Aku bekerja di sebuah perusahaan penerbitan, perusahaan aku terletak di pinggiran kota namun masih gampang terakses karena memang tak begitu jauh dari pusat kota. Kantorku bukan gedung berlantai tinggi seperti yang kalian pikirkan, kantorku mirip rumah namun sangat besar dan luas, banyak beberapa ruangan-ruangan yang hampir semuanya di gunakan karena memang perusahaan penerbitan tempat saya bekerja memang memiliki sekitar 40 karyawan yang bekerja di bidang masing-masing, perusahaanku memang cukup maju dan terkenal. Banyak buku novel, buku studi dan lain-lain yang telah kami terbitkan.
Aku bekerja sebagai editor yang bertugas atau bertanggung jawab terhadap keseluruhan fungsi penyuntingan (editing) pada suatu naskah di perusahaan penerbitan maupun media. Sehari-hari tugasku mencari, memperbaiki dan menerbitkan naskah tulisan maupun gambar pendukung. Hingga aku dan team sering sekali lembur sampai larut malam, awalnya kami biasa saja tak ada hal aneh sama sekali di sana.
Oh iya, ada satu ruangan yang sering terdengar suara-suara gaduh yaitu ruangan owner perusahaan ini. Namun jika aku masuk untuk memberikan berkas, ruangan biasa saja, sepi yang terdengar hanya suara ketikan keyboard dimana si bos bekerja. Saya juga mengedarkan pandangan ke setiap sudut ruangan namun tak ada hal yang aneh.
" Ada apa? apa masih ada yang ingin di laporkan." Suara si bos membuyarkan rasa penasaranku.
" Oh... itu... tidak ada pak, permisi." aku pun keluar begitu saja.
Tepat pukul 10 malam dan si bos sudah pulang, aku permisi kepada rekan team ku untuk ke toilet, padahal itu hanya sebuah alasan agar aku bisa pergi ke ruangan si bos yang memang tidak pernah di kunci. Aku membuka pintu ruangan, seperti sebelumnya tidak ada keanehan sama sekali disana. Aku berkeliling melihat-lihat siapa tahu ada hal yang bisa aku temukan disana, aku bahkan mencarinya hingga ke meja bosku. Dengan berani aku duduk di kursi bosku dan ternyata sangat nyaman, ketika aku menikmati nyamannya kursi yang aku duduki, pandanganku tertuju pada satu patung yang bentuknya sangat menarik perhatianku. Patung berbentuk kepala ikan yang memiliki badan manusia dengan memegang tongkat seperti tongkat yang sering di lambangkan untuk devil. Aku menariknya ternyata ada tali kecil berwarna emas di bawahnya, tiba-tiba ada suara terdengar dari belakang kursi yang aku duduki. Rak buku besar yang terdapat di belakang kursi yang aku duduki terbuka, sebuah cahaya yang sangat terang muncul disana yang membuat mataku sulit untuk melihat. Karena rasa penasaranku yang sangat besar, aku berjalan maju selangkah demi selangkah hingga aku berada di sebuah trotoar.
Aku terkejut saat mendengar suara air terjun di sana, aku terus masuk ternyata aku keluar dari bawah air terjun, aku terus berjalan menyusuri hutan dan tak berapa lama aku kembali tertegun dengan apa yg aku lihat, aku berada di pinggir jalan yang sangat lebar dan yang membuat aku tercengang yaitu jalan tersebut masih hanya sebuah tanah saja di lihat dari bekasnya, hanya ada bekas roda dan kaki kuda. tiba-tiba terdengar keramaian dari kejauhan, aku berjalan menuju keramaian yang aku dengar. Ternyata itu orang-orang yang sedang main sabung ayam, belum berapa lama aku ada di sana tiba-tiba orang-orang pada berlarian ketika sebuah hembusan angin kencang menerjang mereka. Penduduk disana pada masuk kerumah mereka lalu mengunci pintu dan jendela mereka rapat-rapat. Aku yang kebingungan lalu di tarik oleh seseorang dan membawaku masuk kedalam rumahnya, aku yang terkejut dan bingung hanya bisa menatap orang itu dengan penuh tanda tanya.
" Sebenarnya ada apa ini?"
" Sssttttt ..... jangan berisik, nanti dia dengar."
" Siapa?"
" Diamlah, nanti kau bisa lihat sendiri."
Tiba-tiba ada sesosok makhluk besar dengan cakar yang tajam di kaki dan tangannya, tubuhnya memang seperti manusia dan berbadan singa namun berkaki seperti elang serta memiliki sayap di punggungnya. Wajahnya bak kelelawar besar hingga aku hanya bisa tercengang melihatnya tanpa bisa berkata-kata. Ada seekor kambing berjalan di depannya lalu ia cengkram dan di cabik-cabik hingga hancur lalu makhluk itu memakannya sekali telan saja setelah itu si mahkluk pergi begitu saja walau sesekali masih melirik kesegala arah untuk mencari mangsa.
Akhirnya kami bisa bernafas lega, seseorang yang menolongku itu pun menghela nafas lega.
" Sebenarnya itu mahkluk apa?" tanyaku yang sangat penasaran.
" Itu namanya Aslander makhluk mitologi yang suka daging dan darah segar, penglihatannya memang buram tapi ia sangat peka pada suara maka dari itu jika dia muncul jangan ada suara sedikitpun."
" Sebenarnya ini dimana?"
" Ini dunia dimana monster-monster dengan ukuran besar berkeliaran."
Aku melihat sekeliling rumah ternyata sangat mewah dan lebih modern dari rumah-rumah dimana duniaku tinggal namun jika dilihat di liat hanya berdinding kayu dan beratap ijuk.
" Aku tak mengerti, diluar begitu biasa seperti desa yang tertinggal namun di dalam rumah ini sangat modern dan canggih seperti ini, jalanan pun hanya tanah tanpa aspal ataupun beton."
" hehehe iya, kami memang hidup seperti ini, kami membuat rumah dengan ruangan yang kedap suara agar makhluk-makhluk itu tak menemukan kami. Jalanan yang kami buat juga hanya tanah agar makhluk-makhluk itu tak mengetahui bahwa ada kehidupan di sini, maka kami pun membuat luar rumah kami berwarna hijau dan terbuat dari kayu agar tak terlihat mencolok atau bisa berkamuflase dengan lingkungan sekitar."
" Bagaimana aku bisa pulang yah?" gumamku.
" Apa kau bukan warga sini? Oh iya aku sampai lupa, kau kan memang tak tahu soal dunia ini. Memangnya kamu datang dari mana?"
" Tadinya aku mendengar ruangan bosku yang selalu berisik namun pas aku masuk tak ada siapapun, aku penasaran dan akhirnya aku mendapatkan ruang rahasia ini, aku tiba-tiba berada di bawah air terjun dan berjalan menyusuri hutan kecil, sampailah aku disini."
" Jika kau ingin pulang, kau harus kembali ketempat dimana kau masuk, namun yang aku khawatirkan jalan menuju air terjun itu ada sesosok makhluk penjaga disana. Memangnya kau tak bertemu dengannya?"
" Tidak, aku sama sekali tak melihat apa-apa selain pepohonan yang rimbun."
" Syukurlah kau tak bertemu dengannya, jika kau melihatnya kau tak akan berada disini."
" Memangnya ada lagi makhluk selain Aslander?"
" Disini banyak sekali makhluk seperti itu, yang berbeda di air terjun itu bernama FishSpider yaitu perpaduan antara ikan dan laba-laba sehingga dia bisa berada di darat, pepohonan dan dalam air."
" Mengerikan juga, terus bagaimana aku bisa pulang?"
" Nanti kita pikirkan lagi, aku mendengar perutmu keroncongan."
Aku malu, pada saat-saat seperti ini perutku tak bisa di kompromi. Di meja di hidangkan banyak sekali makanan, kalau di dunia kita makanan ini biasa di hidangkan di restoran mewah namun disini hanya makanan rumah katanya dan ternyata dia memiliki istri yang cantik dan seorang anak laki-laki yang menggemparkan.
" Oh iya kita belum berkenalan, nama saya George." katanya sambil mengulurkan tangannya.
" James."
Kami makan sambil menyusun rencana untuk memulangkan aku ke dunia dimana aku berasal dan akhirnya George menemukan cara yang bisa membuat aku menuju air terjun tersebut.
Esok harinya aku, George dan ke 10 temannya mencoba mengelabui monster tersebut. Karena hampir semua monster di dunia ini nokturnal jadi kami bisa mengambil kesempatan di siang hari walau resiko masih saja ada.
Kami berjalan menyusuri jalanan setapak dimana aku pertama melewati masuk kampung ini, kami berjalan perlahan dan tak menimbulkan suara yang berarti, kami berjalan saling terpisah dua-dua agar bisa waspada. Saat kami sudah di tengah perjalanan tiba-tiba di atas pohon terdengar suara-suara walau masih jauh lalu kami terdiam mendengarkan dimana arah suaranya. Tapi tiba-tiba salah seorang teman kami di tarik keatas dengan jaring yang menjerat lehernya, kami terkejut lalu berhamburan ketika tubuh teman kami dijatuhkan dalam keadaan kering.
Kami mengeluarkan persenjataan kami yaitu pistol laser dan pistol yang menyemprotkan cairan panas penghancur bahkan besi pun bisa mencair. Namun gerakannya cepat hingga kami tak bisa menembaknya bahkan seorang teman kami kembali menjadi mangsa makhluk tersebut. Kami berlari ke arah air terjun sambil tetap waspada pada serangannya, namun aku terjatuh dan kakiku terjerat sehingga George mencoba membantuku ketika George berusaha memotong-motong tali jerat di kakiku yang memang agak susah, sebuah jaring hendak menyerang kami namun sedetik kemudian kami berhasil menghindar. Kami terus berlari sampai kami tiba di tempat yang banyak ilalang tinggi dan kami pun bersembunyi tanpa bersuara karena memang makhluk itupun peka terhadap suara sekecil apapun.
Kami terdiam beberapa saat, mencoba mendengar siapa tahu makhluk itu telah pergi. Salah satu teman kami mencoba berdiri untuk melihat situasi dan sedetik itu juga teman kami di jerat jaring monster itu, kami jadi semakin was-was dan takut. Tubuhku gemetar, kakiku seakan membeku tak bisa di gerakkan, tubuhku serasa tak bertulang. Akhirnya kami mencoba merangkak di balik ilalang dengan perlahan dan tanpa suara. Perjalanan yang hanya memakan waktu 15 menit menjadi panjang karena serangan FishSpider. Kami terus merangkak ketika FishSpider telah berada di belakang kami dengan cepatnya, aku menoleh ke belakang ternyata makhluk itu sangat besar dan mengerikan. Aku baru melihatnya karena dari tadi kami hanya diserang dengan jaringnya.
Semakin dekat walau kami berlari karena ukurannya yang besar, aku, George dan teman-teman yang tersisa terus melepaskan tembakan namun tak membuahkan hasil. Aku pun terus menembaknya sampai akhirnya tembakan cairanku mengenai matanya hingga mahkluk itu menjerit karena matanya hancur. Itu kesempatan bagi George yang membawa senjata basoka yang berisi bom dan cairan di tembakan ke arah FishSpider dengan tembakan itu akhirnya FishSpider tumbang lumpuh dengan tubuh setengah hancur dan meleleh, semua bersorak bahagia karena berhasil mengalahkan makhluk itu.
Aku pun berhasil sampai di air terjun tempat pintu keluar berada, aku memeluk George dan teman-teman lainnya. Aku sangat berterimakasih karena tanpa mereka aku tidak akan bisa kembali, aku juga meminta maaf karena karena aku, 3 orang teman telah gugur. Aku melambaikan tangan pada mereka dan berjalan ke bawah air terjun hingga akhirnya aku kembali ke duniaku berasal. Tepatnya kembali keruangan bosku, aku melihat bosku yang berdiri di depan mejanya menatap ke arahku.
" Seru masuk keruangan orang? bagaimana petualangannya?"
" Eh maaf bos, saya tak bermaksud lancang, saya kapok tak akan mengulanginya lagi. Maaf, kalau boleh tahu itu ruangan apa yah soalnya saya masuk ke dunia para monster."
" Itu adalah ruangan rahasia dimana rasa penasaran akan diwujudkan nyata disana, mungkin kau pernah bermain game sehingga kau mengharapkan atau penasaran bagaimana dunia game sebenarnya? Mungkin itu dunia yang kau lihat tadi. Pintu ini akan mengajak kita ke dunia yang kita harapkan atau menjawab rasa penasaran kita."
Sebenarnya aku masih bingung ternyata ada ruangan aneh seperti itu yang hanya mustahil bagiku namun ternyata benar-benar ada. Memang dunia itu tak bisa di tebak atau di ketahui seluruhnya, aku keluar ruangan bosku kembali ke tempat di mana rekan-rekanku berada.
Mereka memelukku satu persatu karena mereka tak dapat menemukanku seminggu ini ketika aku ijin ke toilet malam itu. Padahal yang aku tahu, aku hanya pergi sehari di dunia monster tapi ternyata aku telah hilang selama seminggu, aku tidak bisa mengerti semua ini! Apa kalian juga sepertiku?
Tamat