Kring ... Kring ... Kring ... Suara alarm berbunyi. Seorang gadis remaja perlahan membuka matanya, kemudian ia duduk dan meregangkan ototnya. Matanya melirik pada jam weker miliknya yang sedang berbunyi menunjukkan pukul dua belas malam. Ia pun segera mematikannya.
Ia kemudian beralih melirik kalender di samping jam wekernya itu. Ia pun membuka mulutnya dan bergumam, “Jum’at, 10 Januari 2020.” Setelah mengatakan itu, wajah gadis yang diketahui bernama Amel itu menampilkan senyum simpul.
Ia pun segera bangkit dari tempat tidurnya dan berlari menuju ruang keluarga. Kenapa ia terlihat sangat bahagia? Tentu saja karena hari ini adalah hari ulang tahunnya.
Langkah kakinya mulai melambat saat ia sampai di tangga. Amel terpesona dengan bunga-bunga yang tertempel pada tangga tempat ia berpijak saat ini. “Mereka sangat cantik,” batinnya.
Sekarang Amel telah sampai di ruang keluarga. Ia kembali dibuat kagum. Ruang keluarganya sekarang telah penuh dengan hiasan. Dinding dengan balon-balon dan tulisan “happy birthday” yang sepertinya baru saja ditulis—terlihat dari warna merah menyalanya, kursi-kursi dengan tumpukan hadiah dan beberapa pernak-pernik yang lumayan ekstrem, serta beberapa coklat di atas meja.
Kemudian, dari kegelapan orang tuanya muncul sambil membawa kue dan menyanyikan lagu ulang tahun. Amel pun meniup lilin berbentuk angka 16 yang tertancap di atasnya.
“Makasih Ma, Pa,” ucapnya dan dibalas senyuman oleh orang tuanya.
“Nah sayang, ayo potong kuenya!” Amel mengangguk kemudian memotong kue ulang tahunnya itu. Kedua orang tuanya bertepuk tangan lalu mengajaknya makan makanan yang sudah di buat mamanya.
Saat mereka makan hanya suara sendok dan garpu yang terdengar, sampai Amel bertanya, “Ma, Pa, bunga-bunga yang dibuat hias tangga itu bunga apa aja? Cantik banget.”
“Mawar merah tua, lily putih, marigold, red spider lily.” Amel mengangguk tanpa mengetahui apa-apa. Dan keluarga itu pun melanjutkan makan mereka.
Saat selesai makan dan hendak kembali ke kamar, Amel di ajak orang tuanya untuk jalan-jalan. Amel tak bisa menolaknya setelah apa yang mereka lakukan di hari ulang tahunnya. Amel setuju, dan keluarga itu pun pergi keluar rumah menggunakan mobil.
Selama perjalanan, suasana di dalam mobil sunyi begitu pun jalan yang mereka lewati. Amel merasa aneh, karena biasanya orang tuanya akan banyak bicara sampai-sampai ia akan memilih tidur selama perjalanan.
“Mungkin Mama dan Papa sedang merencanakan sesuatu di tempat tujuan,” pikir Amel. Amel pun memulai pembicaraan, “Ma, Pa, yang hias semua itu kalian? Bibi ke mana?”
“Bibi lagi pulang kampung sayang. Penting katanya,” jawab sang Papa. Dan suasana menjadi sunyi kembali.
Ah, mengenai jalan yang keluarga itu lewati ... Ya, jalan yang mereka lewati sepi. Mungkin karena ini tengah malam? Dan lagi, samping jalan itu hutan. Jadi lumayan wajar. Tapi, kenapa orang tuanya lewat jalan itu? Memangnya ke mana mereka akan pergi?
Orang tuanya tidak memberitahu Amel, dan Amel memilih untuk tidak bertanya karena berpikir ini adalah kejutan untuknya.
Sudah sekitar satu jam keluarga itu pergi, namun sampai sekarang mobilnya masih belum berhenti yang berarti mereka belum sampai ke tempat tujuan. Amel yang bosan memilih untuk melihat ke luar mobil karena hujan turun pada saat itu. Namun, tiba-tiba ia teringat sesuatu.
Mama dan Papa Amel adalah seorang dokter spesialis bedah. Karena itu orang tuanya kerap tiba-tiba pergi ke rumah sakit—sama seperti kali ini. Sore ini, Amel dan orang tuanya sedang menghabiskan waktu bersama setelah beberapa hari dan sedang membahas ulang tahunnya.
“Sayang, bagaimana kalau nanti malam kita pergi ke luar untuk merayakan ulang tahunmu?” tawar Papanya dan langsung dibalas anggukan oleh Amel. Namun, tiba-tiba telepon orang tuanya secara bersamaan berdering dan mereka mengangkatnya.
Sepertinya Amel tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Dan dugaannya benar. Setelah selesai mengangkat telepon, wajah kedua orang tuanya terlihat sedih dan menyesal. Kedua orang tuanya meminta maaf kepadanya karena mereka harus kembali bertugas, dan tujuan mereka adalah luar kota.
Amel menampilkan wajah baik-baik saja, dan berkata tidak apa pada kedua orang tuanya walau sebenarnya ia merasa sedih. Amel memaklumi hal itu, karena orang lain lebih membutuhkan orang tuanya dibanding dirinya.
Orang tuanya sangat menyesal sampai menawarkan untuk ikut ke luar kota bersama mereka, tapi Amel menolak. Karena esok harinya ia akan mengadakan pesta bersama teman-temannya. Dengan berat hati, orang tuanya pun pergi ke luar kota saat itu juga.
Seketika detak jantung Amel berdetak tak beraturan dan keringat dingin mengucur deras. Jika orang tuanya pergi ke luar kota, lalu siapa yang sedang bersama dengannya? Amel berusaha bersikap seperti semula agar kedua orang itu tidak sadar jika ia mengetahui bahwa mereka bukan kedua orang tuanya.
Amel memberanikan diri untuk bertanya, “Ma, Pa, kita mau ke mana? Kenapa dari tadi belum sampai juga?”
“Kita akan pergi ke rumah sakit tempat Mama dan Papa bekerja,” jawabnya. “Apa? Benarkah? Ini hadiah yang sangat indah. Terima kasih,” ucapnya antusias agar kedua orang itu tidak curiga dan sepertinya itu berhasil.
Tiba-tiba orang yang menyamar sebagai Papanya menghentikan mobil. Ternyata mobil yang mereka tumpangi mogok. Amel sebenarnya bisa kabur, tapi ia penasaran kenapa mobil orang tuanya bisa ada bersama mereka.
Dan lagi ... Kenapa Amel bisa tertipu dengan mereka? Karena mereka sepertinya memakai topeng menyerupai wajah orang tuanya, dan itu terlihat sangat mirip.
Sepertinya sekarang kedua orang itu sudah selesai memperbaiki mobil ini. Mereka masuk ke dalam mobil dan melanjutkan perjalanan. Selang beberapa waktu, orang yang itu pun menghentikan mobil, sepertinya mereka sudah sampai ke tempat tujuan. Namun, tiba-tiba Amel merasa pusing dan pingsan.
Saat terbangun, Amel sudah dalam keadaan terikat di sebuah ruangan yang sepertinya berada di dalam rumah sakit tadi. Tiba-tiba dua orang yang menyamar menjadi orang tuanya masuk. “Oh, kau sudah sadar rupanya,” ucap salah satunya.
“Mama, Papa, kenapa aku di ikat?” Amel berusaha bersandiwara.
“Hentikanlah sandiwaramu itu! Kami tahu kau sudah sadar kami bukan orang tuamu.” Amel terkejut. Apa? Bagaimana? Bagaimana mereka bisa tahu? Pertanyaan itu tampak jelas pada wajahnya.
“Sandiwaramu tadi memang terlihat sangat alami, kami hampir saja tertipu. Tapi keringat dingin yang mengucur dari pelipismu membuat kami sadar bahwa itu hanyalah sandiwara,” tambahnya.
Setelah mengatakan hal tersebut, salah satunya keluar ruangan, dan yang satunya terlihat sedang menyiapkan sesuatu. Tiba-tiba orang yang sedang menyiapkan sesuatu, membuka mulut dan berkata, “Apa kau tidak ingin tahu kenapa kami menculikmu? Ah sudahlah, biar aku ceritakan langsung saja.”
“Dulunya, rumah sakit ini adalah rumah sakit yang sangat terkenal di kota ini. Orang-orang biasanya berobat kesini karena reputasinya itu. Hingga suatu hari, ada rumah sakit gratis yang buka. Karena gratis, orang-orang jadi tertarik untuk berobat di sana. Dan ternyata pelayanannya pun bagus. Alhasil banyak orang yang lebih memilih berobat di sana, ketimbang berobat di sini. Membuat kami harus menutup rumah sakit ini. Dan orang tuamulah yang mendirikannya.”
Setelah mendengar itu, Amel hanya terdiam. Lebih tepatnya ia sedang mencoba melepas tali yang melilit tubuhnya. Setelah berhasil melepaskannya, dan melihat ada peluang, Amel pun kabur dari ruangan tersebut.
Ternyata ia langsung ketahuan oleh orang yang menyamar sebagai Mamanya yang menyiapkan sesuatu di ruangan itu. Segera, Amel mempercepat langkah kakinya. Saat sedang dalam pelariannya, tiba-tiba Amel melihat orang yang menyamar sebagai Papanya yang keluar tadi berjalan dari depannya.
Amel segera bersembunyi di ruangan terdekatnya. Saat sedang bersembunyi, ia hampir saja melakukan sesuatu yang bisa membuat dua orang itu menemukannya. Amel hampir saja teriak karena ternyata ruangan yang ia masuki adalah ruangan tempat dua orang itu menaruh mayat dari korban-korbannya.
Tapi untunglah Amel segera membekap mulutnya sendiri dengan tangan. Sebenarnya ia sudah lumayan beradaptasi dengan tempat ia bersembunyi saat ini. Tapi mayat-mayat yang sudah tidak wajar itu membuatnya merasa mual. Ya, sepertinya kedua orang itu psikopat. Dari seluruh mayat yang ia lihat di ruangan ini, tak ada satu pun yang utuh.
“Hei kau mau ke mana?” tanya orang yang menyamar sebagai Papanya kepada orang yang menyamar Mamanya. “Mau ke mana lagi? Pergi mencari gadis itu. Dia kabur.” Di tengah perbincangan mereka, tanpa sengaja Amel menyenggol benda kaca di sampingnya yang membuat kedua orang itu menoleh ke arahnya.
Saat itu juga Amel merasa sangat panik. Detak jantungnya menjadi sangat tidak beraturan, nafasnya tersengal, dan keringat mengucur begitu deras sampai membuat bajunya basah. Di dengarnya suara langkah kaki menuju ke ruangan tempat ia sembunyi kemudian tiba-tiba suara itu menjauh dari sana.
Amel mengumpulkan keberaniannya untuk mengecek keluar apakah orang-orang itu sudah pergi atau belum. Pintu ruangan itu perlahan dibukanya, dan ia tidak melihat mereka. Ia pun menghela nafas lega dan hendak melanjutkan pelariannya. Namun, saat ia hendak melangkah, tiba-tiba ia merasakan kepalanya di pukul sesuatu dan Amel pun tak sadarkan diri.
Ia kembali terbangun di ruangan tempatnya di ikat tadinya. Itu berarti, kedua orang itu berhasil menangkapnya. Matanya pun melirik ke bawah. Betapa terkejutnya ia saat mendapati ada pisau yang ditancapkan pada kedua tangan dan kakinya—ia refleks berteriak.
“Itu akibatnya jika kau macam-macam!” cetus salah satunya. Amel saat ini bimbang, apakah ia harus menyerah—tidak melakukan apa-apa jika nanti tubuhnya akan di mutilasi. Jika tidak, apa ia bisa kabur untuk kedua kalinya? Mereka memperketat penjagaan dan ada pisau yang ditancapkan ke tangan dan kakinya. Untuk melepaskan diri saja akan begitu sulit, apalagi untuk kabur.
Melihat Amel yang sepertinya tidak akan melakukan perlawanan lagi, dua orang itu pun mencabut pisau yang mereka tancapkan pada tangan dan kaki Amel. Tujuannya? Tentu saja agar Amel kembali melarikan diri dan menjadi hiburan untuk mereka berdua. Tapi nyatanya Amel tetap seperti semula—tidak ada semangat untuk melarikan diri.
Akhirnya mereka pun melepaskan tali yang di ikat pada Amel, dan tanpa diduga Amel langsung menyambar kunci yang ada di kantung baju salah satunya kemudian lari sekencang-kencangnya. Sebenarnya ia sudah bangun dari tadi dan mendengarkan beberapa percakapan mereka.
Dari percakapan itu ia tahu cerita yang di ceritakan salah satunya tadi hanya tipuan. Orang tuanya masih hidup, hanya saja mereka berhasil mencuri mobil milik orang tuanya itu, dan berniat menjadikannya tawanan untuk memeras orang tuanya kemudian mereka akan membunuhnya.
Saat ini ia sudah berada di luar rumah sakit itu. Keberuntungan sedang berpihak padanya yang langsung menemukan jalan keluar. Ia pun segera menyalakan mobilnya dengan kunci yang ia bawa dari orang tadi. Ya, ia akan kabur menggunakan mobil. Amel cukup hebat dalam mengemudikan mobil, tapi ia tidak bisa lega karena itu.
Karena kedua orang itu berhasil menyusulnya menggunakan mobil yang entah dari mana mereka mendapatkannya. Mereka juga lumayan hebat dalam mengemudikan mobil. Buktinya jarak antara mobil mereka dengannya semakin tipis.
“Hah ... Hah ... Hah ...” Amel terbangun dari mimpi buruknya. Ia tak habis pikir bagaimana ia bisa mengalami mimpi yang sangat menakutkan itu. Ia pun menengok kanan dan kiri. Ia lega mendapati kedua orang tuanya tidur di sampingnya. Ia merasa aman dan hendak melanjutkan tidurnya namun ....
“Pa, Ayo cepat! Amel pasti sudah menunggu kita,” desak seorang wanita pada suaminya.
“Iya Ma, ini Papa juga lagi ngebut,” jawab sang suami menenangkan sang istri.
Tak lama setelah percakapan itu, terdengar suara tabrakan serta teriakan. Ya, mobil tersebut mengalami kecelakaan. Esok harinya ....
“Mel turut berdukacita ya,” ucap tamu terakhir yang melayat ke pemakaman orang tuanya. Ya, pasangan suami istri yang mengalami kecelakaan tadi adalah Mama dan Papa Amel.
Kembali pada Amel yang sedang mematung. “Mama dan Papa kan sudah meninggal? Lalu, siapa orang yang sedang tidur di sampingku?”