Menik, Wati dan Whidie adalah perampok paling handal di kota Puyeng. Kota Puyeng adalah kota yang dipenuhi dengan kabut putus asa. Kesenjangan sosial antara si kaya dan si miskin nampak terlihat jelas.
Agensi perampokkan yang menaungi Menik, Wati, dan Whidie, memiliki motto, 'Membantu yang lemah.' Mereka hanya mendapatkan 30% dari hasil perampokkan mereka, sisanya disumbangkan ke rakyat kecil. Agensi mereka bernama 'TYL Agency'.
Sungguh mulia bukan? Walaupun dengan cara yang salah.
Aku akan menceritakan aksi yang mereka lakukan, sebelum mereka pensiun. Informasi ini aku dapatkan dari Menik sebagai narasumber.
Baiklah mari kita mulai kisahnya.
....
Ada seorang janda kaya raya yang terkenal di kota Puyeng, namanya Dewi. Orang-orang akrab memanggilnya Madam D. Ia merupakan pensiunan dokter. Saat masih muda ia selalu aktif melakukan pekerjaan suka rela, membantu orang-orang miskin yang membutuhkan. Ia tak memiliki anak, dan tidak pernah menikah lagi sejak suaminya meninggal secara misterius bertahun-tahun yang lalu.
Ia sekarang hanya tinggal sendiri rumah tuanya yang besar, di temani oleh para pelayannya. Suatu hari, TYL Agency mendapatkan informasi bahwa Madam D harus bepergian ke luar kota selama beberapa hari. Dari apa yang mereka tau, jika Madam D sedang tidak berada di rumah, maka para pelayannyapun diliburkan dan tidak berada di sana, di rumah Madam D.
Akhirnya Menik, Wati dan Whidiepun sebagai perampok senior diutus untuk merampok rumah Madam D.
....
Madam D pergi dari rumahnya sekitar pukul 10 malam.
Menik, Wati dan Whidie mulai memasuki rumah Madam D melewati pagar belakang rumahnya. Mereka lalu masuk ke Rumah bagian belakang yang terhubung langsung ke lorong bawah tanah. Mereka yang penasaran segera mengikuti kemana lorong tersebut bermuara.
"Apa Madam D menyimpan banyak harta di bawah tanah ini?" Kata Menik sambil menari-nari bahagia.
"Kuharap kita bisa menjadi miliader setelah ini, dan membangun agensi perampokkan sendiri." Kata Whidie sambil menangkupkan kedua tangannya dan menatap langit-langit lorong. Ia sudah berhayal sampai ke langit ke tujuh.
"Kau benar juga, Whid. Aku sudah bosan bekerja dengan bos kita yang tukang atur itu! Mana gaji kita selalu dipotong," gumam Menik sambil ikut berhayal.
"HUUEEKKK...."
"Kamu hamil?" Menik mengalihkan pandangannya ke arah Wati yang sedang muntah di tengah-tengah misi.
"Berapa bulan?" Timpal Whidie dengan polosnya.
"HUUEKKK...." Wati muntah lagi, sambil menunjukk ke arah depan.
Menik dan Whidiepun mengalihkan pandangannya ke depan. Mereka terkejut dengan apa yang mereka saksikan di hadapan mereka sekarang, hingga bola mata mereka hampir jatuh ke lantai.
"B-ba-gai-mana bi-bi-sa?" Kata Menik terputus putus.
Wajah mereka sekarang sudah sepucat kapas yang belum dipakai.
Mayat-mayat yang diawetkan, ditempatkan di sebuah tabung kaca di ruangan ini. Bukan mayat biasa, tubuh mereka sudah di sambung dan dengan jahitan asal, menggunakan bagian tubuh orang lain.
Tubuh para mayat, ada yang menyerupai kepiting karena banyaknya kaki dan tangan tambahan. Ada yang berkepala dua dengan tubuh tanpa tangan. Ada yang hanya memiliki empat kaki, tanpa tangan. Dan berbagai macam bentuk lainnya.
"Kita harus keluar dari sini, lupakan saja pikiran kalian tentang menjadi kaya," kata Wati yang akhirnya mulai bersuara.
Mereka semuapun bergegas menuju pintu tempat mereka masuk lagi. Akan tetapi, belum sampai menyentuh ambang pintu, terdengar suara pintu terkunci dari luar. Merekapun segera berlari lebih kencang, dan menggapai pintu yang mereka harap masih bisa terbuka. Hasilnya nihil, karena pintu sudah terkunci sepenuhnya. Pintu ini memiliki lubang, lubang tersebut tercipta dari kayu-kayu yang tak terpotong rata dan menciptakan celah. Menik mengintip dari balik pintu, lewat lubang tersebut. Dan ia mendapati Madam D sedang tersenyum ke arahnya. Senyumnya sangat mengerikan hingga, Menik memundurkan langkahnya perlahan.
Wati yang penasaran dengan apa yang dilihat Menik, segera mendorong pelan bahu menik dan mulai mengintip. Ia melihat Madam D masih berdiri di sana sambil tersenyum dan melambaikan tangan, seolah olah sedang menyapa Wati. Wajah Wati memucat hingga ia jatuh terduduk.
Melihat respon kedua temannya setelah mengintip, Whidie pun ikut mengintip untuk mengetahui apa yang ada di balik pintu. Ia ikut terkejut, mengetahui Madam D berada di balik pintu, tapi tubuh Whidie tetap mematung. Madam D mendekatkan dirinya ke arah pintu. Lalu berkata, "Kalian tidak akan bisa kemana-mana," sambil tertawa nyaring memenuhi kekosongan malam.
Mereka bertiga berusaha mencari pintu keluar untuk melarikan diri, hingga mereka menemukan sebuah pintu di langit-langit lorong tempat mereka terkurung sekarang. Merekapun mulai memanjat. Ternyata ruangan tersebut terhubung dengan ruang tamu rumah Madam D. Mereka harus mencari jalan keluar.
"DORRR...." Terdengar suara tembakkan, disusul tubuh Whidie yang langsung ambruk ke lantai. Darah merembes di dadanya.
"Kalian tau? Aku membayar mahal bos kalian, untuk tubuh kalian. Kalian sudah lihat bukan apa yang berada di bawah sana? Kalian bisa menjadi koleksi baruku yang cantik." Menik dan Wati menoleh ke arah Madam D yang sudah tersenyum di belakang mereka.
Wati melemparkan vas bunga ke arah tangan Madam D, hingga membuat pistol di tangannya terjatuh. Menik berlari ke arah pistol tersebut dan menendangnya ke bawah sebuah lemari. Wati hendak menyerang Madam D dari dekat karena ia pikir Madam D sudah tidak memiliki senjata, tapi ternyata ia salah. Madam D mengeluarkan pisau dari pinggangnya dan mulai menyerang Wati. Mereka bergumul di lantai hingga Madam D berhasil menusukkan pisau di perut Wati. Menik yang berusaha menolong Wati segera mengambil kursi kayu di dekatnya dan memukulkannya ke arah kepala Madam D. Akan tetapi, tangan Madam D lebih cepat daripada Menik, ia sempat menggorok leher Wati sebelum akhirnya ia jatuh terkulai dilantai setelah Menik memukulnya dengan kursi. Belum merasa puas, Menik melempar vas bunga terdekat ke arah kepala Madam D hingga darah mengalir di kepalanya.
Menikpun berlari keluar dari rumah tersebut, meninggalkan teman-temannya yang sudah tak bernyawa. Malam itu, ia juga pergi meninggalkan kota Puyeng, dan tak berniat untuk kembali lagi.
....
Aku yang sedang membagikan uang pendapatanku kepada rakyat miskin, sejenak perhatianku teralihkan. Aku membaca berita utama yang banyak tertulis di koran-koran hari ini.
'Dua perampok yang berusaha melakukan pencurian dan percobaan pembunuhan di rumah Madam D, ditemukan tidak bernyawa. Tersangka diduga meninggal saat Madam D berusaha membela diri. Untungnya para dokter berhasil menyelamatkan nyawa Madam D yang pada saat ditemukan sudah dalam kondisi tak berdaya di lantai rumahnya....'
"Maafkan aku," gumamku saat membaca berita tentang kematian dua anak buahku.
End/Selesai