'Aku Cinta Kamu' kata yang sangat klise bukan? Ah, sepertinya hanya aku yang menganggap kata-kata itu bodoh. Ya, sangat bodoh, hanya dengan pernyataan seperti itu saja mereka langsung klepek-klepek.
Seperti yang saat ini aku baca, novel yang bergenre romance. Setiap aku melihat sampulnya atau blurbnya, aku selalu seperti orang bodoh yang ingin mengetahui bagaimana rasanya seseorang yang mengungkapkan perasaannya.
Asal kalian tahu ya, aku adalah seorang perempuan yang berumur 20 tahun. Dan, yang paling menyedihkan di hidupku adalah aku tidak tahu apa itu yang namanya cinta. Setiap kali ada laki-laki yang menyatakan cinta, perasaanku masih biasa-biasa saja. Mau setampan apapun dirinya.
Apa aku seorang lesbi? Oh, Ya Tuhan, jauhkanlah aku dari hal yang seperti itu. Tapi, aku masih normal kok.
"Anya Callista!!!" teriak Ibuku.
Ah, suara itu, pasti beliau akan mengomel. Ku dengar pintu kamar ku terbuka dan menampakkan sosok perempuan paruh baya yang masih terlihat muda.
"Anya, sudah berapa kali ibu bilang, kalau kamu itu harus kerja, lihat kakak mu, walau sudah berumah tangga, dia masih bisa bekerja."
Lagi dan lagi, ibuku pasti membandingkan ku dengan kakak perempuanku. Sebenarnya aku masih pengangguran, sudah beberapa kali melamar kerja di sebuah perusahaan, pasti selalu di tolak. Kalian tahu alasannya? Lowongannya sudah dari kemarin di tutup. Padahal brosur yang aku lihat masih baru, dan entahlah aku pusing terus memikirkan hal itu.
"Anya!! Kamu dengar omongan ibu nggak sih?!!"
"Iya bu, Anya denger."
"Nah, kalo kamu denger, besok pagi kamu harus cari pekerjaan lagi, pokoknya kamu harus dapet pekerjaan, ibu nggak mau tahu!"
"Iya," jawabku lesu.
Beliau pun keluar dari kamar ku. Hah, rasanya aku ingin segera menikah dan keluar dari rumah ini. Tapi, dengan siapa aku menikah? Pacar juga gak punya. Bagaimana punya pacar, perasaan suka yang sering aku denger atau baca pun gak pernah aku rasakan sampai saat ini.
Aku pun memutuskan untuk tidur dengan nyenyak, aku nggak terlalu memikirkan apa yang ibu titahkan barusan.
Pagi hari.
Setelan kemeja putih, rok sepan hitam selutut, high heels hitam, rambut di gelung rapih dan make up natural ku pilih untuk melamar kerja kesekian kalinya.
Aku pun berjalan menuju ruang makan, dan aku melihat di sana ada ayah dan ibu sepertinya tengah menunggu ku.
"Selamat pagi," sapa ku pada kedua orang tuaku.
"Pagi sayang," jawab mereka serempak.
Aku pun duduk di kursiku yang berhadapan dengan ibuku.
"Anya, kau akan melamar pekerjaan lagi?" tanya ayahku.
"Iya," jawabku sekenanya.
Sebelum ayah berkata lagi, ibu sudah lebih dulu memotongnya. "Mas, biarkan Anya mencari kerja. Biar Anya merasakan mencari uang dengan usaha sendiri."
"Iya, iya."
Setelah sarapan pagi aku berpamitan kepada kedua orang tuaku untuk pergi mencari kerja. Kalian tahu, sebenarnya keluarga ku masih bisa dikatakan berkecukupan, dengan ayah yang berprofesi sebagai dosen di salah satu universitas ternama, dan ibu yang berprofesi sebagai koki terkenal. Sangat berkecukupan bukan?
Keluarga ku menuntut anak-anaknya untuk menjadi orang yang benar-benar sukses dengan kerja keras sendiri, keringat sendiri. Karena itu yang dikatakan sebagai orang sukses.
Sekarang aku sudah berada di salah satu perusahaan yang membutuhkan seorang divisi di bagian keuangan. Untung saja, lowongan itu sejalur dengan keahlianku.
Tapi, aku takut kalau hal itu terulang lagi. Aku tidak bisa jika harus takut terus, jadi aku pun memberanikan diri untuk menanyakan hal itu kepada seorang resepsionis.
Dan, akhirnya aku bisa melamar di perusahaan ini. Semoga saja aku di terima. Aku pun menunggu di ruang tunggu, sampai akhirnya aku di panggil untuk wawancara.
Akhirnya aku di terima kerja di sini, dan mulai besok aku mulai bekerja. Hah, perjuangan ku untuk mencari kerja ternyata tidak sia-sia. Aku pun pulang dengan menggunakan angkutan umum.
Keesokan harinya.
Pagi ini dengan semangat aku telah siap dengan setelan kerjaku. Kemeja putih di tutupi dengan jas hitam, rok hitam selutut dan high heels hitam. Rambut panjang ku pun di gelung, make up natural dan, oh jangan lupa parfum dengan wangi mawar kesukaanku.
Setelah selesai aku pun turun ke bawah untuk sarapan pagi. Melihat hanya ibuku seorang yang duduk di meja makan.
"Pagi bu."
"Pagi sayang. Wahh sepertinya kamu udah dapet pekerjaan," ujar ibu.
"Hem."
"Dapet kerja di perusahaan mana? Jadi apa?" tanya ibu beruntun.
"Di perusahaan Anggara Corp jadi bagian divisi keuangan," jawab ku sambil menyendokan nasi ke mulutku.
"Wah, itu perusahaan besar di kota pusat ini kan?"
"Ya, begitulah."
"Ya sudah kalau begitu, sekarang kamu makan yang banyak, ibu akan membuatkan kamu bekal."
Begitulah ibu, kalau anaknya sudah memiliki pekerjaan, pasti beliau akan baik dan lemah lembut, coba dulu saat aku belum kerja, tiap pagi, sore, malam kerjaannya ngomel mulu, enggak capek apa ya?
Setelah berpamitan aku pun berangkat menuju kantor, menggunakan angkutan umum tentunya. Memangnya mau naik apa lagi, dari dulu juga anak-anaknya tak pernah di beri kendaraan pribadi. Katanya lebih baik menggunakan angkutan umum dari pada pribadi, itu akan mengurangi polusi udara.
Akhirnya aku sampai dan mulai memasuki kantor, di sana aku melihat pria yang menatap ku. Risih? Tentu saja.
"Nona Anya Callista?" tanya pria itu.
"I-iya."
"Hm, syukurlah. Sekarang nona ikut saya untuk mengelilingi kantor ini. Nona, sudah dengarkan kalau setiap karyawan disini harus hapal dengan semua tempat dan tata letak perusahaan?"
"E-emm y-ya."
"Baiklah, mari ikuti saya."
Setelah lima jam mengelilingi isi kantor ini. Bayangkan lima jam berjalan ditambah berdiri dan mendengarkan pria itu mengoceh. Huh, sangat lelah.
"Sekarang nona sudah tahu kan semua isi, tata letak kantor ini, apalagi ruangan yang nanti nona Callista tempati."
"I-iya. Boleh saya tahu nama tuan?"
Pria itu menggaruk tengkuknya dan terkekeh, "Astaga, maafkan saya nona Callista, saya lupa memberitahu nama saya. Oke, perkenalkan saya Gino Abraham dari divisi personalia."
Pria itu pun mengulurkan tangannya dan aku pun menjabatnya.
"Salam kenal tuan Abraham," sapa ku sopan.
"Tak perlu sungkan nona Callista. Baiklah, sekarang sudah jam istirahat, apakah nona Callista akan makan siang bersama saya?"
"Em, tapi, saya membawa bekal dari rumah," jawabku menyodorkan tas bekalku.
"Oh? Ternyata dari tadi nona membawanya sambil berkeliling ya?" kekehnya.
Aku pun tersipu, bukan karena cinta atau apa, tapi ini lebih ke arah malu. Bayangkan lima jam berkeliling tanpa melepaskan tas bekal dan tas yang berisi laptop, uh, sepertinya aku harus memindahkan wajahku.
"Ah, yasudah kalau begitu, mari kita makan di kantin saja."
Sudah satu bulan aku bekerja di Anggara Corp, huh, dan satu bulan itu pun aku tidak pernah melihat atasanku, maksudku CEO perusahaan.
"Anya!!"
Suara itu membuatku jengkel sekali, dia adalah teman sekantor dan se divisi.
"Apalagi nona Brittany?"
"Hehe, kamu kan teman ku yang cantik, baik dan ti-"
"Intinya saja," ujarku jengkel.
"Oke, oke, ini kamu berikan sama CEO, soalnya mau dipakai meeting hari ini."
"Loh? Kok aku sih? Kan itu tugas kamu Bri!"
"Iya tahu, tapi aku lagi di suruh ama itu tuh, bos galak kita," ujarnya setengah berbisik.
Aku pun menghela nafas berat dan mengangguk.
"Yey, makasih Anya cantik!!"
Aku pun mulai memasuki lift untuk sampai ke ruangan CEO. Setelah sampai, di sana aku melihat seorang pria yang sepertinya sekretaris pimpinan perusahaan.
"S-selamat pagi tuan."
"Ya, selamat pagi. Apakah ada hal penting yang bisa saya sampaikan?"
"E-ini, saya mau memberikan laporan keuangan tahun ini kepada pimpinan."
Pria itu pun melihat berkas yang ada di lenganku. "Oh, baiklah kalau begitu, mari saya antarkan."
Tok, tok, tok. (Suara pintu di ketuk).
"Masuk!" seru yang di dalam.
Pertama yang aku lihat di ruangan ini adalah putih hitam, monocrome.
"Tuan, ini ada laporan dari bagian divisi keuangan."
"Baiklah, kamu segera kembali ke ruang kerja mu, dan kamu nona kamu silahkan duduk."
"Baik tuan."
Aku pun berjalan ke arah mejanya. Sungguh hal ini membuatku gugup, selama sebulan aku kerja disini, baru sekarang aku bisa bertemu dengan pimpinannya. Walaupun, dia masih membelakangi ku.
Tapi, kenapa dia bisa tahu kalau aku perempuan?
"Apakah berkas itu sudah lengkap nona?" tanya pria itu dingin.
Huh, hawanya pun ikut dingin.
"I-iya, tuan."
Pria itu pun membalikan kursinya dan, oh, Ya Tuhan, ini sungguh di luar ekspetasiku. Astaga, tubuhku mulai bergetar dan berkeringat.
"Ah, ternyata nona Callista. Bagaimana kabarmu?" tanya pimpinanku dengan senyum yang bisa di bilang, hm, menyeringai mungkin.
"B-baik."
"Oh, tentu saja Anda sangat baik," kekehnya.
"I-ini berkas Anda tuan." Aku pun menyodorkan berkas itu. Dan, tanpa di sangka ia menggenggam tanganku. Astaga mau apa lagi sih dia!
"M-maaf tuan, s-saya harus kembali ke ruangan saya," ujarku sambil menunduk.
"Callista," lirihnya.
Oh, sudah cukup ini di luar keinginanku. Aku pun berusaha melepaskan cekalannya.
"T-tuan, lepaskan tangan saya. S-saya takut jika nanti saya di bilang tidak sopan sama tuan."
"Aku tak peduli lagi Nya," lirihnya lagi.
Sekarang emosiku memuncak. "Aldo!! Cepat lepaskan tanganku!!"
Mudah-mudahan ruangan ini kedap suara, karena teriakanku yang sudah sangat emosi.
"Tidak Anya, tidak. Aku tidak akan melepaskan mu lagi, cukup saat kita berumur 5 tahun. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi Nya," ungkapnya lembut.
Asal kalian tahu, dia adalah teman masa kecil ku, rumah kami bersebelahan saat di kota B. Dan, tanpa pamit ia pergi meninggalkan ku yang terus menunggunya di pohon tempat kita bermain. Mulai saat itu, aku sangat membencinya, tapi, terkadang aku juga masih menyimpan rasa untuknya.
"Tidak!! Aku sudah muak dengan mu, hanya dengan janji manis mu saat itu, aku menunggumu di bawah pohon itu, hampir setiap hari aku menunggumu, tapi apa sampai aku akan pindah pun, kamu tak ada menghampiriku. Aku kecewa Al, aku kecewa!!"
Ia pun memelukku erat, aku berusaha untuk berontak namun sia-sia. Kekuatannya lebih besar dari pada ku.
"Maafkan aku Nya, waktu itu aku berusaha untuk menemui mu, tetapi waktu itu sudah tak ada waktu lagi, kondisi nenekku yang ada di luar negeri sudah memburuk. Dan, tanpa pamit aku meninggalkan negara ini."
Air mataku pun turun dengan sendirinya. "Hiks, aku benci kamu Al."
"Aku mencintaimu Anya Callista."
Oh? Apa aku tidak salah dengar? Apa dia menyatakan perasaannya? Tapi, aku? Oh, jantungku berdegup kencang, rasa di perutku terus menggelitik, terasa ribuan kupu-kupu berterbangan. Oh, apa ini yang dinamakan jatuh cinta?