetapi tidak dengan Papa," jawab anak itu dengan wajah sedih.
"Di mana papamu?" tanya Mira pada anak perempuan cantik yang terlihat begitu murung.
Mira membersihkan kaki anak itu yang menjadi kotor karena terjatuh tadi, kemudian dia menggendong gadis kecil itu penuh kasih sayang. Tak lama kemudian, datanglah seorang pria yang membawa dua buah ice cream di tangannya.
"Almira!" panggil pria itu dengan suara nyaring. Untuk sejenak jantung Mira seolah berhenti berdetak, dia terlalu terkejut mendengar suara yang sangat familiar baginya.
"Papa!" Gadis itu turun dari gendongan Mira dan berlari pada pria yang memanggilnya.
Mira membalikkan badannya untuk melihat ayah dari gadis kecil yang baru saja ditolongnya. "Zein!" Wanita itu masih tak percaya dengan apa yang ada di depan matanya.
"Mira! Bagaimana kamu bisa berada di sini?" tanya Zein dengan tatapan tidak percaya.
"Aku sudah pindah ke kampus ini. Kota di mana kita terlahir, terlalu banyak menyisakan duka yang begitu dalam. Jadi, aku memilih meninggalkan semua kenangan itu," jawab Mira dengan semua kesedihan dan lukanya yang mendalam. "Bagaimana gadis ini memiliki nama sama seperti namaku?" tanya pada pria yang masih berdiri sambil terus memandangnya.
Zein tersenyum lembut menatap Mira. Ya .... Wanita itu bernama Almira Anastasia, seorang wanita yang menjadi cinta pertama Zein. Namun sayangnya, cinta mereka terhalang oleh restu dari keluarga Zein. Mereka memutuskan berpisah setelah pria itu dijodohkan dengan seorang wanita pilihan keluarganya. Namun takdir berkata lain, mereka kembali dipertemukan dalam waktu, tempat dan kondisi yang sangat berbeda.