Keluarga Trianon adalah salah satu nama keluarga bangsawan di era modern ini.Selama ratusan tahun,Keluarga Trianon tetap berjaya.Jika dihitung-hitung hanya beberapa keluarga bangsawan saja yg berhasil menetap dalam kejayaan sama seperti Keluarga Trianon.
Keluarga Trianon yg sebelumnya dipimpin oleh Conner Trianon kini berpindah tangan ke putri sulungnya,Silvia Trianon.Putrinya ini terkenal di kalangan bangsawan lainnya dengan keanggunan yg bagaikana dewi dan juga kecerdasan yg hampir menyetarai profesor.Tapi,Silvia juga memiliki kekurangan dalam dirinya yg sempurna itu.
Kekurangan Silvia adalah berhati dingin.Berhati dingin yg dimaksud meliputi bidang penghukuman.Silvia tak akan segan-segan melayangkan nyawa seseorang jika dia sudah melakukan kesalahan fatal.Pemerintah sekalipun tak berani untuk mengusik Keluarga Trianon karena tentara yg dipekerjakan oleh mereka tidak sedikit.
Jika melihat kekuasaan dari Keluarga Trianon,Bisa dibilang mereka adalah penguasa yg sesungguhnya.Pemimpin negara sekalipun tidak berani untuk menaikkan kepalanya,Karena itu sama saja dengan menggali kuburan sendiri.
"Lily,Hidangkan aku secangkir teh"
Perintah Silvia kepada pelayannya,Lily.
BEBERAPA SAAT KEMUDIAN...
"Lily.."
Silvia baru saja ingin meminum tehnya tapi dia terhenti karena suatu hal.
"I-iya nona?"
Jawab Lily dengan gugup.
"Apakah kau berpikir untuk meracuniku?"
Lily tersentak dengan perkataan menohok yg dikeluarkan oleh Silvia untuknya.
"B-bagaimana saya bisa berani melakukan itu,Nona?!"
"Lalu jelaskan apa ini!"
Silvia kemudian menuangkan tehnya itu ke dalam cangkir yg terbuat dari besi.Dalan sekejap warna dari teh itu berubah yg artinya teh itu mengandung racun.
"B-bagaimana anda bisa tahu kalau di dalamnya ada racun!?"
Lily tampak sangat terkejut karena kemampuan penciuman Silvia sangat tajam.Bahkan racun tak berbau sekalipun dapat diketahuinya.
"Katakan kepadaku siapa yg menyuruhmu"
Perintah Silvia sambil menatap Lily dengan tatapan dinginnya yg paling di takuti orang-orang.
"I-itu.."
"KATAKAN!"
"S-saya sendiri yg ingin melakukannya,N-nona"
Lily bersujud di bawah kaki Silvia dengan penuh ketakutan sampai tak berani menatap wajah mengerikan Silvia yg sedang murka terhadapnya.
"Jadi begitu.."
Silvia tersenyum sinis melihat Lily gemetaran saking ketakutannya.
"Alphonso.."
Dia kemudian memanggil salah satu orang kepercayaannya.
"Iya,Nona?"
"Bawa LILY ke ruang bawah tanah,Kemudian INTEROGASI dia sampai dia ingin mengatakan yg sebenarnya.."
Perintah Silvia dengan nada dingin.
"S-saya mohon jangan,Nona Silvia"
"Itu adalah hukuman untukmu karena sudah berani menuangkan racun ke Pemimpin Keluarga Trianon yg berikutnya"
Interogasi yg di perintahkan oleh Silvia untuk dilakukan bukanlah interogasi yg seperti biasanya kita kenal.Tapi interogasi yg dilakukan oleh bawahan Silvia adalah MENYIKSA.Walaupun hal ini tergolong cukup sadis,Namun tak ada yg berani protes karena hal ini adalah hal yg umum terjadi di Keluarga Trianon.
"TOLONG JANGAN MASUKKAN SAYA KESANA,NONA..!"
Lily yg sedang di seret oleh bawahan Silvia meronta-ronta dan juga menjerit meminta pertolongan dari Silvia.Silvia hanya duduk diam dengan wajah datarnya yg khas.
"Kemungkinan orang yg menyuruh Lily adalah Hurelbald.Yah,Aku tak terlalu terkejut karena dia adalah orang yg ambisius akan hal-hal yg berhubungan dengan pewarisan Keluarga Trianon"
BESOKNYA...
"Halo,Lily.Apakah kabarmu baik~?"
Kedua tangan Lily di rantai begitu juga dengan kakinya.Tubuhnya berdarah-darah karena luka yg diakibatkan interogasi kemarin.Kondisi Lily sangat lemah saat Silvia menemuinya di ruang bawah tanah.
"Pfft..Baru segini saja kau sudah kesakitan?Seharusnya kau menyiapkan fisik sebelum datang kemari,Lily"
Silvia tersenyum sinis melihat kondisi Lily yg sangat lemah.
"Jadi,Siapa yg menyuruhnya kemarin Alphonso?"
"Adik anda,Tuan Hurelbald Trianon"
Jawab Alphonso secara singkat sambil membungkuk di hadapan Silvia.
"Sesuai dengan dugaanku.Dan ngomong-ngomong,Sudah ke berapa kalinya dia melakukan percobaan pembunuhan terhadapku ya?"
"Baik sudah cukup.Bunuh pelayan itu lalu kuburkan dia dimana saja.Pastikan tak ada noda darah di lantai ruang bawah tanah ini.."
Mendengar perintah Silvia yg bengis itu,Lily yg tadinya lemah tak berdaya di dalam kurungannya kemudian berteriak...
"ORANG SEPERTI ANDA TAK PANTAS MENJADI KEPALA KELUARGA TRIANON YG SELANJUTNYA!!"
"Cepat bawa dia pergi sebelum aku menjadi marah!"
Alphonso menganggukkan perintah Silvia lalu membuka kurungan Lily.Dia dibunuh dengan sekali tebasan pedang namun brutal.
DI TEMPAT SILVIA...
"Hurelbald,Apakah kau tidak lelah berusaha untuk membunuhku?"
"A-apa yg kakak katakan?!"
"Huh,Jangan berpura-pura bodoh di hadapanku."
Silvia tiba-tiba menodongkan pisau kecil ke leher Hurelbald sambil tersenyum dingin.Hurelbald tak berani bergerak sedikit pun karena hal itu akan membuat pisau milik kakaknua itu menggores lehernya.
"Ini peringatan terakhir dari Sang Pewaris,Camkan itu!"
Silvia kemudian menaruh kembali pisaunya di saku lalu berjalan kembali kekamarnya.
"Darimana datangnya sifat sombongnya itu?!Hanya karena dia anak pertama saja dia bisa mendapatkan posisi itu!"
Gerutunya sambil membanting barang-barang yg ada di sekitarnya.
DI KAMAR SILVIA...
"Maaf mengganggu,Nona.Tapi,Ada sesuatu yg harus saya sampaikan kepada anda"
"Apa itu?"
"Kami menemukan seoran penyusup yg masuk ke dalam sini"
"Dimana penyusup itu sekarang?"
"Dia ada di ruang bawah tanah,Nona"
Silvia kemudian mengangguk lalu pergi ke ruang bawah tanah untuk melihat siapa penyusup itu.
DISANA...
"Oh,Ya ampun.Ku kira siapa ternyata hanya kau saja...Arnold"
Silvia mengatakannya dengan nada yg sangat riang,Tapi sebenarnya itu adalah sebuah ancaman untuk tidak menyusup masuk kesana lagi.
"Apa-apaan tatapan matamu itu?Bukankah kita TEMAN dulunya?"
"Ah iya,Aku ingin tahu kenapa seorang bangsawan sepertimu masuk ke rumah bangsawan lain,Hmm?"
"Kau seharusnya mati sejak dulu!"
Ucap Arnold sambil meludahi Silvia.
*SRING*
Alphonso menarik setengah pedangnya keluar dari sarung pedangnya untuk bersiap menebas Arnold karena ketidaksopanannya kepada Silvia.Tapi,Silvia menghentikan tindakan Alphonso dan hanya mengambil sapu tangannya kemudian mengelap ludah Arnold yg mengenai bajunya.
"Haha,Kau masih saja tidak sopan.Kau seharusnya memperbaiki sikap tidak sopanmu itu"
"Kenapa kau melakukan itu?"
"Melakukan apa?"
Silvia berpura-pura bodoh di hadapan Arnold yg keadaannya sedang di rantai sama seperti Lily sebelumnya.
"KENAPA KAU MENGHANCURKAN KELUARGAKU!?"
"Ah,Masalah itu ya?Well,Keluargamu sendirilah yg mencari masalah denganku.Jadi,Aku hanya ingin MEMBALASNYA.Apakah itu salah?"
"Tapi memangnya apakah kau harus sampai menghancurkan kami?!"
Silvia tersenyum menyindir melihat kenaifan Arnold yg masih saja memikirkan keluarganya yg telah hancur.
"Ayahmu,Lant Morphy yg ingin menghancurkan Keluarga Trianon duluan"
"Alphonso.."
"Iya,Nona"
"Cambuk dia sebanyak 100× kemudian bunuh dia.Lalu buang mayatnya.Lakukan secepatnya"
"PENGECUT!"
"ARNOLD MORPHY,SUDAH CUKUP!KESABARANKU SUDAH HABIS AKAN DIRIMU ITU"
Silvia berjalan pergi dengan marahnya darisana.Alphonso kemudian melaksanakan perintah dari Silvia.Ia mencambuk Arnold sebanyak 100× kemudian membunuhnya secara brutal.
Beberapa hari setelah itu,Tiba waktunya pengangkatan Silvia menjadi seorang Duchess.Silvia berhasil mendapatkan posisi itu berkat wasiat dari ayahnya.Ia kemudian dijuluki sebagai 'The Tyrant Duchess' karena rasa tak kenal ampunnya kepada siapa saja yg berkhianat,mencoba membunuhnya,Dll.
~The End~