Zeta Orionis Wijoyo, seorang fotografer. Usianya baru saja menginjak 23 tahun, tapi kemampuannya sudah tak diragukan lagi. Di setiap kesempatan dirinya selalu mengabadikan momen- momen yang menurutnya indah. Hampir seluruh tanah di Indonesia pernah ia jajaki.
Bersama ketiga sahabatnya, mereka berkeliling Indonesia untuk mengeksplor pemandangan alam dan budaya yang beragam. Bahkan Zeze – panggilan akrabnya – sering memamerkan hasil bidikannya yang selalu bertemakan kekayaan negerinya pada kancah dunia. Kini dirinya juga sedang mempersiapkan pameran fotografi tunggalnya.
“Ze, kamu dimana?” tanya suara diseberang sana.
“Sebentar lagi sampai, Mel. Ini si Bima nyetirnya lama,” jawab Zeze melirik ke sebelah kanannya.
“Enak aja, jalanan padat banget. Mending sekarang kamu tunggu di depan komplek, biar nggak puter balik,” instruksi Bima.
“Nggak, barang aku banyak. Pokoknya aku tunggu di rumah.”
Sambungan di putus sepihak, Zeze hanya menghela nafas pasrah. Memang diakhir pekan seperti ini jalanan akan sangat padat.
Bima menekan klakson mobil didepan sebuah rumah dengan gerbang yang menjulang tinggi.
Tidak lama gerbang itu terbuka lebar dan menampilkan seorang gadis yang tengah berkacak pinggang. Zeze turun dari mobil diikuti Bima.
“Bima, bantu masukin barang aku!” perintah Meli yang tengah menahan kesal, “Awas kalo nanti kita kejebak macet,” lanjutnya.
Zeze menepuk bahu Bima untuk memberinya semangat. Bima mengerti sinyal Zeze, dirinya hanya mengangguk. Zeze kembali masuk mobil, didalam terlihat Meli yang tengah melipat tangannya didepan dada.
“Tenang, Mel. Bima tahu jalan yang nggak macet,” hibur Zeze.
“Siap, semua?” seru Bima semangat.
“Yey, Yogyakarta!” seru Zeze yang juga diikuti Meli.
🚗🚗🚗
Setelah kurang lebih tiga jam lebih perjalanan darat tanpa istirahat, akhirnya tiga sekawan itu tiba di Yogyakarta. Zeze akan kembali berkeliling Indonesia untuk pameran tunggalnya. Ia akan kembali mengenalkan pada masyarakat dunia keindahan alam dan budaya di tanah airnya ini.
Kurang lebih satu minggu dirinya dan kedua sahabatnya akan mengeksplor semua kebudayaan di Yogyakarta, sebelum mereka melanjutkan menuju daerah lain yang tentunya tidak kalah indah. Tidak hanya memotret, disana mereka akan melakukan berbagai kegiatan.
“Kita kemana dulu nih?” tanya Meli yang sangat bersemangat sejak menginjakkan kaki di tempat ini.
“Nanggung udah sore, nanti malem aja kita keluar,” usul Bima merebahkan tubuhnya di sofa.
Destinasi yang cocok untuk dikunjungi pada malam hari adalah Malioboro. Disana ada banyak hal yang bisa dilakukan. Berbelanja, menikmati kuliner, berkeliling dengan naik becak atau andong, menikmati alunan musik yang ditampilkan oleh musisi jalanan. Sepertinya waktu dua minggu tidak akan cukup untuk menikmati kota Yogyakarta.
Zeze sudah larut dalam suasana ramai Malioboro, begitu juga Bima dan Meli. Mereka berdua tengah asyik dengan lagu yang dimainkan para pemain angklung dan perkusi. Tentu Zeze tidak mau melewatkan kesempatan untuk mengabadikan momen itu. Terkadang dia juga ikut bergoyang ketika diajak Meli. Setelah lelah menari- nari dengan diiringi musik yang memecah kesunyian malam, tiga sekawan itu memutuskan untuk mengisi perut.
Mereka menjatuhkan pilihan pada sebuah warung tenda dipinggir jalan sekitaran Malioboro. Menu gudeg menjadi pilihan Zeze, jujur ini adalah kali pertama dirinya merasakan masakan khas Yogyakarta itu. Walaupun ini juga bukan kali pertama dirinya berkunjung ke kota yang masih memiliki tradisi adat yang sangat kental ini, Zeze baru sempat mencicip gudeg sang makanan yang kini sudah dikenal oleh seluruh masyarakat lokal maupun dunia.
“Ze, ada bule tuh! Minta foto bareng dong,” ucap Meli semangat.
“Nggak ada, mending foto bareng aku. Aku juga bule,” jawab Bima sambil memakan sate telur puyuh.
“Aku maunya bule yang putih, nggak mau yang hitam.”
“Eh, aku eksotis ya. Cinta produk dalam negeri dong!”
Zeze menghiraukan kedua sahabatnya yang sedang bertengkar itu. Dirinya sedang fokus pada si ibu penjual gudeg yang sedang meracik seporsi nasi gudeg.
“Bu, boleh saya ambil gambar?” izin Zeze.
“Oh, tentu boleh cah ayu,” jawab ibu itu yang diketahui Zeze bernama Bu Sri dengan antusias.
Zeze membidik sebuah wadah berisi gudeg dan seporsi nasi gudeg lengkap dengan lauk pauknya. Terkadang dirinya juga memotret keramaian warung ini, walau sederhana tapi banyak yang datang. Bahkan banyak juga turis asing yang dengan lahap memakan gudeg buatan Bu Sri.
“Terima kasih, Bu Sri,” ucap Zeze senang menerima sepiring nasi gudeg.
“Kalian berdua bertengkar terus. Nih, makan!”
Tanpa mempedulikan Bima yang tadi merecokinya, Meli langsung melahap nasi gudeg itu. Zeze juga mulai menyantap makanannya, tak ketinggalan juga Bima.
“Enak.”
“Baru pertama rasain gudeg. Enak ternyata. Harus bawa buat oleh- oleh nih,” ucap Meli semangat.
Mereka bertiga menghabiskan malam di Malioboro yang semakin larut bertambah ramai. Ketiga sahabat itu baru kembali ke penginapan ketika jarum jam menunjukkan angka satu dini hari. Zeze membaringkan tubuhnya di kasur setelah membersihkan diri, dia sama sekali tak merasa lelah. Rasa lelahnya tergantikan dengan suara riuh Malioboro dan canda tawa orang- orang disana.
🚗🚗🚗
Banyak hal yang dilakukan Zeze, Meli, dan Bima selama di Jogja. Mulai dari ikut sebuah komunitas untuk membersihkan pantai dari sampah sampai ikut belajar menari di keraton. Kini dari Yogyakarta, mereka bertolak ke Bali dengan naik kapal Feri. Puja Mandala Nusa Dua Bali adalah destinasi pertama Zeze di Bali.
Puja Mandala merupakan tempat ibadah bagi semua umat di Indonesia. Terdapat 5 tempat ibadah di Puja Mandala yaitu Pura, Gereja Protestan, Wihara, Gereja Katolik, dan Masjid. Zeze dan dua sahabatnya berpencar ketika sampai tempat ini, Meli menuju Masjid untuk menunaikan shalat Dzuhur sementara Zeze dan Bima menuju Gereja Katolik.
Walaupun mereka berbeda agama dan kepercayaan, namun tak pernah terjadi perselisihan antara mereka. Semboyan Bhineka Tunggal Ika segera terbesit dipikiran Zeta. Semboyan itu juga yang membuat Indonesia tetap kokoh berdiri sampai sekarang.
“Yuk, lanjut lagi!” ajak Meli setelah mereka kembali berkumpul.
Matahari terbenam di Tanah Lot adalah tempat yang diincar Zeze. Gambar yang akan Zeze ambil selanjutnya adalah fenomena matahari terbenam di Tanah Lot. Tempat yang merupakan salah satu ikon pariwisata di Bali ini wajib dikunjungi saat sedang berwisata di Bali. Melihat banyaknya turis asing yang datang ke tempat ini membuat Zeze semakin bersemangat untuk mengenalkan tempat- tempat wisata dan ragam budaya yang ada di Indonesia kepada seluruh orang di dunia.
Zeze mulai membidik kearah pura yang disampingnya ada matahari yang mulai turun dan nantinya akan digantikan sang bulan. Tidak hanya Zeze yang mengabadikan momen tersebut, bahkan banyak juga turis yang ikut mengabadikan terbenamnya matahari.
🚗🚗🚗
Cerita perjalanan Zeze berakhir dan kini semua hasil bidikannya dipajang diseluruh ruangan. Hari ini Zeze memamerkan semua hasil petualangannya. Senyum Zeze terus mengembang melihat antusiasnya masyarakat lokal maupun asing yang tertarik dengan pamerannya.
“Wih, bagus! Kapan- kapan kesini dong,” ucap salah satu pengunjung ketika melihat salah satu hasil jepretan Zeze.
Zeze, Meli, dan Bima tengah memandangi foto masterpiece yang diambil Zeze. Lembah Baliem Wamena Papua, tempat yang mungkin masih jarang orang tahu keberadaannya. Banyak cerita ketika tiga sekawan itu menuju tempat itu, karena perjalanan dimulai ketika sang dewi malam sudah menghiasi langit.
Zeze menjadikan foto itu sebagai yang terbaik di antara yang lainnya, karena banyak cerita didalamnya. Zeze menepuk bahu Meli yang terlihat terharu dengan perjuangan mereka untuk mewujudkan pameran ini.
“Kita berhasil. Semoga setelah ini akan banyak orang yang tertarik dengan keragaman yang ada di Indonesia,” ucap Zeze.
End