Bab I
Awal Dari Mystery
Teruntuk kepada kalian para pembaca yang gemar dan terobsesi pada hal-hal yang berbau mystery, aku tau bahwa kalian pasti selalu mengkhayalkan dapat memecahkan suatu skenario kejahatan yang rumit dan unik dengan otak kalian sendiri. Perkenalkan, namaku adalah Bernard Rampage aku lahir dan dibesarkan di inggris tepatnya di london oleh kedua orang tua yang tidak perlu kesebutkan namanya dan hidup sederhana bersama mereka. Saat aku menulis buku ini, umurku sudah berumur 30 tahun dan sayangnya aku belum menemukan pasangan yang cocok untuk menemaniku hingga akhir hayatku. Buku dan tulisan ini ku dedikasikan untuk teman sekaligus partner mystery yang selalu membuka mataku tentang gelapnya sisi lain manusia, dia adalah Louis Axe. Cerita ini bermula pada tahun 1991, saat itu aku baru lulus dari sma dan umurku menginjak 19 tahun, aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan mengambil jurusan farmasi di salah satu perguruan tinggi di london.
Selama menempuh pendidikan di semester awal, aku tidak merasakan adanya rintangan untuk mendapatkan nilai yang tinggi, hal itu mungkin dikarenakan aku cukup menyukai sesuatu yang berbau dengan kimia dan kesehatan. Tapi ada satu hal pasti yang kurasakan , yakni rasa bosan karena tidak adanya perkembangan dalam hidupku dan rutinitas yang sama dari hari ke hari. Rasa bosan tersebut terus menyelimuti hidupku sampai akhirnya aku bertemu dengan louis axe, louis merupakan salah satu teman sekelasku, awalnya aku berpikir dia adalah orang yang pemalu karena jarang membuat kehebohan dikelas dan selalu diam saat pelajaran berlangung. Bila kudeskripsikan orangnya, louis memiliki tinggi sekitas 165 cm dengan kulit kuning sawo, berbadan kurus dan tatapan mata yang cukup tajam. Kalian pasti ingin mengetahui bagaimana aku bisa berteman dan menjadi partner dari seorang yang pendiam sekaligus cerdik ini.
Kejadiaan ini terjadi saat akhir dari semester pertamaku, saat itu seperti biasa aku bangun pukul 07.00 dan bersiap-siap untuk pergi kekampus, jarak rumahku menuju kampus cukup jauh sehingga aku biasanya menggunakan sepeda pribadiku ataupun saat aku malas untuk mengowes pedal aku menggunakan bus untuk menuju kampus. Saat aku sampai dikampus, jam sudah menunjukkan pukul 07.30, menyadari kelas yang sebentar lagi dimulai tanpa pikir panjang aku langsung berlari agar tidak terlambat memasuki kelas. Namun saat sedang berlari menuju pintu masuk sesuatu yang mengejutkan terjadi, disekeliling gedung kampus sudah bertengger mobil polisi dan ambulance dengan sirine khasnya dan tidak lupa sekelompok orang berbaju dinas polisinya berkumpul didepan pintu masuk gedung tersebut. Seorang pria kemudian berjalan dengan sedikit tergesa-gesa menghampiriku, yang merupakan salah satu dosenku, sambil menarik napas dan menyekap keringatnya dia berkata kepadaku “ perkuliahan hari ini dibatalkan karena tadi pagi seorang petugas kebersihan menemukan mayat seorang wanita didekat tangga”.
Sontak aku terdiam mendengar hal tersebut, namun karena rasa penasaran akhirnya aku memutuskan untuk mendekati tempat kejadian. Saat aku berada tepat dipintu masuk, yang membuatku lebih kaget bukanlah mayat wanita tersebut melainkan aku melihat sosok yang tidak asing bagiku yaitu louis. “Astaga” sontakku dan secara spontan aku meneriaki namanya dari kejauhan “Hey louis” kataku, seketika juga louis menoleh kearahku dan melambaikan tangannya seperti memanggilku untuk ke tempatnya. Bergegas akupun menghampirinya dan sesampainya aku didepannya, louis pun berkata
“ Apa yang kau lakukan disini bernard?”
“ Tidak louis, aku hanya penasaran dengan apa yang terjadi disini dan yang lebih membuatku kaget adalah mengapa kau ada disini?”
Dengan sedikit senyum sinis dia menjawab pertanyaanku
“Hahaha, bukan apa-apa aku hanya diminta saran mengenai kasus pembunuhan ini”
“Maksudmu polisi meminta saranmu?”
“ Yah begitulah, sebenarnya aku cukup terkenal di kalangan polisi karena sering membantu mereka dalam kasus kejahatan yang tidak masuk akal dan mumpung kau ada disini bagaimana kalau kau menemaniku bernard?
Tanpa pikir panjang akupun mengganguk meskipun aku masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Louispun memperkenalkan aku kepada detektif Thomas yang merupakan seorang detektif dari kepolisian, “Sebenarnya warga sipil dilarang untuk memasuki tempat kejadian, namun karena louis yang memintanya saya rasa itu tidak masalah” kata detektif thomas kepadaku. Meskipun sedikit tersinggung dengan ucapannya, aku tidak mempermasalahkan hal tersebut karena memang seharusnya warga sipil sepertiku tidak ikut campur dalam tugas kepolisian. Setelah itu louis mengajakku untuk memeriksa kondisi mayat wanita tersebut, diapun bertanya
“ Bagaimana pendapatmu tentang wanita ini benard?”
Mendengar pertanyaannya, akupun sedikit mengamati kondisi mayat wanita tersebut
“ Seorang wanita berumur sekitar 30 tahun, tidak ada tindak kekerasan di tubuhnya namun ujung jari telunjuk ditangan kiri tergores akibat silet yang dipegang ditangan kanannya dan tertulis nama Alex yang dibuat dengan darah dari telunjuknya serta sebuah botol yang berisi air seperti habis diminum” kataku sambil mengamati mayat wanita itu.
“ Luar biasa bernard, mungkin kau punya bakat untuk mengungkap kejahatan” canda louis kepadaku
Polisi menggangap wanita ini melakukan bunuh diri dengan mengkonsumsi racun, namun louis tetap yakin ada rahasia dibalik kematian wanita ini. Louispun mendekati mayat wanita ini dan melakukan pemeriksaan pada tubuh korban.
“ Rigor mortis belum terjadinya yang artinya korban dibunuh sekitar 30 menit sampai 1 jam sebelumnya”
“ Korban juga melukai telunjuk kirinya dan menuliskan sebuah nama pria yang kemungkinan menurutku adalah pacarnya, namun saat aku memeriksa catatan pribadi korban terlihat bahwa korban bukan merupakan seorang yang kidal dan seorang bukan kidal tentunya tidak dapat menulis secara baik dengan tangan kirinya” pungkasnya dengan yakin sambil menatap kami.
“ Bagaimana kau bisa tau orang ini adalah bukan kidal hanya dari catatannya”
“ Oh temanku, kau kira mengapa aku hanya diam saat dikelas? Aku mengamati setiap orang yang ada dikelas dan tentunya aku juga mengamati tulisan teman-temanku baik yang kidal maupun tidak. Tulisan orang kidal dan yang tidak kidal tentunya memiliki perbedaan, contohnya dalam penulian setiap abjad”
“ Lalu bagaimana kau tau nama yang ditulis dengan darah itu adalah pacarnya?” jawabku seraya membantah pernyataannya
“ Gampang saya, didompet wanita ini terdapat fotonya bersama dengan seorang pria dan dicatatan pribadinya juga tertulis nama alex”
“ Kalau begitu yang membunuhnya pasti pacarnya yaitu alex”
“ Kesimpulan yang terlalu cepat itu tidak baik bernard, tapi ada bagusnya bila kita pergi untuk menanyakkan hal ini kepada pacarnya langsung”
Kami dan detektif thomas pun segera beranjak dari tempat kejadian menuju rumah pacar korban yang bernama alex, jarak rumah pacarnya kira-kira memakan waktu 30 menit. Selama diperjalanan louis tampak serius sedang berpikir dan tentu saja aku tidak berani menggangunya apalagi mengajaknya berbicara. Sesampainya kami disana, kami pun langsung mengetuk pintu rumah pacar korban dan aku cukup terkejut melihat kondisi pacar korban yang bernama alex ini. Alex terlihat sangat tertekan setelah mendapat kabar mengenai kematian pacarnya itu, namun tanpa basa-basi louis langsung bertanya kepada alex
“ Aku tau kau sedang depresi setelah mendengar kabar mengenai pacarmu, tapi bolehkah aku memintamu untuk menulis namamu dikertas?” kata louis sambil meraih kertas dan pena yang ada disakunya
“ Tidak masalah” jawab alex dengan suara pelan dan lesu
Aku tidak mengerti kenapa louis meminta alex untuk menuliskan namanya, padahal aku rasa namanya tidak terlalu susah untuk dieja. Setelah itu louispun mulai bertanya hal-hal seputar hubungannya dengan korban, dan ternyata kami mengetahui bahwa alex ternyata selingkuh dengan pacar lamanya dan akhirnya berpacaran dengan korban. Setelah mendapatkan informasi itu kami bergegas meninggalkan rumah alex dan pergi menuju rumah mantannya yang bernama jessica, “ jadi bukan alex pelakunya” kataku saat kami dalam perjalanan, louis tidak menjawab pertanyaanku melainkan hanya menunjukkan senyum kecil dibibirnya.
Sesampainya kami lokasi, kami segera turun dari mobil dan mengetuk pintu rumah tersebut dan saat pintu dibuka terlihat seorang wanita berumur sekitar 30 tahun yang mengenakan pakaian kerja yang sama dengan korban. Wanita tersebut tampak kaget melihat kedatangan kami dan kemudian mempersilahkan kami untuk masuk, louispun kembali meminta wanita tersebut menuliskan namanya di secarik kertas dan memulai percakapan dengan wanita yang ternyata bernama jessica ini.
“ Kalau boleh saya tau apa pekerjaan anda nona?”
“ Aku bekerja sebagai staff kebersihan di salah satu kampus”
“ Berarti saya yakin anda sudah mendengar kabar mengenai teman anda yang juga bekerja ditempat yang sama”
“ Yah saya sudah mendengarnya dan itu membuat saya kaget” kata wanita itu sambil memasang wajah sedih
“ Sepertinya anda belum sempat mengganti baju kerja anda, jam berapa anda pergi ketempat kerja hari ini”
“ Saya berangkat hari ini sekitar pukul 06.30”
“ Berarti anda bertemu dengan korban saat itu bukan karena shift anda sama dengan korban, apa anda melihat sesuatu yang aneh darinya?”
“ Tidak ada yang aneh”
“ Saya tahu bahwa pacar anda memutuskan anda beberapa hari yang lalu dan mulai berpacaran dengan korban yang merupakan temanmu, bagaimana hubungan kalian setelah itu?”
“ Yah aku memang kesal mengetahui hal tersebut, semenjak itu kami jadi jarang berbicara” Kata wanita itu dengan nada kesal
“ Baiklah kalau begitu pertanyaan terakhir, apakah anda yang meracuni korban?”
Sontak mendengar hal itu seisi ruangan terdiam dan kaget, akupun berkata kepada louis “ memang benar jessica kesal kepada korban tapi bukan berarti dia yang membunuhnya louis” jawabku dengan sedikit emosi
“ Temanku bernard dan detektif thomas, jika kalian tidak yakin bagimana kalau kalian memeriksa tas wanita ini sekarang, karena saya yakin racunnya masih tersimpan disana” jawab louis dengan yakin
Segera kami memeriksa tas wanita tersebut dan benar saja kami menemukan sebuah kantong plastik kecil dengan isi serbuk putih yang kemungkinan adalah racun. Akhirnya dengan lesu wanita itupun mengaku bahwa dia yang membunuh korban. Dengan rasa kagum dan tidak percaya aku meminta louis untuk menjelaskan bagaimana dia bisa mengetahuinya
“ Gampang saja temanku, saat aku memeriksa tubuh korban, rigor mortis belum terjadi yang artinya jika mayat korban ditemukan pukul 07.30 maka seharusnya kejadiaan pembunuhan ini terjadi sekitar pukul 06.30-07.00, kemudian korban kemungkinan dibunuh dengan cara diracun dan dengan telunjuk kirinya korban menulis nama pacarnya padahal korban bukanlah seorang kidal. Ditempat kejadiaan juga ditemukan sebuah botol yang berisi air dan aku yakin itu bukanlah botol milik korban karena terdapat inisial JA, inisial A mungkin adalah inisial nama alex tapi siapa inisial nama J karena nama korban tidak dimulai dengan huruf J. Sudah jelas bahwa korban tidak bunuh diri, pelaku membunuh korban dengan racun yang diberikan pada botol tersebut dan saat korban meminumnya otomatis korban akan langsung meninggal. Menyadari aksinya akan terbongkar, maka pelakupun membuat konspirasi seolah-olah korban mati karena dibunuh orang lain dengan cara menuliskan nama pacarnya. Pelaku pasti berharap pacar korban yang merupakan mantannya menjadi tersangka dalam kasus ini, tapi sayangnya pelaku menuliskan nama alex menggunakan tangan kiri sedangkan korban bukan seorang kidal” jawab louis dengan semangat
“ Lalu bagaimana kau tau jessica adalah pembunuhnya dan bagaimana juga kau tau racun itu masih ada ditasnya” kataku sambil mencoba membantah teori louis
“ Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku meminta menuliskan nama mereka disecarik kertas, jawabannya karena aku ingin mengetahui apakah mereka kidal atau tidak. Saat aku meminta alex menuliskan namanya dia menulis dengan tangan kanannya dan juga alex menyebutkan nama mantanya yang bernama jessica yang membuat kasus ini mendapat titik terang. Dan saat aku meminta jessica menuliskan namanya dia menulis dengan tangan kiri yang berarti dia adalah seorang kidal, dan juga mengapa dia belum mengganti pakaian kerjanya padahal hari ini seluruh staff dipulangkan lebih awal, orang normal pasti akan segera mengganti baju mereka dan beristirahat. Hanya ada satu jawaban, karena dia pasti terburu-buru setelah melakukan pembunuhan dan merasa cemas apakah akan ketahuan atau tidak dan tentu saja aku yakin bahwa alat pembunuhannya masih tersimpan dalam tasnya karena dia tidak sempat membuangnya karena terlalu panik” pungkas louis dengan yakin.
Segera polisi kemudian mengamankan wanita tersebut dan tidak lupa detektif thomas mengucapkan terima kasih kepada louis karena telah membantunya mengungkapkan kebenaran dari kasus ini. Setelah itu kamipun kembali dan saat dalam perjalanan louis berkata kepadaku “ apakah kau tertarik dengan hobiku ini bernard? Jika kau tertarik bagaimana kalau kau menemaniku disetiap kasus yang aku terima” katanya dengan sedikit rayuan. Mendengar hal itu sontak membuatku senang karena memang aku sangat tertarik setelah melihat bagaimana louis mengungkapkan fakta yang ada dan tentu saja aku menerima tawaran yang diberikan louis dan dimulailah kisah petualanganku mengungkap kejahatan yang tidak masuk akal ini.