Kalau aku mendengar cerita cinta teman-temanku, aku pasti akan merasa sangat iri. Mereka bisa jatuh cinta kepada siapa saja. Bisa saling bergandengan tangan dengan kekasih mereka. Bisa pacaran, kemudian putus dan bersama lagi dengan seseorang yang mereka cintai. Sementara aku tidak akan pernah bisa seperti mereka. Yah, aku Aura Ariesta, seorang gadis 20 tahun yang sudah menjadi tunangan seseorang pemuda yang aku enggak tahu sama sekali bentuknya. Lucu bukan? Hanya satu yang aku tahu, namanya Julian Pramadana, anak dari teman baik almarhum papaku.
“Kenapa mama harus menjemput ku?” tanyaku kesal.
Pulang kuliah tadi sebenarnya aku berencana jalan-jalan ke mall bersama beberapa temanku sebelum mamaku sukses mengacaukannya.
“Karena mama enggak mau putri mama pulang terlambat.”
“Kenapa?”
“Mama enggak mau kamu pulang malam yang artinya kamu terlambat. Mama enggak mau kamu ketemu orang jahat dan terjadi sesuatu yang buruk padamu.. Apa yang akan mama bilang pada Julian dan keluarganya kalau hal itu terjadi?”
Aaaarrrgghh! Stop! Jangan sebut nama itu lagi! Aku muak! Aku hanya bisa berteriak dalam hati. Aku dongkol setengah mati setiap ingat soal perjodohan itu dan siapa itu tadi? Julian. Persetan dengan pria itu. Melihatnya saja aku tak pernah. Aku mengikuti mama yang membawaku pulang ke rumah.
“Nanti malam temani mama.”
“Kemana?”
“Nanti kamu juga kamu tahu.” jawab mama
“Dandan yang cantik.”
Aku malas bicara hanya mengangguk saja.
Aku duduk di sebuah meja makan dengan berbagai macam makanan enak terhidang di atasnya. Bersama ku ada beberapa orang yang belum pernah kutemui sedangkan mamaku asyik berbincang dengan sangat akrab. Aku hanya bisa diam saja. Memakan makan malam ku dengan canggung. Makan malam kali ini porsinya jauh lebih sedikit di banding biasanya. Mama tidak membiarkanku mengambil sendiri makanan yang ingin ku makan karena dia tahu aku pasti akan melahap habis semuanya. Dan itu akan sangat memalukan di hadapan orang-orang itu. Akhirnya makan malam itu usai sementara perutku masih berdemo ria minta diisi.
“Aura?” tanya seseorang pria berwajah cukup tampan, badannya tegap dan bersetelan rapi menghampiriku.
“Iya. Kamu siapa?” tanyaku datar.
“Aku Julian. Calon tunanganmu." jawabnya sambil mengulurkan tangan dan tersenyum. Aku begitu terkejut sampai lupa menyambut uluran tangannya. Perutku yang tadinya masih lapar sekarang terasa kenyang.
Aku mundur beberapa langkah. Aku masih belum bisa mempercayai pendengaranku. Selama ini aku menganggap perjodohan ku ini hanyalah lelucon belaka yang mama ceritakan untuk menggodaku saja. Dan sekarang orang yang dijodohkan dengan ku berdiri dihadapanku. Dia nyata!
“Mau jalan-jalan denganku?” tanyanya sopan.
Aku melirik mama yang memberikan kode agar menerima ajakannya itu. Jadi tanpa menjawab aku mengikuti langkahnya yang panjang namun pelan, berjalan-jalan di halaman rumahnya yang luas.
Aku masih diam sambil menenangkan diri dan mencoba mencubit lenganku, berharap itu akan membangunkanku dari mimpi buruk ini. Aw sakit! Ternyata ini bukan mimpi! Tiiidddaaakkk!
“Selamat datang dikeluargaku, Aura Ariesta.”
katanya.
“Aku harus memanggilmu apa? Aura? atau Ariesta?”
"Aura. Panggil aku Aura aja."
“Okay. Aura berapa umurmu?”
“20 tahun.”
“Wah ternyata kita seumuran. Kamu kuliah di mana? Fakultas apa?"
“Seharusnya sebagai calon tunanganku kamu sudah tahu semua tentangku.” jawabku sedikit ketus.
"Maaf... Tapi apa kamu tahu semua tentangku?" tanyanya balik
Aku menggeleng "Karena aku enggak tertarik dengan perjodohan bodoh ini."
“Sayang sekali. Padahal aku senang sekali saat orang tua ku bilang malam ini aku akan bertemu denganmu.”
Aku memaksakan diri tersenyum. Apa aku bahagia dengan ucapannya? tidak. Aku harap malam ini aku bisa melakukan hal gila agar perjodohan ini batal.
“Aku tahu pertunangan ini enggak adil buat kamu. Tapi bersabarlah sedikit lagi. Kurasa ini bakal segera berakhir karena mungkin sebentar lagi kita akan segera menikah.”
Apa?! Aku terbelalak. Menikah!? Itu tidak mungkin!
"What?? A-apa kamu bilang? menikah?" aku menelan salivaku.
"Aku enggak mau! Aku tidak bisa menikah denganmu! Apa yang harus kulakukan agar hal itu tak terjadi?” Aku sangat panik.
“Tidak ada yang bisa kita lakukan. Kita hanya harus mengikuti alur."
"Apa kamu membenciku, Aura?"
"Tidak. Bukan masalah benci atau apa. Intinya aku tidak mau perjodohan ini. Aku belum ingin menikah. Aku harus menyelesaikan kuliahku. Aku ingin mengejar cita-citaku. Astaga, ini mimpi buruk!” Aku benar-benar panik sementara Julian tersenyum maklum dengan reaksiku.
“Julian, tolong batalkan niatmu untuk menikah denganku. Aku tidak bisa melakukan pernikahan ini!” aku memohon.
"Aku tidak punya kuasa untuk memutuskan. Semuanya tergantung pada orang tua kita.”
"Apa kamu tidak punya seseorang yang kamu sukai?"
Julian menggeleng.
“Tahu aku sudah bertunangan aku tidak ada niat melirik gadis lain. Cukup aku ingin mengenalmu saja."
Julian memegang erat tanganku dengan lembut dan dari wajahnya ia sangat mengharapkan aku menerima semua ini dengan lapang dada.
“Bahkan kamu masih mengenakan cincin pertunangan kita?” Julian menunjuk cincin di jari manis Aura.
“Bukan. Cincin ini pemberian papaku.” Aku memandang cincin platinum bertahtakan batu aquamarine yang melingkar di jari ku.
Julian mengambil sebuah kotak kecil merah dari saku jasnya. Sementara aku hanya bisa menghela nafas pasrah.
“Ini cincin milikku. Maaf kan aku. Kamu terus memakainya sepanjang waktu. Sedangkan aku tidak. Aku tidak bermaksud mengkhianatimu dengan berpura-pura tidak ada apa-apa di antara kita. Aku hanya takut jika aku memakai cincin ini, aku akan semakin mencintaimu. Aku takut setelah aku bertemu denganmu, aku akan semakin mencintaimu melebihi sebelumnya, sementara kau tidak pernah merasakannya. Aku takut akan terluka.”
“Itu…” Aku belum sempat melanjutkan kata-kataku karena Julian sudah memotongnya.
“Mulai sekarang aku tidak akan melepaskannya.” Katanya sambil memasang cincin platinum kepunyaannya dijarinya.
“Dan aku juga tidak akan melepaskanmu, Aura.” lanjutnya
Aku sudah akan memohon lagi untuk membatalkan pernikahan, tapi mama datang dan mengumumkan tanggal pernikahan kami. Itu akan berlangsung 2 bulan lagi dan bertepatan pada hari ulang tahun ku. Aku hanya bisa tertunduk sedih. Tanpa kusadari Julian juga bersedih.
“Aura sayang, ayo bangun, nak.” mama membangunkanku.
“Sebentar lagi, Ma.” Aku mengeliat dibalik selimutku. Mataku masih saja belum bisa terbuka. Semalaman aku tidak bisa tidur memikirkan masa depanku yang akan segera hancur dengan sebuah pernikahan. Aku tidak ingin menikah. Aku masih terlalu muda untuk membina sebuah rumah tangga. Tidak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi padaku nantinya jika aku benar-benar menikah dengan orang itu.
“Ayo cepat bangun. Julian sudah menunggumu untuk sarapan.” kalimat mama membuat mataku seketika menjadi terbuka lebar. Apa yang dia lakukan di rumahku sepagi ini?! dia enggak kuliah?
Akhirnya sekarang aku duduk dengannya dan juga mama. Menikmati sarapan yang sudah disediakan oleh mama ku.
“Akhirnya puteri tidur bangun juga.”ucap Julian.
“Untung lah tidak harus menunggu pangeran menciumnya dulu agar bisa bangun.” goda mama ku.
Aku terbelalak sementara bunda tersenyum geli menganggap kalau candaannya itu sangat lucu.
Hari pernikahanku semakin dekat. Semuanya sibuk mempersiapkan semuanya. Sementara aku masih sibuk membenahi hatiku yang hancur. Aku sangat kecewa dengan keputusan ini. Aku harus menikah muda. Bahkan tanpa menyelesaikan pendidikan strata satu ku. Aku rasa ini sangat tidak adil. Sebenarnya aku sudah membujuk mama untuk setidaknya menunda pernikahan ini sampai aku lulus kuliah. Aku juga sempat melarikan diri, dan di paksa pulang saat ketahuan sedang menginap di kosan Anisa, teman kuliahku. Pupus sudah harapanku. Cita-cita ku menjadi diplomat harus kandas.
Aku sudah didandani. Gaun pengantin berwarna putih tulang membalut tubuhku. Semua orang bahagia melihatku kecuali diriku. Hari ini adalah hari pernikahanku sementara di kampusku sedang berlangsung debat antar mahasiswa mengenai politik saat ini dan itu penting bagiku dibanding pernikahan ini. Kurasa aku adalah satu-satunya pengantin yang bersedih di hari pernikahannya. Aku sedih karena tidak satu pun teman kuliah ku yang hadir di pesta pernikahanku karena sedang mempersiapkan diri untuk debat hari ini. Tanpa terasa air mataku mengalir dengan deras.
Sampai saat proses pernikahan yang sakral berlangsung pun aku tidak juga berhenti menangis. Air mata ku terus menetes. Semua orang mengira aku menangis karena bahagia. Tapi sebenarnya aku teramat sedih.
Malam itu setelah semua acara selesai, Julian mendekatiku.
"Aku sangat senang karena akhirnya kamu menjadi istriku.”
Aku diam saja sambil menunduk menyembunyikan air mataku.
“Apa kamu tidak senang? Kamu tidak bahagia, Aura?”
“Apa yang mesti kulakukan? Semua sudah terjadi. Penyesalan pun tidak ada gunanya.”
“Kamu menyesal menikah denganku?”
Aku terdiam. Aku tidak bisa menjawabnya karena tidak ingin menyakiti hatinya. Akhirnya aku berkata pelan.
“Apa yang harus kulakukan?”
“Tidak ada yang harus kamu lakukan. Kamu hanya perlu menjadi istriku.”
“Apa yang akan terjadi padaku nanti?”
“Kamu tidak perlu mencemaskan apapun selama kamu menjadi istriku. Tidak akan terjadi apa-apa.”
“Apa kamu bisa menjamin masa depanku akan lebih baik dari masa depanku seandainya aku tidak menikah denganmu?”
“Dengan izin Allah aku akan menjamin masa depanmu akan jauh lebih baik selama kamu menjadi istriku. Karena kamu istriku, aku akan memberimu nafkah dengan tetesan keringatku. Aku akan menyayangi dam mencintaimu sepenuh jiwaku. Aku juga akan melindungimu dengan darah bahkan nyawaku. Apa itu cukup untuk menjamin kebahagiaanmu?”
Aku tertegun. Ada sesuatu yang amat penting yang aku lupakan. Selama ini aku terlalu egosi, hanya memikirkan diriku sendiri. Menyayangkan pernikahan mudaku. Menyayangkan pendidikanku. Menyayangkan pertunanganku yang tidak pernah kusetujui. Aku tidak pernah melihat bahwa Julian begitu tulus mencintaiku. Aku tidak pernah berpikir kalau Julian juga merasa tekanan yang sama. Dia berada dalam posisi yang sama denganku. Kehilangan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan dan harus menikah muda denganku. Aku menangis. Kali ini aku menangis karena bahagia. Bahagia menemukan seorang Julian.
“Syukurlah karena kamulah suamiku” gumamku. Julian memelukku.
“Syukurlah kamulah pendamping hidupku.” Julian mengecup keningku.
Aku berjalan di lorong kampus. Cahaya mentari pagi ini sangat cerah. Aku melihat ke sekelilingku. Ini adalah kampus ku. Ada Anisa dan kawan-kawan lain yang berkumpul, menyapaku hendak mengerjakan tugas dari Pak Mahmud dosen killer. Aku tersenyum sambil sesekali melirik cincin aquamarine dan cincin nikah yang bertengger manis dijariku. Dalam hatiku bersyukur telah dianugrahi seorang suami yang baik.
"Aku mencintaimu, Julian Pramadana.”
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @helloassyh_ untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤