Lelaki itu diam. Entah sudah berapa lama ia berdiam diri di kamar dan merenung. "Baginda Raja, saya mohon, makanlah sedikit. Putri anda juga akan sedih jika melihat Baginda seperti ini," Kata seorang wanita yang merupakan salah satu pelayannya.
Lelaki itu akhirnya membuka pintunya dan memakan makanannya. Ia mulai beraktivitas layaknya Raja pada umumnya. Ia melakukan apa yang seharusnya ia lakukan, tanpa adanya ekspresi sedikit pun. "Baginda Raja, bolehkah saya memberi Baginda sedikir saran?" Tanya salah seorang pelayannya.
"Katakanlah," Kata lelaki itu kepada pelayannya. "Saya turut berduka cita atas kematian nona Charlotte. Saya juga merasa kehilangan, mengingat saya cukup sering melayaninya sebelum saya pergi. Melihat Baginda kesepian setelah kematian nona Charlotte juga membuat saya sedih," Jelas sang pelayan, menggantungkan kalimatnya.
"Katakanlah apa yang engkau maksud," Kata Raja kepadanya. "Baginda bisa mengangkat anak perempuan lain untuk menjadi putri anda jika anda kesepian, Baginda." Kata sang pelayan. Raja tampak berpikir, mempertimbangkan apa yang dikatakan pelayan itu.
"Baiklah, saya akan mengangkat sepuluh putri dari panti asuhan Greyload," Kata Sang Raja yang wajahnya berbinar-binar. Sang pelayan pun menghela nafasnya, lega. Ia merasa ikut senang melihat rajanya yang sudah tidak lagi termenung dalam kesepian atas kematian putri kandungnya. "Baik Baginda, saya akan menghubungi panti asuhannya, silakan anda memilih kesepuluh anak perempuan yang hendak anda angkat menjadi putri anda." Kata pelayan itu sambil memberikan Raja daftar anak-anak yang ada di panti asuhan.
Raja pun menerimanya dan melihat daftarnya. Ia menemukan hal unik disana. Akhirnya Sang Raja memilih kesepuluh anak perempuan yang akan ia jadikan putrinya. Mereka datang keesokan harinya. Raja menyambut mereka dengan baik. Mereka pun terlihat sangat senang.
Raja memberikan nama-nama warna untuk masing-masing mereka sesuai dengan warna kesukaan mereka. Dari putri tertua, Putri Emerald, Putri Plum, Putri Charcoal, Putri Fuchsia, Putri Mauve, Putri Periwinkle, Putri Chartreuse, Putri Camel, Putri Peach dan terakhir Putri Beige. Baju yang mereka kenakan, yang mereka miliki dan aksesoris yang mereka punya juga sesuai dengan warna mereka masing-masing. Mereka semua terobsesi dengan harta dan kemewahan, tetapi putri bungsu, Putri Beige sedikit berbeda. Dia lebih menyukai buku daripada perhiasan, lebih memilih jalan di taman daripada berbelanja, lebih suka menyendiri daripada meladeni teman yang menurutnya tidak lebih dari memanfaatkan harta mereka.
Putri Beige mirip sekali seperti Putri Charlotte yang penyuka bunga dan terobsesi dengan aroma buku. Satu-satunya harapan dalam diri Raja hanyalah putri bungsunya, Beige. Ia berharap dapat melihat Charlotte dalam diri Beige. Sedikit egois, tetapi memang begitu nyatanya. Perbedaan mereka cenderung sedikit, dari fisik, warna kesukaan mereka dan sifat mereka.
Charlotte menyukai warna biru gelap yang memberi kesan elegan, dan Beige menyukai warna beige yang memberi kesan natural. Perilaku Charlotte sopan dan elegan jika bersama orang lain, cenderung periang jika bersama orang dekat. Sementara Beige, ia pendiam. Bagi raja, keduanya bukanlah hal yang buruk. Tidak ada yang buruk, kecuali kesembilan putri lainnya.
Bagaimana tidak buruk? Kesembilan putri tertua cenderung suka memerintah dan tidak sopan. Mereka selalu meremehkan tamu-tamu yang datang ke kediaman mereka. Banyak hubungan kerja sama raja yang putus hanya karena perilaku kesembilan putri tertua Raja. Akhirnya Raja mendapat partner kerja sama yang tidak memperdulikan perilaku kesembilan putri tertua.
"Bagi saya, bekerja sama ya bekerja sama. Ini urusan bisnis, jadi saya tidak memasukkan urusan pribadi kedalamnya. Saya memang tidak menyukai perilaku mereka, tetapi saya ingin bekerja sama dengan Baginda karena saya tahu Baginda berbakat. Berterima kasihlah pada putri bungsumu yang sudah menemui saya dan mengenalkan saya kepada Baginda," Jelas lelaki paruh baya yang umurnya sepantaran dengan Raja.
"Terima kasih banyak, Beige. Ayah berhutang budi padamu. Terima kasih juga telah mau menerima kerja sama ini, Sir Poland, sampaikan terima kasihku juga pada Raja Enggand," Kata Raja pada Beige dan lelaki yang bernama Poland. "Tidak perlu berterima kasih," Kata Beige, seperti biasa, dingin.
Beige langsung berpamitan dengan mereka dan keluar dari ruang rapat. Hari itu juga, setelah Raja dan Poland berdiskusi, mereka berencana untuk pergi ke Kerajaan yang ditinggali oleh Poland, Kerajaan Einggene. Waktu untuk sampai dari Kerajaan Edskard ke Kerajaan Einggene adalah tiga hari. Saat itu juga, Raja memanggil kesepuluh putrinya. Mereka berkumpul di taman istana, dekat gerbang keluar.
"Ayah ingin berkunjung ke Kerajaan Einggene, apakah ada yang mau oleh-oleh?" Tanya Raja kepada kesepuluh putrinya. Mata mereka semua berbinar, kecuali Beige. "Iya ayah, aku mau liontin Emerald hijau!" Kata putri sulung, Putri Emerald.
"Aku mau anting dengan kristal berwarna plum!" Kata Putri Plum.
"Aku ingin kalung dengan permata berwarna Charcoal!" Kata Putri Charcoal.
"Aku ingin tiara berwarna Fuchsia ayah!" Kata Putri Fuchsia
"Aku ingin gaun baru berwarna Mauve." Kata Putri Mauve.
"Aku ingin cincin berwarna periwinkle!" Kata putri Periwinkle.
"Aku ingin batu permata berwarna Chartreuse!" Kata Putri Chartreuse.
"Aku ingin kereta kerajaan berwarna camel!" Kata Putri Camel.
"Aku ingin gelang dengan permata yang melingkarinya berwarna peach, ayah." Kata Putri Peach.
"Ahaha, baiklah anak-anakku. Dan Beige, apa yang kamu inginkan?" Tanya Raja kepada Beige. "Pulanglah dengan selamat." Tiga kata yang keluar dari mulut Beige membuat suasana menjadi hening dan ramai, karena seketika kesembilan putri tertua tertawa karena permintaan Beige.
"Seperti harapanku, Putri Beige." Bisik Poland pada dirinya sendiri. "Ayah akan mengabulkan permintaanmu yang itu. Apakah kamu tidak menginginkan perhiasan seperti kakak-kakakmu?" Tanya Raja, memastikan.
"Tidak." Kata Beige. Kesembilan putri lainnya kembali tertawa. Mengapa adik mereka bodoh sekali? Kenapa tidak meminta perhiasan? Bodoh.
Raja pun mencium kening Beige, berpamitan dengan kesepuluh putrinya dan memasuki kereta. "Hei, apakah kamu bodoh? Kenapa kamu tidak meminta perhiasan?" Tanya Putri Plum.
"Belum ada perhiasan yang keluar yang berwarna beige." Kata Beige, berbohong.
"Oh, jadi begitu. Bagus, jangan memakai barang yang berwarna lain." Kata putri sulung, Putri Emerald. Mereka pun berpisah, Beige menuju taman untuk menbaca buku, dan kesembilan putri lainnya pasti megacau di Istana. Setelah beberapa menit berlalu, Beige memutuskan untuk masuk ke dalam istana menuju ke kamarnya.
Dalam perjalanan di taman, ia melihat kesembilan kakaknya sedang menjahili pelayan dengan menebarkan sampah yang telah mereka kumpulkan. Beige membantu pelayan itu membersihkan daun-dauh kering. Beige membantu mereka karena tahu bahwa taman juga tempat favorit ayahnya. "Hei hei hei, lihat apa yang kita punya disini. Kita memiliki pembantu baru!" Kata Putri Fuchsia.
"Putri Beige, biarkan kami saja yang membersihkannya." Kata pelayan itu sambil berusaha menghentikan Beige. "Diam dan bantulah." Kata Beige, tidak memperdulikan perkataan kakaknya. "Beraninya pelayan rendahan sepertimu!" Kata Putri Periwinkle, menjambak rambut Beige.
Beige beridiri dan menahan tangan Periwinkle. "Lepaskan tanganmu! Aku kakakmu!" Teriak Periwinkle. "Mungkin hanya kamu yang menganggap aku adikmu, aku tidak menganggapmu sebagai kakakku." Kata Beige.
"Hah? Wah!" Periwinkle yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi. "Kak! Bantu aku!" Kata Periwinkle meminta bantuan kedelapan saudaranya yang mematung.
"Bukankah sudah ku katakan? Sepertinya tidak ada yang menganggapmu sebagai kakak, maupun adik, karena kamu tidak berbakat, dan hanya mengandalkan harta. Seharusnya kamu tidak masuk ke dalam istana ini, kamu tidak pantas. Seharusnya kamu tidak diangkat menjadi putri disini karena orang lain jauh lebih pantas darimu." Kata Beige.
Beige menghempas tangan Periwinkle sampai ia jatuh. Beige melihatnya dengan tajam, mengancam seolah jika Periwinkle berani berbuat hal yang sama, Beige tidak akan diam. Beige kembali ke kamarnya, dan menuggu ayahnya untuk pulang. Sepertinya ayahnya akan menghabiskan sepuluh hari disana. Beige benar-benar berharap bahwa Periwinkle tidak akan melakukan hal yang sama.
👑 10 hari kemudian 👑
"Ayah! Akhirnya ayah pulang. Dimana kereta kudaku?" Tanya Putri Camel.
Yang lainnya pun bertanya mengenai hadiah yang mereka minta sepuluh hari yang lalu. "Ayah, terima kasih telah kembali dengan selamat." Kata Beige. Raja pun mencium kening Beige dan mengucapkan terima kasih kepadanya. Yang lain yang melihatnya tidak iri.
Mereka berpikir, Beige hanya mendapat ciuman, sedangkan mereka mendapat apa yang mereka mau. Nyatanya tidak begitu. "Beige, ayah belikan kalung ini untukmu. Tidak berwarna Beige, berwarna putih, tetapi sangat indah. Menurut ayah ini akan cocok denganmu." Kata ayahnya sambil memakaikan kalung itu kepada Beige.
"Terima kasih, ini sangat indah." Kata Beige. "Beige, lepas kalung ini saat kamu mandi, kalung ini tidak boleh terkena air." Kata ayahnya. Beige mengangguk dan pergi menuju kamarnya.
Beige pun memakai kalung itu setiap saat. Sampai saat dimana Fuchsia melihatnya iri dan ingin memiliki kalung itu meskipun itu bukan warna favoritnya. Fuchsia merasa bahwa Beige memamerkan kalung barunya itu karena selalu memakainya. Fuchsia pergi ke kamar Beige. "Darimana kau dapatkan kalung itu?" Tanya Fuchsia.
"Ayah." Kata Beige. Tanpa persetujuan Beige, Fuchsia berusaha merebut kalung itu dengan menarik kalung itu dari leher Beige. Beige tidak tahu kenapa kalung itu tidak terlepas dari lehernya. Beige pun menghempas tangan Fuchsia.
"Ini kalungku, kenapa kamu mau merebutnya?! Bukankah sudah kukatakan kalau kalung ini adalah kalung pemberian ayah! Ini untukku bukan untukmu! Kamu sudah mendapat apa yang kamu mau, kenapa kamu ingin mengambil milikku juga?!" Bentak Beige kepada Fuchsia.
"Aku?! Aku ingin itu karena itu indah! Mengapa hanya kamu yang dibelikan?! Mengapa aku tidak?! Apa bedanya aku dan kamu?! Aku juga anak ayah!" Kata Fuchsia kesal.
"Bedanya? Apakah kamu bodoh? Aku dan kamu?! Kita benar-benar berbeda! Jangan samakan aku dengan orang sepertimu!"
"Sepertiku?! Apa maksudmu sialan?!" Kata Fuchsia dan menyerang Beige.
Fuchsia keluar dari kamar Beige dan mengambil pisau dari dapur. Kedelapan saudara yang lainnya bingung mengapa Fuchsia mengambil pisau. Mereka akhirnya mengikuti Fuchsia sampai ke kamar Beige. Mereka kaget karena Fuchsia mencoba menusukkan pisaunya kepada Beige. "Fuchsia! Apa yang kamu lakukan?!" Bentak Putri Emerald.
"Dia mencuri permataku!" Jawab Fuchsia. "Kamu berbohong?! Permata itu berwarna putih bukan fuchsia!" Balas putri Emerald. "Aku dibelikan oleh ayah, walaupun bukan warna fuchsia tapi ayah tetap membelikannya untukku! Beige iri dan mencurinya dariku!" Jelas Fuchsia.
"Apa? Kalung ini pemberian ayah, dia memintaku untuk menjaganya. Aku tidak memintanya tetapi karena aku tidak meminta apapun dia membelikannya untukku, bukan untukmu!" Balas Beige pada Fuchsia.
"Beige berbohong!" Kata putri Periwinkle yang tiba-tiba ikut ke dalam pembicaraan. Mereka yang sudah dibodohi oleh Fuchsia, percaya kepadanya dan menyerang Beige.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN PADA PUTRIKU?!" Kata Raja yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar Beige. Beige langsung dibawa ke ruang rawat dan pelayan memanggil dokter untuk merawat Beige. Beige menerima enam kali luka tusuk dan dokter mengatakan Beige akan sembuh, kurang lebih satu sampai dua bulan.
"Untuk kesembilan putri lainnya, hukuman telah ditentukan. Hukuman mati adalah hukuman yang disepakati, Baginda. Kabar tentang percobaan pembunuhan kesembilan putri Raja pada putri kesepuluh telah tersebar luas. Banyak yang datang untuk meyakinkan Baginda agar kesembilan putri dijatuhi hukuman mati." Kata salah seorang pelayan yang datang.
"Terserah, saya tidak peduli." Kata Raja yang tatapannya masih terpaku oleh Beige.
"Tetapi Baginda harus menyerahkan bukti terlebih dahulu, dan Baginda harus datang dalam hukuman mati kesembilan putri." Kata pelayan itu.
"Baiklah, ayo kita pergi." Kata Raja yang menutup seluruh jendela dan pintu serta menguncinya. Mereka pergi dan menyerahkan bukti kepada hakim dan para petinggi kerajaan.
"Kalung? Bagaimana ini bisa menjadi bukti?" Tanya hakim yang ada, bingung mengapa bisa kalung dijadikan bukti.
"Saya menaruh kamera di kalung itu. Saya khawatir karena kesembilan putri terlihat iri ketika saya memberi kalung berwarna putih ini, jadi saya taruh kamera di kalungnya, untuk berjaga-jaga." Jelas Raja pada hakim.
"Baiklah, mari kita lihat rekamannya." Kata hakim dan mulai memutar rekamannya. Disana ada dimana putri Beige sedang tidur, kameranya tidak bergerak. Saat putri Beige sedang membaca, kameranya menggantung. Dan saat penyerangan putri Beige, terlihat semua bukti-bukti penyerangan.
Bukti itu sudah disahkan oleh hakim dan setuju itu adalah hukuman yang tepat untuk sembilan putri. Sembilan putri itu meronta-ronta saat dibawa ke panggung eksekusi. Mereka tidak meminta maaf dan juga tidak menangis. Teriakan dari kerajaan-kerajaan lain pun memenuhi panggung eksekusi. Mereka meminta agar sembilan putri harus cepat-cepat di eksekusi.
"Tunggu!" Kata seseorang yang tiba-tiba berteriak. "Putri Beige? Seharusnya anda beristirahat putri. Apa yang anda lakukan disini?" Tanya salah satu petinggi kerajaan.
"Jangan eksekusi mereka. Biarkanlah mereka hidup, tetapi asingkan mereka saja." Kata Beige. "Maaf putri, tetapi kami tidak bisa melakukan hal tersebut." Kata Hakim.
"Baiklah, kalau begitu, asingkan mereka, dan ketika mereka berbuat ulah lagi dan terbukti bersalah, kalian boleh menghukumnya. Mereka dilarang masuk ke dalam seluruh kerajaan yang ada. Apakah bisa?" Tanya putri Beige pada hakim.
"Baiklah. Lepaskan mereka dan asingkan mereka. Bagi kerajaan apapun yang menerima mereka masuk dalam kerajaannya, tidak boleh berdiri sebagai kerajaan lagi. Dan jika mereka berbuat ulah dan terbukti bersalah, di tempat itu juga, saya beri ijin untuk menghukum mati mereka. Sekarang, bubar!" Teriak hakim pada seluruh orang-orang yang ada disana.
Berita pun menyebar keseluruh penjuru kerajaan. Mereka kagum akan kebijaksanaan dan kebaikan putri Beige. Saat itulah mereka di kenal sebagai, sembilan kutukan dan satu keajaiban.