Semua orang punya kisah cinta masing-masing. Tidak peduli usia, asau darimana, bahkan latar belakang. Asal kita sudah bertemu dengan orang yang dapat membuat darah kita berdesir, jantung kita berdegup kencang, dan kita selalu tersenyum tiap kali memikirkannya, kita akan berusaha bagaimanapun caranya agar kita bisa bersama-sama dengan orang yang kita cintai.
–Musim Semi, 2013–
Ruang kelas yang berada di paling pojok lorong gedung sekolah itu begitu semarak penuh dengan senda gurau. Semua murid begitu menikmati awal-awal semester yang baru berjalan 1 minggu.
Tapi, tak semua murid menikmati awal-awal masuk sekolah yang dinantikan sebagian besar murid. Ada 1 orang yang sedari tadi memandang keluar jendela dengan sorot mata melamun seakan-akan dia berharap agar hari itu cepat berlalu.
Xavier namanya.
"Hai! Boleh duduk disini, ga? Sejak hari pertama dimulai, aku hanya memperhatikanmu tanpa berniat ngapa-ngapain." Suara centil tiba-tiba mendekati Xavier yang sedang asyik melihat jalanan di luar gedung sekolah.
Hhh... Menganggu saja.
Xavier hanya melemparkan senyum tipis tanda setuju. "Terima kasih," balas gadis itu senang.
Beberapa saat tak ada yang bersuara diantara Xavier dan gadis yang mendekatinya itu. Hanya suara kebisingan kelas yang memenuhi ruangan. Wajar saja, karena hari itu ada rapat dadakan dan kelas pun dibebaskan.
Gadis itu hanya memperhatikan Xavier dari sisi wajahnya yang menoleh ke arah jendela. "Omong-omong, namaku Jessy kalau kamu ingin tau."
Oh, Jessy. Terdengar centil dan manja, seperti kesan pertama melihat dia.
Xavier menoleh sebentar lalu tersenyum sembari mengulurkan tangan hendak berjabat tangan. Siapa yang tau jika Xavier akhirnya berinisiatif seperti gentleman.
"Xavier," ucapnya singkat dengan senyum manis yang disimpannya sejak lama. Jessy menyambut tangan Xavier dengan mata yang tak henti menatap wajah tampan itu.
OMG! Ternyata dia manis banget! Poin plusnya dia juga ganteng! Namanya juga keren! Ini ga bisa dibiarkan.
Mereka berdua cukup lama bertatapan sampai akhirnya Xavier berdehem untuk menyadarkan Jessy yang masih setia menjabat tangannya.
"A–ah. Maaf," ucap Jessy gugup dengan wajah merona. Xavier hanya tersenyum simpul lalu melempar pandangan lagi keluar jendela.
Dia tidak banyak bicara. Aku tak masalah jika harus selalu memulai duluan.
"Kau ada acara sepulang sekolah nanti" Jessy memulai percakapan lagi. Memancing Xavier untuk lebih aktif menanggapinya.
Ah, sepertinya firasatku mengatakan kalau dia akan mengajakku hang out. Mudah ditebak.
Xavier menggeleng tanpa mengalihkan pandangannya.
"Kalau kamu ga keberatan, aku ingin mengajakmu ke restoran ayam yang baru buka di depan gang sekolah kita. Aku dan teman-temanku berniat kesana sepulang sekolah nanti."
Bingo! Sesuai dugaanku. Itu semua hanya permulaan. Kalau disetujui dari awal, gadis ini akan selalu mengajakku kemana-mana dengan tujuan agar dekat dengannya. Merepotkan.
Xavier menghela nafas pelan. "Terima kasih. Aku tidak ingin kemana-mana hari ini." Langsung ke intinya. Xavier memang bukan tipe cowok yang suka basa-basi jika menolak ajakan seseorang.
Oh, jual mahal. Berani sekali dia menolak ajakanku. Tak apa. Mungkin ini efek karena dia baru mengenalku. Oke, bisa kumengerti.
"Baiklah. Maaf sudah mengganggumu. Jika kamu berubah pikiran, kamu bisa ngomong langsung ke aku, ya. Mejaku yang paling depan di pojok sana," ucap Jessy sembari menunjuk mejanya.
Xavier hanya mengangguk sambil tersenyum. "Terima kasih sudah mau mengobrol! Aku ke teman-temanku dulu, ya." Jessy merasa sudah tidak bisa memaksa Xavier untuk bicara banyak dengannya. Dia juga merasa Xavier bukan teman ngobrol yang baik. Lebih tepatnya, Jessy bosan dengan orang yang seperti itu.
"Ya, terima kasih sudah menyapa," balas Xavier sebelum Jessy benar-benar meninggalkan mejanya.
Jessy pun bergabung dengan teman-temannya yang sedari tadi berbisik dan memperhatikan interaksi mereka berdua.
Hal itu tak luput dari mata Xavier dan ia hanya melempar pandangannya keluar jendela lagi dengan senyum sinis.
Orang-orang dengan hati tulus memang susah dicari sekarang ini. Jessy mendekatiku pasti karena dia merasa aku ini tipe ideal baginya. Hahah, lucu sekali.
Yaahh, Xavier memang mudah sekali menilai kepribadian orang-orang sekitarnya hanya dengan memperhatikan gestur tubuh dan kata-kata yang diucapkan.
Tak sia-sia ayah mengajariku ilmu psikolog ini. Ternyata memang berguna sampai sekarang.
Xavier tersenyum tipis lalu mengambil ponsel serta headsetnya. Ia memutuskan untuk melewati hari membosankan itu dengan mendengarkan musik kesukaannya.
***
Hari Senin. Hari yang mengawali minggu dan sangat dibenci oleh anak sekolahan. Kenapa? Karena mereka merasa masih sangat jauh untuk menikmati akhir pekan.
"Ku dengar, kita akan ada kuis dadakan nanti. Menjengkelkan."
"Benarkah? Sial! Aku menghabiskan akhir pekan di kafe PC!"
"Kenapa semua guru senang membuat kuis dadakan, ya?"
"Itu berguna untuk menguji keseriusan tingkat belajar anak-anak malas seperti kalian."
"Hih, menjauhlah. Saat-saat seperti ini pasti ada saja orang yang sok oke."
"Yups. Menyebalkan."
Percakapan ringan ini dilontarkan oleh anak-anak sekelas Xavier saat berjalan memasuki gerbang sekolah.
Xavier hanya mendengarkan sambil berjalan tanpa minat untuk bergabung. Dia masih setia membaca buku pelajaran yang rumornya akan diadakan kuis dadakan.
Sudah hampir 2 bulan Xavier belajar di sekolah ini dengan kehidupan sekolah yang monoton tanpa warna. Entahlah. Bukannya Xavier tidak mau berteman. Tapi, sikapnya yang acuh tak acuh itu membuat semua orang yang ingin berteman dengannya perlahan menjauh. Mereka merasa Xavier orang yang membosankan.
Tak sedikit pula yang menjadi pengagum rahasianya. Seringkali Xavier menemukan hadiah-hadiah kecil di lokernya dengan nama dan nomor ponsel. Terang-terangan sekali, bukan?
Gadis-gadis sekarang memang ga punya gengsi atau semacamnya, ya? Murahan sekali.
Semua hadiah kecil itu akan berakhir di tempat sampah. Bukannya tak menghargai pemberian orang lain. Hanya saja, Xavier sudah muak dengan "sampah-sampah" yang tiap hari memenuhi lokernya.
Merepotkan.
***
Kriiinnnggg!!!
Bel tanda masuk berbunyi nyaring memekakan telinga. Semua penghuni sekolah itu berbondong-bondong masuk ke kelas masing-masing.
Seperti biasa, saat kelas belum dimasuki oleh guru, pasti ada saja keseruan yang terjadi. Itulah yang menyebabkan keributan.
Kelas Xavier pun demikian. Di kelasnya, ada saja biang kerok pembuat keributan. Sangat menjengkelkan. Tapi, Xavier tak begitu mempedulikan hal itu dan masih saja sibuk membaca buku dengan headset di telinga untuk meredam kebisingan kelas.
Tak lama kemudian, pintu kelas terbuka. Guru les pertama, Bu Eva, tampak masuk kelas dengan seseorang yang mengekorinya.
Seketika, kelas yang tadinya bising menjadi sunyi dalam sekejap.
"Selamat pagi, anak-anak!"
"Pagi, bu!"
"Hari ini, kita kedatangan murid baru. Esme, silakan perkenalkan dirimu."
Murid baru itu pun maju selangkah."Pagi semua. Perkenalkan, nama saya Esme. Saya pindah dari Kota A kesini karena tuntutan pekerjaan orang tua saya. Mohon bantuan teman-teman sekalian. Terima kasih." Akhir kata, gadis itu menunduk untuk memberi salam.
Semua siswa malah bengong melihat Esme. Bagaimana tidak?
Esme, anak baru itu, berparas tak terlalu cantik, tapi tidak jelek juga. Hanya saja, kesan pertama kita melihat wajahnya, dia keren. Dia juga tinggi, tubuhnya ramping tapi bukan berarti kurus. Rambutnya yang sebahu menambah kesan "cool girl" yang sangat cocok dengan wajahnya. Kalian tau supermodel? Wajah mereka kebanyakan tidak cantik dan tidak jelek. Hanya saja, saat kita melihat supermodel, mereka tak begitu menunjukkan ekspresi mereka dan hal itu membuat mereka "keren".
Melihat tak ada yang bereaksi, Xavier berinisiatif bertepuk untuk memecah keheningan. Tak lama setelah itu, yang lain pun bertepuk tangan dengan sangat meriah.
"Terima kasih, Esme. Kamu boleh duduk di bangku yang masih kosong."
Esme pun mengangguk tersenyum. Bangku yang masih kosong di kelas itu hanya bangku disebelah Xavier.
Esme pun berjalan menuju meja Xavier.
"Baiklah. Sekarang kita akan memulai pelajaran. Buka halaman....," Bu Eva memulai kelasnya.
Saat Esme hendak duduk di bangkunya, ia melirik Xavier yang tak melihatnya. "Permisi. Maaf jika sudah mengganggu ketenanganmu."
Xavier tertegun. Yang tadinya dia tak terlalu begitu peduli dengan keberadaan Esme, Xavier jadi melihatnya sampai duduk dan mengeluarkan peralatan menulisnya.
Hah? Bagaimana dia bisa tau?
"Guru ada di depan, bukan di sampingmu," ucap Esme tanpa melihat Xavier.
Xavier jadi salah tingkah. Ia pun membuka halaman yang diminta Bu Eva dan meletakkan buku paket itu ditengah agar mereka berdua bisa melihatnya bersama.
"Terima kasih sudah berbagi. Besok semua buku ku akan lengkap, jadi kamu ga perlu merasa terbebani, "ucap Esme lagi tepat sasaran tanpa melihat lawan bicaranya.
Lagi-lagi, Xavier terperangah mendengar ucapan yang sangat terang-terangan itu.
Keren! Baru kali ini aku bertemu cewek peka seperti ini!
Tanpa sadar, senyum simpul tersungging di bibir Xavier.
***
Jam istirahat pun tiba. Satu hal yang membuat anak sekolahan bertahan dengan penatnya kehidupan sekolah adalah jam istirahat yang hanya 30 menit.
Xavier seperti biasa, menghabiskan waktunya di taman belakang sekolah dengan buku dan headset yang menjadi andalannya. Ia merasa tertolong dengan jam istirahat yang lumayan panjang di sekolah itu sehingga hari-harinya tak terlalu membosankan.
"Permisi, syarat apa saja supaya bisa jadi. member di perpustakaan ini?"
Itu Esme.
Gadis itu memang senang membaca sejak ia mengenal huruf dan angka. Di setiap kota yang ia tinggali, hal pertama yang ia cari adalah perpustakaan. Baginya, buku adalah teman yang tak bicara namun membuat ia memahami dunia. Sehingga, dalam hidupnya ia tak begitu memerlukan teman selama masih ada buku di tangannya. Pemahaman yang tak benar, tapi juga tak salah.
"Cukup memberikan fotokopi kartu pelajar," jawab pustakawati itu ramah.
"Oh, baiklah. Aku akan mendaftar besok karena kartu pelajarku belum selesai."
"Tak apa. Kamu murid baru?"
Begitulah percakapan mereka berlanjut. Esme tak begitu tertarik bercakap-cakap. Hanya saja, ia masih paham tentang nilai sopan santun.
Ditengah percakapan mereka, sudut matanya memandang seorang cowok yang sedang duduk dengan gaya kerennya di bangku taman seberang perpustakaan. Ia langsung tau siapa cowok itu.
"Baiklah. Apa aku masih boleh meminjam buku walau belum jadi member?" tanya Esme agar percakapan itu cepat berakhir sebelum waktu istirahatnya terbuang percuma.
"Tentu! Tinggal pilih maksimal 1 buku yang ingin kamu pinjam, lalu isi formulir ini," terang pustakawati itu dengan semangat.
"Hanya 1?"
"Ya. Nanti kalau sudah jadi member, kamu bisa meminjam maksimal 3 buku."
"Ohh, baiklah."
Esme pun mencari buku yang akan dipinjamnya. Ia tak begitu memperhatikan cowok itu lagi. Karena dia merasa itu bukan hal penting baginya.