Pada hari kamis pukul 17.00 aku pulang ke rumah, itu sudah menjadi rutinitasku, yaitu mengambill les
music tambahan, meski melelahkan tapi bagiku itu tetap menyenangkan mengingat mimpi sebagai seorang musisi maka hal seperti ini pun harus tetap kujalani sepenuh hati.
Dengan keaadaan tubuh yang sangat kelelahan aku pun memberi salam sebelum masuk rumah lalu langsung menaruh barang bawaanku di kamar dan bergegas mandi, seperti biasa setelah mandi aku pun berniat untuk makan malam, tapi mungkin karena kelelahan sesaat setelah sholat ashar aku langsung ketiduran. Dan disinilah letak ke-horor an akan terjadi.
Karena kelelahan setelah seharian beraktivitas aku pun ketiduran sesaat setelah beribadah, dan dalam tidurku aku bermimpi hal yang aneh, yaitu aku berada dalam sebuah ruangan putih yang sangat sangat putih seolah tanpa bayangan sampai sampai siapapun yang berada di sini tidak akan bisa membedakan tembok, lantai atau atap, semuanya putih bahkan terlihat seolah tak berujung, lalu aku merasakan kejanggalan yang kedua yaitu aku memiliki kesadaran dan kendali penuh terhadap tubuhku, aku langsung berpikir bahwa ini adalah lucid dream, yaitu mimpi dimana kita dapat melakukan apapun sesuai keinginan kita, lalu akupun langsung mencoba memikirkan banyak hal, seperti uang, permainan, wanita dan sebagainnya, namun tak satupun dari apa yang aku pikirkan itu muncul, lalu aku mulai berpikir bahwa ini bukanlah lucid dream.
Karena rasa bosan hanya melihat ruangan putih yang kosong dan sepi aku pun mencoba untuk menjelajahi ruangan itu, tapi setelah sekitar 10 langkah akupun menabrak sesuatu yang tidak terlihat, dan ketika kucoba untuk meraba apa yang telah kutabrak, kusadari itu adalah tembok.
“Eh? Ini adalah ujung dari ruangan ini?” Lalu aku mencoba berjalan ke arah sebaliknya, namun hal yang sama terjadi setelah 15 langkah aku pun menabrak tembok dari ruangan itu lagi, aku mencoba untuk berjalan menyamping dan hanya perlu 3 langkah untuk mencapai tembok lainnya, di titik itu akupun sadar betapa sempitnya ruangan ini, pada awalnya aku cukup tenang dengan hal itu namun lama kelamaan aku merasa sangat sesak dan mulai curiga, ternyata tanpa kusadari ruangan ini semakin mengecil seolah berusaha ingin menghimpit dan meremukkanku, “Ah ini hanyalah mimpi, mungkin juga sebentar lagi aku akan bangun.” Itulah yang aku pikirkan, namun semakin sempit ruangan itu semakin terasa tembok-tembok itu mulai menghimpitku, semakin lama semakin sempit sampai sampai aku sudah tidak bisa bergerak lagi dan mulai merasakan sakit yang luar biasa, seolah seluruh tulangku akan dipatahkan dan diremukkan, meskipun itu dalam mimpi tapi rasa sakit itu sangatlah dahsyat dan terasa sangat nyata, aku pun mulai panik menyadari bahwa sampai detik ini aku belum juga terbagun dari mimpiku, semakin lama tembok itupun semakin meremukkanku dan kini benar-benar terjadi hal yang kutakutkan, aku belum juga terbangun sementara aku mulai merasakan tulang-tulangku patah, sakit. Itu sangat sakit. Akupun berteriak sekeras mungkin berharap ada seseorang yang membangunkanku, namun bagaimanapun itu hanyalah mimpi, semakin lama aku mulai merasakan tulang rusukku patah dan merobek lambung dan seluruh organ dalamku, aku juga mulai merasakan tengkorakku remuk dan mengalami pendarahan di bola mataku, dan tanpa kusadari otakku pun meledak.
Hitam.... itulah yang kulihat setelah semua kejadian mengerikan yang baru saja kualami di mimpiku, di titik ini aku sangat ketakutan, karena semua yang baru saja aku alami memang mimpi, namun aku memiliki kesadaran penuh terhadap tubuhku, begitupun dengan rasa sakit yang aku rasakan, seluruh tubuhku gemetar, lalu aku mecoba menenangkan diri dan meyakinkan diriku bahwa mimpi itu telah berakhir dan kini aku telah terbangun, namun sesaat setelah kubuka mataku, sejauh mata memandang hanyalah putih. Seluruh tubuhku langsung lemas ketika menyadari bahwa aku masih bermimpi. Aku mulai teringat akan rasa sakit yang kurasakan sebelumnya, hal itu sangat cukup untuk membuat otakku kaku. Karena trauma terhadap rasa sakit itu aku pun mulai gila dan berteriak sekencang mungkin berharap mungkin akan ada keajaiban, tapi nihil. Setelah beberapa menit berteriak, tiba-tiba suaraku berheti keluar dan aku merasakan panas yang luar biasa di tenggorokanku, aku pun langsung meringkuk kesakitan, sambil menangis dan gemetar ketakutan.
Namun tak lama setelah itu akupun menyadari sesuatu, mengapa ruangan ini belum mengecil? mengapa ruangan ini belum meremukkan tubuhku seperti sebelumnya? Lalu aku mengumpulkan tenaga dan mencoba memberanikan diri untuk berdiri untuk mulai mencari ujung dari ruangan ini. Aneh, meskipun aku telah berjalan sangat lama hingga terasa seperti berjam-jam aku masih belum menemukan ujung dari ruangan ini, kakiku kelelahan tapi tak kunjung kutemukan ujung ruangan. Sambil menahan rasa sakit yang terus menerus membakar leherku serta merasakan kakiku yang mulai tertatih, aku pun mulai kehilagan akal, beralan sendirian di ruangan yang bahkan kau tidak akan bisa melihat ujung dari ruangan itu, sangat sunyi, kosong, seolah semuanya menjauhiku bahkan bayanganku sendiri pun enggan nampak.
Berjam-jam lamanya aku berjalan, kakiku mula keram dan otakku pun mulai panas, aku pun muntah dan tumbang, semua tenagaku sudah habis untuk berjalan dan menahan sakit di tenggorokanku, dalam keadaan tak berdaya, pikiranku mulai menggila, aku marah, sedih, takut, aku pun menangis sambil membenturkan tinju lemahku pada lantai ruangan ini, aku benar benar marah, sekaligus takut dan gila secara bersamaan, akupun mulai mulai membenturkan kepalaku ke lantai, BRAAK! Lagi BRAAK! Lagi BRAAK! Lagi BRAAK! Terus menerus, berulang kali sampai aku merasakan darah mulai mengucur membasahi seluruh wajahku, aku sudah benar-benar kehilangan akal sehatku, aku bahkan tidak lagi merasakan rasa sakit yang “nyata” itu. Berulang kali aku benturkan kepalaku sampai yang kulihat hanyalah merah, sampai pada benturan terakhir yang sekaligus membuatku kehilangan kesadaran.
Hitam… lagi lagi hitam, itulah yang kulihat, dengan pikiran yang sudah trauma dan gila, aku benar benar tidak berani membuka mataku, aku sangat ketakutan. Bagaimana jika semuanya terus terulang? Sangat lama kupejamkan mataku, mencoba tidur dalam mimpiku sendiri dan berharap semuanya cepat berakhir. Tak lama, aku mendengar ada yang berteriak dari kejauhan, teriakan yang sangat kecil seolah tak ingin didengar oleh siapapun, aku pun terkejut, ada rasa senang sekaligus takut, karena ada orang lain yang mungkin mengalami hal yang sama sepertiku. Aku membuka mataku, namun yang kulihat hanyalah hitam, seolah aku benar benar membuka mata, semuanya hitam dan tak berujung, pikiranku mulai ketakutan akan trauma-trauma sebelunya, namun rasa penasaran akan suara teriakan itu benar benar mengendalikan tubuhku, secara tidak sadar aku bergerak menuju asal teriakan itu, semakin lama terikan itu semakin jelas, sangat jelas sampai-sampai aku merasa suara itu berada tepat di depanku, namun aku tidak bisa melihat apapun, aku pun kembali bergidik ketakutan, teriakan itu tidak berhenti, bahkan semakin keras, seolah suara itulah yang mendatangiku, semakin keras sampai aku harus menutup kedua telingaku, semakin keras lagi sampai aku merasakan darah yang perlahan keluar dari pecahnya gendang telingaku, semakin keras. Lalu seketika hilang, dan aku tidak bisa mendengarkannya lagi. Hening. Suara itu tiba-tiba lenyap. Aku bersyukur akan hal itu namun secara bersamaan kepalaku terasa sangat berat ku mataku bergetar keras, lalu aku kembali tumbang, aku merasakan darah terus mengalir dan semakin deras mengucur dari setiap lubang yang terdapat dalam tubuhku, aku tidak bisa bergerak, aku juga tidak bisa mendengar apapun, aku tidak merasa ada yang menghantamku, namun seluruh tubuhku serasa disetrum, aku mengalami kejang hebat, aku juga merasakan seluruh darahku mendidih seolah seluruh tubuhku akan meledak. Tak ada yang bisa kulakukan selain pasrah hingga tak lama setelah itupun aku kehilangan kesadaran.
Sontak terbangun. Aku pun membuka mataku dan sangat terkejut bahwa apa yang kulihat adalah kamarku sendiri, seluruh tubuhku teasa dingin, aku merasa sangat lemas, keringat dingin pun bercucuran membasahi Kasur dan tubuhku, pikiranku sangat bercampur aduk, namun aku pun sangat bersyukur akhirnya aku telah terbangun dari mimpi yang sangat mengerikan itu. Aku mencoba menenangkan diriku sendiri, lalu kulihat HP dan melihat jam pada layar itu menujukkan pukul 23.51. aku pun beranjak dari Kasur dan berniat ingin sholat malam untuk berdoa meminta perlindungan dari mimpi buruk seperti yang baru saja aku alami. Setelah aku bangun dan mencoba membuka pintu kamarku, seluruh tubuhku langsung lemas seolah jiwaku telah tersedot habis. Putih, itulah yang kulihat seketika aku membuka pintu kamarku, aku pun mencoba kembali masuk ke dalam kamarku namun itu telah menghilang, meninggalkanku sendiri di ruangan putih yang begitu familiar denganku.
Di titik ini pikiranku benar benar sudah gila, aku berteriak, menangis, tertawa sambil membernturkan semua tubuhku pada lantai ruangan ini, aku merasakan darahku terpompa, emosiku meledak, semua kulakukan dengan harapan aku bisa bangun dari mimpi buruk ini, membenturkan kepalaku, berteriak, mencakar wajahku, mencongkel keluar bola mataku bahkan sampai menggigit jari sendiri sampai putus, yang bisa kurasakan hanyalan rasa sakit, yang bisa kulihat hanyalah genangan dari darahku sediri, aku benar benar menggila sampai aku kelelahan dan tumbang di atas genangan darahku sendiri, dengan kepala yang sangat pusing dan rasa sakit yang mengerikan di seluruh tubuhku, sekali lagi, aku pun “mati” di mimpiku sendiri.
Lalu aku kembali terbangun di ruangan putih itu lagi, dan hal yang sama terus berlanjut sampai berpuluh puluh kali, hingga aku sudah terbiasa dengan bau dan rasa dari darah, hingga aku bosan merasakan hal yang disebut rasa sakit.
Setelah “kematian” yang kesekian ratus kalinya akhirnya aku kembali terbangun di kamarku sendiri, namun aku sudah benar benar tidak mengharap apapun lagi, pandanganku sudah kosong, seperti seekor sapi yang mengantri untuk disembelih. Aku pun mulai bangun dan membenturkan kepalaku keras keras ke tembok kamarku, rasa sakit yang sama, kulakukan berkali-kali sampai kepalaku mulai mengucurkan darah, lalu aku pun melihat kearah jendela, “kaca?” pikirku dalam hati, aku pun memecahkan kaca itu lalu mengambil bagian pecahan yang paling tajam dan besar, saat kaca itu hendak aku tusukkan ke perutku sendiri, aku mendengar teriakan dari arah luar kamarku. Suara seorang wanita yang berteriak berulang kali menyebutkan namaku sambil mencoba mendobrak pintu kamarku, sontak aku pun tersadar, lalu langsung melempar jauh-jauh kaca yang sendari tadi kupegang, Aku pun terpaku, langsung terdiam dan mulai menangis, pintu kamarku pun terbuka, itu adalah ibuku, ia langsung berlari dan mendekapku erat sambil menangis. Sangat lembut, sangat hangat, pikiranku yang tadinya dipenuhi oleh hal negatif mendadak sirna, semua kembali menjadi sangat tenang, dan karena merasa sangat pusing aku pun kehilangan kesadaran dalam dekapan hangat orang tuaku.
Tamat-