aku sangat membencinya, sangat bahkan rasa benciku padanya tak bisa aku defenisikan dengan kata-kata.
tapi apa rasa sakit yang menusuk hatiku ini, apa air mata yang mengalir dan membasahi pipiku ini.
tidak aku tidak bersungguh - sungguh mengatakannya.
tidak aku sama sekali tidak membencinya, aku hanya iri padanya, kenapa dia bisa sedangkan aku tidak. padahal kami lahir dari telur yang sama.
" hiks.. hiks... " kenapa aku menangisinya, air mataku tak akan membuatnya kembali.
" ini semua salahmu!! kau membuat anggi seperti ini, cih... padahal dia hanya ingin kasih sayangmu sebagai seorang kakak"
aku hanya memandang teman anggi yang kini tengah murka melampiaskan amarahnya.
aku tahu ini salahku seharusnya aku tak membentak adikku, seharusnya aku memperlakukannya dengan bail, seharusnya saat itu... seharusnya dan seharusnya.
***
hidupku sangat bahagia dan tentram dicintai oleh keluargaku dengan sepenuh hati.
namun aku juga merasa sangat iba ketika mengingat bahwa kembaranku tak dapat menikmati kebahagiaan yang aku dapatkan.
aku angga seorang anak dari pengusaha yang terbilang sukses.
aku memiliki seorang kembaran, namun saat usia kami masih lima tahun.
kami harus terpisah lantaran anggi adikku hilang, lebih tepatnya dicuri.
kedua orang tuaku selalu mencari keberadaan adikku. namun, tidak kunjung mereka dapatkan.
***
diusiaku yang mengijak delapan belas tahun, keluarga kami dikejutkan akan lehadiran adikku. ya dia anggi, yang saat ini sudah berubah menjadi seorang gadis yang cantik.
kulit yang putih, wajah yang rupawan yang mirip denganku walaupun dalam rupa seorang perempuan.
kulihat wajah adikku yang kini menatapku dengan mata yang berkaca-kaca.
tentunya aku sangat senang dan langsung memeluknya dengan sangat erat
" anggi!! aku sangat merindukanmu... " jujur saat ini aku sangat bahagia, dia adikku sekarang sudah kembali dan akhirnya keluargaku lengkap juga.
***
aku sangat bahagia atas kepulangan anggi. namun, kebahagiaanku itu perlahan luntur saat kini orang tuaku lebih memerhatikan anggi dibandingkan diriku.
awalnya aku biasa saja, kupikir itu wajar karena anggi selama ini sangat menderita dan tidak mendapatkan kasih sayang.
lalu lambat laun kedua orang tuaku mulai membandingkan diriku dengan kembaranku. tentu saja aku terganggu akan sikapa mereka yang kian membandingkanku.
" lihat adikmu, dia sangat mandiri, dia sangat berbeda dengan mu"
" kenapa adikmu bisa sedangkab kau tidak bisa melakukannya "
dan berbagai perkataan lain. semakin lama aku semakin tersisih, semuanya tentang anggi anggi dan anggi.
***
" kakak dari mana saja kau...? " tanya anggi, lalu berlati memelukku sangat erat. tentu saja aku risih akan hal itu.
kulihat jam saat ini sudah menunjukan jam dua dini hari.
" bukan urusanmu " ketusku padanya, kulihat wajahnya yang muram, namun sedetik kemudian dia tersenyum lagi.
" kakak sudah makan...? " tanyanya lagi, aku hanya menggeleng dan hendak pergi dari sana. namun, dicegah olehnya.
" kakak makan dulu, nanti kakak sakit " perintahnya, namun aku mengabaikannya. bahkan aku menepis tangannya kuat hingga membuat anggi sedikit meringis.
aku pergi dan tak mau peduli biarkan saja menurutku.
***
setelah malam itu, anggi selalu menggangguku. selalu berkeliaran bahkan hanya untuk sekedar mengatakan selamat pagi.
dia rela mengejar mobilku hanya untuk sekedar bertanya.
" kakak sudah makan "
aku geram sendiri dibuatnya.
" kakak!! " pekik anggi lalu mendorongku dengan sangat kuat.
aku terjatuh membuat goresan ditelapak tanganku.
kupandangi gadis itu yang merupakan adikku dengan sengit.
" kakak baik-baik saja...? " tanyanya sambil tersenyum.
kulihat wajahnya yang kini berlumuran dengan darah.
awalnya aku sangat marah tapi semuanya luluh saat aku melihatnya yang berlumuran darah.
ternyata dia mendorongku untuk sekedar menyelamatkan ku dari pot yang kini berserak tak karuan ditanah.
pot itu terjatuh dari lantai dua, yang aku tidak tahu sebabnya.
aku hendak bertanya apa dia baik-baik saja, tapi aku terlalu egosi untuk melakukannya.
kutinggalkan adikku dengan hati yang tak karuan.
***
aku tak tahu apa yang terjadi pada anggi setelah aku meninggalkannya tanpa sepatah katapun.
dari yang aku dengar anggi harus dirawat dirumah sakit.
khawatir tentu saja aku khawatir, namun egoku menutup rasa itu.
***
" kakak, aku menyayangimu " ucap anggi sambil memelukku.
aku sama sekali tak menyahut ataupun memberontak melepaskan diri.
" apa kau tak menyayangiku kk...? " tanyanya kini memandangku menunggu jawaban.
" tidak!! " ketusku
" apa kau membenciku...? " tanyanya lagi
" ya, sangat aku sangat membencimu " ujarku lalu melepaskan pelukannya.
aku berjalan menuju kamarku, tak kusangka gadis itu mengikutiku sampai kedalam kamar.
" bagaimana cara membuat kakak bisa menyayangiku...;?" ujarnya berjalan dan duduk diatas bed ku tanpa izin
" menghilanglah dari dunia ini" entah dari mana aku mendapatkab pikiran itu. yang jelas itu tulus dari dalam hatiku
" setelah aku menghilang apa kakak akan menyayangiku....? " anggi berjalan lalu menangkup wajahku dengan kedua tangannya.
mataku menatap manik mata kembaranku yang kini kian menatapku juga.
kuberanikan untuk mengangguk padannya kulihat senyum yang terbit dari bibirnya itu.
" baiklah, dan ingat kakak tidak boleh menarik perkataan kakak " ujarnya lalu pergi meninggalkanku dan tak lupa dikecupnya pipiki dengan sayang.
***
tepat jam satu dini hari, ayah mengetuk pintu kamarku dengan sangat kuat.
tentu saja aku kaget, dan langsung terbangun.
" ada apa yah...? " tanyaku sambil mengucak mataku.
kulihat wajah ayah yang kini dibanjiri dengan air mata.
" anggi... hiks.. hikss dia " ayah tak sanggup melanjutkan ceritanya, dia langsung menarikku menuju kamar anggi yang berada tepat disebelahku.
mataku melotot sempurna saat melihat, anggi yang berlumuran dengan darah serta tulisan yang ditulis menggunakan darah dilantai kamarnya.
* kakak aku sangat menyayangimu... aku pergi *
begitulah isi tulisan itu, aku jatuh terduduk dan tak bisa mengatakan satu patah kata pun.
aku yakin saat ini aku sedang bermimpi, ini hanya mimpi.
aku berulang kali menampar wajahku untuk sekedar membuatku sadar dari mimpi burukku ini.
" nak, sadarlah... ikhlaskan adikmu" ucap ayah menghentikan tanganku dan memelukku dengan eraf.
seharusnya tidak begini, aku tidak mau hal yang seperti ini.
tapi...
***
rumah kami dipenuhi dengan para pelayat, dari keluarga dekat, rekan bisnis dan beberapa teman anggi dan juga sebagian temanku.
aku memandang kosong jasad adikku yang kini terasa sangat dingin
tak terasa air mataku mengalir sangat deras, membasahi wajahku. kesentuh wajahku menggunakan tanganku.
sungguh aku tak pernah berpikir seperti ini. padahal aku yang memintanya untuk pergi. aku yang membuatnya pergi.
" hiks... hiks... "
aku tak bisa membendung tangisanku lagi, hatiku hancur teriris melihat hal ini.
" ini semua salahmu!! kau membuat anggi seperti ini, cih... padahal dia hanya ingin kasih sayanhmu sebagai seorang kk"
aku hanya memandang teman anggi yang kini tengah murka melampiaskan amarahnya.
ya ini memang salahku, aku yang membuat adikku seperti ini.
aku sangat menyesal, sangat menyesal....
karya : haijatul dil khijah zalukhu
salam dari nightrey 😘😘