NovelToon NovelToon
AndaiKata

AndaiKata

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Fantasi / Slice of Life
Popularitas:207
Nilai: 5
Nama Author: Elegi223

Qirana Velaryne Azzahra atau bisa kalian panggil gua rana/Luna Mahasiswa dari kampus swasta biasa, Gadis cantik harapan orang tua, itu sulit buat merealisasikannya, ketika gua beranjak dewasa, banyak hal yang gua sesali, terutama masa kecil gua, mungkin andai kata gua bisa balik ke masa itu, mungkin gua bisa merubah sedikit takdir gua, andai gua ngungkapin perasaan gua sejak dulu, pasti cowok yang gua suka bakal jadi pacar gua saat ini, andai gua fokus bangun diri gua, terutama bakat utama gua di bidang seni lukis, mungkin gua akan ada penghasilan tambahan, kenapa gua nggak bisa mewujudkan semua itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elegi223, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10 Kerinduan yang Mendalam

Saat itu Gua melihat Max lagi dan lagi, orang ini kayaknya ada di mana-mana dah, namun belum sempat memaki dia, seseorang yang sangat familiar terlihat jelas itu Delvano! kenapa dia kesini? apa dia kesini buat beli ganci Gua? atau ini takdir pertemuan kami kembali, seketika ketenangan yang selama ini selalu membentengi runtuh dalam sekejab, Gua merasa seperti ketahuan maling.

"apa ada edisi terbaru jen?"ucapnya masih dengan nada lembut yang sudah lama ku rindukan, mungkin karna ia orang sunda sehingga suaranya sangat halus menenangkan,

Max hanya diam namun Gua melihat sekilas ekspresinya yang nampak menunggu sesuatu, aneh sih orang ini yang bikin Gua kesal itu perkataannya yang nyolot dan sikapnya yang tidak bisa di tebak manusia.

"eh kamu vano? ah kamu juga Max? nggak ada sih kan kalian tau sendiri kalo itu susahnya minta ampun dapetin stok itu"ucap Jeni, Gua tau sih kalo dia mau kasih suprise untuk pelanggannya, tapi Gua justru baru tau kalo orang yang Gua sukai ternyata langganan di tempat ini.

Mereka saling tatap terutama Gua melihat Max yang nampak menahan amarahnya, ia berkata dengan nada beratnya yang khas "Habis lagi? kenapa cepat sekali habis"ucapnya yang bikin Gua kaget dia rupanya kolektor ganci, ini sungguh kabar yang bisa membuat teman-teman gempar.

"yah... padahal Gua udah lama nunggu edisi terbarunya QieronYc, tapi lo penasaran nggak sih siapa orang tersebut, kayaknya ia seumuran dengan kita"ucap Vano, nama tersebut adalah nama panggilan spesial dari Gua

ia menoleh ke samping mendapati Gua yang terpaku menatapnya, ia tersenyum lalu menyapa Gua, senyum yang Gua rindukan selama ini akhirnya bisa kuliat kembali, tanpa sadar air mata menelusuri disetiap sela wajah Gua, ia panik lalu mendekat, mengusap air mata Gua yang mengalir deras tanpa sadar,

tak lama setelah itu Gua sadar atas kelakuan Gua yang memalukan, jujur ini pertemuan pertama Gua di kehidupan ini, tapi Gua malah nangis nggak jelas, Gua akhirnya sadar dari kelakuan Gua menjauh kemudian berkata

"maaf..."cicit Gua dengan nada yang lirih, ia tersenyum kemudian berkata

"loh.... kamu kenapa minta maaf? nggak papa kok, kamu juga beli sesuatu juga disini?"tanyanya, Gua dengan bodohnya mengangguk, Jeni yang sedari tadi memperhatikan tingkah kami, menggelengkan kepalanya, ia terkejut dengan tingkah Delvano yang berlaku lembut pada lawan jenis, ia sudah mengenal Delvano sejak SD, karna ia bersekolah di tempat yang sama, Delvano, dengan nama panjang Delvano Mahesa seorang tembok berjalan menjadi gelar yang sering dibicarakan baik di kalangan anak seusianya maupun guru dan wali murid, ia terkenal dengan sifatnya yang dingin baik pada teman maupun guru, hanya ia tunjukan sifat humble nya pada orang terdekat, Delvano adalah anak tunggal dari pasangan orang yang berpengaruh di kota Palembang, termasuk cucu dari 9 naga di indonesia, ia sering di beri julukan si jenius cilik, namun di balik sikapnya tersebut, ia adalah orang yang soft spoken.

Sepanjang toko tangan Gua selalu bertaut dengan tangannya, Max hanya menatap kami dengan tatapan dingin tapi Gua ngerasa orang ini kayaknya cemburu. Kehangatan yang sudah lama kurindukan akhirnya kembali, termasuk penyesalan terasa semakin kuat, dada Gua terasa sesak mengingat cinta yang ia berikan padaku tapi karna kesalahpahaman tersebut membuat hubungan kami retak, ternyata kata "Andai Kata suatu hari Gua di beri kesempatan" nggak akan Gua sia siain.

ia berceloteh panjang menjelaskan beberapa koleksi maupun produk dari ko aceng sesekali Max mengkoreksi beberapa kesalahan, Gua merasa ia pemilik toko sesungguhnya, mata obsidiannya yang dalam menatap Gua begitu lekat, Gua terpesona dalam matanya hingga tak sadar hari menjelang sore, kami berpamitan dengan Jeni, Jeni tersenyum lalu memberikan semacam kode keras pada Delvano kalo "tancap gass teross sampek ke pelaminan" kalimat tersebut membuat Gua malu, terlihat jelas pipi mulus Gua memerah seperti tomat yang siap panen, Jeni semakin tertawa melihat tingkah absurb Gua, begitu pula Delvano yang tersenyum seperti biasanya.

begitu kami jauh dari toko ia mengajak Gua menuju ke taman yang biasa tempat bermain Gua ama anak anak yang lain, ya siapa lagi selain Yura and the gang cahaya sore menciptakan suasanya senja, matahari perlahan meninggalkan dunia sehingga terlihat lah perpindahan antara sore menuju malam,

"kamu kenapa bisa nangis melihat ku? apa ada yang salah dengan ku? apa kita pernah bertengkar?"ucapnya, memberi pertanyaan beruntun kepada Gua,

"ehh maaf... soalnya wajah kamu mirip seseorang..."ucap Gua, duh malu banget anjay rasanya Gua mau gali lobang buat nutupin rasa malu Gua

"oh maaf jika muka Gua ini buat kami nginget hal buruk itu"ucapnya dengan nada lembut seperti biasanya, Gua tersenyum dibawah terik matahari sore menciptakan suasana hangat, angin menerpa wajahku tak lupa dengan rambut panjang ku yang teruntai mengikuti arah angin tersebut hadir

Delvano terpaku menatap Gua, mungkin dia terpesona dengan Gua yang sekarang, kalo dulu mungkin nggak seintens itu natap Gua, menghadapi tatapan Delvano, Gua merasa gugup, waktu terasa terhenti sejenak, memberi kami sedikit jeda untuk saling memandang satu sama lain,

"aduh duh mesranya teman gue ini"ucap seseorang memecah suasana kami berdua, saat aku menoleh ternyata itu adalah Yura dan kawan-kawan,

"kamu kemana aja lana, aku nyariin kamu soalnya kak Rara nyuruh kamu pulang"ucap Erin

menanggapi pertanyaan Erin, Gua ngerasa bersalah, dulu Gua merasa kalo Gua selalu sendiri tapi sekarang Gua punya mereka yang selalu peduli pada Gua, baik itu suka maupun duka

"maaf rin Gua tadi sempat ke warnet eh taunya nyasar kesini"ucap Gua dengan sengiran tanpa dosa, Erin sudah tau kalo Gua adalah QieronYc, salah satu orang yang tengah di cari-cari wartawan maupun para brand-brand terkemuka.

"kamu ini ya lana, hmph!"ucap Erin mendengus sebal, Gua terkekeh melihat sahabat terdekat Gua yang memarahi Gua, bukannya Gua takut malah gemas sendiri, saat Gua melihat Delvano dan Alvin bersitatap, terlihat jika ada perang dingin di antara mereka

"siapa lo! beraninya lo culik teman kami!"ucap tegas Alvin, sebenarnya Gua udah tau kalo Alvin suka sama Gua tapi Gua menghargai Yura, sahabat pertama Gua, Yura pernah cerita kalo dia menyukai Alvin, namun Alvin sendiri tidak pernah menanggapi hal tersebut, malah berpaling ke Gua, itu sempat membuat hubungan kami renggang, namun Yura tau karna pesona Gua ini nggak main-main

"cih siapa lo berani banget nunjuk Gua"ucap tegas dan dingin Delvano, ia menatap balik Alvin dengan tatapan yang sama tajamnya

"udah... kalian ngapain sih malah bertengkar nggak jelas"ucap Max yang tidak kalah dinginnya ternyata sepanjang jalan cowok aneh ini ngikutin Gua, mereka bertiga seperti perang memperebutkan permen saat sengit Edward datang lalu berkata "udah deh kalian bersikaplah dewasa, sikap kalian tidak mencerminkan umur kalian, lagian Qirana nggak terluka sedikitpun"ucap tegas Edward ditengah perang dingin yang terjadi, mungkin jempol Gua ini kurang cukup buat apresiasi si Edward, Edward adalah seorang penengah di setiap masalah sama seperti Erin namun bedanya masalah di antara para cowok, dulu pernah terjadi pertengkaran antara Alvin dengan salah satu teman kelas Gua waktu SD, untung Edward menjadi penengah masalah tersebut sehingga tidak ada korban di antara keduanya.

Delvano, Max dan Alvin mendengus lalu membuang muka, jujur tingkah keduanya sangat lucu, seperti anak balita yang ngambek

Yura menatap sendu Alvin, jujur Gua tau perjuangan sahabat Gua ini, ia sejak SD gencar mendekati Alvin secara mesra, namun Alvin selalu menanggapinya layaknya adiknya.

kapan kau akan sadar perasaan Gua vin... tolong lirik aku sebentar aja... tebak ku melihat ekspresinya yang sayu.

Setelah pertengkaran tersebut kami berpamitan masing-masing, termasuk Gua berpamitan dengan Delvano, kami pulang kerumah masing masing begitu pula Max yang menatapku sebentar lalu menghilang orang ini datang tak diundang, pergi pun diam-diam.

***

Tak terasa sebulan sudah berlalu, selama liburan Gua sering mengunjungi tempat Ko aceng, sehingga tempat ko aceng adalah salah satu tempat yang kala itu ramai pembeli, membuat beberapa toko menatap iri, namun ko aceng tidak menikmati hal itu secara pribadi, ia juga memberikan solusi, yang akhirnya di setiap toko terpasang lukisan Gua yang membuat dagangan mereka kecipratan rezeki, suasana pasar 25 ini terasa sangat ramai, sebab kepadatan pembeli semakin meningkat setiap harinya, Gua nggak menjual gantungan kunci saja, baik lukisan, poster, maupun request poster juga Gua ambil, meskipun ko aceng juga ikut terlibat, tapi tetap harus ada konfirmasi dari Gua.

Hari pertama Gua sekolah Gua menjalani masa MPLS yaitu Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, hari pertama kami di suguhkan penampilan sekolah yang terlihat biasa saja, karna pembangunan di tahun pertama ini tidak segencar di tahun yang akan datang, disitu Gua bertemu kembali dengan Delvano, tentu Gua nggak sendiri ada juga Yura dan para kacungnya, Alvin masih menatap sinis Delvano, disitu juga ada Erin, Edwar, dan Max yang seperti biasa ada dimana-mana, mungkin karna penampilan Gua yang mencolok, mata Gua termasuk paling langka dari kebanyakan orang, Gua Yura, dan Erin menjadi pusat perhatian, sebab warna mata kami yang bebeda dengan siswa maupun siswi di SMP Negeri 33 palembang ini.

Acara berjalan dengan baik, tak lupa dengan kelakuan Yura yang absurb membuat ia menjadi orang yang mendapat teman paling cepat, ya Gua tau sifat Yura ini terlalu friendly namun sebenarnya tidak buruk jika ada Erin sebagai orang yang akan menyeleksi siapa saja yang layak menjadi teman maupun yang harus di hindari, tentu Gua sangat menghindari pembully Gua, tentunya berkat bantuan Erin, ya walaupun terkesan Gua kayak cewek manja, tapi Gua sangat senang sebab ada orang yang begitu peka terhadap Gua.

Nyahoo hehehe sampai jumpa di next chapter, ohya author cuma mau bilang terimakasih sudah membaca, SEE YOU

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!