14 Februari adalah hari yang sangat di nanti-nanti oleh setiap pasangan kekasih, banyak sekali pasangan yang merayakannya termasuk Laura dan Edmund. Laura sangat menantikan momen yang hanya ada setahun sekali, sekaligus mereka akan merayakan hari anniversary hubungan mereka yang ke 2 tahun.
Tahun lalu Edmund memberikan kejutan yang sangat berkesan, Edmund mengadakan pesta kecil di rumahnya yang telah di hiasi oleh bunga mawar merah yang di bentuk hati dan lilin di susun sebagai jalan. Ketika Laura datang, Laura sangat terkesan dengan apa yang Edmund lakukan, Edmund menghampiri Laura dengan pakaian rapi sambil membawa buket bunga mawar dan sekotak hadiah kecil di tangannya.
Tahun ini Laura pun berharap dia akan mendapatkan hal yang sama tau bahkan berharap lebih romantis dari tahun lalu. Laura mendapatkan pesan dari Edmund jika ia harus datang ke gedung N dan harus menuju lantai paling atas pada jam 9 malam, Laura harus menggunakan gaun berwarna putih agar senada dengan pakaian yang akan di pakai Edmund nanti. Laura sangat senang membaca pesan itu namun kenapa harus di gedung tinggi dan malah harus di atap bukannya di restoran atau dimana pun tempat yang lebih romantis.
Dari jam 6 sore, Laura sudah mulai bersiap-siap, ia memilah milih beberapa gaun berwarna putih yang akan ia pakai, akhirnya Laura memilih gaun putih tanpa lengan dengan belahan dada cukup rendah dan dipadukan dengan high heels warna senada. Lalu Laura merias wajahnya dengan makeup natural namun masih terlihat cantik, riasan yang sangat cocok dengan warna gaun yang ia kenakan.
Waktu sudah menunjukkan pukul 8.30 malam, laura masuk ke dalam taxi menuju ke gedung N dimana ia janjian bersama Edmund. Senyumnya selalu menghiasi wajah Laura di sepanjang perjalanan, tak lama sampailah Laura di gedung tersebut. Laura baru pertama kali datang ke gedung ini ternyata gedung apartemen kelas sedang dan tak terlalu banyak penghuni karena ketika dia masuk gedung tersebut sangat sepi dan tak ada pihak keamanan yang berjaga disana. Entah kamar-kamar itu terdapat penghuninya ataukah kosong, Laura tak tahu pasti.
Laura masuk ke dalam lift dan langsung menekan tombol lantai atas menuju atap, Laura masih saja berharap dengan bahagia terlihat dari senyuman yang masih menghiasi wajahnya. Ting.. suara tanda lift berhenti dan telah sampai di atap. Laura berjalan keluar lift dan melihat banyak sekali lampu pujar yang di susun sebagai penunjuk jalan, Laura terus berjalan mengikuti lampu tersebut. Dari kejauhan terlihat seseorang berdiri dengan memegang buket bunga dan entah tangan sebelahnya memegang apa karena Laura belum melihatnya dengan jelas, namun di lihat dari postur tubuhnya sama persis dengan Edmund.
Laura terus berjalan mendekat, terlihat sebelah tangan orang itu terlihat mengkilap terkena sinar lampu, Laura menyangka itu adalah perhiasan yang akan di berikan Edmund kepadanya. Setelah cukup dekat, Laura melihat Edmund di depannya lalu setengah berlari untuk segera menghampirinya.
" Berhenti...." langkahnya terhenti ketika Laura mendengar suara teriakan seseorang yang menyuruhnya berhenti.
Laura lalu mencari asal suara dan di samping tak jauh darinya ia melihat Edmund yang telah babak belur dengan tangan terikat. Laura yang kebingungan lalu menatap orang yang di depannya dan menatap orang yang terikat, bergantian terus menerus beberapa kali untuk meyakinkan apa yang dilihatnya.
" Edmund?" Laura yang masih kebingungan kenapa ada 2 wajah yang sama seperti Edmund di hadapannya.
" Laura jangan mendekati dia." teriak orang yang terikat.
Laura masih berdiam diri.
" Sayang, kemarilah. Aku sudah menyiapkan kejutan untukmu. Kemarilah sayang." seseorang yang memegang bunga memanggil Laura dengan lembut namun terlihat dengan senyum menyeringai yang tak di sadari Laura.
" Jangan beb, ini aku Edmund. Jangan kesana..." teriak orang yang terikat.
" Sayang, masa kamu tak mengenal pacarmu sendiri sih, kesini sayang, aku sudah menyiapkan hadiah terindah untukmu."
" Jangan, aku mohon beb." pria terikat memelas.
Laura yang merasa kebingungan dan sudah mulai cemas pun akhirnya berlari menghampiri orang yang di ikat dengan terburu-buru ia mencoba membuka tali yang mengikat pria itu.
" Beb, kenapa jadi begini? kenapa kau di ikat seperti ini?" cukup lama dan akhirnya Laura berhasil melepaskan ikatan pria itu.
" Beb, kau mengenalku?"
" Iya Beb, kau sama sekali tidak pernah memanggilku sayang dan tidak pernah selembut itu padaku."
" Hahahaha romantisnya pasangan muda ini, kenapa tak mati bersama saja!" pria itu mengeluarkan bebda yang dari tadi ia sembunyikan di tangan kirinya dan itu adalah sebuah pisau lipat lalu ia layangkan kepada Laura namun Edmund menghalanginya hingga punggung Edmund tersayat.
" Aakkkkzzzzzz."
" Beb, kau tak apa-apa? Dasar bajingan, sebenarnya kau ini siapa? kenapa kau ingin melukai kami." Teriak Laura sambil memeluk Edmund yang terluka.
" Hahahaha masa kau tidak tahu? dengan melihat wajah kami yang mirip saja pasti kau sudah bisa menebak siapa aku." pria itu melemparkan bunga di tangannya yang sebelumnya sudah mengambil pistol yang tersembunyi di dalam buket bunga tersebut.
" Edward, bunuh aku saja jangan Laura. Dia tak tahu apapun soal masalah kita." Teriak Edmund.
" Hahahha aku senang kau menderita, tak seru kalau hanya menyiksamu, aku ingin kau menyaksikan jika orang tercintamu di siksa." Edward menarik rambut Laurah hingga ia menjerit kesakitan.
" Edward... B*ngs*t kau..." Edmund melayangkan pukulan ke wajah Edward hingga Edward tersungkur.
" B*ngs*t.. berani kau memukulku." Dddooooorrrrrr, Edward menembak lengan Edmund hingga membuatnya teriak kesakitan.
" Edmund.... kau tak apa-apa." Laura sangat khawatir namun dia taj bisa berbuat apa-apa karena rambutnya terus di jambak oleh Edward.
" Lihat wajah cantik ini, kalau aku menggoreskan pisau ini ke wajahnya, apa yang akan terjadi?" Edward menggireskan pisau di pipi Laura hingga darah keluar dari sayatannya, Laura hanya bisa meringis menahan sakit di pipinya.
" B*jingan kau, lepaskan Laura." teriak Edmund.
" Kalau kau ingin menyelamatkan pacarmu, kemarilah lawan aku."
Edmund berdiri sambil memegang lengannya yang berdarah, ketika baru beberapa langkah Edward menembak kembali kaki Edmund hingga ia tersungkur.
" Aakkkkzzzzzz...." Edmund berguling menahan rasa sakit yang tak terkira sedangkan Laura hanya bisa menangis.
Edward lalu menampar Laura sampai Laura tersungkur ke lantai lalu Edward menendang beberapa kali perut Laura dengan terus menunjukannya pada Edmund hingga ia merasa puas. Edmund hanya bisa berteriak menyuruh Edward berhenti karena ia tidak bisa bangun untuk menolong kekasihnya tersebut. Laura meringis kesakitan sambil terus memegang perutnya yang tadi di tendang beberapa kali, sedangkan Edward hanya tertawa puas melihat penderitaan mereka berdua.
Sekali lagi Edward menembak kaki kiri Edmund sehingga sekarang kedua kaki Edmund terluka hingga ia tak bisa berjalan, namun Edmund merangkak perlahan berusaha mendekat kepada Laura yang meringis kesakitan. Tak membiarkan Edmund mendekat, Edward menjambak rambut Edmund lalu meninjunya beberapa kali hingga darah keluar dari hidung dan mulutnya. Edward melepaskan kepala Edmund ke lantai sekarang tubuhnya benar-benar sudah tak berdaya.
Melihat Edmund sudah tak berkutik seperti itu, Edward mengangkat tubuh Edmund, untuk membawanya kepinggir gedung yang sangat tinggi tersebut, namun Laura memegang kaki Edward untuk menahan agar Edward tak membawa Edmund ke pinggir gedung, namun Edward langsung menendang wajahnya hingga Laura melepaskan genggaman tangannya di kaki Edward.
Edward kembali melangkahkan kakinya ke pinggir gedung, setelah sampai ia berhenti sejenak.
" Selamat tinggal saudara kembarku, aku senang kau menderita seperti ini. Ini balasanku karena kau hidup m bahagia padahal aku menderita. Semoga kau hidup bahagia di dunia lain." Terlihat raut wajah yang puas karena telah menuntaskan perasaan dendamnya kepada saudara kembarnya itu.
" Tiiiddaakkkkk......" teriak Laura melihat Edmund dilempar begitu saja oleh Edward, Laura meratap sedih menangis sejadinya.
Sehari kemudian
Edward berada di peristirahatan terakhir, ia meletakkan sekuntum bunga mawar putih di batu nisan Edmund, bibirnya menyeringai penuh kepuasan. Lalu ia beranjak meninggalkan kuburan Edmund melangkah menuju seorang gadis yang menunggunya dari jauh. Gadis itu menoleh dan tersenyum manis ke arah Edward dan Edward pun merangkul pundaknya lalu berjalan bersama semakin menjauh.
Tamat.........
Jangan lupa like nya ... ☺️