Fiuh.. Sekali lagi Ani mencium bau wewangian bunga kenanga. Baunya sejak tadi menyeruak ke dalam hidung. Ia mencari sumber wewangian itu ke seluruh sudut kamar kosnya. Namun tidak ia temukan.
Ani keluar kamar, mencari ke setiap sudut, berjalan mondar mandir. Bahkan ia membaui di setiap pintu kamar temannya, mungkin saja bersumber dari salah satu kamar temannya. Tetap tidak ada. Seolah bunga kenanga berada di depan hidungnya.
Sudah 2 malam ini Ani merasakan keanehan di dalam kosnya. Semalam Ani mencium bau bunga kenanga saat jam 12 malam. Malam ini Ani mencium lagi bau wangi bunga kenanga sejak pukul 1 dini hari.
Ani baru pindah ke kos ini kemarin. Ia tertarik pindak ke kos ini karena bangunannya masih baru. Baru selesai dibangun dan disewa dengan harga murah, meski ia harus merogoh saku lebih dalam karena harus bayar 3 bulan dimuka. Pemilik kos tidak mau kehilangan pelanggan, jadi penyewa harus bayar 3 bulan dimuka baru bulan ke 4 boleh bayar tiap bulan. Begitulah sistem sewa kos baru ini.
Bangunan kos masih baru. Ani bukanlah penyewa pertama. Ia adalah penyewa terakhir karena sisa hanya 1 kamar kosong. Lainnya sudah penuh dipesan orang lain. Namun baru Ani yang menempatinya, yang lain masih belum datang dan belum pindah dari kos lama.
Sejenak ia duduk di sofa ruang tamu. Jam menunjukkan pukul setengah 3 dini hari. Ani tidak dapat tidur, entah apa yang membuatnya tidak dapat tidur. Padahal kosnya bagus, tempat tidurnya dari spring bed, alas tidurnya juga nyaman. Tidak ada AC di kamarnya, hanya kipas angin yang merupakan fasilitas kos. Tiap kamar menggunakan kipas angin. Tersedia dapur di belakang. Kamar mandinya di dalam kamar masing-masing. Lumayan enak kos ini. Anehnya tiap malam ia tidak dapat tidur.
Tiba-tiba ia menangkap suara aliran air dari kran di dapur tempat cuci piring. Aneh.. Tidak ada orang di kos ini hanya Ani sendirian. Pemilik kos juga tidak tinggal di sini. Pemilik kos rumahnya berada di beberapa blok dari kos ini. Tidak mungkin jika itu adalah pemilik kos. "Hmm.. Mungkin saja, kan di belakang ada kamar untuk penjaga kos. Siapa tahu itu ibu kos atau penjaga yang baru datang." pikir Ani.
Ia pun memanggil Ibu kos.
"Bu.. Ibu lagi di belakang?" tanya Ani.
Tidak aja jawaban.
"Bu.. Ibu?" seru Ani sekali lagi. Ia pun berdiri dari sofa dan berjalan ke belakang menuju dapur. Sesampai di dapur, Ani tidak melihat seorang pun. Hanya suara air gemericik jatuh dari kran ke wastafel tempat cuci piring.
"Aneh.. Siapa yang memutar kran air?" dengan bertanya-tanya Ani melangkahkan kaki ke wastafel. Lalu menutup kran air agar tidak mengalir lagi.
Hmmhh.. Ani menghembuskan nafas dan kembali ke kamarnya. Ia membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Ani berusaha memejamkan mata.
Namun tetap saja Ani tidak dapat tidur. Ia berbaring ke samping kiri, lalu balik lagi menghadap kanan. Bau bunga kenanga benar-benar mengganggunya. Ia kesal, susah sekali memejamkan mata dan tidur.
Lamat-lamat kembali Ani mendengar suara air gemericik di wastafel dapur. Kali ini tidak hanya bunyi air saja, ada suara seperti orang cuci piring di dapur. Huh.. Ani semakin kesal merasakan keanehan d kosnya ini. Ia lalu mengambil headset dan memutar lagu kesukaannya agar terbebas dari perasaan aneh tersebut. Setelah lama akhirnya ia tertidur.
***
Pagi hari kala Ani sarapan, persiapan berangkat kerja, seorang wanita memasuki kosnya.
"Pagi, Mbak." sapa seorang wanita tersebut.
"Pagi juga, mbak siapa ya?" tanya Ani kepada wanita tersebut.
"Kenalin aku Vita yang sewa kamar nomor 3" perempuan bernama Vita menyodorkan tangannya berniat mengajak salaman.
"Aku Ani. Kamarku nomor 4, Mbak." kata Ani sambil menyalami tangan perempuan bernama Vita. Dingin. Tangannya tidak hangat, terasa dingin.
"Habis dari naik taksi, AC-nya dingin sekali." Vita menjelaskan melihat reaksi Ani saat merasakan tangannya.
"Aku masuk dulu ya, An" kata Vita.
"Iya" balas Ani.
Ani melanjutkan sarapannya. Ia harus segera berangkat kerja agar tidak terlambat. Seusai makan, ia pun bergegas berangkat kerja. Sebelum berangkat Ani berniat menyapa teman barunya, tetangga kamar sebelah, namun Ani tidak mendengar sesuatu apa pun, "mungkin dia istirahat" pikir Ani.
***
Sepulang kerja Ani duduk-duduk di sofa ruang tamu. Berharap bertemu dengan Vita dan mengobrol dengannya. Ani melihat kamar Vita, lampu kamarnya menyala menandakan Vita ada di dalam kamar. Ani juga sempat mendengar suara air shower dari kamar mandi di dalam kamar Vita.
Sekitar sejam Ani duduk di sofa berharap Vita keluar dari kamar. Namun yang ditunggu tidak juga keluar. Ani pun masih menunggu sambil bermain handphone. Sesekali ia mendengarkan suara dari kamar Vita. Tapi hanya keheningan di kamar Vita. Seolah tidak ada seorang pun yang menempati kamar tersebut.
Sudah 2 jam Ani duduk di sofa. Dan Vita tidak juga keluar. Jam dinding memunjuk pukul 10 malam. Tiba-tiba terdengar suara 'klik', dan lampu di kamar Vita padam. Apakah Vita tidur lagi? Ah, ya sudah.. Besok pasti ketemu Vita lagi. Kayaknya dia benar-benar ingin istirahat. Pikir Ani.
Ia pun beranjak ke kamarnya. Menutup pintu dan berbaring di tempat tidur. Ia masih melanjutkan bermain hape sebentar. Lalu Ani memejamkan mata. Semoga malam ini aku bisa tidur dengan nyaman, pikirnya.
Menit demi menit berlalu. Mata Ani terpejam tapi Ia belum tidur. Pikirannya masih ke sana ke mari tidak dapat ia taklukkan. Capek rasanya memcoba tidur tapi tidak bisa. Ani mulai gelisah. Ini malam ketiganya di kos baru. Dan tidak pernah bisa tidur dengan tenang. Hatinya seolah berbisik terus dan tidak memperbolehkannya tidur.
Tidak berapa lama Ani kembali mencium wangi bunga kenanga. Huh.. Ani mendengus kesal. Setiap malam ia selalu terganggu dengan bau wangi ini. Ani berusaha tidak mempedulikannya. Ia membiarkan bau itu merasuki hidungnya. Ia tidak peduli. Sejenak terdengar suara seseorang mencuci piring di dapur. Kali ini pasti Vita pikir Ani. Sehingga ia lebih tenang karena sudah ada temannya di kosan.
Lama sekali Vita mencuci piring. Sudah 30 menit berlalu dan suara seseorang mencuci piring masih terdengar. Aneh sekali, kenapa Vita mencuci piring begitu lama. "Kebetulan gak bisa tidur, mungkin aku bisa ngobrol sama Vita" Ani pun keluar kamar dan menuju dapur. Betapa kagetnya Ani, saat melihat wastafel, piring-piring sedang dicuci di wastafel dan bergerak sendiri tidak ada seorang pun di sana. Hampir saja Ani menjerit. Tapi ia urungkan. Bulu kuduknya merinding. Ani berbalik ke arah kamar Vita. Ia mengetuk pintu kamar Vita dan memanggil-manggil namanya. Namun tidak ada jawaban sama sekali. Ia yakin dengan suara ketukan sekeras itu, pasti Vita bakal bangun. Meski lama Ani mengetuknya, Vita tidak juga muncul, bahkan menyahut pun tidak. Kamar itu seolah tidak ada penghuninya.
Sekejap lampu di lorong antar kamar mati. Ani gelagapan mencari-cari stop kontak lampu. Ia tidak menemukannya. Kemudian terdengar suara pintu kamar Ani dikunci. Lalu pintu kamar Vita. Ani semakin merinding ngeri. Ia pun mundur perlahan menuju ruang tamu. Seketika ia memdengar sesuatu. Ani berbalik menghadap ruang tamu. Ani mau pingsan saat diruang tamu ia lihat sebuah bayangan seorang wanita berpakaian putih dengan mata merah. Ani tidak berani lihat sosok di depannya. Sejenak Ani merasa tubuhnya lemas. Ia terjatuh pingsan tidak sadarkan diri.
***
Ani terbangun saat matahari sudah tinggi. Ani buru-buru mengambil handphone dan menelepon temannya. Saat itu juga Ani akan pindah kos. Ia sadar jika pindah kos, uang pembayaran dimuka tidak akan bisa diambil lagi. Ani tidak peduli. Ia harus pindah kos saat ini juga.
Selesai