Beberapa hari lagi moment Valentin akan datang. Damar sudah membuat rencana untuk kekasihnya Febri yang kebetulan lahir pada tanggal yang sama yaitu empat belas Februari.
"Aku harus membuat kejutan untuknya, dan harus berbeda dari tahun kemarin!" Begitu tekad Damar dalam hati.
Seharian ini Damar sudah berkeliling toko perhiasan untuk mencari kalung dengan bandul hati seperti yang di impikan Febri.
"Suatu hari aku ingin punya kalung berbandul bentuk hati seperti yang ada di majalah ini!" Begitulah waktu itu Febri menunjukkan gambar sebuah kalung dengan bandul hati di suatu majalah tenar pada Damar.
"Kemana mencari kalung seperti pada gambar itu ya?" Keluh Damar sambil memijit keningnya di suatu pojokan deretan ruko.
Tiba-tiba penglihatan Damar tertuju pada sebuah toko yang terpisah dari bangunan ruko yang tadi dia datangi. Toko kecil dengan arsitektur unik dan di depannya bertuliskan TOKO PERHIASAN ANTIK.
Damar tersenyum dan melangkah menuju toko tersebut.
"Permisi... Ada orang?" Damar menyapa begitu masuk ke toko karena di dalam terlihat sepi tanpa ada penjaga.
"Hai pemuda, sedang mencari apa dirimu kemari?" Tanya seorang ibu-ibu setengah tua yang masih terlihat cantik.
"Sa... saya mencari kalung berbandul hati yang unik!" Damar mengutarakan maksudnya dengan gugup karena rasa terkejutnya tadi.
"Kamu datang ke toko yang tepat." Wanita itu berkata dengan tersenyum namun terlihat sedikit aneh di mata Damar.
"Ah, mungkin hanya perasaanku saja!" Tepis Damar tentang apa yang dia pikirkan saat ini.
Akhirnya Damar diberi pilihan dua kalung yang sama-sama bagusnya sesuai dengan yang dia cari.
"Hati-hati saat memakainya untuk pertama kali. Tidak boleh ada bunga mawar merah yang dilihat oleh kekasihmu sampi batas waktu lima menit!" Begitu pesan sang penjual. Aneh?
"Baiklah." Damar hanya menjawab enteng dan berlalu sambil tersenyum karena mendapat apa yang dia cari.
***
"Nanti malam aku jemput ya!" Pesan wa Damar terbaca oleh Febri.
"Ok!" Balas Febri singkat.
Febri pun mempersiapkan dirinya sedari sore karena dia sudah menebak jika akan ada kejutan di malam valentin yang bertepatan dengan tanggal lahirnya.
"Damar selalu romantis setiap moment ini, aku yakin kali ini dia pasti memberikan kejutan yang luar biasa!" Febri berkata senang di dalam hati.
Febri bersyukur selama hampir tiga tahun menjalin kasih dengan Febri tidak ada pertengkaran yang serius terjadi di antara mereka berdua.
"Semoga kami berjodoh dan langgeng!" Doa Febri di dalam hati dengan tersenyum membayangkan masa depannya bersama Damar.
***
"Kamu sudah siap?" Tanya damar begitu datang menjemput dan mendapati Febri sudah ada diteras depan rumah sambil tersenyum menyambut dirinya.
"Sudah sayang, aku sudah siap!" Jawab Febri dengan wajah cerah.
"Pamit mama?" Tanya Damar mengingatkan.
"Mama sedang pergi bersama papa tadi, baru setengah jam lalu!" Jawab Febri memberi tahu.
Akhirnya mereka berdua pergi ke tempat biasa yang mereka datangi. Sebuah cafe di mana untuk pertama kalinya mereka bertemu juga waktu itu.
***
Suasana cafe di malam Valentine terlihat berbeda. Lampu warna-warni berpendar berganti-ganti warna, menambah kesan romantis bersama alunan musik yang mengalun dari panggung di depan sana.
Aroma terapi yang di sajikan pun menambah suasana larut seperti berada pada waktu dan tempat yang berbeda. Sungguh ini malam yang membahagiakan bagi para pasangan yang datang merayakan moment Valentin mereka.
Damar dan Febri duduk diseretan pinggir depan panggung. Dengan begini mereka bisa mendapatkan view bagus untuk suasana romantis karena alunan musik yang terdengar dengan jelas.
Sebelum pesanan datang Damar mengajak Febri untuk berdansa terlebih dahulu.
Febri pun menyetujui dengan ajakan kekasihnya itu.
Mereka berdua larut dalam alunan musik yang dimainkan oleh orkestra diatas panggung.
Saat ditengah-tengah kegiatan dansa mereka, Damar meminta kekasihnya untuk menutup matanya sebentar.
"Coba kamu pejamkan mata sebentar." Kata Damar di dekat telingga Febri.
"kenapa?" Tanya Febri pura-pura bertanya, padahal dia sudah menebak sesuatu.
"Pokoknya tutup mata dulu!" Punya Damar sekali lagi.
"Ok..." Jawab Febri mengalah sambil tersenyum manis.
Damar mengeluarkan kotak merah dan dibukanya untuk mengeluarkan kalung hati yang sudah dia persiapan sedari kemarin. Dia tidak memperhatikan sekitar dan dia juga lupa dengan pesan yang diberikan oleh wanita penjaga toko perhiasan.
Dengan tersenyum penuh kebahagian Damar memasangkan kalung tersebut ke leher kekasihnya.
"Semoga kamu suka!" Bisik Damar ditelinga Febri dari arah belakang.
"Bukalah matamu, dan lihatlah hadiah spesial ini!" Kata Damar memberikan aba-aba.
Dia tidak tahu jika Febri yang membuka matanya sudah bukan Febri lagi.
"Tentu aku sangat suka!" Seru sebuah suara dari mulut Febri.
Damar terperanjat dan segera membalikkan badan kekasihnya, tapi ternyata dia bukan lagi Febri yang dia kenal.
"Kamu sudah membangkitkan aku anak muda, dan kamu harus mati!" Teriak suara tersebut dengan tangan yang terangkat bersiap untuk mencekik leher Damar.
"Siapa kamu? Dimana Febri?" Teriak Damar lantang meskipun dia sangat ketakutan.
Febri sudah berubah dengan wajah yang sangat mengerikan. Lehernya terlilit kalung yang tadi Damar pasangkan. Darah pun meleleh, merembes dari leher tersebut.
"Aku penghuni bandul hati kalung ini, dan mawar merah telah membebaskan aku!" Kata suara tersebut dengan nada yang sangat mengerikan.
Hihihi....
"Kamu harus mati agar aku tetap bebas!"
Damar pun melihat sekeliling, semua orang yang ada di cafe tersebut melihatnya aneh. Entah kenapa mereka tidak ada yang berusaha membantu Damar.
Damar akhirnya teringat dengan pesan sang penjual kalung. Bunga mawar!
Ya bunga itulah yang membuat semua ini terjadi. Damar pun berlari ke sembarang arah untuk membuang mawar yang ternyata tertata rapi di sisi kanan kiri panggung.
Dia tidak peduli dengan tangannya yang perih karena tertusuk sisa-sisa dari duri yang dibersihkan tapi tidak semuanya rapi.
Sosok wanita yang ada di dalam tubuh Febri pun mengejarnya sehingga Damar harus berlari menghindar. Dia pun jatuh bangun untuk mengejar waktu karena lima menit dari batas pemakaian saat melihat mawar hampir habis.
"Damar... Damar!" Panggilan suara seseorang membangunkan Damar dari tidurnya.
"Hah... aku di mana?" Tanya Damar kebingungan. Dia melihat sekeliling dan ternyata dia masih ada di musolla tempatnya bekerja.
Damar bernafas dengan lega. Dia ingat jika istirahat tadi pergi makan siang dan langsung menuju musolla tapi tidak untuk sholat tapi memilih tidur terlebih dahulu.
"Syukurlah, ternyata semua hanya mimpi!" Ucap Damar bersyukur kemudian beranjak untuk mengambil wudhu dan menunaikan sholat karena waktu istirahat hampir selesai.
Nb: Valentin tidak hanya sekedar coklat atau mawar, bukan juga tentang hadiah istimewa. Tapi bagaimana menghargai suatu perasaan kasih sayang yang tulus dan tidak mengenal waktu. Maaf jika kurang horror 🙏💋
TAMAT