"Lapor.. menara kontrol... disini Bomber 7... sepertinya pesawat keluar jalur... Tidak terlihat adanya daratan", Letnan Richard Christopher Junior melaporkan situasi nya pada menara kontrol. Ia bertugas untuk membawa pesawat pengebom pada perang dunia kedua kala itu.
Pesawat yang dikendalikan oleh Letnan Richard dijuluki Bomber 7. Bomber 7 bertugas untuk menjatuhkan bom dalam situasi latihan perang tanpa insiden, di Samudera Atlantik.
"Disini menara kontrol... sebutkan dimana posisi anda", kata Simon Brown yang sedang bertugas di menara kontrol. Simon mendengar suara pilot Bomber 7 seperti kebingungan dan khawatir.
Hening, tidak terdengar jawaban. Simon Brown mengintip keluar jendela, cuaca hari itu sangat cerah seharusnya pesawat bisa lancar beroperasi, tetapi tidak terlihat ada pesawat yang datang.
"Aku tidak bisa memastikan dimana pesawat berada", terdengar kembali suara Letnan Richard berbicara. "Aku tidak bisa melihat daratan".
Kemudian hening kembali untuk beberapa saat.
"Menara kontrol... Aku tidak bisa menentukan arah manapun... Sepertinya kompasnya rusak... Aku merasa semuanya salah... Aku merasa semuanya aneh... Bahkan lautan disini terlihat aneh", terdengar kembali Letnan Richard Christopher Junior melaporkan.
Suasana hening kembali. Selang setengah jam kemudian... "Aku tidak tahu dimana aku berada... semuanya tidak terlihat... aku pikir mungkin berada 200 mil timur laut dari pangkalan", terdengar suara Letnan Richard yang bergetar bahkan seperti histeris.
Lama kelamaan Simon Brown sang petugas menara kontrol mendengar pilot Bomber 7 seperti mengoceh tak karuan.
"Aku melihat semua perairan seperti putih... aku betul-betul tersesat..."
Tanpa menunggu lama lagi, Simon Brown meminta dikirimkan pesawat penyelamat untuk mencari Bomber 7 ke tempat yang diperkirakan dimana posisi terakhir Bomber 7 berada.
Tetapi selama lima hari pencarian, tidak ditemukan tanda-tanda dari bangkai pesawat Bomber 7 ataupun pilotnya Letnan Richard.
Akhirnya 10 September 1945 Letnan Richard Christopher Junior dan pesawatnya Bomber 7 dinyatakan hilang di Samudera Pacifik. Kawasan tempat hilangnya itu kini lebih terkenal dengan nama Segitiga Bermuda.
Sebenarnya Segitiga Bermuda bukanlah nama resmi. Julukan itu merujuk pada wilayah di dalam garis imajiner yang menghubungkan Kepulauan Bermuda, Puerto Rico, dan Fort Lauderdale.
***
"Aku melihat semua perairan seperti putih... aku betul-betul tersesat..." suara Letnan Richard Christopher Junior terdengar bergetar.
Saat ini dirinya betul-betul bingung dan takut. Semua jarum penunjuk didepan berputar-putar seperti malfungsi. Ia tidak tahu lagi mana arah barat ataupun timur.
Tiba-tiba Letnan Richard dan pesawat yang dikendalikannya, memasuki kabut putih, betul-betul putih... tidak terlihat apapun. Tidak terlihat birunya lautan ataupun terlihat adanya daratan.
"Menara kontrol... menara kontrol..." Letnan Richard berusaha menghubungi kembali menara kontrol tapi tidak ada respon.
Suasana terasa sangat hening, tidak terdengar apapun. Saat itu Letnan Richard sangat merasa ketakutan. Tapi ia tetap mencoba menjaga agar posisi pesawat tetap lurus menurut perasaannya. Ia takut kalau pesawat menukik kebawah, akan jatuh ke perairan Samudera Atlantik.
Setelah beberapa lama berada dalam kabut putih yang tebal, lambat lain kabut terlihat semakin menipis. Jarum-jarum penunjuk di pesawat sudah tidak berputar-putar, kini ia bisa melihat lautan luas terhampar dibawahnya.
"Menara kontrol..."
"Ya disini menara kontrol Fort Lauderdale, Florida, silahkan melapor".
"Menara kontrol... lapor... disini Letnan Richard Christopher Junior... dengan pesawat Bomber 7 akan kembali ke Pangkalan Udara Fort Lauderdale, Florida".
***
Saat ini... 5 Pebruari 2021....
Kyle Reese, salah satu petugas menara kontrol Fort Lauderdale, melihat ada sesuatu yang aneh pada radar. Menurut perkiraannya itu adalah pesawat tak dikenal. Dia langsung bersikap waspada karena kecurigaannya. Kyle akan melaporkan hal ini pada atasannya.
"Menara kontrol..." tiba-tiba terdengar suara seseorang.
"Ya disini menara kontrol Fort Lauderdale, Florida, silahkan melapor", kata Kyle Reese.
"Menara kontrol... lapor... disini Letnan Richard Christopher Junior... dengan pesawat Bomber 7 akan kembali ke Pangkalan Udara Fort Lauderdale, Florida".
Betapa terkejutnya Kyle ketika sang pilot menyebutkan nama dirinya serta nama pesawatnya.
"Bukankah Bomber 7 nama pesawat yang melegenda hilang di Samudera Atlantik?", pikir Kyle.
Kyle pun segera melaporkan hal ini kepada atasannya. Atasannya Kyle menyuruh agar Bomber 7 dipersilahkan mendarat dan ia akan menghubungi Pangkalan Angkatan Laut Florida.
"Bomber 7... Anda dipersilakan untuk mendarat... Jika anda kesulitan, saya akan memandu anda", kata Kyle Reese.
***
"Menara kontrol... apakah benar ini Pangkalan Udara Fort Lauderdale, Florida? Kenapa semuanya terlihat berbeda?" Letnan Richard Christopher Junior kaget dengan apa yang dilihatnya... dunia yang dilihatnya betul-betul berbeda dengan dunia yang ditinggalkannya pagi tadi ketika berangkat dari pangkalan.
"Saya akan memandu anda untuk mendarat, semuanya akan dijelaskan nanti ketika anda mendarat", kata Kyle.
Walaupun benaknya Letnan Richard dipenuhi dengan keheranan dan ketakutan, tetapi ia lebih takut lagi ketika berada dalam kabut putih tadi. Ia pun memilih mendaratkan pesawatnya.
***
Ketika pesawat Bomber 7 mendarat, pasukan militer Angkatan Laut Florida segera mengambil posisi siaga di sekitar pesawat itu.
Pasukan militer begitu tercengang ketika melihat Bomber 7. Itu adalah pesawat pengebom yang digunakan pada perang dunia kedua yang berjenis Martin PBM-5 Mariner.
Pasukan militer kembali tercengang, ketika melihat sang pilot yang turun dari pesawat. Ia memakai seragam pilot dari perang dunia kedua, pada dada sebelah kanannya terdapat label nama Richard C. Junior.
Letnan Richard terlihat kebingungan dengan situasi di sekitarnya.
"Benarkah aku ini berada di Pangkalan Udara Fort Lauderdale, Florida?" tanya Letnan Richard.
"Benar anda berada di Pangkalan Udara Fort Lauderdale, Florida... Sekarang tanggal 5 Pebruari 2021... sedangkan anda dinyatakan telah hilang pada tanggal 10 September 1945", jawab pimpinan dari pasukan militer di tempat itu.
"Bagaimana mungkin? Saya berangkat bertugas tadi pagi... dan saya tidak lama tersesat didalam kabut putih..." kata Letnan Richard.
"Kabut putih??"
TAMAT