Pagi-pagi sekali Riky terbangun oleh suara alarm ponselnya yang terus menjerit. Dengan rasa kantuk yang masih mengelayut manja di matanya, dia menguatkan diri untuk bangun. Ia meregangkan tubuh bagian atasnya dibarengi mulut yang menganga. Sesekali menggaruk kepala yang gatal lalu pergi ke kamar mandi.
Hari ini adalah hari yang Riky tunggu-tunggu karena berita kelulusan akan diumumkan di sekolahnya. Riky hanya siswa biasa. Prestasinya tidak terlalu menonjol, juga tidak bodoh amat. Dia pernah mendapat nilai ulangan seratus di mata pelajaran matematika dan fisika.
Riky bergegas menuju sekolah menggunakan sepeda ketika semua persiapannya sudah siap. Pagi ini seperti biasa, jalanan kota dipadati banyak kendaraan berlalu lalang. Penjaga toko yang ditemuinya terlihat sedang menyapu halaman depan tokonya.
Riky mengayuh sepedanya dengan semangat walaupun peluh membasahi wajah dan sekujur tubuhnya. Nafasnya pun terengah-engah.
Pada saat sampai di perempatan jalan, dia melihat di sebelah timur asap hitam membumbung tinggi ke atas. Kepalanya dipenuhi tanda tanya. Lantas dia mengubah arah tujuan menuju ke arah asap itu muncul.
Rasa penasaran Riky bertambah ketika di belakangnya sebuah mobil pemadam kebakaran melaju mendahuluinya dengan cepat disertai bunyi khasnya yang menarik perhatian semua orang yang berada di sana.
“Riky! Rik, mau ke mana?” terdengar dari belakang teriakan seseorang yang sepertinya Riky kenal.
Riky mengerem dan memberhentikan sepedanya lalu menoleh ke belakang. Teguh mengayuh sepedanya menghampiri Riky.
“Apa?” tanya Riky setelah Teguh berhenti didekatnya.
“Kamu mau ke mana? Sekolah kita kan kearah sana.” Teguh menunjuk ke arah barat tempat yang seharusnya menjadi tujuan Riky pagi ini.
“Aku ingin melihat asap itu sebentar.” Tanpa menunggu jawaban Teguh, Riky kembali mengayuh sepedanya dengan cepat.
Setelah beberapa saat mereka bersepeda, tibalah mereka di sumber asap itu muncul. Ternyata asap itu berasal dari sebuah rumah yang terbakar. Api hanya ada di dalam rumah dan tim pemadam kebakaran kesulitan untuk memadamkan api karena letak rumah itu yang sulit di jangkau.
Para warga saling membantu memadamkan api dengan air yang mereka bawa di dalam ember kecil. Dua orang petugas pemadam kebakaran keluar dari rumah itu dengan membawa seorang wanita paruh baya yang memegang seorang anak berusia dua belas tahun. Wanita itu terlihat batuk-batuk dengan nafas yang tersengal-sengal, wajahnya kotor akibat debu dan arang. Di belakangnya ada pria yang usianya sekitar empat puluh lima tahunan bernasib sama seperti wanita tadi. Sepertinya dia suami wanita itu.
Riky dan Teguh hanya menonton peristiwa yang menegangkan itu. Jelas rasa takut tergambar di raut wajah Teguh namun tidak dengan Riky. Riky menghampiri wanita paruh baya itu yang kini lubang hidungnya di sumpal selang oksigen.
“Bu, apa anda baik-baik saja?” tanya Riky sambil mengasongkan minuman yang tadi sempat ia ambil dari dalam tasnya.
Tiba-tiba wanita itu membelalakkan mata seolah ia teringat sesuatu. Matanya memeriksa sekeliling.
“Ayu! Dia masih di dalam!” teriak wanita itu histeris.
Tanpa di perintah Riky melepaskan tasnya begitu saja, memakai kain di sekitar wajahnya untuk menutupi hidung dan mulutnya, lalu berlari ke arah rumah terbakar itu hingga hilang di telan asap hitam. Wanita itu sempat berteriak melarang Riky.
Entah dari mana datangnya keberanian itu, Ia pun tak tahu. Riky hanya nekat saja. Asap di dalam sangat tebal sehingga ia kesulitan melihat dan bernafas. Yang dapat ia lihat hanya lah kobaran api di sana sini. Riky berteriak-teriak memanggil orang yang dicarinya. Hingga dia menginjak sebuah tangan yang terkulai lemas di lantai.
Riky berlutut memeriksanya. Meraba-raba sekitarnya. Sekarang sudah jelas tangan itu milik seorang perempuan seumurannya. Perempuan itu pingsan di lantai dengan kondisi yang mengenaskan. Seluruh tubuhnya kotor dan beberapa bagian dari roknya terbakar.
Riky membopong perempuan itu keluar dari rumah, namun jalan yang dia laluinya tadi terhalang oleh api yang kini mulai membesar. Beberapa bagian atap rumah berjatuhan. Salah satu bagiannya menimpa kepala Riky hingga dia terjatuh begitu pula dengan perempuan yang ia bopong.
Perempuan itu tersadar beberapa saat menatap wajah Riky yang mengeluarkan darah dari keningnya.
“Tidak apa-apa. Kamu tenang saja ya. Kita akan selamat.” Riky mencoba menenangkan perempuan itu yang kini tak sadarkan diri lagi.
Kepala Riky mulai pusing karena puing yang menimpanya dan juga terlalu lama menghirup asap. Setelah beberapa saat petugas pemadam kebakaran masuk ke dalam membawa mereka berdua keluar dari sana.
Riky dan perempuan itu di beri pertolongan pertama oleh petugas. Teguh berlari menghampiri Riky sambil berkata-kata yang tidak jelas karena kesadaran Riky menurun. Hingga akhirnya Riky tergolek lemas. Dia pingsan.
Beberapa tahun setelah tragedi kebakaran itu terjadi, Riky sedang berjalan-jalan di sebuah jembatan dengan sungai dangkal yang mengalir dibawahnya. Dia sedang memotret pemandangan yang ada di sana. Kamera terlihat menutupi sebelah matanya. Lalu tiba-tiba lensanya menangkap seorang perempuan yang berada di ujung jembatan sana sedang berjalan seorang diri.
Mata Riky terbelalak mengetahui siapa perempuan itu. Dia perempuan yang pernah Riky selamatkan dari kebakaran itu. Lalu kedua mata mereka beradu dan terjadi lah saling pandang di antara mereka. Perempuan itu juga tahu siapa yang sedang dia tatap.
“Hemm..., apakah kamu wanita yang pernah aku selamatkan saat kebakaran rumah beberapa tahun yang lalu?” Riky memberanikan diri bertanya.
Perempuan itu tersenyum sambil meneteskan air mata, lalu menjawab dengan lirih “Iya”
Keduanya tersenyum mengetahui ini semua. Riky mendekatkan diri ke perempuan itu, memberikan tangannya dan perempuan itu menjabat tangan Riky.
“Aku Riky. Dan kamu?”
“Ayu.”
Langit hari itu sangat cerah dengan hembusan angin yang menggugurkan bunga dari tangkainya. Bunga itu pun jatuh tepat di bawah kaki Riky dan Ayu yang kini sedang berbincang dengan tawa riang, lalu angin kembali menerbangkan bunga itu sampai ia terhanyut di sungai. Entah air akan membawa kemana bunga itu pergi. Tapi yang pasti mereka membuat janji bahwa mereka tidak akan pergi.
Mereka pun menjalin hubungan kisah kasih. Hari berganti hari, minggu berganti minggu, bulan berganti bulan dan tahun berganti tahun. Ijab qobul itu akhirnya terucap dengan lantang dalam satu tarikan nafas. Tampak kelegaan dan kesedihan di wajah Riky. Ia meneteskan air mata. Hanya dia yang tahu perasaan apa yang berkecamuk di dadanya. Begitu juga perempuan yang berada di bilik kamar sebelah. Dia tersenyum namun bukan senyum bahagia. Ada getir di sana. Air matanya deras membanjiri pipinya. Perempuan cantik itu di tuntun keluar kamar untuk proses pasang cincin. Rani terduduk di samping Riky.
Ayu meninggal sebulan lalu karena kanker stadium akhir yang ia idap. Dengan memohon dan memelas dia meminta Riky menikahi Rani dan menjaga adik satu-satunya itu karena orang tua mereka telah berpulang ke rahmatullah.
Tamat
.
.
.
Selesai membaca tolong tinggalkan jejakmu ya😊
Jika kamu suka, jadikan cerita ini favoritmu. Like, dan komen.
Baca juga novel karya ku ya
🌼 Kirana Tetaplah Disisiku
🌼 Cinta Sepotong Donat
🌼 Rasa Cinta
🌼 Kumpulan Cerita Horror
Dukungan kalian sangat berarti bagi ku.
Jangan lupa follow instagram ku @helloassyh_ untuk mendapat informasi update tentang novel ini.
Kalau kalian inbox atau DM insyaallah aku akan balas kalau nggak sibuk ya, hehehe
Terima Kasih*** 😘❤