Hari ini genap 30 kali dalam 100 hari terakhir aku mengunjungi sebuah cafe hanya untuk memperhatikan seseorang. Ya, dia seorang gadis manis yang setiap hari berada di toko bunga seberang jalan, yang tepat berhadapan dengan cafe tempatku berada sekarang.
Aku bisa memperhatikan dengan jelas bahwa saat ini, ia sedang berfokus pada sejumlah tangkai dari berbagai jenis bunga yang sedang tertata rapi disekeliling meja kerjanya. Tangan kirinya penuh dengan segenggam bunga dari berbagai jenis, sedangkan tangan sebelah kanan memegang sebuah gunting yang ia gunakan untuk memotong tangkai dan daun. Sekarang ia sibuk memilih dan menyesuaikan komposisi warna dari bunga-bunga tersebut.
Warna Kuning, merah, ungu, putih, oranye, merah muda, semua warna bunga itu terlihat semakin cantik saat seorang bidadari cantik sepertinya berada diantara mereka. Ya, bagiku bunga itu terlihat cantik karenanya, bukan sebaliknya.
Aku mengeluarkan kamera DSLR yang berhasil aku beli dari uang tabunganku. Pandanganku mulai sibuk menyetting fitur shutter speed, ISO dan aperture dalam kamera untuk mendapatkan hasil yang jernih dan tidak blur saat dia melakukan pergerakan secara tiba-tiba.
Aku mengarahkan lensa kamera dari sebuah angle yang menurutku pas dan mulai menekan tombol potret. Ekspresi serius di wajahnya terlihat begitu mempesona, saat ia berkutat dengan bunga-bunganya. Aku masih terus sibuk memotretnya, dan tanpa kusadari ia telah melihat dan menatap jelas ke arahku seraya berkacak pinggang.
Dalam sekejap aku tersentak sekaligus merasa malu saat tatap matanya menangkap basah diriku yang terlalu fokus mengarahkan kamera padanya. Rasa malu tergambar jelas saat aku menjadi salah tingkah dan dengan tiba-tiba menyeruput sisa latte di hadapanku yang masih setengah cangkir.
"Astaga, dia melihat. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Gadis itu marah tidak ya?"
Aku sempat bingung dengan apa yang harus kulakukan. Namun aku memutuskan untuk menghampirinya dan meminta maaf saja. Bagaimanapun yang kulakukan mengambil foto seseorang tanpa izin adalah tindakan kriminal, walau tidak semua orang akan mempermasalahkan ini. Aku tak menunggu lagi, aku segera beranjak dari posisiku dan bergegas menuju toko bunga tersebut.
Kriett!
Aku membuka pintu kaca toko bunga tempatnya bekerja. Dia terlihat cuek dan tanpa ekspresi melihat kedatanganku.
"Emm, hai ...," sapaku canggung. Aku menggaruk kepala yang sebenarnya tidak terasa gatal. Ini memang sebuah respon alami tubuh saat perasan canggung dan kacau melandaku.
"Ada apa?" dia bertanya namun tetap mengacuhkan keberadaanku.
"Maaf Nona, jangan salah paham. Aku hanya memotretmu untuk mencoba kamera baruku." Lagi-lagi aku menggaruk kepalaku yang tidakk terasa gatal. Dasar aku ini memang mudah sekali canggung.
"Boleh aku lihat hasil potret amatirmu?" Kali ini ia mengulurkan tangannya seraya menatap ke arahku. Aku tak membuang waktu untuk dapat menikmati kecantikan wajahnya yang bak bidadari. Untuk sesaat tubuhku terasa mematung dan aku tak bisa menahan untuk tak berkedip.
Tiba-tiba aku tersadar dari lamunanku. Jika ia melihat isi kameraku, ia akan tau bahwa aku berbohong. 'Matilah aku,' batinku mengutuk seraya tersenyum palsu kearahnya.
"Mana, aku ingin lihat?" ucapannya terdengar sangat menekanku. Kedua matanya menatapku seolah tau bahwa aku sedang berbohong.
"Eh ... hehe ... iya-iya sebentar, Nona." Aku mengeluarkan kameraku. Dengan perasaan ragu dan tangan yang gemetar, aku memberikan kameraku padanya dan berkata, "Ini, Nona ...."
Kini kameraku telah berpindah ke tangannya. Ia seperti menikmati saat mengamati potret dirinya sendiri yang aku ambil secara diam-diam sejak 100 hari terakhir. Sesekali ia mengangkat sebelah sudut bibirnya, seakan menertawakanku.
"Nih," dia menyodorkan kamera di tangannya padaku, "Apa perbuatanmu terhitung sebagai penggemar rahasiaku?" Ia mengernyitkan dahi dan menatap lekat tepat pada kedua mataku. "Kau bukan hanya memotrekku hari ini saja kan?" lanjutnya, seraya menyelesaikan rangkaian buket bunga besar yang belum selesai ia kerjakan.
"Emm ... maafkan aku, Nona. Aku memang telah lama memotretmu. Tapi kau tenang saja, aku bukan paparazi. Aku hanya seorang mahasiswa biasa," ujarku berusaha meyakinkannya dan menunjukkan kartu mahasiswaku.
"Oke! Aku percaya padamu, lagi pula hasil jepretanmu juga tidak terlalu buruk. Untuk menebus kesalahanmu, kau harus memberikan jasa gratis kepadaku," ucapnya seraya mengikatkan sebuah pita glitter berwarna ungu pada tangkai buket.
"Jasa apa?" Aku mengerutkan kening.
"Kau bisa mengambil beberapa foto dan juga vidio saat aku merangkai buket bunga. Setelah itu kau harus membantuku mempromosikannya ke internet, atau kau bisa menyebarkannya lewat sosial mediamu," ujarnya seraya menatapku.
"Wah, jangan khawatir, Nona. Serahkan semua padaku." Aku berucap dengan penuh keyakinan, karena itu memang keahlianku. Untuk sesaat aku bisa membanggakan diri di hadapannya.
"Oke, besok kita lakukan mengambil gambar setelah toko ini tutup, kau bisa datang jam 4 sore." dia melemparkan senyum manis sebagai akhir percakapan kami siang itu.
"Baiklah, aku tidak akan terlambat." Aku mengedipkan sebelah mataku dan mengangkat jempol untuknya. Sungguh diluar dugaan, ternyata tindakanku yang mengamatinya secara diam-diam berujung pada sebuah perkenalan yang tak direncanakan. Hal ini sungguh bagus, aku bisa selangkah lebih maju untuk bisa mendekatinya.
~~
Keesokan harinya, tepat pukul tiga sore aku sudah berada di toko bunga Nona yang lupa kutanyakan siapa namanya. Aku duduk di sebuah bangku yang terdapat di pojok depan yang dekat dengan kaca jendela. Aku sengaja datang lebih awal karena ini lebih banyak mengobrol dengannya. Tapi ternyata hari ini dia terlihat lebih sibuk dari kemarin. Aku merasa sedikit bosan menunggunya menyelesaikan beberapa buket bunga pesanan pelanggan yang akan diambil nanti saat toko tutup. Aku pun mengeluarkan kamera dan mulai mengambil beberapa foto dan merekam saat itu juga.
"Kau merekamku?" Tiba-tiba ia mengalihkan pandangannya padaku dan menghentikan gerak cepat jari lentiknya saat merangkai bunga.
"Emm, ya. Aku pikir ini lumayan untuk menjadi sebuah vidio koleksi saat promosi nanti," ucapku berusaha meyakinkannya.
"Baiklah kalau begitu tunggu dulu." Ia membuka ikatan rambutnya, dan membiarkannya tergerai. Aku tak bisa berbohong, melihat perempuan mengibaskan rambutnya didepanku aku menelan ludah karna terpesona oleh kecantikannya. Ia merapikan bagian depan rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan. Kemudian tatapannya mengarah padaku dan berkata "Apa penampilanku sudah oke?"
"Emm, eh, iya-iya Oke. Kau selalu terlihat cantik Nona." Kata-kataku menjadi gugup seketika saat ia berhasil menyadarkan lamunanku. "Apa kau mau aku merekamnya dari awal?" tanyaku.
"Tentu ...." Ia tersenyum manis menyetujui saranku.
Aku mulai fokus mengecek ulang setting kameraku. Setelah semua sesuai dengan yang ku inginkan, aku segera menyiapkan Tripod sebagai penopang kamera agar tetap stabil. Tak lupa sebuah lampu portable aku bawa sebagai pendukung cahaya dalam ruangan, supaya tak perlu menaikkan ISO kamera terlalu besar yang akan menyebabkan noise sangat terasa jelas, dan bahkan akan memunculkan bintik-bintik yang dapat menenuhi seantero layar. Jika seperti itu rekamanku akan terkesan sangat tidak profesional.
Aku melakukan semua persiapan dengan begitu matang, karna aku ingin menunjukkan skillku pada gadis cantik di hadapanku ini, dan aku juga ingin menyenangkannya.
"3, 2, 1 ...." aku menghitung mundur untuk memberinya aba-aba.
Ia mulai memilih satu persatu tangkai bunga yang tersedia di samping meja kerjanya. Pertama ia mengambil 2 tangkai Bunga lili berwarna peach. Lalu diselingkan dengan beberapa tangkai mawar berwarna pink yang telah bersih dari daun dan duri. Tak puas hanya dengan menggabungkan 2 jenis bunga, ia kembali mengambil sejumlah tangkai bunga Gerbera kuning dengan 2 tangkai bunga Carnation berwarna baby pink. Karena terlalu monoton, ia meraih sebuah daun ruskus dan leather leaf yang berada di sebuah wadah kaca berisi air, untuk dijadikan sebagai pelengkap buket bunga yang baru setengah jadi. Menurutnya warna-warni bunga tak akan indah tanpa sentuhan warna hijau daun yang segar. Terakhir, ia menambahkan bunga favoritnya, yaitu bunga baby breath putih. Hampir seluruh bagian depan buket dukelilingi oleh bunga super mungil itu yang semakin membuat tampilan buket menjadi sangat manis. Kemudia ia mengambil tali kecil untuk menyatukan semua tangkai bunga.
Sebagai seorang florist ia harus paham cara untuk membuat bunga tetap segar sepanjang hari. Ia pun meraih sebuah kapas basah dan meletakkannya pada sebuah plastik bening, kemudian menempelkannya pada ujung batang dari bunga-bunga tersebut.
Terakhir, inilah yang paling berpengaruh bagi seorang florist, yaitu mengkreasikan bentuk wrapping buket. Dia memilih kertas Cellophane putih transparan yang miliki Gold Line di keempat sisinya. Tangannya begitu lihai melipat kertas-kertas cantik itu, sehingga membentuk sebuah pembungkus buket yang begitu cantik, elegan namun tidak berlebihan.
Satu hal lagi yang tak boleh dilupakan oleh seorang Florist, yaitu mengikatkan pita yang membentuk dasi kupu-kupu pada bagian depan buket supaya semakin terlihat menarik.
"Okeee ... god job Nona. Bagus sekali." Aku tersenyum ke arahnya yang terlihat begitu puas, setelah melakukan pengambilan vidio untuk konten promosi.
"Terimakasih Brian. Emm, aku mengingat namamu saat kau memperlihatkan kartu mahasiswa milikmu kemarin. Tapi aku malah lupa memperkenalkan diriku." Ia tersenyum malu sembari menjajarkan beberapa buket bunga yang akan dipotret, ia lantas mengulurkan tangannga dan memperkenalkan dirinya padaku. "Brian, aku Cecil. Kau bisa memanggilku Kak Cecil karna usia kita terpaut 2 tahun. Kebetulan aku mengingat tahun lahirmu juga. kau berusia 24 tahun kan?"
"Jika aku tak ingin memanggilmu kakak bagaimana?" Aku menolak karna sebuah alasan yang tak ingin aku ungkapkan sekarang.
"Kenapa?"
"Ayolah, kau tak terlihat seperti berumur 26 tahun. Kau terlihat seperti seusiaku. Apalagi jarak usia kita hanya terpaut 2 tahun, tidak terlalu jauh. Jika aku memanggilmu kakak, bukankan mereka malah akan mengira aku lebih cepat tua darimu, Cecil ?" ujarku berusaha menggodanya. Ia pun tertawa lepas mendengar perkataanku. Melihat tawanya, aku tak bisa mengendalikan diri untuk turut serta dalam rasa bahagianya.
Aku tak bisa menggambarkan betapa senangnya perasaanku saat ini, ketika aku bisa membuat bidadari di hadapanku tertawa riang. Bahkan ini adalah kali pertama aku melihatnya se-senang ini selama pengintaian rahasiaku.
Hari yang sungguh istimewa, bahkan hari ini dia mengijinkanku untuk mengantarnya pulang. Dengan begitu aku bisa berkunjung kerumahnya lain waktu. Apalagi dia hanya seorang diri disini.
~~
Tak terasa hari-hari berlalu begitu saja dan tanpa terasa sudah 2 bulan berlalu sejak perkenalanku dengannya. Sosok Cecil yang awalnya begitu dingin, ternyata juga memiliki sisi lembut dan periang. Keceriaannya mampu membuatku mendadak merasa kesepian, jika sehari saja tak mendengar suaranya. Hari ini aku bersiap-siap mengunjungi toko bunga miliknya dan akan menyatakan perasaanku padanya.
Jeans hitam, kaos putih polos berpadu jaket denim biru telah menempel di tubuhku. Aku berdiri di sebuah cermin besar yang dapat memperlihatkan seluruh badanku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku tak peduli seberapa lama aku bercermin, yang terpenting saat ini adalah aku harus terlihat mempesona di hadapannya, namun tidak terlalu berlebihan juga. Setelah kurasa cukup puas berdiri di depan cermin, aku mengambil sneakers putih yang baru ku cuci kemarin dan memakainya. Tak lupa juga aku segera merogoh jam tangan kesayanganku yang ku letakkan dalam lemari.
Aku melajukan mobilku dengan kecepatan sedang untuk menuju toko bunga miliknya. Dalam hatiku, aku cukup merasa gugup membayangkan bagaimana sikap Cecil nanti setelah mendengar pengakuanku.
Setelah sampai di depan toko miliknya, papan putih kecil bertuliskan kata 'Close' masih menggantung di ganggang pintu bagian dalam. Aku mencoba turun, mungkin saja ia di dalam dan belum sempat mengubah papan itu. Aku mencoba mendorong pintu kaca toko, namun terkunci.
"Kenapa tokonya belum buka? Padahal ini sudah jam 9 pagi. Seharusnya toko ini sudah buka sejak satu setengah jam yang lalu." tanyaku kebingungan.
Aku mengambil ponsel dan mencoba menghubunginya, namun selalu saja gagal.
'Ada apa ini? Kenapa Cecil tidak bisa dihubungi? Apa jangan-jangan dia sakit?' batinku.
Aku segera bergegas memasuki mobil dan menuju rumah Cecil. Untung saja waktu itu aku mengantarnya pulang. Jika tidak aku tak tau lagi harus mencarinya kemana hari ini.
Aku sampai di depan rumah Cecil. Aku mengetuk pintu namun tak ada jawaban darinya. Aku mencoba menghubungi ponselnya, namun tetap saja gagal. Aku kembali mengetuk pintu rumahnya tetap saja usahaku nihil, tak ada jawaban apapun. Aku mencoba membuka pintunya, mungkin saja tidak dikunci, pikirku.
Kriet ....
Ternyata pintu rumahnya memang tak dikunci. Berarti Cecil memang berada di dalam rumahnya saat ini.
"Cecil ... Cecil ...." aku terpaksa bertindak tidak sopan dengan memasuki rumah Cecil tanpa sepengetahuannya. Namun semua itu karna aku khawatir.
"Cecil, apa kau berada di dalam?" Aku berjalan memeriksa seluruh ruangan. Mulai dari ruang tamu, ruang tengah hingga ruang kamarnya yang seharusnya tak boleh aku masuki.
"Cecil, kau dimana ?" Aku terus berjalan semakin memasuki area belakang dalam rumahnya.
Tik ... tik ... tik ...
Saat semakin memasuki bagian belakang rumahnya, aku tak sengaja mendengar suara keran air yang menetes. Aku mengikuti arah sumber suara tersebut yang tak lain berasal dari sebuah kamar mandi dengan pintu yang tertutup rapat.
Tok tok tok ...
"Cecil apa kau di dalam?" Aku mencoba mengetuk pintu namun tak ada jawaban, "Cecil kau mendengarku? Apa kau di dalam?" Berkali-kali aku mencoba memanggilnya, namun tetap tak ada jawaban. Akupun memberanikan diri membuka pintu kamar mandi yang ternyata juga tidak terkunci, aku membukanya dengan sangat perlahan.
Kriet ....
Dengan ragu, aku memberanikan diri mengangkat wajahku dan melihat keadaan dalam kamar mandi yang tak terkunci. Saat itulah pandanganku terbelalak seketika, saat menyaksikan Cecil tak sadarkan diri dalam bathup yang penuh dengan genangan air berwarna merah.
"CECIIILLL ...." aku berlari menghampiri gadis itu, berharap ia akan baik-baik saja.
Aku segera mengangkat tubuhnya dari dalam bathtub dan menepuk-nepuk pipinya. Aku sangat panik saat Cecil tak merespon sedikitpun. Dan betapa terkejutnya aku, saat melihat pergelangan tangan kirinya yang tergores dan terus mengeluarkan darah segar.
"Oh Tuhan. Cecil, apa yang kau lakukan?" Aku tak bisa membendung bulir-bulir air mataku untuk jatuh. Aku sangat takut jika melihat wanita yang ku cintai akan mati di hadapanku.
"Cecil bertahan ya. Kau akan baik-baik saja." Aku segera mengangkat tubuh dingin Cecil dan berlari menuju mobil. Aku membaringkan tubuh Cecil di kursi belakang mobil.
Aku segera memacu kendaraanku dengan cepat. Berharap aku tak akan kehilangan 1 detik pun waktu berharga untuk menyelamatkannya. Sesekali aku menoleh kearahnya yang terbaring tak berdaya dengan wajah pucat. Aku semakin tak bisa membendung genangan air mataku saat memikirkan keadaan Cecil saat ini.
Begitu sampai di halaman rumah sakit, aku membuka pintu mobil dan terburu-buru untuk turun. Dengan segera aku menganggkat tubuh Cecil yang kian pucat karena kehilangan banyak darah. Aku berlari menuju ruang rumah sakit, dan tak mempedulikan sekitarku.
"Ada apa ini?" Tiba-tiba seorang perawat wanita menghampiriku dengan tergesa-gesa.
"Tolong teman saya suster, dia bunuh diri dan kehilangan banyak darah," jawabku seraya tak henti berlari karena merasa bingung.
Perawat itu kemudian berlari memanggil perawat yang lain dan mereka datang dengan mendorong bad emergency rumah sakit. Aku segera meletakkan tubuh Cecil di atasnya, dan mengikuti para perawat yang membawa Cecil.
"Tolong tunggu diluar mas, biarkan dokter dan kami yang menangani pasien." Perawat itu segera menutup pintu dan memintaku untuk menunggu diluar.
Tak lama kemudian seorang dokter wanita paruh baya datang bersama seorang perawat laki-laki memasuki ruangan tempat Cecil berada.
Aku menunggu seorang diri di luar ruang UGD. Aku tak bisa menahan langkah kakiku untuk berjalan kesana-kemari sembari menunggu dokter keluar memberi informasi. Setelah hampir 30 menit dokter keluar dari dalam ruangan dan aku pun segera menghampirinya.
"Dok, bagaimana keadaan teman saya?" tanyaku penuh cemas.
"Pasien mengalami kehilangan banyak darah dan sangat membahayakan nyawanya, terlebih dia sedang hamil saat ini. Tapi kami masih mengecek ketersediaan darah yang cocok dengan darah pasien."
Deg !!!
"Hamil?" Satu kata yang membuatku merasa seakan tersambar petir. Kepalaku terasa pusing ditambah lagi dengan hati yang terasa begitu sakit.
"Dok, rumah sakit kehabisan stok transfusi golongan darah yang sama dengan darah pasien." Tiba-tiba seorang perawat datang dengan raut wajah yang panik.
"Apa golongan darahnya?" tanyaku.
"Golongan AB," jawab perawat itu.
"Dokter, golongan darah saya AB. Tolong ambil darah saya untuk menyelamatkan dia, Dok !" Pintaku memohon pada dokter.
"Baiklah. Suster segera lakukan pemeriksaan dan jika sesuai dengan darah yang dibutuhkan segera lakukan transfusi."
"Baik, Dok," ujar perawat itu. Kemudian ia mengajakku untuk melakukan pemeriksaan sebelum melakukan transfusi darah. Aku hanya berharap darahku bisa menyelamatkan hidup Cecil dan juga janin di rahimnya
~~
Cecil berhasil melewati masa kritisnya dan sadar setelah melakukan transfusi darah dariku. Ia tak banyak bicara bahkan dirinya sekarang tak seperti Cecil yang aku kenal dulu yang sangat periang, walau terkadang dia memang terkesan dingin.
"Cecil, makan dulu ya. Dari kemarin kamu hanya makan tak lebih dari sesendok bubur saja." Aku berusaha membujuknya, namun ia tetap tak merespon ucapanku.
Dia hanya terdiam dengan tatapan seperti sedang memikirkan hal yang berat. Aku ingin sekali bertanya tentang janin yang dikandungnya, namun ini bukanlah waktu yang tepat untuk bertanya.
Keesokan harinya aku membawa Cecil berkeliling area rumah sakit dengan menggunakan kursi roda. Aku berharap dia bisa lebih tenang. Kulihat sebuah bunga mawar cantik yang mulai merekah dan membawa Cecil untuk mendekati bunga tersebut.
"Cecil, lihat bunga-bunga itu. Aku rindu saat melihatmu sibuk merangkai bunga di toko. Saat kau sembuh nanti, aku akan mengambil lebih banyak vidio lagi untuk dirimu." Aku berjongkok di hadapannya seraya menampakkan senyum ceria di wajahku.
"Brian ... hiks ... hiks ...." Tiba-tiba ia menitikkan air matanya dan memeluk tubuhku. Bisa kurasakan pelukannya yang begitu erat dan emosional menggambarkan kegundahan hatinya saat ini.
"Cecil, tenanglah. Aku disini. Aku tak pernah meninggalkanmu. Kau bisa katakan semuanya padaku jika kau mau," ujarku seraya membelai rambut halusnya.
"Brian, aku hamil. Hiks ... hiks ...." ucapnya dengan isak tangis yang semakin menjadi.
"Iya, aku tau. Setelah kau pulih aku akan membantumu mencari tau siapa ayah dari janin di kandunganmu." Sejujurnya aku merasa hancur akan ucapanku sendiri.
"Tidak Brian, dia tidak akan bisa. Dia meninggalkanku, Brian. Dia tidak berdaya. Aku bagaimana harus merawat bayiku seorang diri?"
"Jadi kau tau siapa ayah dari janin yang kau kandung ini?"
"Ya, dia kekasihku. Tapi sekarang dia dijodohkan oleh orang tuanya, dan tidak ada kabar sejak satu bulan lalu. Padahal aku ingin memberi tahunya bahwa aku hamil."
Aku terkejut saat Cecil mengatakan memiliki kekasih, karena selama ini ia tak pernah menceritakan apapun padaku.
"Sekarang aku harus bagaimana, Brian? Apa aku harus mengaborsi bayi ini?" Cecil mengusap perutnya dan mencengkram kain baju pasien yang ia kenakan.
"Jangan, Cecil ... jangan! Dia tidak berdosa. Biar aku yang akan bertanggung jawab. Aku akan menjadi ayah sambung untuknya. Aku tak akan membiarkanmu merawatnya seorang diri." Aku berani bersedia menikahinya, meskipun rasa sakit itu tergambar jelas di hatiku.
"Brian ... mengapa kau melakukan ini?" tanya Cecil padaku.
"Karena dari awal aku telah menyukaimu, Cecil!" aku mencoba jujur padanya tentang perasaanku. Mungkin inilah saat yang tepat untuk dia mengetahui yang sebenarnya.
"Brian ...." ia tak mampu berkata-kata lagi dan kembali memelukku yang masih berjongkok di hadapannya.
Aku tau Cecil, saat ini kau bukan bahagia karena kau juga tulus mencintaiku. Tapi kebahagiaanmu itu karena pada akhirnya kau merasa lega saat mengetahui bahwa kau masih memiliki tempat berpulang walau itu tak sesuai keinginanmu. Tapi apapun itu Cecil, aku tetap ingin menjagamu. Sekalipun aku harus turut berjuang demi buah cintamu dengan laki-laki lain.
~~
Telah sebulan berlalu, Kini keadaan Cecil semakin membaik. Begitupun dengan kondisi kandungannya yang turut membaik juga. Setiap dua minggu sekali aku mengantarnya chek-up kerumah sakit, untuk mengetahui kondisi ibu dan calon bayi di perutnya.
Kini usia kandungan Cecil memasuki bulan ke-3. Aku menyarankannya untuk banyak beristirahat dan tidak menjaga toko sampai proses persalinan nanti. Tapi ia terus merengek dan berjanji hanya membuka toko sampai jam 12 siang. Ia terus berdalih bahwa sangat membosankan tak melakukan apa-apa dirumah sendirian.
Akhirnya aku tak bisa menolak untuk mengatakan 'Ya' pada permintaannya. Aku benar-benar merasakan posisi seorang calon ayah, meskipun saat ini kami belum menikah.
Aku mengunjungi toko dan bertemu Cecil untuk berpamitan padanya, karena aku harus melakukan pelatihan di luar kota selama 2 bulan.
"Cecil, jaga dirimu baik-baik. Aku akan pergi selama 2 bulan untuk pelatihan. Setelah masa pelatihanku selesai, aku berjanji akan segera menikahimu begitu aku kembali," Ujarku seraya membelai lembut rambut panjangnya.
"Iya Brian. Jangan Khawatir, aku akan baik-baik saja," ucapnya lembut.
"Anak baik, jangan menyusahkan mamamu ya," ujarku seraya mengelus perut Cecil yang mulai membuncit. Aku dan Cecil tertawa bersama.
"Brian jangan lupa untuk menghubungi aku jika kau sampai," ujarnya dengan nada cemas dan seketika langsung memelukku.
Aku membalas pelukannya dan berkata, "Pasti, aku tidak akan lupa untuk selalu menghubungimu." Aku mengecup keningnya untuk waktu yang cukup lama. Kemudian melangkah keluar toko meninggalkannya. Sesekali aku menoleh kebelakang, ia melambaikan tangan kearahku dan tersenyum manis mengantar kepergianku.
'Cecil, tunggu aku 2 bulan lagi," batinku, seraya melajukan mobil untuk meninggalkan kota ini.
~~
#2 minggu kemudian
"Halo, Cecil. Bagaimana keadaanmu? Apakah kandunganmu juga sehat?" sapaku pada wanita yang sangat aku rindukan.
"Hallo, Brian. Aku dan janin dalam kandunganku, kami berdua baik-baik saja. Bagaimana denganmu? Bagaimana pelatihanmu? Apa kau makan dengan teratur?" dia mencecar pertanyaan padaku seolah kami dikejar waktu.
"Cecil, satu-satu dong. Aku baik-baik saja kok, dan masa pelatihanku juga berjalan lancar. Oh ya, kau bertanya apa aku makan dengan teratur? Aku selalu makan dengan teratur dan tepat waktu. Kau juga harus makan dengan teratur dan tepat waktu juga ya. Dan satu lagi, jangan makan sembarangan bidadari cantik," ujarku seraya menggodanya.
"Iya-iya aku Ingat. Setiap hari kau tak pernah lupa mengatakannya padaku," ucapnya yang terdengar lembut dari dalam telpon.
"Cecil, satu setengah bulan lagi. Kita akan segera menikah begitu aku kembali."
"Iya, Brian."
Kami pun mengakhiri pembicaraan dalam telepon yang rutin dilakukan, sebelum aku berangkat ke tempat training. Semua berjalan lancar dan dia baik-baik saja, membuatku merasa tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang Cecil.
#1 bulan kemudian
"Halo.. Cecil, Bagaimana keadaanmu?" tanyaku dari seberang telpon
"Brian, aku baik-baik saja. Brian aku akan menutup teleponnya dulu ya. Ada sesuatu yang harus ku kerjakan." Nada bicaranya terdengar sangat terburu-buru.
"Cecil, jangan terlalu lel ...."
Tutt.. tutt.. tutt..
Sambungan telepon kami terputus saat aku belum menyelesaikan kalimatku. Akhir-akhir ini Cecil seperti selalu ingin mengakhiri permbicaraan kami lewat telpon. Bahkan saat aku bertanya, ia selalu memberiku alasan yang tak masuk akal.
'Tak apa Brian, 1 bulan lagi. Hanya tersisa 1 bulan lagi,' batinku yang mencoba menenangkan diri sendiri.
#2 bulan kemudian
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif." Begitulah suara operator yang selalu menyapaku ketika menghubungi Cecil.
Sudah beberapa kali dalam sehari aku mencoba menghubunginya namun tak berhasil. Bahkan hampir seminggu ia tak mengaktifkan ponselnya.
Padahal hari ini aku ingin memberitahunya bahwa besok aku akan kembali, sekaligus mengambil job pertamaku. Sebagai fotografer profesional aku mendapat sebuah tawaran dari WO yang menginginkan diriku untuk menjadi fotografer kontrak mereka.
"Cecil, apa yang kau lakukan sekarang? Aku akan memberimu kejutan setelah aku menyelesaikan pekerjaanku besok," ucapku lirih seraya menatap fokus pada citra kamera yang memperlihatkan potret manis Cecil.
#Keesokan harinya
Aku langsung bergegas menuju kartor WO yang menghubungiku tanpa kembali ke rumah terlebih dahulu. Disana aku disambut baik oleh mereka dan kami menuju lokasi klien bersama dengan partner yang lain.
Sesampainya di tempat acara, aku terkesima dengan gedung megah ini. Aku ingin menikahi Cecil di gedung ini juga, pikirku.
Aku mencoba menghubungi Cecil sekali lagi, "Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif." Lagi-lagi panggilanku hanya terjawab oleh suara sistem operator, membuatku menghela nafas panjang.
"Hay, all. Ayo berkumpul sebentar." Tiba-tiba kepala tim memanggil kami semua. Aku dan yang lainnya segera berkumpul dan kembali mendapat arahan.
Beberapa jam kemudian, aku berdiri di salah satu sudut yang berada dalam gedung sesuai dengan arahan kepala tim. Aku mulai fokus mengambil rekaman para tamu yang datang.
Tak lama kemudian tampak dari jauh sang mempelai pria datang dengan setelan jas berwarna hitam. Ia diiringi oleh beberapa groomsmen dengan setelan tuxido berwarna senada.
Ia berjalan memasuki ruangan dan berdiri tepat di tengah para tamu undangan, di area karpet merah yang memang disediakan khusus untuk tempat mempelai berjalan. Pria tampan itu tampak tersenyum ke arah luar pintu dan aku segera mengerti bahwa sang mempelai perempuan tengah menuju ruangan.
Aku telah bersiap mengarahkan kameraku tepat di depan pintu. Saat mempelai itu semakin mendekat, netraku tak kuasa untuk segera melebar.
"Cecil?"
Aku tak percaya pada apa yang kulihat. namun dia masih belum menyadari keberadaanku. Dia semakin berjalan mendekat masuk ke dalam ruangan, dan aku semakin tak percaya dibuatnya.
Langkah kakiku mundur secara refleks, hingga bagian belakang tubuhku tak sengaja membentur kursi tamu yang kosong, hingga aku pun terjatuh di hadapan para tamu undangan, juga dihadapan Cecil dan pria yang menjadi suaminya.
Semua orang saat itu sedang menatap ke arahku, begitupun Cecil yang membelalakkan matanya saat berhasil menyadari bahwa akulah pria malang yang terjatuh tadi.
Cecil menatap lama ke arahku, sebelum akhirnya ia melangkah maju mendekati sang mempelai pria yang menunggunya untuk menaiki tangga pelaminan.
Dalam posisiku yang masih terduduk jatuh, aku tak bisa menahan linangan air mata. Namun segera ku seka bulir-bulirnya yang mengalir membasahi pipiku.
Aku berjalan di karpet merah menuju hadapan kedua mempelai untuk mengabadikan moment berharga mereka. Aku berusaha menguatkan hatiku yang terasa teramat sakit, untuk tetap melanjutkan tanggung jawab ini.
3 jam berlalu dengan sangat menyakitkan bagiku. Semua rasa sakit ini tak akan berhenti sampai disini saja. Aku masih memiliki tugas untuk mengedit dan mencetak foto mereka, dimana yang seharusnya menjadi mempelai dalam potret itu adalah Aku. Namun justru malah aku yang memotret Cecil dengan mempelai pria lain.
Setelah selesai, aku bergegas merapikan segala perlengkapan dan ingin segera lekas pergi dari tempat ini.
"Brian ...." Tiba-tiba suara yang begitu familiar terdengar pelan memanggil di sebelahku.
"Cecil, apa yang kau lakukan disini?" Aku merasa terkejut saat Cecil berani menghampiriku bahkan di depan laki-laki yang kini menjadi suaminya. Namun saat ini laki-laki itu tak menperhatikan Cecil yang menghampiriku dan asik bercengkrama dengan salah seorang tamu, yang mungkin adalan temannya.
"Brian, dia ayah dari anakku. Dia kembali setelah satu bulan kau meninggalkan kota ini. Dia berhasil meyakinkan kedua orantuanya, dan membatalkan perjodohan mereka," ucap Cecil dengan suara pelan.
"Ya, tidakpapa. Setidaknya aku tak pernah meninggalkanmu saat kau terpuruk," ucapku seraya mencoba tetap bersabar.
"Brian, bagaimanapun anak ini berhak mendapat kasih sayang ayahnya. Kau laki-laki yang baik Brian, kau juga lebih baik menggunakan waktumu kelak untuk membahagiakan buah hati dan istrimu. Kau layak mendapatkan wanita yang baik, bukan wanita kotor sepertiku. Brian sekali lagi maafkan aku," ucap Cecil dengan nada memohon.
"Sayang, ada apa?" tiba-tiba suami Cecil mengagetkan kami.
"Tidak papa, dia adalah fotografer yang terjatuh tadi. Karna aku merasa kasihan, jadi aku menghampirinya dan menawarkannya untuk pergi ke rumah sakit." Cecil berdalih pada suaminya dan tak mengakui bahwa ia mengenalku.
"Oh ya, kami bisa mengantarmu ke rumah sakit nanti setelah acara selesai," ujar laki-laki itu yang mempercayai ucapan Cecil.
"Terimakasih Nona, Tuan, tidak perlu repot. Yang terjadi tadi hanya insiden kecil saja. Saya telah mengalami insiden yang jauh lebih menyakitkan dari pada saat terjatuh tadi. Saya permisi." Aku mengambil segala perlengkapan kerjaku dan mengambil langkah besar meninggalkan mereka.
Aku memang laki-laki payah, sangat payah, bahkan aku sendiri tak bisa menahan air mataku sebelum meninggalkan gedung ini. Gedung megah yang baru saja aku impikan sebagai tempat mengikat janji. Ternyata justru disinilah impianku menjadi pupus seketika.
Hatiku berkecamuk saat melangkah keluar dari ruangan ini. Tuhan ternyata mentakdirkanku menjagamu hanya untuk orang lain. Segala pengorbananku yang telah lalu, hanya untuk mengisi ruang kosong yang telah Tuhan persiapkan untuk orang lain.
Cecil, seandainya laki-laki di sampingmu sekarang adalah aku, pasti akulah yang tersenyun paling bahagia di dunia ini. Seandainya itu aku ...
Selamat menempuh hidup baru Cecil, semoga kau selalu bahagia.
-TAMAT-