"Kania... ada iklan..." Aku berlari kearah rumah Kania yaitu tetangga samping kanan rumahku
"Iklan apaan?" setelah berlari secepat mungkin respon Kania hanya seperti itu, tapi kuakui ia memang dingin
"Iklan pencarian batu Rubi" aku menjawab antusias menyodorkan ponselku
"Ya trusss?" setelah ia melihatnya lalu meletakkan ponselku diatas meja belajar
"Ikutan kuy..." aku kembali menunjukkan ponselku setelah mencari aturan main iklan petualangan terbaru
"Ok... bayar berapa?" ia bertanya datar walaupun sebenarnya mulai tertarik
"Gratis... tapi gak ada jaminan keselamatan nya" aku menjawab lirih
"Ok deh..."
"Nama gamenya Try It, link pendaftaran udah aku share, untuk lokasinya katanya nanti kita naik bis di titik lokasi tertentu"
"Cuma tiga hari? gak salah?"
"Iyaps ini memang punya deadline mepet, tapi kamu jadi ikutan kan?"
"Iya..."
Setelah daftar dan mendapatkan titik lokasi penjemputan, aku dan Kania berangkat. Karna lokasinya tidak terlalu jauh kami memutuskan untuk berjalan kaki. Sesampainya disana kami segera naik bis yang sudah terisi hampir penuh. Bis mulai berjalan dan satu jam kemudian berhenti di pinggir jalan di tengah hutan.
Kami semua turun dan diarahkan kedalam hutan, aku dan Kania tau persis tempat ini tapi yang tidak aku habis pikir adalah sejak kapan dikota kami ada tambang isi bumi, apalagi saat kami melewati lokasinya, mereka tidak menambang emas atau batubara tapi berbagai macam isi bumi, emas, batubara, berlian, dan banyak batu alam lainnya.
Seorang instruktur berdiri di atas satu podium sederhana di tengah lapangan yang sangat luas, jika dilihat sekilas sepertinya ada lebih dari 1000 orang yang mengikuti petualangan ini.
"Baik semuanya berbaris di belakang garis!" kami semua segera berbaris rapi di belakang garis
"Kalian akan mendapati satu kartu dibawah garis tersebut, silahkan ambil"
Aku kira ini hanya sekedar garis biasa diatas tanah tapi ternyata jika dilogikakan ini adalah tanah yang garis lalu dipotong sedemikian rupa dan bisa diangkat Tampa menghancurkannya walaupun ini tidak masuk akal. Aku mendapati kartu hitam di bawah garis itu.
"Setiap warna kartu punya regunya sendiri, silahkan berdiri di belakang bendera dengan warna masing-masing" semua orang segera mencari barisan dengan benderanya masing-masing dan aku yang saat itu masih memperhatikan garis di bawah kakiku seketika terkejut mendapati garis tersebut hilang dengan sendirinya saat intrusi selesai.
Aku segera berbaris ke regu bendera hitam. Dan sayangnya aku tidak satu regu dengan Kania.
"Tiap regu dibuat bukan untuk berkerja sama tapi untuk bersaing, kalian akan bersaing dengan teman regu kalian sampai hanya tersisa tiga orang untuk hari ini yang terhitung hari pertama petualangan ini dimulai. Lihat kembali kartu kalian lalu buka lipatannya." Aku melihat kartu tersebut di telapak tanganku saat diminta melihat kartu dan aku semakin terkejut karna mendapati kartu itu berubah menjadi kertas hitam yang dilipat, dan saat dibuka terlihat peta lebih tepatnya seperti print biru lokasi kami saat ini, secara menyeluruh
"Kartu itu sangat fleksibel begitupula dengan petanya yang bisa diperbesar, maupun diperkecil, tugas pertama kalian adalah bertahan hidup selama 24, tiga hari petualangan ini bukan hitungan harinya tapi jamnya jadi kalian akan mencari batu Rubi itu selama 3 kali 24 jam, tugas-tugas dan lain sebagainya bisa dilihat di kartu itu, apa saja fungsi kartu itu bisa kalian coba dan buktikan sendiri." Selama lima menit banyak dari orang-orang di sekitarku yang mengotak-atik kartu ditangan mereka
"Baik cukup mencobanya, kalian sudah lihat tugas pertama kalian jadi silahkan waktunya dimulai dari sekarang"
Aku tau tugas pertama adalah merebut kartu milik regu masing-masing, jadi begitu waktunya berjalan aku segera menunduk membuka kartu tersebut dan membuatnya menjadi sketeboard listrik yang bisa melayang. Aku lebih memilih memperhatikan orang-orang yang mencoba kartu tersebut daripada mencobanya sendiri karna waktunya pasti tidak cukup. Dan dalam lima menit terakhir aku sudah mendapatkan 7 kartu milik reguku denga bentuk yang berbeda-beda.
Yang aku syukuri adalah aku dan Rania punya banyak pengalaman berpetualang dalam game maupun dimensi buatan seperti ini, jadi kali soal peralatan dan pakaian sepertinya kami sangat memadai karna aku memakai sarung tangan anti gores Gadi sangatlah mudah bagiku mengambil kartu yang berbentuk senjata. Setelah melayang kesana kemari, aku berhasil mengumpulkan 32 kartu, karna setiap mendapatkan satu kartu aku segera mengubahnya kebentuk semula kaoru kartu hitam dan memasukkannya ke tas pinggang ku jadi tidak memakan ruang tapi sedikit memakan waktu.
Satu jam yang lumayan menegangkan, aku yang saat ini berada di udara memang lumayan aman, tapi aku menyaksikan sendiri bagaimana bruntal nya orang-orang yang berebut kartu dibawah sana, aku sengaja melayang setinggi 4 meter diatas orang-orang tersebut, jarak yang aman dari panah maupun peluru yang mulai bisa di lontarkan tiap peserta.
Beberapa peserta mulai bisa membuat sketeboard listrik seperti ku, tapi sampai tiga jam terakhir dalam reguku belum ada yang bisa, jadi posisiku masih aman. Kania menghampiriku ia baru saja selesai menebas teman satu regunya yang juga melayang dijarak aman sepertiku, sepertinya ia panen banyak kartu.
"Dapet berapa Lyn?" ia bertanya sampul menghitung kartu ditangannya
"Cuma 32"
"Cari lagi dong, kayaknya kamu bersih banget" ia memperhatikan penampilanku yang tetap bersih dan rapi, tidak sepertinya yang berkeringat dan ada noda darah di pakaiannya
"Iya nanti..." aku menjawab pelan
"Cari penginapan yuk... "
"Kamu duluan aja ntar aku hubungi, ini aku udah buat wakie talkie dari salah satu kartu"
"Ok kode talk nya berapa?" Kania menanyakan kode untuk menghubungiku
"135 Lyna, kamu berapa?"
"444 Kania, ok duluan..." setelah itu Kania segera terbang menuju ke arah Selatan, saat ini posisi kami ada di Central lokasi pencarian dilihat dari peta
Pertengkaran dibawah masih sengit, aku melihat salah seorang peserta yang membuat panah dan mencoba memperkenalkan nya saat selesai aku mendapatkan satu busur dan sepuluh anak panah.
Aku menarik nafas dalam dan mulai menurunkan sketeboard ku, saat masih melayang sekitar satu meter aku segera mencari target dan memanahnya, saat kena aku segera turun dan berlari kearahnya, merebut pedang yang digunakannya lalu mengambil kartu yang berasa disaku jaketnya, karna sketeboard itu mengikuti pemiliknya aku segera naik dan kembali melayang di udara, mengubah kembali pedang tersebut menjadi kartu dan saat kuhitung jumlah kartu yang kudapati dari targetku tadi ternyata dengan cepat aku bisa mendapatkan banyak kartu, 13 dalam satu orang.
Entah dimana sebenarnya lokasi kami saat ini yang jelas setiap ada peserta yang gugur maka ia akan otomatis menghilang setelah kehilangan kartu miliknya yang ia dapatkan pertama kali, yang semacam kartu utama atau kartu as pemiliknya.
Aku kembali mencari target, terhitung sudah enam jam sejak waktu main dimulai. Target dikunci, seorang anak kecil mungkin masih berusia 10 tahun, dari gerakannya ia sangat lihai memain kan pedang dan bela diri. Sesaat setelah mengalahkan musuhnya ia membuat sketeboard listrik lalu mulai mencoba melayang, aku mendekatinya saat kami hanya berjarak 10 meter aku membidiknya dan...
kena, ia hampir jatuh, dengan cepat aku menarik sketeboard yang digunakannya ia terjatuh dan saat ia mencapai tanah aku segera mengubah sketeboard nya menjadi kartu, dan dalam sekejap ia menghilang dan kartu yang dikumpulkannya muncul melayang diatas kartu utama milik anak tersebut. Kartunya lumayan banyak 50+kartu utama miliknya, dia sangat lumayan ternyata. Sayangnya ini adalah sebuah kompetisi jadi aku dan siapapun yang ada disini tidak pandang umur bukannya tega tapi kami memang harus bertahan bukan.
Kurasa sudah cukup, aku segera mencoba terbang ke arah Barat. Tapi tiba-tiba aku terjatuh dari sketeboard milikku,
"Sakit... bego..." aku meringis 4 meter memang tidak terlalu tinggi tapi jatuh Tampa persiapan memang sangat sakit, beruntung sketeboard yang kugunakan bukan dari kartu utamaku jadi posisiku masih aman. aku segera membuat sketeboard baru dan pergi dari sana sebelum ada peserta reguku yang menyerangku lagi.
Di barat ada air terjun dari mata air pegunungan, aku memang membawa banyak bahan makanan mentah, walaupun disini juga ada yang menjualnya harganya hanya satu kartu untuk satu menu tapi lebih aman jika menjauhi keramaian bukan. Aku bukanlah Kania yang sangat suka menantang maut, aku lebih suka bersembunyi dan mencari kesempatan untuk menyerang sambil membuat strategi yang bagus.
Sesampainya disana, aku melihat sekeliling terlebih dahulu, aku percaya bahwa kartu ini bisa dibuat sefleksibel mungkin sampai mungkin dibuat tenda seperti perkiraanku. Setelah satu jam mencoba, akhirnya aku bisa membuat tenda dari 8 kartu, ukurannya lumayan besar, tapi ya sudahlah. Aku membangun tenda dengan cepat, mengeluarkan semua isi tas ranselku dan menatanya sedemikian rupa agar mudah di masukkan kembali.
Mencari ranting dan kayu di hutan memang lumayan sulit karna hari sudah gelap walaupun aku berhasil membuat senter dan juga lentera listrik dari kartu. Total kartu yang kumiliki adalah 95 + 1 kartu utama ku, untuk membangun tenda menghabiskan 8 kartu, lentera dan senter masing-masing 1 kartu. Jadi sisanya ada 86 kartu. Setelah mendapatkan cukup kayu bakar aku kembali ke tenda dan segera memasak mie+telur untuk makan malam. Saat tengah asik makan seseorang datang menodongkan pistol padaku
"Kamu dari regu mana?" aku menghentikan makanku, menaruh piring dan menunjukkan kartuku lalu ia duduk dan memasukkan pistolnya ke sarungnya
"Aku Alfi... namamu siapa?" ia bertanya sopan
"Aku Lyna, kamu regu apa?" ia menunjukkan kartunya yang berwarna ungu, "Mau makan... aku masih ada stok makanan instan?"
"Terimakasih, aku kesini karna lihat jalur pedagang udara, yang akan lewat beberapa menit lagi"
"Oo...h"
Beberapa menit kemudian benar saya ada toko yang lewat, semacam mini market yang menjual semua kebutuhan sandang dan pangan. Alfi segera naik dan berbelanja, aku juga ikut membeli baju baru senjata maupun makanan cepat saji untuk stok sarapan besok yang menghabiskan 12 kartu. Karna pedagang udara hanya melayani satu orang selama 3 menit mau tidak mau yang berbelanja harus cepat dan cermat.
Keesokan harinya kami mendapatkan petunjuk selanjutnya, dengan deadline sisa waktu hari pertama yaitu tinggal 6 jam. Jika kemarin para peserta harus mendapatkan kartu peserta regunya kali ini boleh mengambil kartu dari regu manapun, total regu yang ada adalah 21 regu dengan rata-rata anggota 300-500 orang. Dan informasi terbaru pagi ini sisa hanya 1824 peserta.
"Lyna... terimakasih sudah mengizinkanku menginap, walaupun kita musuh tapi untuk kali ini kamu bebas karna sudah mengizinkanku tinggal semalam dan jika bertemu lain kali maaf jika kita mungkin harus bertarung" Alfi tersenyum dan segera berlari ke dalam hutan
Aku hanya membalas senyumannya
"Ya... jika ada lain kali..." karna aku tahu persis saat ini petualangan ini tidaklah aman untuk siapapun.
Aku segera membereskan tenda dan terbang diantara pepohonan
"Tes... tes... Kania disini... apa kabar Lyn.." suara Kania terdengar dari walkie talkie di lenganku
"Baik... Kamu gimana pagi ini, masih semangat?"
"Semangat dong, apalagi ketemu kamu kayaknya makin semangat kalo bisa kalahin kamu... haha..ha.." suara tawa Kania lumayan nyaring
Aku hanya tersenyum, karna ia adalah tipe penyerang, aku yakin sejak pengumuman itu keluar sejak pukul 6 pagi tadi, ia sudah mulai mencari mangsa dengan berkeliling wilayah tempatnya saat ini. Saat ini baru pukul 7 lebih 30 pagi. Aku berhenti di dahan pohon yang rimbun dan besar. Duduk sebentar dan mengeluarkan sandwich kacang yang kubeli semalam, sarapan lah sebelum beraksi.
Selama mengunyah aku sibuk mataku awas melihat sekitar dari darat maupun udara, petualangan ini bukanlah hal yang mudah dan aman. Setelah selesai sarapan aku melanjutkan perjalanan menyusuri area sekitar hutan, siapa tau bertemu peserta lain.
Dan setelah 10 menit terbang aku mendapati beberapa orang sedang bertarung, jika diperhatikan dengan seksama sepertinya banyak peserta yang membuat aliansi untuk melawan aliansi lain. Setelah sejam berlalu, satu aliansi menang. Aku mengeluarkan satu kartu, menekan dan melipatnya sedemikian rupa dan kartu itu berubah menjadi Desert Eagle Mark XIX, walaupun anak panahku masih ada 8, bukankah pistol lebih mematikan.
Aku menilai suasana, lalu arah angin, aliansi yang terdiri dari 7 orang tersebut sedang sibuk mengeledah peserta yang mereka kalahkan, mencari kartu utama mereka sehingga tubuh mereka hilang dari pandangan. Aku memasang peredam suara, lalu mulai membidik, dan... Tampa ada yang menyadari satu peluru ku lepaskan satu orang tumbang, dan sebelum mereka menyadari apa yang terjadi kemudian menyusul peluru-peluru yang lain. Dalam Iima menit mereka tumbang, aku segera turun dan mengeledah mereka. Setelah memastikan semuanya hilang aku kembali naik ke sketeboard kembali terbang diantara pepohonan. Aku mulai menghitung kartu yang kudapatkan, total mereka yang kutembak tadi 7 orang dan yang mereka kalahkan 5 orang dan total seluruh kartu yang kudapatkan adalah 429 kartu dengan 9 warna berbeda. Merasa sudah cukup aku kembali ke lapangan tempat kedatangan kami yang pertama. Aku hanya mengamati keadaan sekitar sampai pukul 1 siang ditemani dengan cemilan yang kubawa dari rumah serta satu kotak susu.
Waktu berburu kartu habis, petunjuk selanjutnya adalah mengambil bendera di lapangan Central area sebanyak mungkin. Sangat pas aku sedang berada disekitar sana, setelah petunjuk itu keluar tiang-tiang bendera keluar dari dalam tanah. Masalahnya benderanya berkibar di atas tiang dan tentu saja harus diturunkan untuk mendapatkannya.
Aku segera berfikir bagaimana caranya mengambil bendera tersebut tampa memakan banyak waktu. Sedang asik berfikir salah seorang peserta berlari kearah tiang di lapangan yang paling dekat dengan pinggir hutan. Baru selesai melepaskan tali pengikat bendera, entah dari mana sebuah anak panah menancap pada bahu kirinya. Dan ia seketika menghilang, Tampa diambil kartu utamanya seperti aturan hari pertama.
Itu artinya tidak boleh ada luka, maka para peserta gugur. Satu jam kemudian belum ada yang mencoba mengambil bendera kembali, entah mereka masih dalam perjalanan atau justru sudah mulai bertarung dari tadi. Aku menemukan satu cara, tapi aku harus menunggu sampai keadaan mengeruh karna mau bagaimana pun cepatnya aku mengambil bendera-bendera itu dalam keadaan lapangan yang begitu lenggang aku akan menjadi sasaran empuk.
Hari mulai sore dan belum ada pergerakan lagi. Hingga langit mulai gelap entah suara dari mana ada beberapa orang yang berlari kearah tiang bendera. Dan ini saatnya panen bendera, aku sudah mengeluarkan gunting sendari tadi, gunting yang sangat kokoh dan tajam, maka aku mulai mengambil bendera yang paling dekat. Dibawah ku sedang ricuh, mereka saling menebas, menusuk, maupun baku hantam dengan tangan kosong. Jika dilihat sekilas bendera disini hanya ada sekitar 50 lembar saja, tapi aku salah karna sesaat setelah mendapatkan satu bendara maka tiang nya akan lenyap dan akan tumbuh tiang baru serta benderanya ditempat tidak terduga. Aku sangat kaget mendapati salah seorang peserta yang berpijak pada tiang bendera yang sedang tumbuh mengakibatkan tubuhnya oleng, dan terangkat sampai beberapa meter lalu jatuh menghempas tanah. Aku masih terdiam sampai satu anak panah meleset hampir mengenai pundakku, aku sadar bahwa saat ini aku dalam posisi tidak aman. Segera melanjutkan perjalanan mengambil bendera, saat bendera entah ke berapa aku sadar bahwa sudah begitu banyak bendera di tanganku akhirnya aku segera mempercepat laju sketeboard ku ke arah selatan, menurut peta disana ada banyak toko dan penginapan karna saat ini aku kelaparan.
"Lyna..." aku berhenti mendadak saat mendengar suara Kania yang memanggil ku, ternyata ia berada di salah satu lestoran yang menyediakan tempat makan di atap, aku segera menghampiri Kania dan duduk dihadapannya
"Dapet berapa bendera ?"aku bertanya setelah melihat banyaknya bendera yang sudah dilipat diatas meja
"Cuma 25" jawab Kania entengnya
"Kamu pesen makan dimana?"
"Pencet aja tombol di bawah meja"
Setelah aku memencet tombol dibawah meja salah seorang pelayan menghampiri kami
"Silahkan ini menunya. Mau pesan apa?"
Aku melihat daftar menu dan akhirnya memesan pizza, sup cream ayam, dan teh lemon hangat.
"Kok kamu santai amat duduk di roof top begini?" aku bertanya penasaran pada Kania
"Soalnya lestoran ini punya jaminan untuk mengamankan pelanggannya" jawab Kania lugas
Setelah pesanan ku sampai aku mulai bisa makan dengan tenang dan berbincang ringan dengan Kania terkait petualangan kami kali ini.
.
.
.
Keesokan harinya, petunjuk selanjutnya adalah mencari batu Rubi yang memang di iklan. Kali ini yang sudah mengumpulkan lebih dari 50 kartu dan 15 bendera yang akan mengikutinya dan yang lainnya dinyatakan gugur. Maka pukul satu siang kami diwajibkan untuk berbaris di lapangan Central.
"Silahkan bagi para peserta yang siap mengambil resiko dalam kompetisi ini menyerahkan semua kartu dan bendera yang kalian miliki, silahkan letakkan di garis depan kalian"
Hampir semuanya meletakkan bendera dan kartu yang kami miliki di garis tersebut, dan ada beberapa yang memilih untuk mundur.
"Silahkan mengambil kartu terbaru milik kalian..." kami mengambil kartu dan sebuah peta dari garis yang ada didepan kami.
Kompetisi ini lumayan sehat, tapi yang memenangkan kompetisi ini adalah yang berhasil meletakkan batu Rubi tersebut diatas podium yang sudah disediakan. Jadi kemungkinan harus terluka dalam perjalanan sangatlah mungkin.
Total peserta yang mengikuti petunjuk kompetisi terakhir ini berjumlah 50 orang. Kami hanya bisa berjalan untuk mencari keberadaan Rubi tersebut, dengan hanya petunjuk 'semut India' dan ditempat ini kami tidak memiliki sinyal sedikitpun.
Jadi karna tidak bisa mencari tahu arti dari petunjuk tersebut, semua peserta hanya bisa menggunakan insting untuk mencari batu Ruby tersebut. Dan karna India memiliki cuaca yang panas aku memutuskan mencari ke gurun pasir.
Kartu yang kami dapatkan adalah aksen untuk kendaraan karna saat ini lokasi kami bukan lagi ditentukan oleh mata angin lantas menemukan keadaan yang berbeda, tapi berdasarkan nama negara dan ada 193 negara didunia. Dan karna petunjuknya menggunakan nama India maka hampir setengah dari peserta termasuk menuju ke arah India yang perjalanannya hanya memakan waktu 1 jam. Dan setelah sampai aku memilih mencari lokasi gurun pasir karna India bercuaca panas.
Beberapa orang juga ikut kearah gurun yaitu Gurun Thar, dan setelah perjalanan yang lumayan memakan waktu, aku menemukan satu pemukiman di tengah gurun.
"Permisi... apakah ada dari kalian yang mengetahui keberadaan semut India?" aku bertanya pada beberapa anak remaja yang sedang bercengkrama
Mereka terlihat ragu-ragu lalu salah satu diantaranya memutuskan untuk menjawab
"Semut India adalah salah satu hewan yang mendiami gurun, mereka besar seperti macan hanya itu yang kami ketahui, jika kamu mencari mereka, mereka akan muncul diwaktu malam"
"Terimakasih..." aku memutuskan untuk menunggu dan membeli beberapa keperluan seperti daging dan pisau, jika ia sebesar macan maka besar kemungkinan mereka suka daging bukan
Aku juga memutuskan membeli seekor unta untuk keadaan darurat, seandainya memang butuh berlari di tengah gurun pasir nanti malam. Jika nanti malam mereka muncul itu artinya aku memiliki 13 jam untuk kembali ke Indonesia dan meletakkan Ruby tersebut diatas podium.
.
.
.
Malam pun tiba, beberapa peserta yang sudah mengetahui perihal semut India mulai berdatangan ke gurun pasir. Dalam pekat dan dinginnya malam, aku mulai perjalanan mencari para semut tersebut, karna jika siang mereka ada di dalam pasir untuk menghindari panas maka waktu yang tepat untuk mencari mereka adalah malam hari.
Aku mulai berjalan ke Utara sesuai petunjuk dari para remaja tersebut, terus berjalan kearah bebatuan dan hutan kaktus di gurun. Walaupun malam sangat gelap tapi cahaya bulan cukup untuk menjadi penerangan karna, para semut India tidak suka pada cahaya jika malam. Dari jauh aku bisa melihat beberapa peserta sedang diserang oleh hewan yang berukuran seperti macan dan berwarna hitam dan merah. Mereka berusaha melawan, dan aku hanya sibuk memperhatikan mereka, karna aku tahu jika aku menolong mereka aku juga akan menjadi santapan mereka.
Setelah mereka pergi aku menghampiri para peserta tadi, dan mereka hanya sisa pakaian saja. Ngeri memang tapi aku mencoba tak peduli, perjalanan berlanjut kali ini aku mengikuti seekor semut India, karna saku tidak tau lokasi baru Rubi itu sebenarnya dimana.
Berjam-jam mengikuti mereka walaupun kantuk menyerang, aku tetap berusaha terjaga. Dan saat mentari hampir terbit mereka sampai tujuan yaitu sebuah gua di tengah hutan setelah berjalan kesana kemari sesekali menyerang peserta yang lain. Aku menunggu di luar gua matahari mulai menyinari hampir seluruh gurun.
Salah seorang peserta yang menyadari keberadaan ku sontak berlari mengarahkan pedangnya, karna kaget dan belum siap secara reflek aku mengeluarkan pistol dan menembaknya yang mengakibatkan suara yang lumayan menggelegar. Sadar bahwa hal tersebut akan memancing para semut aku segera memecut untaku menjauhi gua tersebut dan bersembunyi di balik salah satu bukit disana. Benar saja beberapa saat setelah bersembunyi banyak semut yang keluar dari gua tersebut dan memakan tubuh peserta yang mencoba menyeraku.
Aku kembali bersembunyi sambil menunggu tengah hari. Saat matahari tepat berada di atas kepala, aku memutuskan untuk keluar dari persembunyian dan mengikatkan untaku di pohon kaktus dekat gua yang lumayan tertutup. Saat akan keluar dari persembunyian tiba-tiba seseorang menodongkan pistol padaku.
"Diem dan jalan..." ia memberikan perintah, dari suaranya ia adalah seorang laki-laki
Aku berjalan masuk ke dalam gua, dan ada begitu banyak semut yang sedang tidur, para jantan, betina bersama anak-anak nya. Aku terus berjalan dengan hati-hati, dan ternyata batu Ruby yang dimaksud berada di salah satu semut tersebut. Jika dilihat dengan seksama sepertinya yang satu ini adalah ratu semut.
"Ambil..." ia kembali memberikan perintah dan menekan pistol tersebut lebih keras di punggung kiriku. Mau tidak mau aku melakukan perintahnya, aku mengeluarkan daging dari dalam tas tangan yang kubawa, menggoyangkannya di depan hidung si semut dan setelah ia mulai tertarik, ia membuka matanya dan mulai mengeram...
Aku sudah mulai berkeringat dingin, akhirnya aku memutuskan untuk melempar daging tersebut sejauh mungkin, lalu membanting tubuh lawanku yang menodongkan pistol dan segera mengambil batu Ruby yang berada dalam pelukan sang ratu semut tadi.
Aku berlari sekencang mungkin tapi dengan suara sehalus mungkin, lima menit berlari kearah mulut gua serasa lima hari.
"Akhh...." suara teriakan yang begitu menggelegar kupastikan itu milik peserta tadi, tapi pintu masuk gua masih berjarak 10 meter dan seluruh semut di dalam gua tersebut sudah terbangun.
Maka dengan sisa tenaga yang kumiliki aku kembali berlari dan saat mencapai luar gua, Tampa pikir panjang aku segera meraih tali tunggangan untaku dan memecutnya untuk berlari secepat dan sejauh mungkin dari sana.
Suasana menegangkan masih terasa karna beberapa semut ikut mengejar ku.
"Sedikit... tinggal sedikit lagi..." sejak baru selesai memecut unta aku sudah menghubungi jemputan tercepat untuk menjemput ku di tengah gurun saat ini. Karna terlalu antusias aku tidak melihat adanya batu di depan dan membuat ku jatuh terpental lumayan jauh. Untaku tentu saja menjadi santapan para semut India tersebut, dan itu menjadi kesempatan ku untuk kembali berlari sejauh mungkin dari sana.
2 jam perjalanan ditengah gurun pasir di siang hari sangat menguras tenaga. Dan beruntung sesampainya di dekat bebatuan gurun sudah ada kereta ekspres untuk menjemput ku. Aku segera menaiki nya dan meminta minum.
.
.
.
Satu jam kemudian kami sampai kota, lalu menunggu pesawat untuk kembali ke Indonesia. Hanya aku yang memutuskan untuk segera kembali, jadi penerbangan hanya bisa dilakukan besok paginya sesuai ketentuan bahwa 3 jam sebelum deadline semua peserta harus sudah kembali ke titik awal perjalanan. Maka dengan berat hati, aku mengikuti instruksi untuk menginap di hotel bandara untuk malam ini.
Keesokan harinya tepat pada pukul 8 pagi kami berangkat untuk kembali ke Indonesia.
Satu jam kemudian kami sampai, dan segera turun dan pergi menuju lapangan Central seperti petunjuk. Dan disana aku sudah mendapati Kania bertengkar dengan beberapa orang, memang tak ada yang mengatakan bahwa batu Ruby tersebut hanya ada satu, tapi saat ini keadaan sangatlah jaug dari kata kondusif. Aku yang sudah mengantongi batu Rubi tersebut memilih diam dan duduk di kursi yang disediakan di depan podium yang sudah diisi beberapa orang salah satunya Alfi.
"Hai... Lyn... masih hidup aja"
"Astaga... ada ya orang yang nyapa kaya gitu"
"Iya lah... kamunya belom mati..."
Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala mendengar jawabannya.
"Gak mau ikut rebutan batu Rubi birunya?"
"Biru..." aku bertanya bingung karna Rubi yang berada di kantongku berwarna merah
"Ita biru, batu Rubi itu ada banyak warnanya, nah yang lagi direbutin disana itu warna biru... siapa tau mau lanjut berjuang, soalnya yang milih duduk disini itu yang ngalah, dari pada babak belur, mending nyerah kan"
"Iya..." aku menjawab canggung karna aku sendiri juga memiliki satu batu Rubi
Setelah mengalahkan 15 orang, akhirnya tidak ada lagi yang mau merebut batu Ruby milik Kania
"Hai... Lyn... dapet rubinya?" tanya Kania
Aku hanya menjawabnya dengan senyuman. Saat ini tepat pukul 12 lebih 30 menit, dan keadaan lokasi saat ini sudah kondusif. Tepat pukul satu siang lapangan tempat kami saat ini berubah menjadi ballroom hotel dengan AC dan kursi dengan meja bundar, begitupun dengan pakaian kami yang berubah menjadi gaun dan setelah jas yang disesuaikan dengan karakter masing-masing.
Aku sangat takjub dengan berbagai hak dalam 3 hari ini, karna di kotaku ternyata ada tempat seperti ini.
"Baiklah tidak usah basa basi lagi... silahkan bagi yang di genggamannya ada batu Rubi untuk maju kedepan" akhirnya ada 5 orang peserta yang berdiri lalu maju ke podium diantaranya ada aku dan Kania
" Silahkan kalian meletakkan kelima batu tersebut pada figuranya" kami meletakkan batu tersebut pada sebuah figuran berbentuk air mancur dengan lima pancuran yang berbeda.
"Baik... maka dengan diletakkan nya kelima batu Rubi tersebut... acara petualangan ini dinyatakan berakhir. Terimakasih atas semua apresiasi peserta dan untuk kelima pemenang acara ini hadiahnya sudah dikirim ke kediaman kalian masing-masing. Sekian dan terimakasih atas perhatiannya"
Acara tersebut berakhir dan ruangan tadi kembali menjadi lapangan dengan bis yang berbaris menunggu kami naiki, pakaian yang kami gunakan kembali seperti pakaian saat kami datang. Tapi khusus untuk kami berlima diantakan menggunakan Limousine.
.
.
.
Sesampainya dirumah aku segera naik ke kamar dan mendapati satu amplop dengan isi satu cek dengan nilai 1.000.000 dolar surat ucapan selamat, yang disampingnya ada piala kaca berbentuk baru Ruby warna merah.
"Dapet berapa Lyn..." Kania yang jarang mau keluar rumah menghampiri ku
"Satu juta dolar Ni..."
"Yaps... ternyata gak rugi aku gak mandi 3 hari... haha..haha..."
Aku dan Kania tertawa bersama...
.
.
.
.
The End
Thanks for reading...
Don't forget like and comments 😉🙏🙏🙏