Aku dahulu adalah seorang Ratu iblis yang sangat kesepian, rakyatku begitu memujaku dikarenakan aku sangat hebat dan kejam dalam memimpin sebuah dinasti. Ratu tanpa seorang Raja, sehebat itulah kedudukan ku. Aku bukanlah seorang wanita yang lemah. Kekuasaan ku sungguh sangat menakjubkan. Tetapi, semuanya hancur begitu saja, kesengsaraan ku dimulai dari ketika aku merasa sangat bahagia bertemu dengan seseorang.
Aku dihukum dengan penuh kesengsaraan tanpa belas kasih pembelaan. Hanya karna aku jatuh cinta pada seorang pria, dimata mereka aku jatuh hati pada orang yang salah. Aku memang sangat tahu siapa sebenarnya pria yang kucintai itu. Musuhku sendiri, sang Kaisar Langit. Aku sadar dengan kedudukan ku, Ratu yang sangat terkenal kejam bak iblis tapi benar-benar sangat berani mencintai lelaki yang baik hati seperti dirinya. Tapi lucunya lagi, yang menghukumku adalah bangsaku sendiri, rakyat yang sudah aku lindungi selama ribuan tahun.
Aku hanyalah iblis kecil yang mencintai seorang malaikat. Apakah perasaanku ini suatu kesalahan? katakan padaku. Apakah seorang iblis tak berhak mencintai sesuatu yang suci? Aku bahkan melepaskan mahkotaku dan tunduk kepadanya, meninggalkan singgasana ku untuk berlari ke arahnya, merelakan statusku agar bisa bersamanya. Bukan sebagai musuhnya, tetapi sebagai pendamping hidupnya, menemaninya bahkan sampai ribuan tahun lamanya.
Apakah sungguh mimpi sederhana iblis kecil sepertiku ini tidak dapat terpenuhi?
Aku berjalan di atas duri yang terbuat dari logam panas, yang suhunya bahkan sampai bisa mendidihkan otak yang ada di dalam kepalaku. Ini hukumanku, aku kalah dengan perasaanku sendiri. Tanganku terikat oleh rantai besi yang bahkan lebih besar dari diriku. Semua alat siksa itu tersegel, agar diriku yang sangat kuat ini tidak bisa menghancurkannya. Bodoh, sungguh bodoh. Mereka fikir aku siapa? wanita bodoh tanpa arah? aku adalah seorang Ratu!
Sangat mudah menghancurkan segel busuk ini.
Tetapi, aku memilih untuk menerima hukuman ini. Karna malaikatku tak mengetahui kalau aku sudah jatuh hati denganya. Hujan turun membasahi tubuhku yang penuh darah, bibirku gemetar kedinginan, tatapanku kosong, mengeluarkan air mata yang bercampur dengan air hujan. Gaunku yang merah membara ini menyamarkan darah-darah di badanku.
Ketika aku menatap langit, sekilas aku melihat kilat cahaya yang sangat menyilaukan, kuharap cahaya itu bukanlah dia. Aku sungguh tidak mau jika dia melihat keadaanku yang mengerikan ini, aku ingin tampil cantik dan mempesona di matanya, bukan penuh luka seperti ini. Aku mengerutkan dahiku, anehnya air mataku terus mengalir deras. Rasanya seperti ingin berteriak dengan keras, melampiaskan penderitaan lewat suara yang amat keras. Wahai Dewa, ini sangat sakit sekali.
Alat penggal berantai didepanku sudah siap untuk memenggal kepalaku. Aku tersenyum pahit ketika itu, tak menyangka iblis sepertiku berakhir di tangan rakyatnya sendiri. Ini dunia yang tidak adil atau memang hidupku selalu sial? Ratu tanpa kasih sayang, sendirian, kesepian dan lagi berjuang tanpa penyemangat disisiku. Aku bertarung mempertaruhkan nyawaku, menghabiskan darahku yang berharga didalam perang.
Aku mempersiapkan diriku untuk berakhir, aku tak pantas di dunia ini. Ku harap di kehidupanku selanjutnya aku bisa berada disampingnya sebagai gadis biasa yang mencintainya. Asal itu bersamanya, aku tak apa. Wahai kekasihku, tunggu aku di kehidupan selanjutnya.
Aku memejamkan mata, terus menangis tak henti-henti. Berharap segera bereinkranasi menjadi gadis biasa yang naif.
Kilat dari langit itu menyambar alat pemenggal itu, sehingga hancur. Langit sepertinya sangat murka, awan gelap menyelimuti negeriku, hujan deras dan petir yang menyeramkan itu membuat rakyatku ketakutan. Tetapi anehnya aku baik-baik saja, di sekitarku tiba-tiba terdengar suara pertarungan yang amat rusuh. Aku tetap memejamkan mataku, meringkuk memeluk kakiku yang gemetar kedinginan.
Lambat laun, suara pertarungan itu berhenti. Hanya terdengar suara hujan yang amat deras dan nafas berat dari seseorang yang tepat di depanku. Suara nafas dan langkah kaki itu semakin mendekat ke arahku. Aku berusaha membuka mataku secara perlahan, pemandangan yang ku dapati ialah semua rakyatku mati tak tersisa. Aku melihat orang yang membunuh semua rakyatku itu berjalan ke arahku, aku memperhatikanya dari kaki sampai ke kepala. Mataku masih buram, air mataku berubah menjadi darah, tetapi kenapa bibirku memaksaku untuk tersenyum?
wajah yang terlihat buram di mataku, sepertinya familiar.
Apakah saat ini aku cantik?
Itulah pikiranku ketika aku melihat dirinya melangkah maju ke arahku. Dia tiba-tiba bertinggung didepanku, memegang wajahku yang penuh luka dan darah. Ketika wajahnya tepat didepan mataku, aku melihatnya sangat jelas. Kaisar Langit, dia menyelamatkanku. Aku gemetar memegang tanganya yang berada di wajahku, aku gemetar menangis keras.
Dia memelukku sangat erat, dia mengalirkan air matanya yang bernilai permata. Mulutnya mengucapkan kata 'Maaf' berulang kali. Ntah kenapa hatiku sangat bahagia, mungkin karna dia bersedia menangis untukku. Aku membalas pelukanya, aku bahagia walaupun aku menangis darah. Dibawah hujan yang deras ini, kami berpelukan, saling menangis. Tetapi tiba-tiba dipikiranku terbesit sesuatu, menyadarkan diriku. Aku melepas pelukanya dengan sekuat tenagaku yang tersisa.
Aku seorang iblis.
Tak dapat dipungkiri, inilah kenyataan. Tak bisa bersamanya, langit dan bumi menentang kita. Dia tetap menyentuh wajahku dan mengucapkan sesuatu yang membuatku amat tersentuh. Aku bertanya-tanya, bukankah dia tidak tahu kalau aku mencintainya? dia hanya tersenyum. Mengelus rambutku yang terurai panjang, memakaikan mahkota bunga yang ia buat sendiri di kepalaku. Aku bukan Ratu lagi, tapi sepertinya aku cocok menggunakan mahkota bunga ini, daripada mahkota berat terbuat dari emas yang biasa aku pakai.
Dia menyihir gaunku dan bajunya, menjadi pakaian merah pengantin yang sangat mewah. Dia kembali merangkulku, kali ini aku merasa dia sangat bahagia. Dia mengulurkan tanganya untuk membantuku berdiri, tetapi aku terjatuh, kakiku masih gemetar tak bisa berdiri. Dia dengan cepat tanggap menggendongku dengan romantis. Aku tersenyum bahagia, karna setelah 10.000 tahun perasaanku terbalas.
Aku mengira, aku akan bertemu denganmu di kehidupan selanjutnya. Tetapi, nyatanya Dewa masih berbaik hati padaku. Tidak membiarkan Iblis kecil ini menderita, Dewa mengirim dirimu untukku.
ᴀᴋᴜ ᴀᴅᴀʟᴀʜ ɪʙʟɪs ʏᴀɴɢ ᴍᴇᴍᴘᴜɴʏᴀɪ ᴍɪʟʏᴀʀᴀɴ ʟᴜᴋᴀ. ᴍᴇɴᴄɪɴᴛᴀɪ ᴘᴇᴍᴜᴅᴀ ɪᴛᴜ ᴀᴅᴀʟᴀʜ ᴋᴇsᴀʟᴀʜᴀɴᴋᴜ, ᴋᴇsᴀʟᴀʜᴀɴ ʏᴀɴɢ ᴘᴀʟɪɴɢ ɪɴᴅᴀʜ ᴅɪ ᴅᴀʟᴀᴍ ʜɪᴅᴜᴘᴋᴜ.
"ᵃᵏᵘ ᵗⁱᵈᵃᵏ ᵖᵉᵈᵘˡⁱ ʲⁱᵏᵃ ˡᵃⁿᵍⁱᵗ ᵈᵃⁿ ᵇᵘᵐⁱ ᵐᵉⁿᵉⁿᵗᵃⁿᵍ ᵏⁱᵗᵃ, ᵐᵉˢᵏⁱᵖᵘⁿ ᵃᵏᵘ ʰᵃʳᵘˢ ᵐᵉⁿᵍᵒʳᵇᵃⁿᵏᵃⁿ ˢᵉᵍᵃˡᵃ ʸᵃⁿᵍ ᵏᵘ ᵖᵘⁿʸᵃ. ᵏᵃʳⁿᵃ ᵃᵏᵘ ᵐᵉⁿᶜⁱⁿᵗᵃⁱᵐᵘ ᵈᵉⁿᵍᵃⁿ ᵃᵐᵃᵗ ˢᵃⁿᵍᵃᵗ" - ᵏᵃⁱˢᵃʳ ˡᵃⁿᵍⁱᵗ🥀
"ᵃᵏᵘ ᵐᵉⁿᶜⁱⁿᵗᵃⁱᵐᵘ ˢᵉᵒʳᵃⁿᵍ ᵈⁱʳⁱ ʳⁱᵇᵘᵃⁿ ᵗᵃʰᵘⁿ ˡᵃᵐᵃⁿʸᵃ, ᵃᵏᵘ ˢᵃⁿᵍᵃᵗ ᵇᵃʰᵃᵍⁱᵃ ᵏᵉᵗⁱᵏᵃ ᵏᵃᵘ ᵗⁱᵇᵃ-ᵗⁱᵇᵃ ᵈᵃᵗᵃⁿᵍ ᵏᵉᵖᵃᵈᵃᵏᵘ ᵈᵃⁿ ᵐᵉˡⁱⁿᵈᵘⁿᵍⁱ ᵏᵘ, ˡᵃʸᵃᵏⁿʸᵃ ᵏᵉᵏᵃˢⁱʰᵏᵘ" - ⁱᵇˡⁱˢ ᵏᵉᶜⁱˡ🥀
"ᵖᵉʳᶜᵃʸᵃˡᵃʰ ᵖᵃᵈᵃᵏᵘ, ᵏᵃᵐᵘ ᵗⁱᵈᵃᵏ ˢᵉⁿᵈⁱʳⁱᵃⁿ ⁱᵇˡⁱˢ ᵏᵉᶜⁱˡᵏᵘ. ˢᵉᵇᵉˡᵘᵐ ᵏᵃᵘ ʲᵃᵗᵘʰ ᶜⁱⁿᵗᵃ ᵖᵃᵈᵃᵏᵘ, ᵃᵏᵘˡᵃʰ ʸᵃⁿᵍ ᵗᵉʳˡᵉᵇⁱʰ ᵈᵃʰᵘˡᵘ ˡᵘˡᵘʰ ᵏᵉᵖᵃᵈᵃᵐᵘ. ᵏᵉᵗⁱᵏᵃ ᵏᵃᵘ ᵇᵉʳᵗᵃʳᵘⁿᵍ ᵐᵉˡᵃʷᵃⁿᵏᵘ, ᵃᵏᵘ ˢᵃⁿᵍᵃᵗ ᵏᵃᵍᵘᵐ ᵃᵗᵃˢ ᵏᵉᵇᵉʳᵃⁿⁱᵃⁿᵐᵘ" - ᵏᵃⁱˢᵃʳ ˡᵃⁿᵍⁱᵗ🥀
Mereka yang saling tak tahu atas perasaan mereka masing-masing. Akan kah berakhir bahagia? Atau malah sebaliknya? Sungguh sesuatu yang bernama 'cinta' itu sangat gemar memainkan perasaan seseorang.
sᴀʟᴀᴍ ʜᴀɴɢᴀᴛ ᴅᴀʀɪ ᴀᴜᴛʜᴏʀ - ᴀʟᴜsʜᴀ ᴠᴇʏʏᴀ🥀