Roro sahabat, sekaligus pujaan hati. Di hari Valentine ini rencanaku sudah bulat, untuk menembaknya. Terlalu lama rasa ini terpendam. Hanya bisa mengagumi, tanpa bisa memiliki. Hanya bisa cemburu, melihatnya bersama kekasih hatinya, yang selalu putus nyambung tidak jelas.
Aku tahu siapa Rio. Bajingan dengan sejuta pacar. Gonta-ganti sesering ganti masker. Tapi semua itu Roro tidak tahu.
Di hadapannya, Rio adalah seorang Pangeran sempurna. Sering aku memberitahu keburukan Rio, padanya. Berharap Roro bisa berpaling darinya. Didorong rasa cinta, dan ibaku kepadanya.
Tapi semua perkataanku hanya dianggap angin lalu. Bahkan malah menuduh aku, ingin menghancurkan hubungannya. Memang jujur aku akui, aku membenci hubungan mereka. Tapi jika dia bahagia, sebenarnya aku rela. Hanya saja tidak sebodoh itu.
Aku pernah mendengar Rio berkata, bahwa hubungannya dengan Roro, hanya sebuah permainan. Jika telah mendapatkan madunya, dan memenangkan taruhan dengan teman-temannya yang juga berandal. Dia akan meninggalkannya.
Saat itu aku marah. Tapi aku sadar diri. Siapa aku? pacar Roro juga bukan. Hanya sebatas pengagum rahasia yang tak dianggap. Teman kecil yang berkhayal menikahinya setelah dewasa. Seperti setiap main rumah-rumahan, jaman kecil dulu. Pasti aku menjadi Ayah, dan dia adalah Ibunya. Sedang anaknya adalah boneka beruang yang selalu dibawa kemanapun dia berada.
Mungkin dia hanya berpikir bahwa hal itu hanyalah permainan anak-anak. Tapi tidak untukku. Aku sangat berharap semua itu menjadi kenyataan kelak. Aku bisa mempersuntingnya, menjadi ibu dari anak-anakku.
Memang rasa cintaku padanya bagai sebuah gunung Es. Terlihat sedikit di permukaan, tapi sangat besar di dalam nya. Perasaan ini memang tak pernah aku utarakan padanya, karena statusnya jauh berbeda. Dia adalah majikan ibuku. Seorang Ningrat berdarah biru. Sedang aku hanya anak dari Petani miskin, penggarap sawah orang lain, dan seorang PRT.
Namun rasa ini semakin aku pendam dalam, justru semakin ingin memberontak keluar. Apalagi ketika melihat hubungannya dengan Rio. Aku semakin ingin melindunginya.
Aku mendengar kemarin malam Roro, dan Rio, bertengkar hebat. Sepertinya Roro memergoki hubungan Rio, dengan wanita lain. Sampai aku mendengar kata putus dari mulut Roro, yang berteriak kencang sambil menangis.
Aku benar-benar berharap dan berdoa agar hubungan Roro, dengan Rio, benar-benar putus. Tidak lagi putus nyambung, seperti sebelumnya. Dari kejadian itu, aku semakin membulatkan tekad untuk mengutarakan perasaanku padanya.
Kebetulan beberapa minggu lagi hari Valentine. Aku sudah siap dengan konsekuensinya, jika ditolak. Biar rasa ini hanya bersenyemayam di dada. Biar namanya terukir selalu dalam sanubari. Akan aku simpan, tanpaku utarakan lagi seumur hidup.
****
Beberapa hari ini Roro terlihat murung dan lesu. Aku berusaha keras membuatnya kembali ceria seperti sedia kala, dengan joke-joke garing, dan basi. Awalnya sulit, tapi setelah beberapa hari mulai ada senyum di bibirnya.
Mungkin bukan joke itu yang membuatnya tersenyum. Tapi kegaringan aku menyajikan joke itu. Orang yang serius seperti aku, jarang bercanda. Bahkan bicara juga ngirit. Tiba-tiba berubah menjadi cerewet, berusaha tampil lucu, namun kaku.
"Jo, terima kasih, ya! kamu baik banget sama aku. Aku tahu kamu selalu berusaha melindungi aku. Selalu ingin membuatku bahagia. Memang aku bodoh. Terlalu bodoh malah. Padahal dulu sudah kamu peringatkan tentang Rio, tapi--"
"Cukup, Non Roro! yang penting sekarang sudah insafkan?! sudah tahu wujud aslinya, Rio."
"Iya, aku kapok! aku berharap dia seperti … ups--" Roro menutup mulutnya. Hampir saja dia keceplosan.
Entah siapa? aku berharap jika orang itu adalah aku. Orang yang dikagumi secara diam-diam olehnya. Tapi mana mungkin? jauh panggang dari api.
****
Besok hari Valentine. Dengan uang jerih payahku sendiri, aku mengajaknya makan malam. Dan yang membuat aku sangat bahagia. Dia bersedia. Rasanya bagai mimpi. Bagai kejatuhan Durian runtuh.
Segala sesuatu telah aku persiapkan. Bahkan konsepnya Candlelight Dinner, dengan nuansa pink. Aku minta semua itu kepada pihak manajemen kafe Gaul di Kotaku. Kafe tenar, tempat anak nongkrong. Sengaja aku persiapkan se-perfect mungkin untuknya.
Bahkan aku juga sudah menyiapkan bunga Mawar merah, dan coklat berbentuk hati. Dengan tekad bulat. Diterima, atau tidak. Pokoknya aku harus mengutarakan perasaan ini, padanya.
****
Malam ini aku sudah menunggunya di ujung jalan, tempat aku janjian dengannya. Sepeda motor bututku sudah stanby.
"Jo, maaf lama! ayo, berangkat!" suara merdunya tiba-tiba sudah ada di belakangku.
Aku sesaat terpana. Sungguh sangat cantik dia malam ini. Dengan gaun putih panjang, bercahaya. Benar-benar terlihat seperti Peri. Aroma harum melati menusuk lembut hidungku. Bagai aroma Surgawi. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai. Melambai Lembut tertiup semilir angin.
"Oh, sungguh sangat cantik," gumamku perlahan tanpa sadar.
"Jo, ayo … nanti keburu malam!" serunya.
"Oh, iya, iya …!"
Tidak terlalu cepat aku jalankan motor butut ini. Aku ingin menikmati tiap detik momen indah ini dengannya. Bahkan tanpa aku duga, dia memeluk pinggangku mesra. Aku pun mengelus punggung tangannya. Berharap seandainya bisa terus seperti ini selamanya. Betapa aku sangat bahagia.
Sampai di depan kafe. Aku menutup matanya dengan sapu tangan. Biar surprise. Baru aku buka ketika tiba di ruang yang aku pesan.
"Oh, sweet banget …! nggak nyangka aku, 'Patung kayu', bisa seromantis ini!" katanya takjub.
"Ini juga, aku mohon kamu terima!" kataku sambil menyerahkan Mawar merah, dan coklat bentuk hati padanya, kemudian berkata, "aku … aku …, aku cinta kamu, Non Roro. Maukah kau … sementara jadi pacarku?!"
"Ih …! kok, cuma sementara …?" katanya protes.
"Eh, oh … itu … anu, maksudnya setengah tahun lagi, setelah wisuda. Aku ingin melamarmu. Sesuai janjiku waktu kecil dulu."
"Kenapa baru sekarang? aku telah menunggu pernyataan ini begitu lama. Kamu tahu, Jo! kenapa Rio si Berandal itu yang aku pilih. Sejujurnya aku ingin tahu reaksi kamu padaku. Tapi emang dasar, Patung Kayu yang nggak peka!" katanya sambil cemberut.
Aku lemas, menunduk sedih. Sepertinya ditolak. Terlambat sudah, ternyata dulu dia memiliki perasaan padaku. Baru sekarang aku mengetahuinya.
"Kenapa diam, tidak ingin mendengar jawabanku?" tanyanya tegas, ada senyum tipis di sudut bibirnya.
Aku mencoba mengangkat kepalaku. Menatap manik mata indahnya. Sembari menunggu jawabannya.
"Kamu ingat ketika dulu kita main rumah-rumahan? apa yang aku katakan dulu? jika kamu ingat itu adalah jawaban hatiku, untukmu."
"Oh, aku jelas mengingatnya. Ternyata--"
"Tunggu sebentar, yah! aku ke Toilet dulu." Dia melangkah pergi meninggalkanku sambil tersenyum lebar. Terlihat sangat bahagia.
****
Drttt! Drttt! Drttt!
Getar HP di saku celana mengagetkanku. Segera aku mengambilnya. Dan menjawab panggilan dari nomor asing itu.
"Halo!"
"Kamu di mana, Nak?" tanya suara di seberang sana, yang ternyata adalah ibuku.
"Lagi di kafe, bareng, Non Roro. Ada apa memangnya, bu?" tumben tidak biasanya ibuku menelponku. Secara dia itu Gaptek, alias gagap teknologi. Tidak tahu cara menggunakan HP. Perasaan tidak enak langsung aku rasakan.
"Apa! bersama, Non Roro …! jangan bohong kamu?!" bentaknya.
"Tidak, memangnya selama ini, Jo, pernah berbohong pada, Ibu. Non Roro, sedang ke Toilet!" seruku, untuk menegaskan pernyataan itu, pada ibuku yang tidak percaya.
"Mana mungkin …! Ini … ini Ibu sedang di UGD Rumah Sakit. Non Roro kecelakaan. Kondisinya kritis. Masih koma, belum sadarkan diri!"
Aku jelas tidak percaya. Segera aku bergegas ke Toilet mencari, Non Roro. Sekian lama mencari, tak aku temukan dirinya. Asli saat ini jelas sangat bingung. Mana yang benar. Jika benar… Roro yang bersamaku kini itu siapa?
Merasa semakin bingung, dan penasaran. Segera aku putuskan meluncur ke Rumah Sakit.
****
Bunga Mawar merah yang layu, dengan Coklat berbentuk hati. Sekarang ada di atas pusara bertuliskan Roro Ajeng Kusuma Ningrat binti Raden Mas Haryo Kusumo.
Aku masih menangis sedih, seorang diri. Setelah selesai lama, prosesi penguburannya. Keluarga dan kerabat sudah pulang semua.
Beberapa kali ibuku juga membujuk untuk segera meninggalkan makamnya. Akan tetapi tidak aku pedulikan.
Aku sangat sedih, sekaligus heran. Baru juga jadian dengan Roro, yang entah semalam itu Roro atau bukan yang bersamaku. Hantu, atau perwujudan dari rohnya, yang ingin memberikan kenangan terindah untukku. Menikmati malam Valentine terindah bersamaku.
Namun hari ini jasadnya telah terkubur di dalam Pusara. Membawa Cintaku pergi selama-lamanya.
Aku teringat kala itu, ketika sedang main Rumah-rumahan berdua dengannya. Kenangan indah yang mungkin tak akan kulupa seumur hidupku.
"Mas Jo, kalau sudah besar nanti, aku berdoa kepada Allah, untuk terus menjadi Istrimu seperti sekarang ini!" katanya padaku, sambil menatap mataku. Mendekap erat boneka Beruang itu.
"Benarkah? aku juga berdoa pada Allah, supaya kamu di masa depan jadi Istriku selamanya," jawabku tulus padanya.
"Dari sekarang kamu jaga hatimu untukku, ya mas!"
"Kamu juga, ya!"
"Kalo aku lupa, kamu ingatkan, ya mas!"
"Yah, jangan lupa dong! Janji dua jari oke!" kataku mengulurkan jari kelingking. Segera dia mengaitkan dengan jari kelingkingnya.
"Oke!"
Air mataku semakin deras mengalir. Sampai aku merasa belaian lembut di kepalaku. Reflek aku menoleh.
Aku benar-benar shock. Kulihat Roro dengan pakaian putih semalam berdiri di sampingku sambil tersenyum.
"Mas Jo, maafkan aku …! aku tidak bisa menemanimu. Aku mencintaimu, mas. Untuk selamanya aku adalah istrimu. Aku tunggu kamu disana. Selamat tinggal!" katanya lembut. Perlahan tubuh putih bercahaya itu memudar, semakin pudar dan akhirnya menghilang.
"Roro …! Roro …! jangan pergi!" seruku, berusaha memeluk tubuhnya yang memudar. Akan tetapi tidak berhasil. Berkali-kali aku memanggil namanya. Hingga suara serak. Tapi Roro telah benar-benar pergi.
TAMAT
****