Di sebuah kamar, seorang perempuan tengah asyik terlelap. Ia bahkan tak terganggu dengan suara dobrakkan pintu kamarnya. Orang yang mendobraknya pun hanya bisa menghela nafas dan menyiramkan air padanya agar ia terbangun. Dan terbukti cara tersebut ampuh untuk membuat sang pemilik kamar terbangun.
“Banjir!” celetuknya saat terbangun. Seseorang yang membangunkannya pun tak bisa menahan tawanya. Tawa itu membuat Lila—pemilik kamar sadar ini adalah ulah sahabatnya—Andita. Lila pun segera bangkit dari tempat tidur dan hendak memukul Andita.
Mengetahui niat Lila, Andita segera lari dan berakhir kedua orang itu kejar-kejaran. Tak berselang lama, Andita berhenti. Lila bertanya-tanya kenapa ia berhenti, namun pertanyaan itu tak bertahan lama di pikirannya karena Andita langsung membuka mulutnya.
“Kenapa kita malah kejar-kejaran? Aku kan datang untuk menjemputmu. Ayo kembali ke kamarmu!” Andita tengah membicarakan sesuatu, tapi Lila tak mengerti apa itu. Dan dengan polosnya ia bertanya, “Menjemput? Memangnya kita mau ke mana?”
“Kau tidak ingat? Tanya Andita dan dibalas anggukan oleh Lila. “Astaga, kau ini bangun tidur atau bangun di kehidupan kedua?” Lila hanya bisa cengengesan saat mendengar pertanyaan sahabatnya itu. Sungguh ia tak ingat apa-apa.
Andita pun membawanya ke kamarnya dan menunjukkan sepucuk surat. Setelah melihatnya sekilas, Lila pun ingat. Pagi tadi Lila bangun lebih pagi karena hari ini pelatihan dimulai lagi setelah hari bebas satu bulan. Ia terkejut saat menemukan sepucuk surat di depan pintu kamarnya.
Ia menengok ke kanan kiri kamarnya dan mendapati yang lainnya juga mendapatkannya. Ia pun membukanya dan melihat stempel perguruan. Ternyata ini surat pengumuman. Lila pun membacanya.
Kepada: Seluruh murid Perguruan Mawar Putih
Selamat pagi. Setelah melakukan diskusi, kami para tetua memutuskan untuk memberikan hari bebas selama satu bulan setelah pelatihan keras, dan kemarin tepat hari ke tiga puluh yang berarti hari ini kalian akan mulai berlatih seperti biasa. Sebelum hari bebas, kami telah menjelaskan ini adalah hari bebas bukan liburan kalian boleh beristirahat, tetapi kalian harus tetap latihan secara mandiri. Dan besok, akan ada perlombaan kecil-kecilan. Tapi jangan salah, hadiah yang didapatkan cukup berharga untuk pelatihan kalian. Karena itu, buat persiapan setelah membaca surat ini dan berkumpul di aula pada saat matahari terbenam.
Tertanda, Seluruh Tetua Perguruan Mawar Putih
“Ah iya, aku ingat.”
“Lalu, di mana barang-barangmu?”
“Enggak ada. Aku belum mempersiapkannya.” Andita hampir saja pingsan setelah mendengar jawaban Lila. “La—” belum selesai mengatakan sesuatu, Andita dikejutkan dengan teriakan Lila. Saat ini Lila sedang berkemas-kemas sambil kepanikan. Ia juga mengutuk dirinya karena tadi pagi, alih-alih bersiap-siap ia malah kembali tidur dan baru bangun.
Setelah menyelesaikan segala keributan yang terjadi saat berkemas-kemas, saat ini Lila dan Andita telah sampai di aula. Dan beruntung mereka tidak tertinggal. Merasa semua murid telah berada di aula, para tetua pun memimpin jalan ke tempat lomba dilaksanakan.
Singkat cerita, mereka semua telah sampai di tempat tujuan pagi harinya. Mereka istirahat sebentar, kemudian para tetua membagikan peta dan mengumumkan tahap-tahap perlombaan beserta ketentuannya.
“Lomba berlangsung selama tiga hari. Kalian bebas memilih untuk berpasangan atau sendiri. Namun tahap penilaian tetap perorangan. Untuk yang berpasangan poinnya akan dibagi dua dan di kurangi lima.” Setelah salah seorang tetua menjelaskan hal tersebut, lomba pun dimulai.
Mengenai pilihan Lila dan Andita ... Mereka memilih untuk berpasangan. Karena mereka sahabat dan mereka tidak akan terlalu serius dalam perburuan ini.
Baru saja masuk, mereka langsung dikejutkan dengan banyaknya tanaman langka. Awalnya mereka tak terlalu peduli dengan hal tersebut, tapi lama-kelamaan mereka mulai memedulikannya.
“Andita, apa kau tidak merasa aneh? Kenapa dari tadi kita hanya melihat tanaman? Bukannya kita sedang berburu hewan?” Lila yang merasa ini tidak normal pun bertanya kepada Andita, dan ternyata Andita juga merasakannya.
“Iya. Ini sangatlah aneh. Tunggu! Aku membawa buku tentang hutan-hutan. Aku akan mencari tahu.” Andita pun mulai membuka lebar demi lembar buku yang ia bawa. Tak berselang lama, ia mendapat jawaban atas pertanyaannya dan Lila.
Ternyata, hutan tempat lomba ini dilaksanakan, berbatasan langsung dengan dua hutan lainnya yaitu hutan kematian dan hutan rahasia. Saat ini mereka sedang berada di hutan rahasia—tempat segala tanaman langka tumbuh.
Andita pun memberitahu Lila tentang hal ini, dan beberapa detik kemudian mereka berdua tersenyum misterius satu sama lain lalu tertawa. Kalian pikir mereka gila? Tentu tidak. Mereka hanya sedang memikirkan rencana baru mereka.
“Andita, kau juga bawa buku tentang ‘itu’?”
“Tentu saja. Ayo!”
Mereka pun memulai rencana barunya. Di hari pertama lomba, mereka tidak kembali ke hutan tempat lomba itu seharusnya melainkan tetap di sana dan mengambil tanaman-tanaman yang mereka temui.
Kemudian di hari kedua mereka mulai bereksperimen dengan tanaman yang sudah mereka kumpulan. Lila dan Andita memanglah seorang pendekar panah dan pedang. Namun, mereka memiliki hobi meramu dan mereka cukup berbakat.
Alasan mereka tidak menjadi peramu adalah karena di perguruan mereka, hanya boleh memilih satu bidang untuk di latih. Lila memilih untuk menjadi pendekar panah, sedangkan Andita memilih untuk menjadi pendekar pedang. Karena menurut mereka, meramu bisa di pelajari dari mana saja, sedangkan pedang dan panah harus di latih oleh orang yang ahli dalam bidangnya.
Mereka juga mempunyai teman dari kelas peramu karena sifat ramah mereka ke semua orang. Teman-teman mereka yang seorang peramu sering membawakan buku-buku ramuan dari perpustakaan mereka, karena mereka tahu Lila dan Andita memiliki hobi meramu.
Pagi sampai dengan siang, mereka membuat ramuan dasar. Kemudian sore sampai malam, mereka membuat ramuan level 5 sampai dengan level 7.
Di hari ketiga, mereka pergi ke hutan bunga—tempat lomba itu dilaksanakan. Mereka pergi ke sana agar tidak di hukum karena tidak membawa hasil buruan apa pun dan ada sebuah lokasi di sana yang wajib di kunjungi setiap murid.
Di tengah perjalanan menuju hutan bunga, tiba-tiba Lila berhenti kemudian menarik Andita ke suatu arah.
“Andita lihat ini!” ucap Lila sambil menunjuk kumpulan bunga mawar. Andita yang tidak paham apa yang di maksud Lila pun bertanya, “Ini mawar. Kenapa?”
“Aku pernah membaca suatu buku tentang bunga-bunga. Dalam buku itu di katakan mawar kuning merupakan simbol persahabatan. Dan jika dua orang sahabat melihatnya secara bersamaan dan memetiknya, maka persahabatan mereka akan langgeng. Nah ayo kita ambil!”
Mereka pun memetik mawar tersebut dan mereka menggunakannya di kepala kemudian melanjutkan perjalanan. Dan tak butuh waktu yang lama untuk sampai di sana. Setelah sampai, mereka langsung berburu hewan.
Setelah merasa cukup dengan yang mereka dapatkan, mereka pun pergi ke lokasi yang wajib di kunjungi itu. Ternyata itu gua yang merupakan tempat pengumpulan hewan buruan. Setelah mengumpulkan hewan buruan mereka, Lila dan Andita pun keluar dari sana.
Saat mereka keluar, mereka di kagetkan dengan suara teriakan seseorang. Kemudian teman-teman sekelas Andita hendak pergi ke arah suara teriakan itu berasal. Kemudian Lila dan Andita menghentikan mereka dan bertanya apa itu.
“Kami juga tidak tahu. Tapi, kabarnya ada seorang murid yang kerasukan roh jahat dan sedang mengamuk,” jelas salah satunya. “Lalu, apakah sudah ada yang melaporkannya kepada tetua?” tanya Lila. Teman-teman Andita pun saling menatap satu sama lain.
“Belum? Baiklah, biar aku saja yang melapor. Dan Andita, pergilah bersama teman-temanmu dan menghentikan murid itu!” Andita mengangguk dan dua sahabat itu pun berpisah di sana. Andita bersama teman-temannya menghentikan murid yang kerasukan itu, sedangkan Lila melapor pada tetua.
Di tengah perjalanannya menuju luar hutan untuk melapor, Lila tiba-tiba teringat peta nya dibawa Andita. Lila ingin memutar balik ke tempat tadi, tapi lupa jalan yang ia tempuh tadi. Ia juga lupa membawa tasnya. Lila pun menggeledah cincin ruangnya dan menemukan peta hutan kematian.
Lila memutuskan untuk lewat hutan kematian dari pada tersesat di hutan bunga dan tidak segera sampai di luar hutan. Seperti namanya, hutan kematian berisi tanaman-tanaman beracun dan hewan-hewan yang mematikan.
Akhirnya Lila sampai di luar hutan walaupun tubuhnya harus menerima banyak luka akibat melawan hewan-hewan dalam perjalanan menuju ke luar hutan. Para tetua yang melihat kondisi Lila pun terkejut karena menurut mereka, hewan di hutan bunga tidaklah se berbahaya itu.
Mereka pun mengobati Lila. Setelahnya, Lila mengatakan tujuannya kembali ke luar hutan padahal lomba belum waktunya selesai dan ia melewati hutan kematian agar sampai di sana. Para tetua yang mendengar tujuan Lila pun segera pergi ke sana karena mengetahui seberapa berbahaya itu.
Lila juga ikut bersama mereka karena keadaannya sudah membaik dan khawatir dengan keadaan Andita satelah mengetahui seberapa bahayanya situasi yang sedang sahabatnya hadapi.
(disarankan memutar Anneth-mungkin hari ini esok atau nanti)
Karena kemampuan para tetua, mereka sampai di area terlarang dengan waktu yang singkat. Saat telah berada di sana kekawatiran Lila menghilang—tergantikan dengan kesedihan.
Lila langsung berlari setelah melihat tubuh sahabatnya yang sudah terbujur kaku tak bernyawa. Buliran bening jatuh dengan deras di pipinya. Tangisnya pecah. Tak ada seorang pun yang menghentikan gadis itu karena tahu seberapa dalamnya hubungan mereka.
“Andita, ayo bangun! Perlombaannya sudah selesai. Ayo, kita kembali ke perguruan!” Namun takk ada jawaban darinya.
“Oke, kamu mau pergi? Iya, kau boleh pergi. Tapi setidaknya pamitlah dulu padaku. Ayo bangun dan pamit dulu padaku ...” masih tak ada jawaban darinya. Hati semua orang yang berada di sana ikut tersayat.
“Kau tetap tak mau bangun? Baiklah, aku tidak akan menangis jika kau pamit. Aku juga akan melakukan apa pun yang kau mau jika kau pamit.” Tetap tak ada jawaban darinya.
Lila menutup matanya kemudian melepas rohnya dari raga. Rohnya melihat roh Andita sedang memeluk raganya. Lila pun menghampiri dan menyapanya.
“Andita? Sudah ku duga kau sedang melepas rohmu. Nah, sekarang ayo kembali ke raga kita!” ajak Lila sambil tersenyum. Andita pun melepas pelukannya dari raga Lila, kemudian menghampiri rohnya dan berkata, “Lila, sadarlah! Aku sudah tiada. Tapi aku akan tetap bersamamu. Rohku akan berada di mawar yang sedang ku genggam.”
“Lila, aku berharap kau tidak akan membenci Shinta.” Dan dengan cepat Lila menjawab, “Aku tidak membencinya. Aku membencimu! Kenapa kau mau meninggalkanku? Kenapa?!”
“Maaf. Maafkan aku. Tolong maafkan aku.” Tak ada jawaban dari Lila. “Lila, bisakah kau memelukku? Untuk yang terakhir kalinya.” Lila tetap diam di tempatnya. “Aku harap kau memegang ucapanmu—tidak menangis dan mengabulkan permohonanku jika aku pamit. Aku berharap kamu membawa sahabat barumu di pemakamanku nanti. Aku pergi dulu.” Perlahan, roh Andita menghilang dan Lila pun meleleh dan ia segera memeluknya.
Roh Andita pun menghilang dan tangis Lila kembali pecah. “Maaf Andita, aku tak bisa memegang ucapanku. Aku tetap menangisi kepergianmu.” Dan ingatan Lila tentang kebersamaannya dengan Andita berputar kembali di kepalanya.
Setelah puas menangis, roh Lila kembali pada raganya kemudian ia membuka matanya. Dan ia terdiam. Ia terdiam sangat lama. Kemudian salah satu tetua menghampirinya. Ia berkata, “Lila, roh Andita berada di mawar kuning yang ia pegang. Ia bisa hidup kembali jika menempati tubuh orang lain.”
“Lila, jadikanlah tubuhku sebagai tempat baru roh Andita, karena akulah yang membunuhnya.” Salah seorang murid mengajukan diri. Ia Shinta—murid yang pergi ke area terlarang dan kerasukan roh jahat yang telah membunuh Andita.
Lila pun berdiri dan menghampirinya. Dan secara mengejutkan ia memeluknya dan berbisik, “Kau tak membunuhnya, melainkan roh jahat itu yang membunuhnya. Aku tahu rohmu terluka karena berusaha menahan roh jahat agar tidak membunuh orang lain. Kamu juga tak memiliki teman dan selalu di tindas. Dan mereka yang mendorongmu untuk masuk ke area terlarang. Kau memikul beban yang sangat berat, tapi kau tidak pernah menangis. Sekarang lepaskan beban itu dan menangislah.” Dan Shinta pun menangis dalam pelukan Lila.
Semua orang terkejut sekaligus kagum pada Lila yang bisa langsung memaafkan orang yang membunuh sahabatnya. Lomba itu pun dibatalkan dan mereka kembali ke perguruan. Shinta tidak di jatuhi hukuman karena Lila mengatakan tentang penindasan yang terjadi pada Shinta.
Andita di makamkan di pemakaman pahlawan di perguruan. Walaupun Lila tetap menangis saat Andita menghilang, ia berhasil mewujudkan permohonan Andita. Sekarang mereka bertiga menjadi sahabat. Lila, Shinta, dan bunga roh Andita.