Pagi ini cukup cerah. Segelap apapun mendung menutupi sinar matahari, bagiku hari-hari yang ku jalani selalu cerah tidak seperti sebelumnya. Bertahun-tahun ku jalani hidup biasa saja, tanpa ada yang spesial maupun berwarna. Hidup monoton tanpa masalah. Prinsip ku "Jangan mengundang kalau tidak mau didatangi". Prinsip sederhana cukup terbukti dan membuat ku bebas dari masalah.
Surat undangan pernikahan mencantumkan sepasang nama mempelai dengan ukuran lebih besar dari yang lain, cukup mempermudah siapa mempelainya. Rio Firmansyah dan Salwa Mazidah. Undangan ini masih tersimpan baik di loker meja rias setelah satu tahun lebih tanggal pernikahan mereka sudah berlalu. Bukan demi apa-apa, maupun karena apa aku menyimpannya dengan baik, karena inilah undangan pernikahan ku dengan suamiku. Aku menyimpannya sebab yang tak MUNGKIN terjadi berkali-kali seumur hidup.
Hai, inilah aku Salwa Mazidah. Biasa dipanggil Salwa. Dulu diusia 22 tahun dan masih berada pada masa perkuliahan aku sudah menikah dengan lelaki yang kriteria utamanya sesuai nasihat ibu. "Kalau masang kriteria itu bukan sekedar yang pandai agama, dewasa, kaya, rupawan itu semuanya hanyalah bonus. Terpenting menikahlah dengan lelaki yang benar-benar menyayangi mu." Nasihat ibu ketika aku masih di umur 20 tahun. Rio yang sangat menyayangi ku rela pulang pergi dari rumah asalnya di Tuban menuju rumah ku di Jombang, seminggu sekali untuk menjenguk atau menginap. Seusai aku wisuda, kami membeli perumahan di Kediri biar lebih dekat dengan lokasi kerja Rio yang baru. Sampai saat inipun aku tidak menyangka bisa menikah dengan Rio, lelaki yang pernah aku suka. Bahkan rasa suka ku tidak bertepuk sebelah tangan meski tanpa kabar, sebab dia juga masih mengingat ku sebagai teman yang membantunya mengerjakan hampir seluruh soal ujian dulu di pondok.
FLASHBACK ON
Akhir kelas 9 ada ujian masa kelulusan Mts. Di Ma'had tempat aku mondok, ketika ujian kelas antara lelaki dan perempuan dicampur. Aku berada di ruang 17 dari 20 kelas. Bangku ku terletak nomer 2 dari belakang. Hampir sekeliling ku semuanya lelaki; depan- belakang, kanan-kiri, ujung depan kiri, ujung belakang kanan dan hanya menyisakan ujung belakang kiri dan ujung depan kanan. Mengetahui hal itu, aku merasa was-was.
Hari pertama, ujian berjalan dengan baik-baik saja. Hanya saja aku melihat tingkah teman lelaki yang berada pada ujung sebelah kiri namanya Reza sedang menyodorkan lembar jawaban yang sudah terisi kepada teman dibelakang, namanya Rio. Cara Reza memberikan jawaban pada Rio terlalu fulgar. Aku yang melihatnya dibuat heran, kenapa Reza membantu Rio mengerjakan soal?
Malam harinya aku belajar bersama temen perempuan sekelas ujian. Setelah bosan belajar untuk ujian besok kami saling bertukar cerita mengenai ujian tadi dan berakhir pada topik dimana Afi, Ida, Ifa, Nur dan Ami menyuruhku untuk membantu Rio menjawab soal. Usut demi usut ternyata Rio tidak terlalu pandai dalam hal membaca dan pelajaran, oleh karena itu mereka menyuruh ku gadis pendiam dan super introvet untuk membantu Rio.
"Cara Reza terlalu fulgar, sedangkan lokasimu sangat strategis untuk membantu Rio" Paksa Nur yang posisi duduknya terletak disebelah kiri Reza.
"Kalo kamu gak bisa nomer berapa, aku bantu" Imbuh Ida yang bangku ujiannya terletak di ujung kanan ku.
"Iya Sal, kami bantu" Tegas Afi yang bangku nya terletak di ujung kiri belakang ku.
Aku pun menyetujuinya. Aku tau kepintaran ku dibawah rata-rata, tapi entah mengapa dimata mereka aku terlihat pintar sekali. Karena apa? Yah karena ketika mengerjakan soal aku cepat selesai. Cepat ini bukan dalam artian aku bisa, tapi karena aku udah tidak tau jawabannya dan gak suka tanya ke temen. Oleh karena itu mereka menganggap ku pintar.
Keesokannya. Aku sudah menyiapkan mental untuk memanggil Rio. Berkali-kali mata ini melirik ke arah Rio. Astaghfirullah, aku sangat gugup. Bagaimanapun juga aku tidak pernah berinteraksi dengan lawan jenis. Hanya bapak ku seorang yang lelaki dirumah kami. Masa SD pun aku tidak pandai bergaul. Lembar jawaban ku sudah mulai penuh dan hanya sebagian kecil masih kosong. Telunjuk kanan mulai mengetuk gusar meja. Mata ini masih jelalatan melirik ke arah Rio. Oke mungkin aku harus mengubah strategi yang awalnya melirik ke strategi melihat. Benar saja, ketika aku mengubah mode ke melihat Rio saat itu Rio akan bertanya pada temannya yang berada pada ujung belakang kiri, Amta namanya. Langsung saja aku memanggilnya lirih dan meng-code nya untuk melihat lembar jawaban yang ku letakkan diujung meja. Rio paham akan code itu. Semenjak hari itu dan seterusnya, tanpa disuruh Rio sudah melihat lembar jawaban yang ku letakkan diujung.
FLASHBACK OF
Sebelum tragedi itu, aku yang tidak ingin menjadi korban cinta lokasi mau tak mau aku menjadi korbannya. Rasa ini terpendam. Apalagi mencari sosok Rio sangatlah susah, sebab MA nya dia tidak lanjut di Ma'had. Indahnya takdir, cukup meyakinkan ku kalau Allah punya cara sendiri untuk mempertemukan kami.
"Assalamualaikum"
"Wa'alaikumussalam"
Bibir lembut ini mencium punggung tangan sang suami yang baru pulang dari tempat kerja. Seperti biasa, sepulang kerja dia mandi dan aku menyiapkan makanan. Setelah makan, kami nonton TV bersama. Saat itu kami melihat acara Jejak Petualang. Tiba-tiba saja ada pertanyaan di benak ku untuk Mas Rio.
"Mas, semenjak kamu nikah sama aku, kok udah jarang hang out? Bahkan tidak pernah"
"Be-benar juga. Ke-kenapa?"
"Pingin ikut"
"Hmm, ta-tapi aku gak ta-tau tujuan yang cocok bersama mu. Ka-kamu mau kema-kemana?"
Sesaat suasana hening. Aku tak menyahuti pertanyaan. Bukan karena aku gak tau mau kemana, cuman aku khawatir keinginan ku terlalu memberatkan dia.
"Kok di-diem kamu mau ke-kemana?"
FLASHBACK ON
Dulu aku pernah mengikuti grup chat WhatsApp kategori grup literasi. Digrup itu banyak suku dan asal mereka beraneka ragam. Salah satunya Kalimantan. Saat itu aku mengatakan pada mereka kalau aku pingin ke hutan Kalimantan. Dan dia yang asal Kalimantan pun menyahuti.
"Nanti kesini, biar ku bawa kamu ke hutan"
"Ayo kapan😭😭" Balas ku menarik pesannya.
"Kamu yang datang kesini ya, kalo aku ada kesempatan dan takdir ke jawa gantian 😅"
"Huihhh. Kapan bisa kesana? Kalo gak nikah dulu" Passal nya mustahil banget aku bisa keluar jauh kalo belum menikah.
"Kamu nikah ya baru kesini apa ? Ya udah, kabarin beberapa hari sebelumnya kalo mau kesini biar aku ada waktu 😅👍"
FLASHBACK OF
"Oh, ka-kamu pingin ke hutan Kalimantan toh. Ayo. Hubungi temen mu itu, bu-bulan depan kita ke Kalimantan"
"Bulan depan?"
"Iya, kena-kenapa? Atau minggu depan?"
"Maas"
"Ce-cepat chat teman mu itu, bu-bulan depan kita ke Kalimantan"
"Serius Mas?"
"I-iya toh kamu gak pernah mi-minta aneh-aneh. Gak usah khawatir pe-perihal keuangan. A-aku punya tabungan. Selulus Mts aku ke-kerja persiapan mau meminang mu"
"Ngomong apa sih"
"U-uang ku udah banyak. Eh tau-tau kamu request resepsi pernikahannya sederhana. Ya udah uang ku nganggur. Hidup pun kamu sederhana sekali, tidak pernah terbayang dibenak ku"
Terlalu jelas, dia benar-benar menyayangi ku. Bertahun-tahun dia berlatih dan belajar memantaskan diri. Hasilnya, tidak mengkhianati usaha. Aku sangat bersyukur, terimakasih Ya Allah.
Sebulan kemudian, sesampainya di bandara Kalimantan Selatan aku chat teman ku itu dan ternyata dia sudah nunggu di depan pintu keluar. Samar-samar aku agak mengenal fisik teman literasi ku meski hanya berbekal foto ccp.
"Mana teman mu?"
"Riza!"
Satu kata berhasil membuat dua lelaki menoleh kearah aku. Riza menatap ku takjub dan Rio menatap ku tajam.
"Teman mu cowok?"
"Iya"
"Kok gak bi-bilang"
"Kamu gak nanya" Senyum ku sambil mencium pipi kanannya.
"Assalamualaikum" Salam Riza sambil mengulurkan tangan kearah ku. Dengan sigap Rio menyalami tangan Riza.
"Wa'alaikumussalam, ku-kulo rayat nya Salwa"
Riza mengerutkan kening tidak mengerti apa yang dibilang Rio.
"Ini Rio, suamiku."
"Sesuai kata mu dulu. Main kesini kalo udah nikah."
"Hahaha iya lh. Jangan lupa main ke Jawa."
"Tapi satu yang kamu lupakan. Kamu tidak undang kami. Menghilang begitu saja"
"Emm aku kan udah pamit tahun-tahun lalu, kalo aku keluar grup berarti aku mau nikah."
"Hemm" Rio berdeham dan menyadarkan ku.
Kami memutuskan untuk menginap dua hari di rumah Riza. Awalnya Rio tidak mau tapi di Kalimantan tidak ada penginapan sehingga mau tak mau kami harus menginap dirumah Riza. Keesokannya kami bertiga diajak berkeliling di hutan Kalimantan. Aku sangat senang bukan main, karena lagi-lagi impianku terwujud. Keinginan ku di hutan sangat sederhana, aku hanya ingin bisa mencari dan makan buah langka di Kalimantan. Bahkan aku juga menemukan anggur hutan. Subhanallah senangnya minta ampun.
Satu tahun setelahnya, Riza kembali menghubungi ku karena dia diterima S2 di Jawa Timur. Seminggu sebelum masuk ospek, dia ingin berkunjung seperti katanya dulu.
"Ri-riza anak Kalimantan itu?"
"Iya, gimana?"
"Menurut mu di-dia gimana? Ganteng ya"
"Iya"
"Gantengan siapa, aku apa dia?"
"Semua lelaki itu ganteng. Aku tak pernah mandang fisik untuk kriteria cowok, yang ku lihat adalah keunikan nya. Dengan keunikan tersebut yang dapat membuat aku bertah."
"Ka-kamu malu gak punya suami kayak aku? Ta-tamatan Mts, bodoh lagi"
"Ssuutts, ngomong apa sih"
"Ka-kamu cocok sama Riza. Bukannya Islam menganjurkan cari pasangan yang sekufu ya? Bahkan dia re-rela datang jauh-jauh dari Kalimantan ke Jawa hanya untuk menepati candanya. Dia ber-berpendidikan ting..."
Ku sumpat mulutnya dengan tangan kanan. "Siapa yang cepat dia dapat" nasehat ku padanya. Rio pun menarik tangan ku membuat ku terdorong dan mencium bibir nya yang terhalang oleh tangan ku. Kami bertatapan cukup lama, hingga itulah awal dari persatuan kami.