Pagi itu Rani setengah berlari menuju tempat kursus memasak.Tampatnya tak jauh dari rumah Rani,namun karena sudah sangat terlambat ia pun terburu-buru.Karena kurang hati-hati ia pun terjatuh dan kakinya terkilir.Ia berusaha bangkit namun tak bisa.
Tak ada orang lain lagi di sana kecuali seorang pria yang berdiri tak jauh dari Rani.Pria itu hanya diam saja dan hanya menundukkan kepalanya.
"Nih cowok gak punya perasaan apa ? ada cewek imut yang jatoh gak ditolongin malah pura-pura gak liat lagi." Rani menggerutu.
Si pria tadi mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kecilnya.Ia ternyata mengeluarkan sepasang sarung tangan dan segera memakainya.Ia pun mencoba untuk membantu Rani.
Meski kesal tapi Rani menerima bantuannya karena memang tak ada siapa-siapa lagi.Kebetulan di sana ada sebuah bangku,jadi mereka bisa duduk di sana.
Sedari tadi si pria itu memalingkan wajahnya dari Rani.
"Kakinya sakit nona ?" tanya si pria itu.
"Yaa.Eh mas kalo nolong tuh yang ikhlas dong jangan setengah-setengah.Mas jijik ya sama saya mau megang saya mesti pake sarung tangan dulu.Itu lagi dari tadi ngomong tapi gak liat saya,emangnya saya seseram itu ya menurut mas.Gak sopan tahu,"
"Astaghfirullah bukan gitu nona.Saya pake sarung tangan biar kulit kita gak bersentuhan dan saya gak mau liat nona karena emang harus menundukkan pandangan,saya takut dosa karena kita bukan muhrim."
Saat itu datanglah 2 orang perempuan.Mereka adalah tetangga Rani.Salah satu dari mereka adalah tukang pijat tradisional di kampung itu.
"Kenapa nak Rani pegang kaki gitu kayak kesakitan ?"
"Ya Bu tadi Rani terkilir.Ini gak bisa jalan masih sakit."
"Kalo gitu ibu coba urut ya."
"Ya Bu pelan-pelan."
"Tenang aja kalo udah ibu urut pasti langsung bisa jalan."
Ibu itu pun memijat kaki Rani.Sementara si pria tadi segera pergi meninggalkan mereka.
"Coba berdiri dan jalan dengan Pelan." perintah si ibu.
Rani menurutinya.
"Wahh Bu udah gak sakit lagi makasih ya."
"Ya sama-sama tapi jalannya pelan aja dulu biar gak berubah lagi uratnya."
**********
Seminggu kemudian Rani menghadiri sebuah pengajian di salah satu tetangga.Ia pergi bersama temannya.Alangkah terkejutnya ia ketika melihat si pria yang waktu itu pernah menolongnya.Pria itu naik ke atas mimbar dan berceramah.
"Astaga ternyata cowok itu seorang ustadz ya...pentesan aja sikapnya waktu itu agak aneh.Aduhhh aku malu,tahu gitu aku ngomong yang sopan sama ustadz Yusuf."
"Kenapa Ran ? kok ngomong sendiri ?" tanya Dewi.
"Ituuu ustadz Yusuf adalah cowok yang pernah nolong aku, yang pernah aku ceritain."
"Waduhhh."
"Kalo acaranya selesai kita buru-buru pulang biar gak ketemu ustadz Yusuf."
"Malu ya? gak apa-apa Ran.Kalo ketemu lagi mungkin kalian jodoh.Ustadz Yusuf itu ganteng lhoo hehe."
"Ihhh biasa aja tuh."
Padahal dalam hati Rani mengakui bahwa ustadz Yusuf itu memang tampan dan wajahnya sangat menenangkan.
Acara pun selesai.Rani mengajak Dewi untuk segera pergi dari sana.Namun secara tak terduga Ustadz Yusuf sudah ada di hadapannya.
Deg !!! Rani tidak mungkin putar balik.Akhirnya walau pun malu,ia menyapa sang ustadz.
"Assalamualaikum ustadz Yusuf.Saya Rani yang waktu itu pernah ustadz tolong waktu saya jatuh."
"Waalaikumussalam,saya kira siapa tadi."
"Ini ustadz katanya Rani kangen.. eehh katanya pengen ngomong sesuatu." Dewi menggoda Rani.
Rani sangat malu.Ia melotot pada temannya itu.
Ustadz Yusuf hanya tersenyum.Namun tetap ia menundukkan kepalanya.
"Gak ustadz saya hanya mau minta maaf waktu itu pernah marah-marah sama ustadz.Dan saya juga berterimakasih sama ustadz karena udah nolongin saya."
"Ya sama-sama."
**************
Esok harinya.Rani sedang menyiram tanaman.Ia kembali bertemu dengan ustadz Yusuf.Rani tersenyum padanya dan ustadz Yusuf pun membalas senyuman itu lalu seperti biasa sang ustadz memalingkan wajahnya kembali.
"Jadi ini rumah gadis itu." pikir ustadz Yusuf.
Ia pun segera berlalu.
Rani segera menyelesaikan aktivitas nya dan pergi untuk membersihkan diri.Ia bersiap untuk pergi dengan Dewi.Saat di ruang tamu ia melihat seorang perempuan seumuran ibunya ada di sana.
"Ran kenalin ini Bu Ana,ibunya ustad Yusuf.Beliau sekeluarga adalah tetangga baru kita.Beliau sudah menceritakan tentang apa yang terjadi pada kamu dan ustadz." mama Rani menjelaskan.
"Assalamualaikum bu." Rani mencium tangan Bu Ana.
"Waalaikumussalam nak Rani.Kalo tidak keberatan,bolehkah besok anak ibu mengkhitbah kamu ?"
Rani terdiam sejenak dan berpikir.
"Khitbah ??? ohhhh mungkin khutbah.Mungkin maksudnya ustadz Yusuf pengen ceramahin atau jadi guru agamaku yang menasehati aku.Ya itu pasti maksudnya."
Rani pun mengangguk pelan.
"Alhamdulilah." Bu Ana memeluk Rani.
Mama Rani pun ikut bahagia.
Rani sangat tak mengerti dengan sikap mereka.
"Kenapa ustad Yusuf harus menceritakan tentang pertemuanku dengannya waktu itu ? kenapa juga harus ibunya yang ke sini ? Bu Ana dan mama juga agak berlebihan ahhh terserah ahhh." Rani berbicara dalam hati.
Akhirnya Bu Ana pun pulang.Mama Rani memeluk putrinya itu.
"Mama ikut bahagia karena ustadz Yusuf mau mengkhitbah kamu.Nanti mama bicara sama papa.Papa pasti setuju.Kalo gitu kamu jangan kemana-mana bantu mama buat mempersiapkan untuk menyambut ustadz Yusuf dan keluarganya."
"Kenapa harus sama keluarganya ? paling ustad doang yang ke sini buat jadi guru agamaku kan."
"Kamu ini,masa ngelamar sendirian sih kan harus bawa keluarga."
"Tunggu ma...yang dimaksud mengkhitbah itu kan maksudnya kayak khutbah gitu kan.Ustad pengen jadi guru agamaku kan yang menceramahi aku biar jadi lebih baik."
"Hahahaha Rani....masa kamu gak tahu sih,khitbah itu artinya ustadz Yusuf akan melamar kamu besok.Khitbah sama khutbah itu beda jauh artinya meskipun kata-katanya hampir mirip."
"Aduhhh Rani bodoh banget sih kamu masa gitu aja gak tahu, harusnya nanya dulu ke mama tadi.Tapi malu sama Bu Ana kalo tadi nanya dulu mama.Berarti besok ustadz Yusuf bakal dateng ke sini dengan keluarganya buat ngelamar aku." Rani berbicara dalam hati.
Esoknya seperti yang telah direncanakan,kedua keluarga pun berkumpul.Hari dan tanggal pernikahan pun telah ditentukan.
Mereka semua begitu bahagia terutama Rani dan ustadz Yusuf.
Jodoh itu memang tak bisa diprediksi.Kita tak tahu siapa yang akan jadi pendamping hidup kita nanti.
Terima kasih sudah mampir jangan lupa like and comment.Mampir juga di karyaku yang lain.Ambil positif nya dari kisah ini,jangan tiru yang tak pantas ditiru.
Assalamualaikum 🤗