" Lepaskan aku !, Tolong!, Tolong!, siapapun tolonglah aku!", Fani berteriak dengan kaki dan tangan yang terikat pada sebuah pohon besar di pinggir sungai.
" Sebenarnya apa maksud orang-orang itu mengikatku di sini, aku tidak pernah punya masalah dengan orang-orang itu", batin Fani masih bingung dengan kejadian dua jam yang lalu menimpa dirinya.
***
Fani gadis cantik berusia 23 tahun dengan tinggi 160 cm, tengah berjalan pulang dari rumah sakit tempatnya bekerja, ketika tiba-tiba tiga laki-laki memakai kaos hitam berperawakan tinggi kekar turun dari mobil dan memaksanya masuk ke dalam mobil.
Orang itu menutup mulut Fani menggunakan kain hitam dan mengikat tangannya begitu kuat. Fani tidak tau apa tujuan mereka menyandera Fani dan siapa dalang dari kejadian buruk yang menimpanya hari ini, Fani tidak mempunyai bayangan sama sekali.
Setelah sampai di tempat sepi, hanya terdengar suara burung berkicau, serangga dan gemericik air mengalir, Fani memandang sekitar, seperti hutan karena begitu banyak pohon besar dan tak ada satupun rumah yang terlihat, Fani diturunkan dari mobil, kemudian di seret masuk ke dalam hutan.
Orang-orang berkaos hitam itu mengikatkan tangan dan kaki Fani di pohon yang cukup besar, lalu mereka berlalu dan tak lama kemudian terdengar suara mesin mobil dinyalakan dari kejauhan, lama-lama suara mobil itu menjauh dan hilang. Mereka meninggalkan Fani sendiri di tengah hutan.
Hari menjelang malam, keadaan sekitar mulai gelap karena tak ada lampu, hanya cahaya dari matahari senja yang menelusup sela-sela pepohonan.
" Bagaimana ini, aku takut disini sendirian", batin Fani.
Dengan berusaha keras akhirnya Fani berhasil menggeser kain hitam yang menutup mulutnya, sehingga dia bisa berteriak untuk minta tolong.
" Tolong !, tolong!, tolong!", Fani kembali berteriak, tapi tidak ada tanda-tanda manusia yang lewat. Suasana semakin sepi dan suara burung hantu nyaring terdengar.
Fani menggeser geser pergelangan tangannya yang terikat, berusaha melepaskan diri sekuat tenaga, " Sudah gelap, aku harus bagaimana ", Fani menangis sejadi-jadinya, perasaannya bercampur antara sedih dan takut bercampur menjadi satu.
" Huhu........hu....hu....hu...."
Setelah beberapa jam menangis, Fani merasa kehabisan tenaga, dia menghentikan tangisannya dan menatap sekelilingnya sudah benar-benar gelap. Ada sedikit cahaya dari pantulan cahaya bulan di air sungai yang tenang.
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahnya ." Apa ada orang disana?", tanya Fani penuh harap.
Tidak ada jawaban, tapi langkah kaki itu semakin mendekat, membuat Fani benar-benar ketakutan.
Fani berdo'a dengan suara lantang, membaca semua do'a yang dia hafal. Fani pasrah, hanya itu yang bisa dia lakukan , dia pikir jika pun akan terjadi sesuatu padanya, yang penting dia mati dalam keadaaan berdoa.
Seberkas cahaya menuju ke arahnya, tampak bayangan seseorang dari kejauhan, Fani menyipitkan matanya karena merasa silau.
" Siapa disana?", tanya Fani memberanikan diri.
Orang itu mendekat kepada Fani dan meletakkan senter yang dibawanya di atas tanah. Laki-laki muda bertubuh tinggi itu mengambil semacam belati dari dalam ranselnya.
" Aku Tomi, polisi hutan yang menjaga di wilayah ini", laki-laki itu memperkenalkan diri.
Tomi memotong tali yang mengikat tangan dan kaki Fani menggunakan belatinya.
" Ikuti aku, aku akan mengajakmu ke markas".
Fani menuruti perkataan Tomi dan mengikutinya.
Berjalan di belakang Tomi menatap punggung laki-laki yang sangat bidang itu. Tapi karena lelah dan keram yang terjadi pada kakinya, Fani yang baru berjalan beberapa langkah langsung ambruk di atas tanah.
" Aww....", rintih Fani menyentuh pergelangan kakinya yang nyeri.
" Sejak kapan anda terikat di pohon itu?", tanya Tomi merangkul kemudian memapah Fani yang tersungkur di tanah.
" Tadi sore aku sedang berjalan pulang setelah bekerja , tiba-tiba ada tiga laki-laki bertubuh tinggi besar menculik ku, dan membawaku kemari, selanjutnya seperti yang anda lihat, aku di ikat di pohon itu", Fani duduk dan bersandar di pohon besar yang berada di belakangnya.
" Kakiku kram karena berdiri lama dan di ikat dengan kuat di pohon itu", Fani menekuk ujung celananya, melihat samar warna merah melingkar dan beberapa goresan luka di kakinya.
" Bisakah istirahat dulu, aku tidak bisa melangkah lebih jauh", Fani meringis kesakitan.
Tomi membuka ranselnya dan mengeluarkan tumbler berwarna hitam, kemudian menyerahkannya pada Fani.
" Minumlah, itu teh manis yang masih hangat , untuk memulihkan tenagamu, kita istirahat dulu disini", ucap Tomi menatap Fani dengan seksama.
Cahaya rembulan yang menerobos melalui celah dedaunan di pertengahan malam menerpa wajah Fani yang terlihat cantik meski kotor terkena tanah. Baju seragam berwarna putih yang dikenakan Fani juga membuatnya tampak bersinar di tengah hutan yang sangat gelap.
Fani meminum beberapa teguk teh manis pemberian Tomi, tapi tidak menghabiskannya, sengaja menyisakan untuk Tomi.
" Terimakasih banyak", Fani menyerahkan tumbler itu pada Tomi.
" Kenapa tidak di habiskan?, kau pasti belum makan apa-apa sejak tadi sore, tapi maaf saya tidak membawa bekal makanan, hanya minuman ini yang ku bawa", ujar Tomi.
" Sudah cukup, terimakasih, emmm....
sebenarnya saya ingin buang air kecil, tapi..." , Fani menundukan kepalanya dalam, merasa malu untuk melanjutkan kalimatnya.
" Disini saja, markas masih sekitar 2 kilometer dari sini", Tomi menjelaskan.
" Aku antar kau ke sungai di bawah sana, kau bisa sekalian membersihkan wajahmu nanti", ucap Tomi.
Fani mencoba berdiri dengan berpegangan pada pohon yang tadi menjadi sandarannya. Kemudian melangkah perlahan mengikuti langkah jenjang Tomi.
" Bisakah kau lebih pelan?, kakiku masih terasa nyeri", seru Fani saat dirinya tertinggal cukup jauh dari posisi Tomi.
Tomi menengok ke belakang, kaki Fani masih sakit, meski Tomi berjalan dengan langkah biasa tapi mereka berjarak cukup jauh.
Tomi kembali menghampiri Fani, " mari ku bantu hingga tepi sungai", Tomi membungkukkan badannya membopong tubuh Fani dan melingkarkan tangan Fani di pundaknya.
Deg...deg....deg....
Jantung Fani langsung berdetak kencang, baru kali ini dia pernah dibopong oleh seorang laki-laki, apalagi laki-laki yang baru saja dikenalnya. Wajah mereka berdua berhadapan meski pandangan Tomi fokus ke depan mencari pijakan yang tepat agar tidak tersandung akar pohon atau terperosok ke dalam lubang, tapi Tomi masih bisa menghirup aroma rambut Fani yang berbau wangi. Itu sudah cukup membuat jantungnya juga berdegup lebih cepat dari biasanya.
Sesampainya di tepi sungai Tomi menurunkan Fani dan membalikkan badannya.
" Silahkan lakukan yang ingin kau lakukan, aku tidak akan melihat ke arahmu", ucap Tomi dengan membelakangi dirinya.
Fani segera membuka celananya dan buang air kecil di tepian sungai, setelah selesai Fani juga mencuci wajah yang kotor, dan sedikit membasahi rambutnya yang sudah terlihat sangat kusut, Fani menyisir rambutnya dengan jari tangan dan kembali mengikatnya.
Fani melangkah dengan terpincang-pincang menghampiri Tomi yang masih membelakanginya.
" Mari kita lanjutkan perjalanan, saya sudah lebih baik, tapi jangan melangkah terlalu cepat", ucap Fani.
Tomi mengangguk mengiyakan. Mereka berdua berjalan beriringan, berulang kali Tomi menengok kebelakang takut langkahnya terlalu cepat.
Wajah Fani yang basah setelah tadi mencuci muka didukung baju seragam yang berwarna putih membuat Fani seperti bidadari yang bersinar di kegelapan malam.
" Siapa namamu?" Tomi berjalan di samping Fani saat mereka sudah sampai di jalan yang beraspal.
" Tifani Khumaira, panggil saja Fani", ucap Fani memperkenalkan diri.
" Apa anda punya musuh, atau orang yang mungkin iri dan tidak suka padamu?", tanya Tomi kembali.
" Entahlah, saya tidak punya musuh, dan saya berhubungan baik dengan semua orang, saya sendiri bingung dengan semua yang terjadi hari ini", Fani mengungkapkan apa yang ada dalam pikirannya.
" Anda bilang anda di culik saat berjalan pulang dari tempat kerja, dimana rumah Anda?", tanya Tomi lagi.
" Anda ini sedang mengintrogasi saya apa gimana ini?, pertanyaan anda tidak ada habisnya", ucap Fani yang merasa sedang di interogasi.
" Oke, dengarkan baik-baik, biar saya perkenalkan diri saya secara terperinci", ucap Fani kemudian.
"Nama tadi sudah, kejadian juga sudah saya ceritakan, pekerjaan saya menjadi seorang suster di rumah sakit umum daerah, saya tidak pernah punya masalah dengan orang lain, karena saya cinta damai, saya masih sendiri alias belum menikah, calon suami belum ada dan keluarga saya juga tidak pernah punya masalah dengan orang lain, rumah kedua orang tua ada di Magelang dan saya tinggal di kost-kostan dekat rumah sakit, jadi menurut anda, kira-kira saya harus mencurigai siapa, saya sendiri tidak punya gambaran", Fani merasa kesal dengan keadaannya.
" Di hutan ini tidak ada Cctv, jadi jika anda tidak punya bukti apapun mengenai penculikan yang terjadi pada anda hari ini, akan sangat sulit untuk mencari tahu siapa pelakunya, meski anda menunjukan luka-luka pada bagian tubuh anda yang tadi diikat", Tomi menjelaskan.
" Mungkin ini takdir dari jalan cerita Tuhan yang sedang membelokanku ke arah ini", ujar Fani.
" Apa kau sudah menikah?, atau sudah punya calon istri?", tanya Fani tanpa ragu.
" Belum ada", jawab Tomi.
Fani tersenyum mendengar kalimat pendek yang di ucapkan Tomi.
" Mungkin itu bisa menjadi salah satu jawaban dari pertanyaan mengapa aku diculik dan sampai di sekap di hutan ini, jawabannya agar kau datang dan menolongku", Fani berkata dengan begitu polos.
Tomi hanya menatap Fani dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.