Hidup sepasang saudara yang tinggal disebuah kota kecil. Kota yang terlihat, terdapat banyak pepohonan berbaris rapi. Kota yang sangat nyaman untuk ditinggali. Sepasang saudara itu sedari kecil sudah tinggal dikota itu, hingga kedua orang tua mereka meninggal karena kecelakaan di usia mereka yang masih muda.
Saudara tertua bernama Sunjo, harus menggantikan peran mengasuh adiknya saat dia seharusnya menikmati masa SMAnya. Sunjo bekerja serabutan agar bisa membiayai hidup mereka berdua. Sekarang sudah menjadi kebiasaan Sunjo selalu bermandikan keringat akibat kerja yang berlebihan, agar bisa menyekolahkan adiknya tersebut.
Tiap malam sekujur tubuhnya bergetar kesakitan akibat otot-otot yang menegang setelah bekerja yang berlebihan. Tidak pernah dia merasakan hasil dari keringatnya, semua hasil kerjanya dicurahkan untuk melihat senyuman dibibir tipis adiknya yang cantik. Sunjo bahkan jarang sekali makan-makanan yang enak dan membeli baju baru, meski dia memiliki uang lebih. Setiap bulannya dia selalu menabung agar adiknya kelak bisa mengeyam di bangku perkuliahan.
Perasaan Yuna tidaklah sama seperti yang dirasakan Sunjo. Yuna membenci kakaknya itu karena selalu membuatnya malu. Yuna tidak suka cara berpakaian Sunjo yang lusuh serta bau, selain itu Yuna juga membenci sifat kakanya yang selalu membeli makanan sisa, dari restoran untuk dia makan sendiri.
***
Yuna saat ini berusia 19 tahun dan sebentar lagi ingin segera melanjutkan pendidikannya di bangku kuliah. Waktu terus berputar hingga tak terasa Yuna saat ini sudah tumbuh besar. Sunjo merawat Yuna sudah 5 tahun sejak ditinggal oleh kedua orang tuanya dan saat ini Sunjo sudah menginjak usia 23 tahun.
Sebelum Sunjo kehilangan kedua orangtuanya, Sunjo anak yang pintar di SMAnya. Dia selalu berada diposisi 10 besar. Tetapi setelah insiden itu, dia sudah tidak bisa bersekolah lagi.
Ternyata diam-diam, Sunjo sejak dulu menyukai teman sekelasnya, yang kebetulan rumahnya berdekatan dengan rumah mereka. Tetapi Sunjo seolah membunuh cinta yang ia telah pendam sejak lama, karena dia paham bahwa selain dia harus fokus dengan adiknya, dia malu jika harus mengakui perasaannya dengan kondisinya saat ini.
Wanita yang dicintai dalam diam oleh Sunjo bernama Ayana. Ayana adalah sosok yang baik, terlihat Ayana sering datang kerumah Sunjo dan Yuna, untuk berbagi makanan di saat tertentu dan membantu Yuna dalam belajar.
***
Besok Yuna akan menghadapi ujian kelulusan dan Ayana datang untuk membantu mengajari. Tiba-tiba datanglah Sunjo pulang dengan membawa makanan mahal agar adiknya semangat dalam belajar dan juga ungkapan rasa terimakasihnya kepada Ayana, karena telah mengajari Yuna.
"Tada..... Hari ini aku membawa makanan spesial, Aku baru membelinya dari restoran yang terkenal di daerah sini lo....." terlihat raut muka Sunjo yang ceria
"Bisakah kau tidak berisik kakak, Saat ini aku sedang fokus belajar, Jika membawa makanan cukup taruh saja di meja makan, palingan juga makanan sisa" cetus Yuna dengan kesal bahkan dia sama sekali tidak melihat ke arah kakanya saat berbicara.
"Baiklah aku akan menghangatkannya nanti, Nona Ayana mari makan dulu, karena aku tahu dari tadi siang Nona belum makan" senyum tipis terlihat menghiasi wajah Sunjo yang terlihat kusam akibat tertutupi oleh keringat.
"Seharusnya kau mandi dulu sebelum menawari nona Ayana makanan, agar nona Ayana nantinya tidak mual karena baumu" perkataan yang sinis diikuti dengan tatapan marah yang langsung tertuju kepada Sunjo.
"Tidak apa-apa Yuna, kakakmu bermaksut baik menawari makanan yang baru ia beli, supaya kita segera bisa memakannya selagi masih hangat" Ucap Ayana kepada Yuna sembari mengelus kepala Yuna.
"Tidak apa-apa nona Ayana, Ucapan Yuna ada benarnya. Tidak seharusnya aku menawari makanan dalam keadaan seperti ini" Sunjo segera berbalik dan meletakkan makanannya dimeja dan segera pergi untuk mandi.
Setelah selesai mandi, Sunjo dan Ayana memutuskan untuk makan duluan karena menunggu Yuna yang tak kunjung keluar dari kamarnya. Sunjo masih saja menunggu Yuna untuk makan, hingga larut malam Yuna juga tak kunjung keluar. Akhirnya Sunjo memutuskan untuk menghangatkan makanan tersebut dan pergi tidur.
---(Pagi harinya)----
"Yuna apakah kamu tidak makan semalam? Mangkuk ini bahkan tidak berubah posisi sama sekali" Tanya Sunjo khawatir kepada Yuna.
"Aku tadi malam sudah makan roti yang dibelikan nona Yuna, Aku tidak mau makan makanan sisa" jawab Yuna dengan tatapan sinis dan pergi berangkat pergi kesekolah.
Dengan wajah yang sedih Sunjo memakan makanan itu sebagai sarapan, dia tidak ingin membuat suasana hati adiknya buruk saat akan menghadapi Ujian. Saat perjalanan berangkat kerja, Sunjo menyempatkan dirinya pergi ke kuil untuk berdoa supaya adiknya bisa menghadapi ujian dengan lancar.
----(3 bulan setelah ujian)-----
Yuna sangat senang mendengar dirinya mendapatkan nilai tertinggi saat acara pengumuman hasil ujian. Sunjo mengetahui adiknya menjadi siswi terbaik dalam ujian dari nona Ayana. Mengetahui adiknya menjadi juara, Sunjo diam-diam membelikan baju baru untuk Yuna agar dapat dipakai saat acara kelulusan.
Untuk membeli baju itu Sunjo bahkan tidak pulang kerumah selama seminggu untuk membelikan baju baru tersebut untuk Yuna. Setelah Sunjo membeli baju itu, dia menyerahkan baju itu kepada nona Ayana.
"Nona Ayana, tolong berikan ini kepada Yuna, sebagai hadiah atas prestasinya" Sambil melemparkan senyum manis kepada nona Ayana.
Sebenarnya Sunjo adalah idola saat dia masih SMA. Memiliki badan yang tegap serta kekar dan wajah yang tampan. Bibir merah dan mata indah yang dihiasi alis mata lurus serta tebal.
"Tidak mau, seharusnya kamu sendiri yang memberikannya kepada Yuna, bukannya aku. Kemarin juga kamu yang membelikan roti kesukaan Yuna tapi menyuruhku mengakui bahwa aku yang membelinya" Jawab Ayana dengan memasang wajah yang imut.
"Nona Ayana tau sendirikan, Yuna sangat menghargai barang yang anda berikan. Jadi kumohon bantu aku lagi ya..." Sunjo memegang kedua tangan Ayana sambil memohon kepadanya.
" baik... baiklah, aku akan membantumu kali ini" Jawab ayana sambil memasang wajah cemberut.
Dari kejauhan Sunjo melihat Yuna yang sangat senang menerima baju baru untuk acara kelulusannya, membuat Sunjo juga bahagia.
---(Acara kelulusan dimulai)----
Kepala sekolah memulai acara kelulusan diawali dengan pidato sambutan dan diteruskan pembacaan nama-nama siswa yang berprestasi. Kepala sekolah mulai membaca nama-nama itu dan nama Yuna menjadi nama yang pertama dipanggil. Yuna bahagia karena usahanya selama ini membuahkan hasil. Tak disangka-sangka, Yuna juga lolos masuk dalam perguruan tinggi yang ada di kota tersebut.
Tak kuasa menahan bahagia Sunjo meneteskan air mata bahagia, melihat adiknya bisa mengejar impian yang dulu dia tidak bisa raih. Dalam perjalanan pulang Sunjo mengajak Yuna agar mau pergi bersama untuk merayakan keberhasilan Yuna.
"Ayo kita pergi ke restoran yang sejak dulu kau sukai" Terlihat raut wajah semangat dan bangga terukir di wajah Sunjo.
"Aku tidak mau, dulu kau membuatku malu, karena membayar dengan uang receh, sehingga membuat pemilik toko menunggumu selesai menghitung saat membayar" Yuna dengan wajah datar segera mempercepat langkah kakinya untuk segera pulang.
"Aku sudah menyiapkan uang untuk kita bertiga makan disana, sudah lama aku tidak makan bersamamu." Jawab Sunjo yang mengejar Yuna karena mempercepat langkah kakinya.
***
Yuna hari ini mendapatkan ajakan dari beberapa temannya untuk berpesta dirumahnya. Pesta itu ditujukan untuk merayakan kelulusan mereka. Tanpa menaruh curiga Yuna menerima ajakan tersebut.
Sunjo sepulang kerja tidak mendapati adiknya dirumah, karena merasa khawatir dia bertanya kepada nona Ayana. Setelah tahu keberadaan adiknya, Sunjo segera berlari secepat angin menyusul adiknya. Setelah sampai dirumah temannya, Sunjo mendobrak pintu rumah itu dan segera bertanya ke temannya. Teman Yuna mengatakan bahwa Yuna sudah pergi pulang diantar oleh 4 orang temannya.
Sunjo yang panik segera berlari sekuat tenaga, didalam perjalanannya dia berpikir bahwa Yuna akan dibawa ke tempat yang sepi didekat sini. Benar saja, Sunjo menemukan Yuna dalan keadaan bahaya. Insting seorang kakak menuntunnya menemukan adiknya.
Sunjo datang diwaktu yang sangat tepat, sebelum ke empat orang itu ingin melakukan sesuatu yang buruk kepada Yuna. Tanpa basa-basi Sunjo yang berbadan tegap segera berlari dan menghajar salah seorang yang kebetulan dekat dengan Sunjo.
Sekuat tenaga Sunjo membenamkan pukulannya yang membuat salah seorang dari mereka terpental jatuh tak sadarkan diri. Melihat hal itu ketiga orang lainnya segera menghampiri Sunjo untuk memukulnya.
Dengan pengalaman hidup yang telah dilalui Sunjo, mereka dijatuhkan dengan mudah. Setelahnya Sunjo segera menghampiri Yuna dan menggendongnya pulang. Saat akan menggendongnya, salah satu dari mereka memukulkan balok bayu yang besar ke kepala Sunjo. Menerima pukulan tepat dikepalanya Sunjo tersungkur jatuh, tapi hal itu tidak sedikitpun membuat Sunjo lemah. Menyadari betapa kuatnya tekad Sunjo, Anak yang memukul kepala Sunjo lari meninggalkan ketiga temannya yang berbaring tak sadarkan diri.
Lantas Sunjo menggendong Yuna pulang. Yuna yang kala itu masih trauma hanya bisa terdiam hingga dia disadarkan dengan darah hangat yang mulai membasahi pipinya. Dia tersadar bahwa kakanya mengalami luka dikepalanya. Dengan pandangan yang mulai kabur, Sunjo berhasil membawa Yuna pulang.
Setelah sampai dirumah, Sunjo segera memeluk adiknya dan menangis mengkhawatirkan kondisinya. Adiknya pun meminta maaf kepada kakaknya atas perlakuannya selama ini. Yuna mengaku bahwa dia membencinya, karena Yuna menyalahkan kematian kedua orangtuanya kepada Sunjo.
Sebelum insiden kecelakaan terjadi, Ayah sunjo marah kepada Sunjo, dan Sunjo menyuruh mereka agar tidak kembali pulang. Setelah itu apa yang dikatakan Sunjo menjadi kenyataan. Kedua orangtua mereka tidak akan pernah lagi bersama mereka.
Sebelum meninggal ibunya berpesan kepada Sunjo.
"Tidak apa-apa kamu membenci ayahmu, karena perbuatannya yang buruk kepada ibu. Tapi kamu tidak boleh membenci adikmu apapun yang terjadi. Jaga dia dengan baik dan tetaplah tersenyum padanya, karena kamu seorang kakak" kata ibu Sunjo sambil melayangkan senyum lembut padanya.
Melihat kakaknya yang tak sadarkan diri dipangkuannya, Yuna berlari mengetuk pintu rumah nona Ayana, meminta bantuan nona Ayana untuk membawa kakaknya ke rumah sakit.
----(Perjalanan meuju rumah sakit)----
"Hahahaha..... sampai akhir aku selalu merepotkanmu ya nona Ayana. Mungkin ini terasa aneh ditengah situasi seperti ini, tapi aku minta tolong, jaga adikku nona Ayana" Sunjo dengan semua tenaga terakhirnya berbicara kepada nona Ayana.
(Melihat kakaknya yang mulai lemas Yuna mulai memeluk erat Sunjo, sembari terus meneteskan air mata.)
Sunjo meninggal dalam perjalanan kerumah sakit. Dokter mengatakan, Sunjo sebelumnya pernah mengalami luka serius dikepalanya, sehingga pukulan dikepalanya akibat pukulan balok kayu memperparah luka lamanya.
Nona Ayana menceritakan kepada Yuna bahwa Sunjo pernah terluka dikepala waktu jaman SMA dulu, akibat menyelamatkannya saat terjatuh dari tangga. Nona Ayana meminta maaf kepada Yuna, karena waktu itu Sunjo mendekapnya sehingga nona Ayana tidak mengalami cidera serius.
Yuna baru mengetahui kejadian itu disebabkan, waktu SMP Yuna tidak tinggal serumah dengan Sunjo. Yuna tinggal dengan ibunya sedangkan Sunjo dengan ayahnya.
***
Waktupun telah berlalu bersama dengan musim dingin. Pohon-pohon di kota kecil itu mulai bersemi. Membuat siapapun yang melihatnya terpesona dengan keindahan kota kecil itu.
Yuna yang saat itu sedang membereskan kamar kakaknya, tak sengaja menemukan buku catatan harian milik kakaknya. Di dalam buku itu menceritakan segala hal mulai dari rasa cintanya terhadap nona Ayana, kesukaan Yuna, hal yang dibenci Yuna, prestasi Yuna, serta hadiah-hadiah yang dia belikan untuk Yuna. Semua harapan dan rasa cinta yang dia sembunyikan untuk Yuna dan nona Ayana tertuang dalam buku itu.
Yuna membaca buku itu sembari meneteskan air mata. Dia baru menyadari semua yang selama ini diberikan oleh nona Ayana, berasal dari kakaknya. Dia juga mengetahui semua hal yang dilakukan oleh kakaknya tanpa sepengetahuan dirinya. Seperti saat baju seragam sekolahnya yang dijahit oleh Sungjo saat tengah malam, karena takut ketahuan oleh Yuna. Semua hal kecil yang selama ini tidak diketahui olehnya mulai terungkap. Perhatian dan rasa cinta kakaknya satu persatu mulai ditunjukkan oleh buku harian kakaknya.
Tiba tiba jatuh sepucuk surat dari buku tersebut.
-----***----
Untuk Adikku Tersayang
Maaf mungkin surat ini ku tulis untukmu tapi aku tidak berniat untuk memberikannya untukmu. Surat ini kutulis hanya untuk ku pendam sendiri.
Hari ini aku merasa bangga kepadamu, kamu telah mencapai sesuatu yang kakakmu tidak bisa gapai. Kakak sangat senang karena merasa telah berhasil menjagamu dan kakak tidak malu nanti jika suatu saat bertemu dengan ibu.
Aku sangat ingin bisa bercanda lagi seperti dulu sebelum semuanya berubah, ketika ayah dan ibu masih bersama.
Aku sangat menyayangimu adikku.
Aku menyimpan hadiah untukmu saat dirimu masuk kuliah nanti. Aku tidak tahu apa responmu saat menerima hadiah ini, tapi tolong diterima.
Setelah kamu masuk kuliah, kakak juga akan bersekolah untuk mengejar cinta kakak. Ayo kita berdua berlomba bersama menggapai cita-cita kita.
***
Di akhir buku harian milik Sunjo tertulis.
*Hadiah untuk Yuna tersimpan di belakang lemariku*
Yuna tak kuasa menahan tangisnya dan duduk terdiam didalam kamar Sunjo. Yuna memberanikan diri melihat hadiah yang diberikan oleh kakaknya itu. Setelah tahu hadiah kakaknya itu, tangan Yuna mulai bergetar.
"Dasar.... selalu saja memikirkan diriku. Kenapa kakak tidak membeli sesuatu untuk diri kakak sendiri. Kakak tidak pernah membeli baju baru dan selalu membeli makanan sisa untuk dirimu sendiri."
Yuna terduduk lemas, hadiah yang dimaksud Sunjo adalah tabungannya selama ini, yang berisi uang sangat banyak hingga bisa membiayai kuliah Yuna hingga lulus.
beberapa hari setelah membuka buku catatan harian milik kakaknya. Yuna menyerahkan buku catatan itu dan memberikan hadiah untuk nona Ayana.
"Apa ini Yuna?" tanya nona Ayana dengan wajah yang terlihat sedih
"Ini buku catatan harian milik kakakku, aku ingin nona juga ikut membacanya. Juga ada hadiah yang selama ini disimpan kakakku untuk nona Ayana, tapi dia tidak berani memberikannya" jawab Yuna dengan mata yang berseri-seri
Nona Ayana membuka bingkisan kado tersebut yang sudah tertutup debu. Dia menangis membuka kado itu. Ternyata berisi kotak musik peninggalan ibunya yang dirusak oleh temannya sewaktu kecil. Sunjo memungutnya dan memperbaikinya.
Nona Ayana tidak bisa membendung tangisnya setelah membaca buku harian dari Sunjo.
-------End------
Jika berkenan baca kembali dengan mendengarkan musik "Goodby to the world versi melody" Terimakasih.