Aku berjalan gontai memasuki sebuah cafe dekat kampus ku, seolah tak terjadi apa-apa barusan. Mataku memandang sekeliling, berusaha mencari tempat duduk ternyaman. Mata ku tertarik pada sofa merah di pojok dekat jendela. Eits kalian jangan salah paham dulu! Aku bukan habis putus cinta dan memilih pojokan untuk menangis meratapi nasib.
Aku hanya sedang kesal. Aku butuh pelampiasan untuk melepas rasa penat. Hari ini lagi-lagi aku bertengkar dengan bunda ku. Aku tahu bunda begitu karena sayang padaku apalagi hanya dia yang menyokong kehidupan kami bertiga; bunda, aku dan Lukas kakak laki-lakiku, setelah ayah tiada sepuluh tahun silam. Aku juga manusia biasa butuh kebebasan. Salah kah?
Aku memang selalu seperti ini, mencari tempat duduk di pojokan dekat jendela. Aneh kah? ah bodo amat.
Kenalkan namaku Angel. Angelina Jovanka. Aku tinggal di kota kembang, paris van java, Bandung. Usiaku 21 tahun. Aku baru saja merayakan ulang tahunku seminggu yang lalu.
Aku menyeruput kopi cappuccino kesukaanku sambil memandang ke arah luar jendela cafe. Mendung masih asyik menggelantung di atas langit. Baru saja pandanganku berpaling dari jendela, aku dikagetkan oleh seseorang yang tiba-tiba berdiri di hadapanku.
"Astaga, siapa dia?" gumamku dalam hati.
Aku mengerjapkan mata. Seulas senyuman tipis nampak di bibir laki-laki yang menggunakan jas almamater seperti yang aku pakai. Tapi aku tidak pernah melihatnya di kampus. Oh mungkin beda jurusan, aku mencoba positif thingking.
“Boleh nggak aku duduk di sini? Tempatnya penuh dan cuma mejamu yang masih punya kursi kosong.” ujarnya dengan senyuman tipis yang setia merekah di wajah manisnya.
“A-apa?” tanyaku yang masih memandangi rupa rupawan laki-laki itu.
“Ehem, aku ikut duduk di sini. Itu... penuh semua.” jawabnya mengulang kalimatnya tadi sembari menggaruk tengkuknya yang ku yakini tidak gatal. Ada apa sama orang ini? dia salah tingkah?
Aku mengangguk pelan dan mempersilahkannya untuk duduk. Kaki jenjangnya kini beralih duduk di hadapanku. Tuh mulut nggak pegal ya senyum dari tadi?
“Kenalin aku Bastian Fakultas Hukum. Panggil saja Tian aku baru pindah dari Jakarta. Salam kenal. Kamu?”
“Angelina Jovanka.”
Bastian? Anggota coboy junior? Huft astaga Tuhan aku hampir saja tertawa. Pantas enggak pernah lihat, ternyata beda fakultas, pindahan pula. Ya ya ya.
“Senang kenalan sama kamu, Angelina Jovanka” ucapnya masih dengan senyuman.
“Panggil Angel saja."
“Suka kopi juga?”
"Tidak semua kopi. Aku lebih suka cappuccino. Apalagi kalau sedih.”
“Berarti kamu sekarang lagi sedih dong?”
Ini laki-laki cerewet amat. Dari tadi nanya-nanya kayak reporter berita gosip.
Saku jas almamater ku bergetar. Dan benar saja bundaku menelpon. Segera aku mengambil ponselku.
“Kamu kenapa belum pulang? keluyuran kemana lagi kamu hah!? Kamu nggak kasihan sama abangmu muter-muter nyariin kamu?!” suara bunda meninggi tanda ia sedang marah.
Aku hanya diam membiarkan bunda bicara.
“Pulang sekarang atau bunda sendiri yang nyeret kamu!”
“Okay okay, Bun."
Tut Tut
“Orang tua mu?”
“Bundaku. Maaf aku pergi duluan.” ucapku sembari melangkahkan kaki keluar dari cafe.
Baru saja aku memutar gagang pintu rumah, suara bunda menyambut kedatangan ku.
“Kamu benci sama bunda? Kamu enggak sayang sama bunda?" bundaku meneteskan air mata.
JLEB!
Hatiku nyesek!
"Aku sayang bunda... Jangan ngomong gitu, bun..."
"Kalau kamu sayang sama bunda ingat kondisi kamu. Tolong jangan membuat bunda cemas, nak. Bunda mohon!”
Aku mengerjapkan mata. Air mata mengalir di pipiku. Lagi-lagi kondisiku jadi penyebab air mata bunda. Memang ada apa dengan kondisiku???
“Maafkan aku bunda...”
“Kondisimu sangat penting, Angel.”
“Bunda terus saja berbicara masalah kondisiku. Jujur lah bunda aku ini kenapa? Setiap bulan ke rumah sakit, cek ini itu, tes ini itu, obat ini itu. Aku yang punya badan tapi aku enggak tahu apa-apa! Bunda ngomong dong sama aku jangan dirahasiain lagi semuanya dari aku!”
Kupandangi bunda menghela nafas.
“Kanker otak stadium 1.”
JDER!
Ucapan bunda membuat tubuhku lemas seketika. Aku menatap bunda memastikan berharap bunda lagi ngeprank aku.
“Nak... Bunda berharap setelah tahu tentang kondisimu, kamu sekarang mengerti mengapa bunda membatasi kegiatanmu. Sayang... Selagi masih stadium awal dan belum menyebar, dengarkan ya kata-kata bunda. Bunda takut... Takut kamu hiks...” Bunda terisak menangkup wajah kurus dan letihnya.
“Hei, Angel!" Aku berbalik. Tian yang berlari terengah-engah ke arahku memandangku dengan raut muka khawatir, ditambah matanya terbelalak. Aku bingung dan memiringkan sedikit kepalaku.
"Ada apa? kenapa mukamu begitu? Ada yang salah?" ucapku.
“Angel... Kamu mimisan!”
"A-apa?" Aku menyeka hidungku dan benar saja. Jari-jariku berlumuran darah.
Aku berlari secepat mungkin ke toilet terdekat di kampusku. Ah kenapa ini? rasanya aneh... Kepalaku berdenyutsakit sekali rasanya kepalaku akan pecah. Kakiku lemas, pandanganku berkunang-kunang, perutku terasa mual dan ingin memuntahkan sesuatu.
“Ange!?” Panggil seseorang yang sepertinya Bastian. Aku sudah tidak kuat. Aku jatuh tersungkur di lobi kampus dan semua gelap.
Aku membuka mata perlahan, mengerjapkannya, menyesuaikan dengan terangan ruangan ini.
"Kamu sudah siuman?" suara Bastian membuatku menoleh. Aku berusaha bangkit, tapi badanku lemah.
"Ayo, aku bantuin." Bastian memegang bahuku membantuku duduk.
"Maafin aku. Padahal baru bertemu kemarin, aku sudah merepotkanmu, bahkan membawaku ke rumah sakit. Makasih ya..." Aku tertunduk.
“Santai aja aku enggak ngerasa kamu repotin kok. Oh iya Angel... Hmm... Aku minta maaf. Ada yang mau aku sampaiin tapi kamu jangan terkejut. Aku harap kamu bersabar dan kuat. Aku mendapat informasi dari dokter. Katanya kamu..."
“Kanker otak stadium 1?” Aku tersenyum tipis.
Kulihat wajahnya berubah pias, namun ia melanjutkan berbicara
“Iya, tapi dokter bilang kankermu sudah stadium 3.” Aku dan Bastian sama-sama terdiam. Aku terdiam karena syok. Stadium 3? lelucon apa lagi ini Tuhan?
“Mama mu sedang di administrasi." Bastian seperti tidak bisa berkata-kata. Ia terlihat bingung harus bagaimana. Ia menatapku dengan sorot mata yang aku paling tidak suka.
“Jangan lihat aku seperti itu! Aku tidak suka dikasihani.” tuturku datar lantas memalingkan wajah.
“Bu-bukan begitu. Aku tidak kasihan. Eh maksudku.. Duh! Ah lupakan saja. Lekas sembuh."
Bastian berjalan keluar ruang rawatku. Aku menatap punggung lelaki itu yang sekarang telah menghilang di balik pintu.
Aku menundukkan kepala. Helaan nafasku keluar beserta air mata yang lolos menetes.
“Angel...” panggil bundaku. Entah seberapa larut aku termenung sampai tak sadar akan kehadiran bunda.
Aku mengangkat kepalaku dan memandang wajah bundaku yang terlihat sangat sendu.
“Kamu harus di rawat inap di sini dulu enggak apa-apa kan?” Aku hanya mengangguk.
"Semua bakal baik-baik saja." Bunda mengelus rambutku. Bunda menenangkan aku.
Berjalannya waktu, kondisiku semakin membaik. Untung saja waktu itu penyebaran sel kanker belum menyebar luas dan masih bisa disembuhkan. Aku menjalani radiasi dan kemoterapi. Beruntunglah aku terlahir dengan rambut super tebal jadi kerontokan tak terlalu kentara.
Selama di rumah sakit, aku tak pernah merasa kesepian. Ada bunda, dan kak Lukas yang selalu siap sedia menjagaku. Bunda bahkan sampai jarang mengontrol toko-toko rotinya. Ada kak Renata, pacar kak Lukas yang selalu menyuapiku ketika makan. Juga, ada Bastian yang sering datang menjenguk dan menghiburku. Bersyukur aku bisa mengenal mereka semua. Tuhan baik banget pada ku. Aku bahagia. Benar-benar bahagia. Beberapa minggu lalu, dokter menyatakan bahwa aku sembuh dari penyakitku.
Kebahagian yang aku rasakan hanya bertahan dua bulan saja. Saat aku menjalani pemeriksaan rutin untuk mencegah timbulnya sel kanker lagi, lagi-lagi sebongkah batu besar menghantamku. Hal yang sangat kami hindari ternyata terjadi. Kanker di otakku tumbuh lagi. Bahkan penyebarannya sudah sangat sangat luas dibanding yang sebelumnya.
Saat ini, aku terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Rasanya sesak melihat bunda dan kakak ku menangis sesenggukan. Andai ini baru stadium awal, aku bisa saja menjalani kemoterapi lagi. Tapi ini? Dokter bahkan mengatakan kanker otakku mencapai stadium 4. Sudah tidak ada cara lagi. Aku hanya menunggu mujizat. Dan aku ingin menyerah.
Hari ini, Bastian datang menjengukku seperti hari-hari sebelumnya. Ia hendak mengajakku ke suatu tempat dan untungnya bunda menyetujuinya.
Aku pergi dengan menggunakan kursi roda. Entahlah aku akan dibawa kemana.
“Mau ke alun-alun?” Bastian seakan tahu keinginanku. Aku mengangguk dan tersenyum lebar. Aku di tuntun Bastian untuk naik ke mobilnya dan ia melajukan mobil membawaku ke Alun-alun kota Bandung. Butuh sekitar 15 menit dari Rumah Sakit Advent Bandung ke Alun-alun.
Kembali Bastian menuntunku turun dari mobil dan memindahkanku ke kursi roda. Mataku berbinar bahagia. Alun-alun saat ini terlihat lebih ramai dibanding tahun-tahun sebelumnya.
“Kamu suka?” tanya Bastian sambi mendorong kursi roda ku.
“Banget! Makasih ya." ujarku
Bastian mendorong kursi rodaku ke arah bangku terdekat. Ia mendudukkan dirinya lalu memutar kursi rodaku berhadapan dengannya.
“Ada tempat lain yang ingin kamu kunjungi?”
“Swiss” ucapku girang. Bastian menautkan kedua alisnya.
"Aku pengen main ski di atas salju."
“Di Bandung juga bisa main salju.” Kini berbalik aku yang bingung.
"Di Bandung?"
Bastian mengangguk mengiyakan pertanyaanku.
"Di Panama Park." sahutnya
"Oh iya ya kenapa aku bisa lupa ya..."
“Ayo, kita keliling lagi” ajaknya.
Baru setengah perjalanan aku merasa kepalaku sakit sekali. Ada yang keluar dari hidungku. Darah!
“Angel, kamu kenapa?”
Kulihat wajah Bastian pucat. Suara Bastian mulai sayup-sayup kudengar. Terasa tangannya mengguncang bahuku. Pandanganku menggelap dan aku tak tahu apa yang terjadi setelahnya.
Aku berusaha membuka mataku yang terasa berat. Dadaku sesak. Aku sulit bernafas.
“Bunda...” Aku hendak memanggil bundaku. Tapi kenapa suaraku? suaraku tertahan di tenggorokanku. Aku tak melihat siapapun di sini. Mereka semua ke mana? Aku butuh mereka. Aku lapar... Aku... Aku tak tahan. Aku enggak kuat. Rasanya semakin sesak. Pandanganku buram dan menggelap.
Jakarta, 16 September 2017
“Bastian, ayo kita ke cafe! Aku pengen minum cappuccino."
"Enggak mau! Nanti aku di marahin bundamu."
"Ih kok kamu gitu sih? Eh Bastian jangan pergi dong! Bastian! Tiiian"
BRAK!
"Angel!!! Bangun angel!"
"Bunda gimana keadaan Angel?"
"Luka di kepala Angel parah, nak. Kata dokter kemungkinan besar dia akan amnesia permanen, Tian."
"Apaa??Tidaak!!"
Bandung, 26 Maret 2018
Bastian berdiri di depan sebuah kampus. Setelah perdebatan yang cukup panjang dengan orang tuanya akhirnya Bastian diijinkan pindah ke Bandung. Ia tersenyum saat melihat seorang gadis berlari kecil masuk sebuah cafe. Ia pun menyusul dengan hati bahagia. Dan seakan direstui oleh semesta, kursi-kursi di cafe itu penuh hanya meninggalkan kursi di depan gadis tadi. Lalu ia menghampiri gadis itu. Hatinya berbunga-bunga saat gadis itu memperbolehkan ia duduk di sana. Berdua.
"Angelina Jovanka... Aku merindukanmu.." lirihnya dalam hati.
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @itsme_assyh untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤