sᴇʙᴜᴀʜ ᴍᴀᴡᴀʀ ʏᴀɴɢ ʙᴇʀᴅᴜʀɪ ʙᴜᴋᴀɴ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴍᴇʟᴜᴋᴀɪ, ɴᴀᴍᴜɴ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴍᴇʟɪɴᴅᴜɴɢɪ ᴅɪʀɪ.
Pagi itu Michelle sedang beraktivitas seperti biasa. Dia mengerjakan rutinitasnya di sebuah toko bunga. Pemesanan bunga sedang ramai-ramainya saat itu karena sebentar lagi menjelang hari Valentine. Tentu saja Michelle turut ambil bagian dalam kesibukan tersebut.
Steven, sang pemilik toko bunga sekaligus tunangan dari Michelle tampak sedang sibuk menerima telepon dari orang-orang yang melakukan pemesanan. Michelle sungguh kasihan melihat Steven yang sepertinya kewalahan.
"Astaga, bunga pesanan belum dikirimkan, masih banyak yang harus aku kerjakan,"gerutu Steven melihat hasil rangkaian bunganya yang belum selesai sedari tadi karena sibuk dengan telepon yang masuk.
"Memang banyak pesanannya?"tanya Michelle.
"Tidak, ini barusan ada yang meminta sebuket bunga mawar merah untuk dikirimkan ke alamat yang tidak jauh dari sini,"ujar Steven bingung. Padahal dalam waktu setengah jam lagi ada yang akan mengambil pesanan bunganya.
"Stev, biar aku saja yang mengantarkan bunga itu,"tawar Michelle kepada Steven kali ini.
"Eh, tapi El..."ucap Steven hendak menolak namun ucapannya dipotong oleh Michelle.
"Tidak apa-apa, stev, mana alamatnya,"ujar Michelle kepada Steven.
Steven pun dengan terpaksa memberikan alamat si penerima bunga kepada Michelle.
"Tidak jauh dari sini, kamu bisa gunakan sepedaku saja,"tawar Steven kepada tunangannya tersebut.
"Tenang saja, aku jalan kaki saja. Aku akan baik-baik saja,"ucap Michelle membuat tenang Steven.
"Hati-hati ya,"ujar Steven berpesan.
"Pasti,"jawab Michelle dengan senyum manisnya.
Michelle bergegas keluar dari toko bunga milik Steven setelah mengenakan jaket dan membawa tas selempang mini kesayangannya. Karena letak penerima bunga tidak jauh dari toko mereka. Maka Michelle pun memutuskan untuk berjalan kaki saja.
Akan tetapi tanpa Michelle sadari ada seseorang yang mengincar dirinya ketika dia keluar dari toko bunga.
"Akhirnya, kamu keluar juga,"ujar seseorang dari dalam sebuah mobil berwarna hitam. Dia sudah bersiap-siap untuk melakukan aksinya.
"Dengan kepergianmu maka aku bisa memiliki Steven dan juga kebahagiaan yang seharusnya menjadi milikku harus terenggut olehmu!"ucap wanita dari dalam mobil itu dengan nada sinis.
Michelle tidak tahu jika ada bahaya yang sedang mengancam dirinya. Michelle sedang fokus untuk menyeberangi jalan. Namun tiba-tiba sebuah mobil melaju dengan sangat kencang ke arahnya tanpa bisa Michelle untuk menghindar.
ᏴᎡᎪᎪᎪᎪKKKK!
Sebuah tabrakan pun tidak bisa dihindari. Tubuh Michelle terpental di aspal setelah berguling di atas kaca mobil yang menabrak dirinya. Akan tetapi mobil yang menabraknya itu sesegera mungkin melarikan diri dari lokasi kejadian.
Orang-orang yang berada di lokasi kejadian segera menelepon polisi dan juga ambulance untuk segera menolong Michelle yang saat itu sedang sekarat. Michelle mengalami benturan yang keras di kepalanya. Darah mengalir dari kepalanya dan mengenai bunga mawar merah yang dia bawa.
Steven sangat terkejut mendengar apa yang terjadi dengan kekasihnya tersebut. Dia bergegas menuju ke rumah sakit saat mendengar kabar yang menimpa Michelle. Steven tidak kuasa menahan dirinya kala dokter yang menangani Michelle mengatakan bahwa tunangannya tidak bisa diselamatkan. Steven menangisi kepergian Michelle yang begitu cepat. Dia tidak bisa menerima kenyataan yang ada. Steven menyalahkan dirinya sendiri yang telah menerima permintaan Michelle untuk mengantarkan pesanan buket bunga.
**
Pemakaman Michelle pun berjalan dengan selayaknya. Beberapa pelayat sudah meninggalkan area pemakaman. Namun Steven tampaknya masih berduka dengan kepergian tunangannya. Ada seorang wanita yang juga tidak segera beranjak dari sana. Dia adalah Miranda. Teman dekat dari Michelle selama ini.
"Sudahlah, stev, relakan kepergian Michelle, dia sudah tenang dan bahagia di sana. Jangan membuat dia semakin bersedih dengan dirimu yang seperti ini,"ucap Miranda mencoba menghibur Steven.
Steven menuruti apa kata Miranda. Mereka berdua pun meninggalkan area pemakaman tersebut. Steven berjalan dengan sempoyongan dan Miranda bergelayut di lengan Steven bermaksud untuk memapah si Steven. Akan tetapi, tanpa Steven sadari, Miranda tersenyum tipis saat meninggalkan area pemakaman Michelle.
αkhírnчα, αku вíѕα mєndαpαtkαn αpα чαng kuíngínkαn, batin Miranda.
Waktupun berlalu setelah kepergian Michelle. Sekarang Miranda lebih aktif mendekati Steven kembali. Miranda mencoba mengambil hati seorang Steven. Miranda yakin jika dia bisa mendapatkan hati Steven kembali.
Dulu Steven pernah mendekati dirinya. Akan tetapi saat itu Miranda menjauh karena Steven hanyalah seorang pemuda yang miskin. Tetapi setelah Steven berhasil dengan bisnis toko bunganya. Steven bukan lagi menjadi seorang yang miskin dan lontang-lantung seperti dulu lagi. Akan tetapi sayangnya cinta Steven juga sudah berganti. Ada sosok Michelle, teman baik Miranda, yang menggantikan cinta Steven yang pernah ada untuk diri Miranda.
Miranda sakit dibuatnya. Dia menyesal karena telah menolak cinta Steven sebelumnya. Miranda bertekad untuk merebut cinta Steven dari teman baiknya sendiri yaitu Michelle. Dan itulah mengapa Miranda melakukan hal gila dengan cara menabrak Michelle sampai teman baiknya itu tewas seketika.
Malam itu Miranda baru saja sampai dirumahnya ketika mendapati sebuah buket bunga yang diberikan oleh pembantunya.
"Dari siapa, bik?"tanya Miranda.
"Tidak tahu, non, pengirim paket tidak mengatakan apa-apa,"jawab pembantu Miranda.
"Ya, sudah,"sahut Miranda sambil melihat kiriman bunga tersebut. Sepertinya Miranda mengenal model kartu nama yang ada di dalam buket bunga tersebut.
"Astaga! Ini kan dari toko bunga Steven, kenapa aku baru ingat,"ujar Miranda dengan senang.
Sebuah buket mawar merah dengan pesan bertuliskan [ ɪ ᴍɪss ʏᴏᴜ ] membuat Miranda sudah mabuk kepayang dibuatnya. Miranda juga segera menghubungi Steven untuk mengucapkan terima kasih.
"Terimakasih stev untuk buket bunganya. Mawar merahnya sungguh indah sekali,"ujar Miranda dengan nada memuji.
"Buket bunga yang mana? Aku tidak menjual bunga mawar merah kembali sejak kepergian Michelle. Karena aku masih trauma setiap kali melihat bunga mawar merah,"ucap Steven dengan nada bingung.
"Bukankah kamu mengirimi ku sebuah buket bunga mawar merah?"tanya Miranda kembali.
"Tidak, Miranda,"jawab Steven singkat.
Miranda sungguh terkejut mendengar ucapan Steven tersebut. Tiba-tiba Miranda melihat kartu nama yang tersemat di buket bunga itu. Ingatan Miranda kembali kepada satu tahun yang lalu ketika Michelle berjalan membawa sebuah buket bunga mawar merah. Bukankah bentuk buketnya sama persis dengan buket bunga yang dia terima.
Miranda mengamati buket bunga tersebut dan dengan jelas Miranda melihat tetesan darah yang mengalir di tangannya dari dalam kelopak bunga mawar merah itu.
"Tidak! Tidak! Tidaaaaakkkkk!" teriak Miranda sambil melemparkan sebuket bunga mawar tersebut.
"Bibik! Bibik! Tolooooongg!"panggil Miranda namun si bibik tidak juga muncul.
Miranda bergegas berlari ke kamar akan tetapi....
"Aaakkkhhhhhh! Sakiiit!"jerit Miranda karena setangkai mawar merah menancap tepat di betis kanan Miranda.
Saat Miranda hendak melangkah kembali, setangkai mawar merah menancap kembali di betis kiri Miranda.
"Sakiiiiiiiit!"teriak Miranda yang seketika terduduk sambil menahan rasa sakit di kedua betisnya.
"Kamu harus mati bersamaku, Miranda,"terdengar suara Michelle disana. Miranda semakin gemetar ketakutan dibuatnya. Dia tahu dosa apa yang telah diperbuatnya kepada Michelle.
"Tidak! Tidak! Tidak El! Aku tidak mauuuuu!"pekik Miranda sambil mencabut setangkai mawar merah di betis kirinya.
Miranda dengan menahan kesakitan hendak berlari sambil berjalan mengesot ke kamarnya. Namun, serangan dari bunga mawar merah itu tidak berhenti. Kali ini mereka menancak di kedua telapak tangan, paha, dan juga lengan Miranda.
"Arrrrkkkkhhhhhhh!!! Miranda meronta kesakitan dengan darah mengucur di beberapa bagian tubuhnya yang tertancap bunga mawar merah berduri tersebut.
"Hahahahahahahahha........!"suara tawa Michelle terdengar nyaring menggema di ruangan tersebut. Miranda hanya bisa menangis sejadi-jadinya merasakan kesakitan yang teramat sangat.
"Maaf.... maaf ...,"ujar Miranda merintih sambil meminta maaf kepada roh Michelle.
"Tidak! Kamu harus lenyap bersama ku Miranda! Kamu harus menemaniku!"
Miranda terbelalak melihat setangkai mawar merah melayang di depannya. Dengan berlumuran darah yang begitu mengerikan.
"Maaf...maaf...El...maafkan....aku....,"rintih Miranda. Akan tetapi tidak ada kata ampun kembali. Setangkai mawar merah berdarah itu justru menancap tepat di jantung Miranda. Dan itu membuat Miranda tergeletak tidak lagi bernapas. Dengan darah yang berlumuran di beberapa bagian tubuhnya yang tertancap beberapa tangkai bunga mawar merah berduri tersebut.
***
14 Februari 2021 07:30
"Non! Non! Nooooon!"suara teriakan si bibik membuat gadis itu terbangun dari tidurnya.
"Astaga! Dimana aku?"ujarnya sambil mengecek bagian tubuhnya yang dia yakini sedang mengalami luka parah.
"Non, non, non, sadar dulu non, sepertinya non sedang mimpi buruk tadi,"ujar sang bibik menyadarkan majikannya tersebut yang masih terbawa suasana dari alam mimpinya.
Miranda mengusap wajahnya kasar dan melihat ke sekeliling ruangannya. Ternyata dia masih berada di dalam kamarnya.
"Ternyata hanya sebuah mimpi semata,"ujar Miranda sambil mengusap peluh di dahinya.
ᴛɪɴɢ ᴛᴏɴɢ!
Sebuah suara bel berbunyi, sang pembantu lebih dulu keluar untuk mengecek siapa yang datang. Miranda bangun dari ranjangnya dan menuju ke dapur untuk mengambil air minum. Mimpi yang dialaminya sungguh seperti nyata saja. Apakah itu karena dia semalaman berpikir terlalu keras untuk menyingkirkan Michelle dari hidup Steven?
"Non, ada sebuah buket bunga!"ucapan sang bibik sukses membuat Miranda menyemburkan air mineral yang sedang dia minum.
Lagi-lagi sebuah buket bunga. Perasaan Miranda sudah tidak enak dibuatnya.
"Dari siapa bik?"tanya Miranda dengan ketakutan tanpa berani menyentuh buket bunga mawar merah yang sama persis dengan yang ada di mimpinya tersebut.
"Tidak ada nama pengirimnya non, hanya saja ada sebuah pesan di dalamnya,"ujar sang bibik.
"Bacakan saja bik, pesannya apa,"ujar Miranda masih dengan raut wajah ketakutannya. Sang bibik menuruti permintaan dari majikannya tersebut.
sᴇʙᴜᴀʜ ᴍᴀᴡᴀʀ ʏᴀɴɢ ʙᴇʀᴅᴜʀɪ ʙᴜᴋᴀɴ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴍᴇʟᴜᴋᴀɪ, ɴᴀᴍᴜɴ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴍᴇʟɪɴᴅᴜɴɢɪ ᴅɪʀɪ. ᴛᴀᴘɪ ᴊɪᴋᴀ ᴅɪᴀ ᴅɪsᴀᴋɪᴛɪ ᴍᴀᴋᴀ ʙᴇʀsɪᴀᴘʟᴀʜ-sɪᴀᴘʟᴀʜ ᴜɴᴛᴜᴋ ᴍᴇɴᴇʀɪᴍᴀ ʙᴀʟᴀsᴀɴɴʏᴀ ɴᴀɴᴛɪ.
Wajah Miranda seketika memucat mendengarnya.
Michelle!
👻TAMAT