Bogor. September. 1995.
Pada Sore itu terlihat sepasang Suami-istri yang baru saja tiba dari Kota yang cukup jauh. Panggil saja si Istri Maria, dan Suaminya Andi.
Mereka memutuskan untuk menempati sebuah Rumah besar yang diberikan oleh Perusahaan kepada sang Suami, sebagai Cinderamata berkat pengabdiannya kurang lebih 10 Tahun.
Sepasang Suami-istri itu tentu saja sangat senang, karena mereka adalah seorang perantau yang tidak memiliki tempat tinggal yang tetap.
"Alhamdulillah, Pak... Kita bisa menempati Rumah yang layak, walau pun sebagian Gaji bulanan mu harus di potong." Ucap, Maria yang berdiri tegap disamping Suaminya.
Andi yang mengenakan Kemeja putih itu menghela napas perlahan, dia juga sangat bersyukur atas hasil yang dia dapatkan. "Iya, Buk... Alhamdulillah, yasudah kalau begitu, kita harus cepat masuk." Andi memalingkan Wajahnya untuk dapat melihat Maria yang berada disamping kanannya.
Maria menganggukkan Kepalanya, segera mereka berjalan untuk dapat memasuki Rumah besar dengan cat berwarna kuning. Di depan Pintu yang terbuat dari Kayu Jati terlihat Nomor urut yang terpampang jelas, 07 itu adalah Rumah yang akan mereka tinggali.
Andi yang sedang membawa Koper hitam didalam Tangan kanannya, segera dia menghentikan langkahnya lagi, ketika tepat berada di depan Pintu Rumah itu. Dia mulai memasukkan Tangan kirinya ke dalam saku Celana bahan hitam yang dia kenakan.
Tidak lama kemudian Andi mengambil Kunci Rumah yang telah diserahkan atasannya untuk dia. Perlahan Andi mulai memasukkan Kunci itu ke dalam lubang Pintu dan memutarnya, tidak menunggu lama akhirnya Pintu segera terbuka.
Andi segera menggenggam Daun Pintu yang terbuat dari Besi berwarna putih, dia membuka Pintu Rumah dengan perlahan. Keduanya kini sedang menatap penampakkan dari bentuk dalam Rumah itu, di dalam sana terdapat tiga Kamar, untuk Kamar, Dapur, dan Kamar Mandi, juga menyisakan Ruang Tamu yang cukup luas. Sangat pas bagi mereka berdua mendapatkan tempat senyaman itu.
Maria berjalan untuk dapat masuk ke dalam Rumah yang cukup luas itu, dia pandang tempat itu dengan Mata yang penuh binar. Andi yang melihat Istrinya sangat senang membuat hatinya merasa damai. "Semoga kita betah ya Pak tinggal di sini," kata Maria yang segera memalingkan Wajahnya lagi untuk dapat melihat ke arah Andi.
Andi tersenyum ramah ketika mendengar perkataan dari sang Istri, "iya Bu... Oh iya, hari ini Bapak dapat bagian malam, Ibu tidak apa-apa Bapak tinggal sendiri di Rumah?" kata, Andi yang menenteng Koper hitam dan berjalan untuk dapat mendekati Ruang Tamu.
Di tempat itu sudah disediakan Kursi dan Meja, Lemari Pakaian pun tertata rapi di dalam Ruang Kamar. Mereka hanya tinggal membawa barang yang di rasa penting, sungguh Maria sangat senang dia tatap Pria bertubuh Besi itu, sikap yang tegas dan pantang menyerah. Benar! Itu adalah Andi Suaminya, sang Ksatria yang selalu menjaganya.
"Iya tidak apa Pak, toh itu hal yang lumrah, ini bukan pertama kali juga untuk Ibu, Bapak Kerjanya yang semangat, hati-hati ya," jawab Maria yang berjalan untuk dapat mendekati Tubuh Suaminya.
"Itu pasti Buk," Andi melirik Wajah Maria, sambil mengangkat Tangan kirinya, dia usap Rambut hitam lebat itu.
**
22.14 WIB
Malam hari itu Maria berdiri tegap di depan Pintu yang terbuka lebar, dia tatap jelas Wajah Suaminya yang gagah dengan Seragam Kerja.
"Buk, Bapak berangkat dulu ya, assalamualaikum," kata Andi yang berpamitan untuk menjalankan tugas malamnya kepada Maria.
"Waalaikumsalam, Bapak hati-hati ya," Maria mencium Tangan kanan Suaminya dengan lembut.
Andi tersenyum ramah, lalu dia meninggalkan Maria di dalam Rumah seorang diri, setelah Andi pergi Maria mulai menutup Pintu.
Kini di tempat itu hanya ada Maria yang sedang hamil muda, usia kandungannya baru menginjak Bulan ke 3. Maria berjalan ke arah Kursi, perlahan dia mulai duduk.
Tidak lama setelah Andi pergi Maria merasakan sesuatu yang sangat aneh, dari halaman depan dia mendengar suara seorang Wanita yang memanggil namanya. "Mar... Maria, buka Pintu aku ingin masuk," Maria tertegun ketika mendengar suara aneh itu.
"Lho?! Siapa orang yang memanggil namaku itu? Bukankah aku baru saja pindah? Bagaimana mungkin ada orang lain yang mengetahui namaku?!" Maria membatin dengan perasaan bingung dan juga penasaran.
Tok...
Tok...
Tok...
Maria semakin dibuat terkejut, dia memalingkan Wajahnya untuk menatap ke arah Pintu yang tertutup rapat itu. Dia segera menyentuh Perutnya dengan perlahan, lalu Maria bangkit dari tempatnya untuk melihat apa yang sebenarnya telah terjadi.
Maria mengumpulkan niat yang kuat, dia berjalan untuk dapat mendekati Jendela besar dan panjang dengan Gordeng berwarna cokelat tua. Maria mulai menghentikan langkahnya ketika berada di depan Jendela itu, perlahan dia mulai menggenggam erat Kain cokelat, dengan cepat dia membukanya, Maria memperhatikan halaman sekitar di depan Rumahnya akan tetapi dia tidak menemukan apa pun dan siapa pun di sana.
Maria semakin bingung dengan semua itu, lalu dia tutup kembali Gordeng berwarna cokelat besar. Dia palingkan Tubuhnya dan bergegas untuk dapat masuk ke dalam Ruang Kamar.
"Aku pasti hanya kelelahan saja," batin Maria sambil mencoba untuk menenangkan diri.
Dia menengadahkan Wajahnya ke atas, Mata Bulatnya kini sedang melihat Jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 22.42 WIB.
"Ternyata sudah waktunya beristirahat, pantas saja aku berhalusinasi ternyata aku sedang mengantuk, sebaiknya segera beristirahat." Maria memalingkan Wajahnya untuk dapat melihat ke arah Kamarnya, Tubuhnya segera mendekati Tempat itu, setelah berada pada jarak yang tidak terlalu jauh, Maria mengulurkan Tangannya dia membuka Pintu yang terbuat dari Kayu Jati dengan perlahan.
Maria mulai memasuki Kamar, sinar putih terang dari Lampu itu menerangi seisi Ruangan. Dia melihat Ranjang yang bersih dan rapi berwarna putih polos.
Segera Maria mendekati Ranjang itu, dia membaringkan Tubuhnya dengan nyaman. Perlahan dia memejamkan Matanya, dan tidak terasa Maria terlelap dengan sangat cepat.
Beberapa saat kemudian, malam semakin larut, tedengar suara Burung Hantu yang bertengger di atas atap Rumah Maria.
Angin malam cukup kencang dan dingin, ketika Maria sedang terlelap tiba-tiba saja dia merasakan ada sesuatu yang mendekap Tubuhnya. "Bapak sudah pulang?!" Dalam batin Maria yang merasa bingung. Tangan yang sangat dingin, itu membuat Maria merasa semakin curiga.
Dia segera membuka Matanya, dan di liriknya ke arah samping kiri siapa gerangan yang sedang tidur dengannya itu. Sungguh betapa terkejutnya dia ketika melihat sesosok Makhluk dengan Tubuh yang dipenuhi Kain putih dari ujung Kepala sampai Kaki, seperti seorang Pasien Rumah Sakit yang menderita luka di sekujur Tubuhnya. Saat ini bolehkah dia menyebut Mahkluk itu adalah Mumi?! Aneh sungguh aneh kejadian yang dia alami saat itu.
Tubuhnya bergetar, Bola Mata dengan Retina hitam itu membulat lebar. Tak mampu dirinya berteriak meskipun saat itu dia ingin. Tubuhnya pun terasa kaku, tak mampu di gerakkan.
Maria kembali memejamkan Matanya, kemudian didalam hati Maria membaca beberapa ayat suci Al-Quran. Dia berdoa agar tidak terjadi sesuatu yang buruk kepada dirinya.
Tidak lama setelah itu, Tubuhnya yang terasa berat juga kaku menjadi seperti biasanya. Dia membuka Mata dengan lebar, lalu Maria palingkan Wajahnya ke arah samping kiri, Mahkluk yang tertutup Kain putih itu menghilang.
"Hah... Hah..., alhamdulillah!" Maria mulai mengolah napasnya, lalu dia segera bangkit dan duduk di atas Ranjangnya.
Maria teringat malam itu tepat jum'at kliwon, yang menurut kepercayaan adalah malam sakral bagi Mahluk tak kasat Mata. Maria mulai bangkit dari tempatnya dan berjalan keluar Kamar, saat itu jam menunjukkan pukul 23.34 WIB.
Maria melangkahkan Kakinya untuk menuju ke arah Kamar Mandi, setelah tiba di depan Pintu masuk, Maria menghentikan langkahnya. Dia tercengang untuk ke dua kalinya, di dalam sana Maria mendengar suara air Keran yang menyala, dan juga gelat tawa dari seorang Wanita.
"Astagfirullahalazim, la ilaha illallah," Maria melafalkan dzikir dari Mulutnya secara tidak sadar.
Segera dia berjalan mundur untuk dapat menjauhi tempat itu, dan berlari menuju Ruang tamu.
Maria yang sudah ketakutan itu, tidak mampu berjalan lebih jauh lagi dia duduk di atas Kursi Kayu yang berada di samping kirinya, Maria terus berdzikir dan melafalkan beberapa ayat suci Al-Quran, untuk menenangkan diri.
Suasana yang terasa sangat tidak nyaman itu mendadak sunyi, dan sepi. Maria merasakan ketenangan didalam jiwanya. Saat itu dia memutuskan untuk tidur di Ruang Tamu.
Pagi hari, pukul 04.30 WIB.
Tepat pada waktu Subuh, Maria dikejutkan dengan suara ketukan Pintu, segera Wanita itu terbangun dari tidurnya.
"Siapa?!" Maria berteriak dengan tegas, sambil menatap ke arah Pintu utama.
"Ini Bapak, Buk." Kata, Andi yang telah kembali ke Rumah setelah selesai bekerja.
"Bapak?!" Maria sangat terkejut mendengar suara dari Andi Suaminya. Segera dia bangkit dari Duduknya dan berjalan untuk dapat menghampiri Jendela yang berada di samping kiri Pintu utama.
Maria sedikit mengintip dari balik Jendela, dia ingin memastikan bahwa Pria yang berada di luar Rumah benar Suaminya. Melihat Wajah yang terlihat letih dan tatapan lugu membuat Maria percaya bahwa Pria itu memanglah Andi.
Segera dia mendekat ke arah Pintu dan membukakannya untuk Andi. Maria memutar Kunci yang masih bergantung di dalam Lubang Pintu. Wanita itu membuka lebar Pintu besar itu, dan menatap tajam diri Andi.
Melihat tingkah Istrinya yang tampak lain, membuat Pria itu curiga. "Assalamu'alaikum, ada apa Buk?" tanya, Andi dengan penasaran.
"Waalaikumsalam, Bapak masuk dulu, setelah Sholat Subuh, Ibu akan bicara," kata Maria yang segera mencium Tangan kanan Suaminya itu.
Mendengar ucapan dari Istrinya, Andi hanya terdiam, lalu dia meminta kepada Maria untuk segera masuk, dan menutup Pintu.
Beberapa saat kemudian, setelah mereka telah melaksanakan Sholat Subuh, Andi kembali bertanya. "Sebenarnya Ibu itu kenapa?" tanya, Andi yang memandang Wajah Maria dengan curiga.
Maria yang masih mengenakan Mukena, terdiam sejenak. Lalu, Wanita itu segera berbicara. "Jadi begini Pak," Maria mulai menjelaskan semua kejadian aneh yang dia alami di Rumah itu.
Setelah mendengar cerita dari Maria, Andi hanya terdiam, lalu dia kembali berbicara. "Mungkin Ibu terlalu lelah, jadi berhalusinasi sampai seperti itu." Jawab, Andi sambil tersenyum ramah kepada Istrinya.
"Benar Pak! Ibu sadar, tidak ada kebohongan sama sekali, Ibu mengalaminya sendiri." Jawab, tegas dari Mulut Maria, Bola Matanya membulat lebar, dia terlihat sedang berusaha untuk meyakinkan Suaminya bahwa dia bersungguh-sungguh.
Andi terdiam ketika mendengar perkataan dari Istrinya itu, "yasudah, nanti Bapak yang akan memeriksanya sendiri, Ibu tenang saja ya." Kata, Andi yang sedang berusaha untuk menenangkan Maria.
Pada hari jumat seperti biasa Andi melaksanakan shift malamnya, kejadian serupa terus terulang. Lagi-lagi Maria menceritakan hal yang sama kepada Andi.
Akhirnya pada malam minggu Andi berada di Rumah, hari ini dia tidak bekerja. Andi sangat curiga sehingga malam itu dia memutuskan untuk tidak tidur, Andi adalah seorang Pria yang mampu melihat hal-hal di luar nalar, jika dia ingin untuk membuka Mata ke tiganya. Andi mendapatkan hal itu tidak cuma-cuma begitu banyak pengorbanan yang dia lakukan, dahulunya Andi pernah mengikuti sebuah organisasi Pencak Silat, di Desanya.
Sehingga dia mampu untuk membuka Mata ke tiga itu, tidak sembarang orang dapat melakukan hal tersebut. Hanya di izinkan bagi mereka yang memiliki mental kuat, jika dilakukan oleh sembarang orang dengan Jiwa dan Raga yang tidak siap, maka si pembuka akan menjadi gila.
Andi mulai berkonsentrasi dia membuka Pakaiannya, sambil duduk bersila didepan Pintu utama yang terbuka lebar. Matanya terpejam dengan sangat tenang. Bebeberapa jam telah berlalu, Andi tidak merasakan apa pun di tempat itu. Tidak terjadi sesuatu kepada dirinya, seperti yang di alami oleh Istrinya.
Karena lelah akhirnya Andi memutuskan untuk tidur, dia membaringkan Tubuhnya di depan Pintu, sampai pada akhirnya Andi mendapatkan sebuah mimpi. Dua orang Gadis cantik, berkulit putih dengan Rambut hitam panjang terurai, Matanya sipit seperti keturunan China. Mengajak Andi untuk pergi dengannya, ke dua Wanita itu sedang menaiki Mobil sedan berwarna putih.
"Mas, kalau butuh tumpangan masuk saja, itu lho Rumah kami tidak terlalu jauh, hanya di depan sana." Kata, seorang Gadis cantik yang berada di dalam Mobil Sedan itu sambil menunjuk Rumah besar dengan Tembok berwarna kuning, bernomor 07. Tiba-tiba saja saat itu tubuh Andi sudah berada didalam Rumahnya, "Mas... Itu lho tempat istrahat kami," ucap Gadis satunya sambil menujuk ke arah tempat yang menjadi Kamar tidur Andi dan Maria.
Tiba-tiba saja Andi yang sedang tertidur terbangun karena ada suatu benda yang mengarah ke Mata kanannya. Andi terkejut, dia langsung duduk dan melihat apa yang mengenai Matanya, Andi mencari sekeliling tempat itu, dia melihat Kulit Rambutan berwarna merah tergeletak di atas Lantai.
Andi merasakan sakit pada Matanya itu, seperti sulit untuk dibuka, Andi bergegas menuju Cermin besar yang tidak berada jauh darinya. Ketika melihat Wajahnya yang berada di dalam sana, Andi dibuat terkejut karenanya, Matanya membengkak dengan warna merah, sangat besar seperti Biji Rambutan.
Setelah kejadian itu, beberapa hari kemudian Andi baru tersadar bahwa tempat yang dia singgahi dulunya adalah Kuburan China, dan Ruangan yang dijadikan Kamar tidur adalah Kuburan dari kedua Gadis keturunan China itu. Andi mendapatkan kabar itu dari salah seorang Penduduk yang telah lama berada di tempat itu.