Padahal ... hampir menjadi milikmu seutuhnya saja tidak akan pernah cukup untukku.
***
Puluhan orang bahu-membahu menjaga kehangatan yang tersisa di antara mereka. Meski beratapkan langit, dalam hati mereka selalu menyebutnya sebagai rumah. Karena rumah yang dulu, kini telah rata dengan permukaan bumi. Akibat dari serangan mendadak beberapa bulan lalu, oleh sekumpulan orang asing berjubah hitam yang menggunakan senjata berapi.
Sejak tragedi itu, Valentine mendapat gelar sebagai anak yatim piatu sekaligus pemimpin klan elf bernama Morou.
"Bibi, tolong jaga anak yang demam di tenda pengobatan yah. Aku mau mengajar di tenda pengetahuan dulu. Tolong basahi kain di kepalanya sesekali, ya. Terima kasih!" ucap Valentine, lalu bergegas lari ke tenda pengetahuan.
Ada banyak rutinitas yang harus dia tanggung demi kesejahteraan anggota klan Morou, yang sebagian besar adalah wanita dan anak-anak. Sekuat tenaga Valentine berusaha membuat mereka nyaman, sama seperti ketika Klan Morou berada di tangan kedua orang tuanya dulu.
Namun, Valentine tidak memimpin sendirian.
Dia berhenti tepat di depan pintu masuk tenda pengetahuan, menatap ke arah gerbang depan, lalu tersenyum hangat. Kekasih yang selama ini dia sembunyikan dari orang tuanya tampak sedang sibuk berjaga sembari melatih beberapa remaja laki-laki.
"Kak Valentine kenapa menatap Kak Laven terus? Ayo belajar!" seru seorang gadis kecil sembari menarik-narik pelan pakaian Valentine.
"Hah? Ahaha, maaf. Ayo masuk," ucap Valentine sedikit gugup.
Meski sudah hampir setahun menjalin hubungan, Laven sendiri tidak pernah menceritakan latar belakangnya.
DUAR! DUAR! DUAR!
Valentine refleks berlari keluar saat jeritan panik dan suara letusan bergema di luar tenda. Puluhan mahkluk berjubah hitam mulai menyerang dengan brutal. Para penjaga terus berusaha melawan sekuat tenaga. Namun, pertumpahan darah tidak dapat dicegah.
Ini adalah serangan ke 4 dalam bulan ini. Setelah hampir satu jam baku hantam, para mahkluk itu mendadak mundur dan meninggalkan lingkungan kemah yang hancur berantakan. Banyak warga yang terluka parah, bahkan ada yang tergeletak tanpa nyawa. Lagi-lagi hati Valentine menangisi nasib yang selalu menganggu kehidupan mereka. Dengan tubuh berdarah-darah, dia berusaha membalut luka anggota klan terdekat.
Dalam hatinya mendadak tumbuh rasa curiga. Valentine cemas, karena para mahkluk berjubah hitam itu seolah tahu di mana pun keberadaan mereka.
"Kita akan berpindah tempat lagi, tapi kali ini lebih jauh. Aku akan menghilangkan jejak," jelas Levan ketika Valentine menghampirinya untuk mengobati luka.
Persiapan untuk mencari lokasi kemah yang baru pun di mulai. Mereka kembali bergerak menyusuri kedalaman hutan. Anggota Klan Morou kira-kira tersisa 50 orang saja. Hal itu membuat pergerakan mereka jadi sedikit lebih mudah.
Akhirnya setelah dua hari penuh berjalan, mereka menemukan tanah lapang yang cukup luas. Lagi-lagi mereka bergotong royong membangun kemah untuk dijadikan tempat tinggal sementara. Valentine bersyukur, ternyata masih cukup banyak anggota klan yang memiliki semangat hidup.
Setelah berhasil membangun puluhan kemah sederhana, semua orang langsung beristirahat karena sudah larut malam. Tetapi di dalam tendanya, Valentine tidak sengaja terbangun dan melihat Laven berjalan mengendap-endap keluar. Dia masuk ke dalam hutan sebelah kiri sambil celingak-celinguk. Walaupun curiga, Valentine memutuskan untuk lanjut tidur.
Namun ternyata, keanehan Laven tidak sampai disitu saja. Dia beberapa kali mengabaikan tugas penjagaannya dan kembali dari arah hutan yang sama tanpa raut wajah bersalah.
Sampai pada hari keenam, Valentine sudah merasa muak. Dia berjalan cepat ke arah Laven yang baru kembali dari sisi kiri hutan.
"Kau kemana saja, hah?! Apa pemimpin akan membiarkan remaja berusia lima belas tahun menjaga sisi depan?! BISA-BISANYA KAU PERGI KE HUTAN SEHARIAN TANPA PERMISI PADAKU!" bentak Valentine berapi-api.
Dahi Laven mengerut. "Kenapa kau marah sekali Valentine? Apa kau tidak mempercayai kekuatan mereka? Aku kan—"
Beberapa anggota klan memberhentikan kegiatan mereka, refleks memperhatikan kegaduhan yang diciptakan oleh sepasang pemimpin Klan Morou.
"DIAM! Aku sudah tahu semuanya! Kau pasti mata-mata kelompok berjubah hitam, kan?! Itulah sebabnya mereka selalu tahu keberadaan kita!" tuduh Valentine dengan jari telunjuk berada di depan wajah Levan.
"Apa?! Setelah semua yang kulakukan untuk klanmu, inikah balasannya?! KAU MENUDUHKU?!" Laven meninggikan nada.
Mata Valentine sontak berkaca-kaca. "Aku tak menyangka. Kau tega menjebak kami semua, dan membohongiku. Sekarang kau berani membela diri ...?" lirihnya.
WHOOSSHH! DUAR! DUAR!
Tiba-tiba hujan meriam batu datang dan menghancurkan salah satu tenda. Perang tidak dapat dihindari. Laven sigap melindungi anggota klan dari tembakan panah dengan pedangnya.
Melihat hal itu, hati Valentine semakin terbakar amarah. "Aku bisa mengurus klan ini tanpamu!" sinisnya. Karena merasa diremehkan, Valentine pun membabi buta lawan dengan tombak runcing.
Untuk pertama kalinya mata Valentine bersinar biru terang. Dia baru saja berhasil mengaktifkan kekuatan sihir turun-temurun untuk pemimpin klan yang terpilih. Tongkat tadi langsung dibuang begitu saja, digantikan oleh sinar dan api biru yang meledak dimana-mana.
Ketika semua mahkluk berjubah sudah terkapar di atas tanah, Valentine berbalik seraya tersenyum miring. Ia sengaja meludah tepat di hadapan Laven dan anggota klan yang terpaku kaget menatapnya.
Tiba-tiba sebuah panah beracun ditembakkan beruntun ke arah punggung Valentine. Laven sigap berlari, membalik, lalu memeluk erat tubuh valentine. Membiarkan lima panah berlumuran zat hitam beracun itu menancap di punggungnya.
Kali ini giliran Valentine yang terpaku kaget. Dia dapat merasakan pelukan Laven yang perlahan mengendur. Tanpa aba-aba, matanya kembali bercahaya. Valentine murka, dan langsung meledakkan semak-semak tempat panah itu berasal hingga hangus dan berasap.
Laven melepas pelukan, meraih tangan kiri Valentine, lalu menariknya ke arah hutan yang selama ini dia datangi diam-diam. Valentine terperanjat, tetapi tidak sanggup merespon apalagi menolak.
Setelah berjalan sedikit, tampak sebuah lahan yang ditumbuhi bunga-bunga indah. Di tengahnya terdapat meja batu dengan dua kursi batu yang berhadapan. Puluhan buah-buahan segar disusun rapi di atas meja.
Ketika mereka mendekat, Valentine dengan jelas melihat sebuah mutiara indah yang bagian atasnya digores membentuk huruf VL beralaskan tumpukan bunga merah.
"Selamat hari anniversary, Valentine. Mungkin kau lupa karena terlalu sibuk mengurus Klan Morou. Kalimatmu tadi nyaris benar. Mereka adalah klan iblis bernama Zeroh, yang selama ini mencariku. Aku ... campuran iblis dan elf. Wajar jika mereka selalu bisa merasakan keberadaanku." Suara Laven terdengar begitu gagah, seolah tidak ada kematian yang akan segera menjemput.
"Seharusnya hari ini aku melamarmu. Haahh ... tapi takdir berkata lain. Padahal ... uhuk! Hampir menjadi milikmu seutuhnya saja tidak akan pernah cukup untukku. Uhuk! Uhuk!" Racun dari panah itu mulai bereaksi, darah keluar ketika dia batuk.
Laven menatap Valentine yang masih shock begitu dalam, lalu mengecup lembut dahi kekasihnya. Meninggalkan jejak darah dan air mata disana.
"Tolong selamanya ingat hari ini, Valentine ...," lirih Laven, kemudian ambruk ke tanah.
Meninggalkan Valentine untuk sendirian merayakan anniversary pertama hubungan mereka.
***
Note: Iya, aku tahu ini cerpennya terlalu klasik dan sama seperti cerpenku yang lain. Bahkan tidak ada unsur horor seperti tema #hororvalentine. Mohon maaf sebesar-besarnya, aku memang tidak bisa menulis cerpen horor. Jika cerpen ini tidak masuk kategori juga tidak masalah. Yang penting aku sudah niat menghibur kalian dengan cerpen klasik ini.
Terima kasih sudah membaca;)