Aku seorang gadis belia yang baru menamatkan studinya.Sang ayahnya menawarkan bekerja sebagai pegawai rumah sakit alasannya dengan rumah atau bekerja di instansi pemerintah dan sebagainya.
Tapi aku tetap dengan pendirian aku mau bekerja sendiri tanpa bantuan siapapun,mau hasil jerih payah sendiri. Dan Alhamdulillah tak berapa lama kemudian pun aku mendapat surat panggilan dari perusahaan swasta di kota C,dan aku bekerja di sana di bagian gudang bag M.C.(mat control).
Sebenarnya jarak antara tempat tinggal dan tempat kerjaku tidak begitu jauh tapi ya lumayan capek akhirnya aku memutuskan untuk meminta ijin kepada orangtuaku untuk ngekos dan Alhamdulilah mereka mengijinkan dengan syarat setiap Minggu sekali harus pulang dan aku menyanggupinya.
Aku menyewa kos dengan temanku yang bernama Titi berasal dari Bengkulu meskipun kita berdua berasal dari suku yang berbeda tapi kita berdua saling menghargai.
Dan tak terasa sudah seminggu aku berada di kos tersebut.
"Titi panggil seseorang dari luar".
"Titi pun keluar dan menghampirinya".
"Ada si black tumben pagi pagi sudah teriak bikin pening nih telinga".
"Mana ada pening telinga Titi ngaco aja lu ada juga kepala yang pening dasar lu ucap si black".
Dan si black pun mengintip masuk ke dalam kos ku.
"Mau ngapain lu ngintip ngintip cari siapa tanya Titi kepada si black".
"Katanya ada penghuni baru seru si black".
"Iya tuh Titi kenalin sama kita kita jangan diumpetin aja, timpal salah satu temannya".
"Eh lu Gus sm Uun ikut ikutan aja timpal Titi".
"Hehehehe ......"
"Mereka pun tertawa bersamaan".
"Cewek kenalan dong riuh mereka...."
Titi pun masuk ke dalam kamar dan membangunkan aku
"Put,bangun ujar Titi sambil menepuk tanganku".
Aku pun akhirnya bangun dari peraduan aku dengan wajah lesu aku membenarkan rambutku yang berantakan.
"Ada apaan sih Titi lu ganggu aja kataku".
"Maaf bukan mengganggu tapi ada yang mencari kamu".
Aku pun mengerutkan dahi aku siapa yang mencari aku tidak ada yang kenal pikirku.
"Siapa yang nyariin Aku sih Titi tanyaku kepada Titi". Sebenarnya sih kesal acara tidurku terganggu.
"Itu tetangga kita ada yang ingin berkenalan Sama kamu putri tutur Titi kepadaku sambil menarik lenganku".
"Ya udah ayo",akhirnya aku pun bangun dari tempat tidurku sebelum menemui mereka aku pun membersihkan wajah ku terlebih dahulu.
Aku pun keluar dan menemui para tetangga baru ku yang terdiri dari kaum Adam semua.
"Hai sapaku kepada mereka sambil tersenyum".
"Duh senyumnya itu sampai mengalahkan bir bintang ujar laki laki yang berkulit hitam".
"Bisa aja Tutur aku sambil tersipu mal".
"Hey,kenalan dong jangan ngedekem aja di dalam kamar banyak lelaki tampan di sini ucap salah satu lelaki yang berwajah tampan tersebut".
Sambil mengulurkan tangannya,"kenalin nama gue Zawid dari Kebayoran lama" ucapnya dan aku pun menyalaminya.
"Namaku putri ucapku dari kota B".
"Wah sama dong sama gue sama Agus lu kota B nya di mana tanya laki laki berkulit hitam manis tersebut".
"Kota B nya di jl. Pramuka kataku kembali".
"Aku dan Agus dari kota B. pondok gede".
"Oh,aku tau jawabku..."
"Kenalin gue si black sambil menunjuk dirinya dan ini si Agus menunjuk lelaki di sampingnya".
"Aku putri kataku".
"Put..Puput panggil satu laki laki lagi".
Dengan refleksnya aku menoleh ke arahnya. Ada laki laki manis dia sedang tersenyum ke arahku.
"Kenalin aku Uun aku dari tadi nungguin kamu keluar akhirnya keluar juga"
Aku dan yang lainnya pun terkekeh mendengar celotehannya Uun tersebut. Kita semau bercengkrama dengan serunya dan sambil berkelakar yang tentu saja yang membuat aku tertawa dan ternyata yang tadinya boring pun sekarang jadi happy.
Tak terasa sudah satu bulan aku Bekerja dan tinggal di kos berdua dengan Titi. Suasana di kantor tempat aku bekerja pun tidak ada masalah semaunya aman terkendali.
"Puput panggil seseorang dari luar".
Aku pun keluar dan menghampirinya.
"Eh Uun,Ada apa ya tanyaku".
"Hari ini ada acara keluar ngga tanya Uun kepadaku".
"Dan aku pun menggelengkan kepalaku".
"Tidak tuh memangnya kenapa?"
"Jalan yuk ajaknya kepadaku".
"Jalan ke mana tanyaku kembali".
"Nonton ucapnya".
"Eh Uun ngapain lu pedekate nih ujar Zawid,jangan mau bisiknya kepadaku sudah ada yang punya"
"Oohhh ucapku".
"Wah ngga beres nih ucap Uun jangan di dengerin put dia yang udah ada yang punya hobinya tebar pesona kemana mana setiap gadis di kadalin sama lu ucap Uun".
"Wah..wah..ngga ver lu maennnya".
Dan aku pun menolak dengan halus ajakan Uun tersebut dengan alasan aku harus pulang nanti sore.
Tak terasa sudah 6 bulan aku bekerja dan kos dan tanpa kusadari percik percik cinta mulai bersemi tapi aku tidak berani mengutarakan karena aku perempuan' harus laki laki lah. Dan aku pun sadar bahwa dia juga menyukaiku.
Kadang tanpa sengaja aku bertemu dia di jalan akhirnya kita pulang bersama atau bermain gitar bersama aku yang bernyanyi dia yang bermain gitar dan lagi yang tanpa sengaja sering kita lakukan bersama.
"Put..putri panggil Titi lu pacaran ya sama mas Agus tanya Titi penuh selidik ke arahku".
"Ngga jawabku".
"Jangan bohong!! "Orang pada bilang begitu kamu katanya pacaran sama mas Agus.
"Gosip Titi itu gosip kataku sambil mendelik ke arah Titi".
"Tau ngga ada yang patah hati kamu pacaran sama mas Agus Put".
"Siapa tanyaku"
"Mbak Titin yang kos di belakang yang bekerja di PT angin ribut ujarnya".
"Oh mbak Titin itu pantesan dia kaya sensi gitu sama aku kalau liat aku kaya gimana gitu loh".
"Dia fans beratnya mas Agus loh tutur Titi,makanya aku tanya kamu pacaran ngga sama mas Agus".
"Engga Titi sumpah deh mungkin sebentar lagi ucapku".
"Jadi kamu menyukai mas Agus syukur deh aku doain jadian soalnya aku lihat juga mas Agus sepertinya juga menyukaimu".
"Doain ya Titi".
Tapi semuanya tak seindah kenyataannya,yang harusnya aku jadian sama mas Agus hanya mimpi belaka bukan mas Agus menolak aku,atau aku menolak dia tapi satu hal yaitu persahabatannya dengan Uun yang secara terang terangan menyatakan cintanya kepadaku dan aku harus menolaknya tapi aku juga tidak mungkin menerima mas Agus karena akan menyakiti sahabatnya.
Dan aku hanya bisa menjadi teman tapi mesra dengan mas Agus atau kadang disaat kesepian melanda aku minta di temani menonton bioskop.
Dan suasana itu jujur membuat aku tersiksa tidak bisa seterusnya harus begini aku harus membuat keputusan yang mungkin menyakitkan hatiku.
Aku dan mas Agus sama sama tau kalau kita berdua saling ada rasa tapi kita juga sudah berkomitmen bahwa persahabatan adalah segala galanya kali ini aku harus mengalah tidak boleh di buat berlarut.
Dan aku memutuskan kembali ke rumah tidak akan kos. Karena cinta itu hadir karena terbiasa.
Setelah aku kembali ke rumah dan mas Agus pun masih sering menelepon aku begitu pun Uun tapi lebih baik aku di rumah di bandingkan aku yang tinggal di kos.
Jangan biarkan cinta itu tumbuh kalau hanya untuk menyakiti.....
Akhirilah cinta seperti itu sebelum berkembang...
Yah seperti " Kekasih Bayangan" seperti itulah cintaku berdua dengannya.
______END______
NB:
Sepenggal cerita dari masa lalu.