Tak selamanya hidupmu berjalan mulus. Tak juga pula pertemuan akan selalu berakhir indah. Namun, pada hakikatnya di mana ada pertemuan, di situ pula akan ada perpisahan dan ... kehilangan.
***
Semua berawal dari masa pengenalan lingkungan sekolah. Dia ada dengan semua tingkah konyolnya, tak seperti lelaki pada umumnya, dia malah tampil apa adanya. Hal itu yang membuatku suka, dan jatuh cinta. Sebelumnya aku hanya mengamatinya dalam diam. Menelisik setiap tingkah lakunya yang selalu membuatku tersenyum. Kadang jail dengan temannya, atau yang lebih parah dia berani mengusili kakak kelas yang sedang menjadi panitia.
Hingga suatu ketika aku terlambat masuk, dia pun juga begitu. Entah bagaimana kami akrab, yang pasti aku sangat bahagia. Kini kuketahui namanya. Dia ... adalah Aidan Nugraha.
***
Kini semua kenangan itu masih bersemayam di ingatan. Wajah tampan, senyum manis, dan mata yang teduh. Semua masih terekam jelas dalam memori otak.
Aku kembali mengerjakan soal tes ujian. Sejenak aku melamun, mungkin efek bangku yang telah kosong di depanku. Biasanya jika bangku itu berpenghuni, Aku dan dia selalu bercanda. Saling menukar pikiran, dan selalu bekerja sama saat ulangan maupun tes. Namun, kali ini beda. Sangat berbeda. Aku telah kehilangan sosoknya. Dia ada di hati, tapi aku tak bisa menggapainya. Sungguh miris.
Memilih untuk fokus, aku melirik jam di tanganku. Gawat! Lima belas menit lagi waktu tes telah habis. Sedangkan aku baru mrngerjakan lima soal. Padahal jumlah semuanya ada dua puluh, lalu apa yang aku lakukan selama satu jam lebih?
"Waktu pengerjaan kurang sepuluh menit, silakan yang sudah bisa dikumpulkan."
Ucapan Pak Broto semakin membuatku panik. Bagaimana tidak? Masih sepuluh soal yang harus kukerjakan, dan semua itu sangat sulit. Akhirnya aku menjawab semua soal yang tersisa dengan asal. Bodo amatlah!
Singkat cerita semua kertas jawaban diminta Pak Broto. Kulihat semua teman-temanku bernapas lega. Akhirnya, kita terbebas dari belenggu tes mata pelajaran fisika yang selalu membuat pusing.
"Alia, ke kantin, yuk!" ajak Diandra. Aku pun mengangguk, kemudian bangkit dan mengikutinya. Namun, sebelum benar-benar keluar dari kelas, aku menyempatkan diri untuk melirik bangku kosong itu.
Tak ada yang berubah, semuanya sama seperti dulu. Namun, kenapa aku merasa sangat kehilangan?
***
Aku keluar dari toko dengan membawa sebuket bunga mawar. Sore ini aku berencana untuk mengunjungi seseorang yang sangat aku rindu. Dia adalah sosok yang sangat spesial bagiku.
Aku berjalan dengan riang menyisiri trotoar. Tanganku mengayun lembut seiring dengan langkah kakiku.
"Hey, Alia!"
Seruan seseorang mampu membuatku menoleh. Segera aku menghentikan tindakan konyolku dengan gugup. "Iya, Zal?" tanyaku.
"Mau ke mana? Kok bawa bunga?" tanyanya. Lelaki dengan warna kulit kuning langsat itu tersenyum. Mau tak mau aku pun membalasnya. Walaupun senyumku terkesan terpaksa dan kaku.
"Ah, ini ... tadi adek gue minta buat dibawain bunga," jawabku asal. Untung saja Rizal tak mengetahui bahwa adikku sama sekali tak menyukai bunga. Jangankan tertarik, melihat ada bunga di dekatnya pun ia langsung mengamuk.
"Mau gue anterin ke rumah? Sekalian mampir," tawarnya dengan senyum yang sama.
"Enggak usah, Zal. Makasih tawarannya," balasku kemudian. Mana mungkin aku bisa menerima tawaran dia? Sedangkan sekarang aku tak berniat untuk pulang.
"Ayolah, gue belum pernah ke rumahmu, loh," bujuknya. Namun, aku tetap keukeuh menolaknya.
"Maaf, Rizal. Lain kali gue ajak lo ke rumah, tapi kali ini di rumah lagi ada acara. Maaf," tolakku.
Setelah itu aku bergegas berjalan lagi. Bukannya aku tak sopan, tapi kali ini aku tak mau ada seorang pun yang mengantarkanku sampai rumah.
Sebelum benar-benar jauh, aku menoleh ke belakang. Kulihat Rizal masih tetap di sana. Ia juga menatapku, tapi kali ini ekspresi wajahnya terlihat berbeda. Aku seperti melihat sosok lain dalam dirinya. Seketika aku merinding. Kutolehkan kepala ke depan dengan cepat. Aku takut melihat sorot matanya yang nampak tajam. Seolah-olah ia ingin membunuhku saat ini.
Kupercepat langkahku menuju sebuah pemakaman. Segera aku memasuki area sepi itu dan mencari makam yang kucari. Setelah mendapatkannya, aku berlutut. Tak lupa buket mawar yang kubawa tadi kuletakkan di atasnya.
"Aidan, gue kangen canda tawa lo. Gue pengen lo tetep di sini, tapi kenapa lo pergi?"
Aku terisak. Tak kuat diriku ini untuk melihat gundukan tanah yang masih basah. Beberapa bulan bersamanya, membuatku lupa, bahwa dia telah tiada. Dia telah menjadi korban kebiadaban manusia psikopat yang sampai sekarang masih meraja lela.
***
Aku beranjak meninggalkan makam Aidan. Namun, baru beberapa langkah kaki ini menapak, terdengar bunyi ranting yang terpijak. Seketika aku waspada. Barangkali itu penjahat yang sedang mengintaiku. Dan benar! Beberapa detik kemudian muncul seseorang yang sangat aku kenal. Tatapan matanya menyorot penuh kebencian. Aku sampai merinding karenanya.
"Lo, ngapain ad—ada di sini?" tanyaku panik.
Dia semakin mendekat, kulihat ia mengenggam pisau cutter dengan erat di tangan kanannya. Seketika aku takut. Aku tak ingin mati konyol di sini, apalagi suasana area pemakaman yang sepi membuatku semakin takut.
"Alia, lo tau kalo gue suka sama lo. Tapi kenapa lo malah suka sama buaya kayak dia?" tanyanya dengan tangan memainkan pisau cutter-nya. Aku semakin takut, hingga aku tak menyadari bahwa aku berjalan mundur dengan perlahan.
"Mak —maksud lo apa?" tanyaku berusaha tenang. Padahal dalam hati aku menahan takut yang luar biasa.
"Jangan pura-pura bodoh! Gue tau kalo lo suka sama dia. Maka kubunuh saja kekasihmu itu." Dia tertawa lepas.
"Sekarang, walaupun dia telah mati, lo tetep aja suka sama dia. Lo nggak pernah menghargai perasaan gue," lanjutnya lagi. Dia berjalan semakin dekat denganku. Mau tak mau aku harus memundurkan langkah, hingga aku tersandung salah satu nisan dan terjatuh.
"See! Di sini lagi sepi sekarang, kalo gue bunuh elo juga, nggak akan ada yang tau." Dia kembali tertawa jahat. Hingga aku membenci suara tawanya yang buruk itu.
"Jauhi gue!" teriakku lantang. Entah keberanian dari mana, akhirnya aku bisa meneriakkannya.
"Oh, gadis kecil yang selalu kuidamkan ternyata sangat kasar. Gue semakin yakin buat bunuh elo," ucapnya seraya mencengkeram kedua pipiku dengan keras.
"Apa mau lo?" tanyaku seraya meringis.
"Gue pengen, elo ... mati?!" teriaknya, lalu tanpa kusadari dia menancapkan pisau cutter-nya ke perutku.
"Mati! Mati! Mati!"
Dia terus meneriakkan kata yang sama. Setiap kata ia ucapkan, selalu diiringi dengan gerakan menusuk perutku. Sakit sekali, tapi apa dayaku? Aku tau bahwa ini adalah akhir untukku.
"Hahahahaha!" Dia tertawa keras setelah berhasil menusukku sebanyak lima kali. Lalu, tanpa merasa bersalah dia pergi begitu saja. Menyisakan aku yang telah berada di ambang kematian.
"Sekalipun aku mati sekarang, seenggaknya aku pergi dalam keadaan tenang."
Aku tersenyum lebar, sebelum semuanya berubah menjadi gelap.