Hidup bersama sejak kecil, tidak tentu hidup bersama di masa yang akan datang.
***
Aku adalah Meisya dan sepupu jauh ku bernama Tomi. Aku mempunyai adik bernama Arfan dan adiknya Tomi bernama Raisa.
Sejak kecil, aku selalu bermain dengan Tomi. Entah itu hanya berdua ataupun bersama anak desa lainnya.
Selain bermain, kami juga makan sepiring berdua. Dan terkadang, kami mandi bersama. Karena tentu nya, anak kecil masih tidak mengetahui apa itu rasa malu.
Dulu, kami sangat suka bermain kelereng, congklak, boneka, petak umpet dan kejar-kejaran. Terkadang, kami memanjat pohon tetangga dan berakhir aku tidak turun dan di marahi oleh beberapa ibu-ibu dan bapak-bapak. Tak terkecuali ibuku dan bapakku.
Iya! Dulu aku sangat nakal dan bandel.
Bermain tanpa mengenal waktu. Untungnya aku anak yang cerdas dan berprestasi. Jadi, ibu dan bapak tak terlalu memikirkan apa yang ku lakukan. Asalkan aku tetap giat belajar dan tidak membantah perintah mereka.
6 tahun sudah berlalu. Waktu itu aku masih TK dan masih terlalu tidak mengerti dengan keadaan.
Tomi bilang, dia akan pindah ke kota. Tempat yang sangat jauh bagiku. Dan tentu saja aku tak tahu kota yang mana itu.
"Sa, kita ning kota disit, ya. Sira aja klalen ning kita" (*Bahasa Cerbon-Dermayu yang artinya; Sa, aku ke kota dulu, ya. Kamu jangan lupain aku").
"Iya, Tom" ucap Meisya sambil mengangguk.
Saat itu, aku hanya bisa mengangguk mengiyakan. Dan saat itu pula kedua adik kami belum lahir. Jadi hanya ada kita bedua di kisah ini.
Setiap tahun, Tomi akan pulang 2x sebelum lebaran. Aku tetap setia menunggu nya. Aku masih menunggu waktu, di mana aku dan dia bermain bersama seperti sebelum dia pindah.
Setiap tahunnya aku selalu memenangkan predikat 3 besar dalam kelas. Dan aku pun semakin jauh dengannya.
Banyak teman di sekitarku. Tapi, aku tetap merasakan kesepian. Sampai akhirnya, aku benar-benar sendirian saat sekolah SMP.
Di sana banyak orang berbakat dan aku adalah salah satunya. Namun, aku tak memiliki teman di sana. Yang ada di sana hanya persaingan 'Siapa yang paling berbakat di antara 300 siswa?'.
Haahh! Aku muak dengan persaingan ini.
Sejak saat itu, aku mulai bermalas-malasan. Dan peringkat ku turun menjadi peringkat terakhir di kelas dan 100 besar dalam angkatan.
Semua orang kecewa padaku, namun aku tidak. Aku merasa bangga dan sangat senang saat tidak ada lagi yang memperlihatkan aku.
Dan 2 bulan lagi, adalah kepulangan Tomi ke desa ini.
---
Saat pulang sekolah, aku akan menyempatkan diriku untuk melihat hamparan sawah yang masih menghijau. Dan terkadang, aku baru pulang jam 5 sore.
Terlambat nya aku pulang ke rumah dan nilai ku yang semakin turun, membuatku hampir setiap hari bertengkar dengan ibu dan bapak.
Di saat malam, kadang aku menangis sampai sesenggukan dan tak bisa bersuara lagi karena berteriak dengan suaraku yang di tutupi oleh bantal.
---
3 hari lagi Tomi pulang.
Aku sangat gugup saat mendengar berita kalau Tomi akan pulang 3 hari lagi.
Tak ku sangka. Sudah 14 tahun aku dan dia hidup. Dan semakin bertambahnya usia kami, kami semakin menjauh.
Aku teringat ketika bermain dengan nya dulu dan juga menjahili nya. Mengingat itu semua, membuatku malu sekaligus gugup.
'Apa yang akan aku lakukan di depannya nanti?' batin ku.
Hari kedatangan Tomi pun tiba. Namun, Tomi tak datang ke desa ini dulu. Tapi ke desa yang kira-kira hanya 2 KM dari desa ku. Dia pergi ke rumah sepupunya.
Setelah lelah seharian menunggunya. Aku pun masuk ke dalam kamarku dan memukuli boneka yang dulunya sering kami mainkan sampai rebutan.
---
3 hari kemudian, Tomi datang ke rumahku.
"Apa?" tanyaku jutek.
"Baturi kita, yu"(artinya; temenin aku, yuk).
Hanya 3 kata, namun mampu membuatku tersenyum tipis. Jantungku berdegup dengan kencang. Rasanya ia ingin keluar dari tubuhku.
'Oh, aku rindu suara itu' batinku.
Aku mengangguk dan kami membeli nasi goreng dan juga pop ice di blok 6A.
Setelah itu, dia pulang dan meninggalkanku di rumah sendirian lagi.
1 tahun penuh, dia tidak pulang.
Membuatku merasa khawatir dan tertekan. Rasa rinduku begitu besar. Sampai tiap ada orang lewat yang menyapaku, ku kira dia adalah Tomi.
---
Rabu, 17 Juli.
Ada pesan masuk dari Tomi.
'Meisya! Ajak keluarga besar ke kota!' begitu lah isi pesannya.
'Siapakah yang mengetik pesan itu? Apa ada hal yang darurat?' tanyaku dalam hati. Menerka-nerka apa yang akan terjadi nanti.
HP ku di rebut oleh nenek tiri ku. Dia menelepon ke nomor Tomi.
Saat tersambung, yang terdengar hanya suara Ibu dari Tomi yang menangis sejadi-jadinya.
'Kenapa?' tanyaku dalam hati.
Secara tiba-tiba, aku merasakan sesak di dadaku.
'Kenapa ini?? Apa ada yang bisa menjelaskan nya padaku??' tanya ku dalam hati.
Tanpa terasa, air mataku menetes tanpa aba-aba. Mengalir deras membajiri pipiku saat sebuah suara serak menginformasikan kalau Tomi koma.
Aku jatuh terduduk.
Sekilas seperti ada bayangan slide show di otakku, yang memperlihatkan kebersamaan ku dengan Tomi sejak kecil.
Hari itu, aku langsung pergi ke kota tanpa membawa apa pun. Aku pergi dengan harapan bisa melihat kondisi Tomi, meskipun itu adalah hal yang terakhir bagiku.
6 jam kemudian.
Aku tiba di alamat rumah sakit yang di berikan oleh Ibu Tomi. Di sana terlihat ibu, bapak dan adiknya Tomi. Mereka menangis dan terkejut saat melihatku.
"Meii, yang lain mana?" tanya Ibu Tomi.
"Masih di rumah, Bu" ucapku sopan.
Ibu Tomi menggelengkan kepalanya.
"Kamu masih nakal aja, ya" ucapnya sambil berusaha tersenyum.
Aku tersenyum tipis.
"Boleh kan aku liat Tomi?" tanyaku.
"Boleh, Mei."
Aku masuk ke dalam ruangan serba putih itu. Bau obat-obatan sangat menyengat, membuatku menutup hidungku.
Aku melihat banyak selang dan juga bibir Tomi yang pucat. Ku pegang tangannya yang dingin seperti es.
Mataku menatap keadaan Tomi dengan sayu. Aku tak bisa berbuat apa pun untuknya. Aku menangis lagi dan lagi sambil memegang tangannya. Berharap kalau tangannya itu akan menghangat, dan matanya yang meneduhkan itu akan terbuka.
Aku tak tahan lagi. Aku keluar dari ruang rawat Tomi dan berlari menuju toilet.
"Tomi... " ucapku serak.
Setelah mencuci wajahku, aku menghampiri keluarga Tomi lagi.
"Apa aku bisa mendonorkan ginjalku?" tanyaku dengan suara serak.
"Kamu... Jangan Meii" ucap Ibu Tomi.
"Gapapa, Bu. Nanti kalo Tomi udah bangun. Tolong kasih ini ke Tomi ya, Bu" ucapku sambil memberikan sebuah amplop berwarna biru.
"Iya, terimakasih, Meisya. Tolong bertahanlah" ucap Ibu Tomi.
Bapak Tomi hanya diam memperlihatkan. Karena dia tau, kalau aku menyukai anaknya yang sedang koma itu.
Ibu nya bilang, Tomi memiliki penyakit gagal ginjal sejak 2 tahun yang lalu. Dan Tomi tidak bilang ke siapa pun. Akhirnya, Tomi tak bisa menahannya lagi dan koma seperti sekarang.
---
Aku memasuki ruang tes untuk pencocokan. Dan hasilnya adalah cocok.
Kali ini, aku berada di ruangan serba putih yang sama dengan ruangan Tomi. Ruang operasi.
Aku tak berharap banyak atas keselamatan ku. Namun, aku sangat berharap Tomi bisa selamat.
***
Operasi berjalan selama 3 jam. Ginjal Meisya cocok dengan tubuh Tomi. Operasi Tomi berjalan dengan lancar. Namun, tidak dengan Meisya.
Saat operasi selesai, Meisya mengalami pendarahan dan kebocoran pada peredaran darah nya.
Sepucuk surat di tinggalkan oleh Meisya untuk Tomi.
Tomi,
Maaf karena aku selalu berprasangka buruk tentangmu. Maaf juga kalau aku tak bisa menemanimu bermain lagi. Aku pergi dulu, semoga kita bertemu lagi nanti.
Meisya.
Setelah membaca surat itu, Tomi menangis dan menyesal.
Setiap hari dia pergi ke makam Meisya untuk menangis dan juga meminta maaf.