Angin malam yang berhembus menciptakan hawa dingin. Suara jangkrik saling bersahutan seakan menyanyi di tengah sunyi-nya malam hari. Seorang gadis cantik berambut sebahu tengah menatap bintang-bintang.
Namanya Gia Monica. Gadis berusia 19 tahun ini sangat suka menghabiskan malam di balkon sembari menatap bintang. Ia akan menghabiskan malam di balkon sampai ia mengantuk ditemani segelas cokelat panas. Bahkan ia sampai tidak tidur saat insomnia nya sedang kambuh.
Gia tinggal di Bandung sendirian. Setelah lulus SMA, ia memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di Bandung. Meninggalkan ayah, ibu tirinya, dan kakak tirinya, sedangkan ibu kandungnya sudah meninggal 4 tahun yang lalu. Ia tinggal di apartemen sendirian. Ia menyukainya. Ia menyukai ketenangan. Jam menunjukkan pukul 12 lewat 45 menit. Walau sudah tengah malam, Gia tidak merasa takut berada di balkon sendirian karena ia selalu menganggap bintang selalu menemaninya.
Gia memang menyukai ketenangan dan kesendirian, tapi ada kala ia ingin seseorang menemaninya dan menghabiskan waktu bersama. Matanya berbinar saat tanpa sengaja ia melihat ada bintang jatuh. Ia dengan cepat meminta sebuah permohonan. Sejak kecil ia memang suka meminta permohonan saat ada bintang jatuh. Sebenarnya ia tidak percaya itu, tapi rasanya tidak pas saat ia melihat bintang jatuh tapi tidak meminta permohonan.
Rasa kantuk mulai menyerangnya. Gia memutuskan untuk masuk ke kamarnya, kemudian mencuci kakinya. Setelah itu ia merebahkan tubuhnya di kasur. Matanya mulai terpejam.
kriett.....
Mata Gia kembali terbuka. Ia menatap pintu balkonnya yang terbuka.
"Perasaan tadi udah dikunci." Gia turun dari kasurnya dan mengunci pintunya.
kriett....
Baru saja ia merebahkan tubuhnya, pintu balkon kembali terbuka.
"Ini pintu kenapa sih?!" dengan kesal Gia kembali menutup pintunya dan memastikan dua kali bahwa pintu itu sudah terkunci.
Gia memilih duduk di kasurnya sembari memperhatikan pintu yang terkunci.
kriett....
Rasa kesal Gia bertambah. Ia berjalan ke pintu, kemudian keluar. Tidak ada siapa-siapa. Gia memilih masuk kembali ke kamarnya.
Matanya melotot melihat ada seorang cowok yang sedang duduk di ranjangnya.
"Siapa Lo?! Lo mau maling ya?!" Tuduh Gia
Cowok itu hanya diam menatap Gia. Matanya yang berwarna biru muda seperti bersinar terkena pantulan cahaya lampu.
"Jawab elah! Oh jadi dari tadi elo kan yang mainin pintu gue?! Jawab!"
Hening.....
"Dasar! berasa ngomong sama tembok. Keluar! Cepat keluar! Atau gue teriak nih? biar Lo digebukin gara-gara masuk kamar cewek!"
Masih diam. "Lo bisa ngomong nggak sih?!"
"Ijinkan saya tinggal disini sebentar."
"Ha?! Lo pikir gue cewek apaan biarin cowok masuk kamar?!"
"Kamu orang yang baik dan saya tidak seperti yang kamu bayangkan."
"Lo darimana? Gimana caranya Lo bisa disini? Gimana caranya Lo bisa buka pintu itu?!"
Cowok itu bangkit dan berdiri di hadapan Gia. Gia yang waspada langsung mengambil vas di meja sebagai perlindungan kalau-kalau cowok itu macam-macam.
"Kan saya sudah bilang, saya tidak seperti yang kamu pikirkan. Saya cuma sebentar di sini untuk memenuhi kewajiban saya."
"Terus kenapa harus disini? di tempat gue? kan ada tempat lain."
"Saya juga tidak tahu. Sebelum tiba disini, Saya seperti mendengar suara seseorang yang meminta permohonan."
"Permohonan apa?!"
"Bahwa orang itu ingin seseorang menemaninya sampai pagi."
Gia melongo mendengar jawaban cowok itu. Ia menampar pipinya pelan. Walau pelan, rasa sakitnya cukup terasa dan itu membuktikan bahwa ini bukan mimpi.
"Lo bohongin gue ya?!!"
"Saya jujur,"
"Nama Lo! Nama Lo siapa? Lo dari mana?"
"Nama saya Deano. Untuk tempat saya berasal, saya tidak bisa memberitahukannya."
"Lo beneran denger permohonan itu?!"
"Iya. Kamu melihat bintang itu kan? lalu kamu membuat satu permohonan di sana." Deano menunjuk arah balkon.
"Apa bukti yang bisa bikin gue percaya sama Lo?!"
Deano menunjukkan tangan kirinya. Di pergelangan tangan kirinya ada seperti tato berbentuk bintang dan bintang itu mengeluarkan cahaya. Mata Gia melotot kaget. Deano menurunkan kembali lengan baju yang ia naikkan tadi.
"Terus Lo disini mau ngapain?"
"Terserah kamu. Kamu ingin melakukan apa?"
"Gue nggak tahu kalo ini bakal terwujud, jadi gue nggak tahu mau ngapain. Lo disini sampai kapan?"
"Sampai pagi."
"Kenapa?"
"Itu kan keinginan kamu. Sekarang kamu ingin melakukan apa?"
Gia terdiam beberapa saat.
"Nonton film aja? Lagian gua nggak tahu mau ngapain, Tapi Lo bisa masak nggak?"
"Bisa."
"Bagus, buatin gue mi. Lagian di kulkas nggak ada bahan makanan, cuma ada mi instan."
"Ya sudah. Sebentar saya buatkan mi instannya."
"Ya udah sana. Gue tunggu disini."
Deano keluar dan Gia duduk di sofa depan tv.
Beberapa menit berlalu dan Deano datang membawa semangkok mie dan segelas air putih.
"Terimakasih.'
"Mau nonton film apa?" Deano duduk di samping Gia yang sedang meniupi mie-nya.
"Udah gue pilihin. Tinggal nonton aja."
Gia memilih menonton film horor keluaran tahun kemarin.
"Kamu nggak takut nonton film horor?"
"Kenapa takut?"
Deano meraih mangkok mie Gia. "Sini saya suapi. Kamu nikmati filmnya."
"Nggak usah! Gue bukan bayi!" Gia menolak, tapi Deano tetap memaksa.
Deano meniup mie-nya. "Ini." Gia memakan mie yang di ulurkan Deano.
"Berasa jadi ratu." Gumamnya
"Iya kamu emang ratu. Kamu cantik dan baik."
Gia terbatuk-batuk setelah mendengar ucapan Deano. Deano langsung mengulurkan segelas air yang langsung diminum oleh Gia.
"Lo gak usah becanda."
"Saya serius. Apalagi saat kamu tersenyum, kamu jadi berlipat-lipat manisnya."
"Gue nggak butuh pujian. Cepetan suapi gue lagi."
Deano tersenyum melihat wajah Gia yang tersipu.
Beberapa menit berlalu....
Film sudah selesai dan mie-nya juga sudah habis. Deano membereskan mangkok dan gelas kemudian menaruhnya di dapur.
"Sekarang kita ngapain lagi?" Tanya Gia saat melihat Deano sudah duduk disampingnya.
"Aku disini untuk mewujudkan keinginan kamu, jadi terserah kamu ingin apa?"
"Lanjutin nonton aja." Gia memilih melupakan tujuan awalnya kenapa ia meminta seseorang menemaninya.
Film di mulai dan Gia menyandarkan tubuhnya di sofa. Deano berinisiatif merangkul Gia.
"Ngapain sih?!"
"Saya tahu, kalau kamu belum mau cerita tidak apa-apa kok."
Gia menyandarkan kepalanya di bahu Deano.
"Gue takut. Semua hal yang terjadi disini, semuanya berawal karena pelarian." Gia menangis. Akhirnya ia menangis juga. Sebenarnya saat Deano menceritakan tentang permohonan yang ia dengar, Gia sudah ingin menangis.
"Ceritakan apa yang ingin kamu ceritakan. Saya akan mendengarkannya."
"Gue sama sekali nggak bisa nerima Tante Risa sebagai ibu tiri gue. Saat hari pemakaman mama, Gue ketemu Vino. Vino orang yang menghibur Gue saat gue sedih. Kita selalu ketemuan di dekat sekolah. seminggu setelah pertemuan pertama, kita jadian. Tepat setelah hari jadi kita ke 2 tahun, sebuah kenyataan seperti menampar gue. Papa bawa calon istrinya ke rumah dan Lo tau siapa anak dari calon istri papa itu? Dia Vino. Gue ngerasa kayak lagi mimpi."
Gia menangis dan Deano tidak melepaskan rangkulannya sama sekali.
"Gue coba tanya ke Vino tentang hubungan kita. Dia bilang lebih baik kita yang ngalah. Gue coba nerima, tapi nggak bisa. 2 tahun bukan waktu singkat. Setelah hari kelulusan ku Papa dan Tante Risa menikah. Papa mutusin buat ajak istrinya dan Vino tinggal di rumah papa. Gue nggak bisa kalo harus serumah sama Vino. Hati gue terlalu sakit, jadi gue milih kuliah di Bandung. Sudah setahun gue tinggal di sini dan saat ada waktu pulang pun gue lebih milih disini. Gue terlalu takut untuk berhadapan sama Vino. Gue emang lemah, tapi gue nggak mau terlihat lemah dihadapan Vino. Gua harus apa?"
Deano memeluk Gia.
"Kamu ikutin apa yang kamu inginkan, tapi lari dari kenyataan seperti ini akan membuatmu tidak bisa tenang. Walau kamu tidak ingin menemui Vino, kamu harus ingat ada papa kamu yang merindukan kamu."
Gia memeluk erat Deano. "Makasih ya." Gia kembali menonton film dengan sesenggukan habis menangis. Pelukan mereka tidak terlepas sama sekali. Gia terlalu nyaman dengan pelukan Deano. pelukan itu mampu mengingatkannya dengan pelukan hangat milik Vino.
Pukul 3 lewat 25 menit. Deano melihat wajah tenang Gia yang tertidur dipelukan-nya. Perlahan, Deano menggendong Gia dan memindahkannya ke kasur. Pegangan tangan Gia tidak terlepas dari baju Deano.
"Temenin gue tidur." Lirih Gia.
Deano menurut dan tidur di samping Gia kemudian memeluknya. Bak seorang ibu yang menidurkan anaknya, Deano menepuk-nepuk punggung Gia.
Tidak butuh waktu lama untuk Gia tidur kembali. Deano menyukai wajah tenang Gia ketika tertidur.
"Kamu harus bahagia. Pasti banyak laki-laki yang akan menyukai kamu saat melihat senyum kamu yang manis. Rasanya saya tidak ingin ini berakhir. Kamu adalah orang pertama yang menerima permohonan melalui saya. Semoga kita bisa dipertemukan di waktu yang lain, waktu dimana kita bisa diijinkan bersama." Deano mencium kening Gia cukup lama, kemudian ia ikut memejamkan matanya.
Pukul 07.53 Pagi....
Gia terbangun dari tidurnya. Ia melihat sekeliling. Ia mencari seseorang. Ya, dia mencari Deano.
Kosong, di kamarnya hanya ada dirinya. Ia langsung pergi ke dapur. Disana ada mangkok dan gelas bekas mi semalam. Berarti itu tidak mimpi.
Ia ingat setiap ucapan Deano, termasuk tentang keluarganya. Gia menyalakan ponselnya dan mengetikkan sebuah pesan kemudian dikirim ke papanya.
"Dean, Gue akan ikutin kata hati gue. Gue akan ambil libur kuliah dan pulang untuk meluruskan semuanya. Makasih udah pernah singgah, walau sementara itu sangat berarti bagi gue. Semoga gue bisa ketemu Lo lagi. Secara nyata dan bukan sementara seperti ini."
Gia tersenyum mengingat bagaimana senyuman Deano. Senyum yang sangat manis.
Semoga tuhan mengijinkan keduanya untuk bertemu lagi secara nyata dan bukan sementara karena tanpa mereka sadari sebuah perasaan terlarang muncul di hati keduanya.
SELESAI........
****
Terimakasih yang sudah berkenan membaca.
Anggap saja foto di atas adalah Deano.
Jangan lupa mampir ke ceritaku.
judulnya 'Kami dan Kenangan' 'Cinta dan Luka'
jangan lupa like dan comment.