Zara Ayleen adalah perempuan religius dari keluarga sederhana yang percaya bahwa hidup selalu punya jalan lurus untuk tetap dijalani. Namun satu malam yang kelam menghancurkan keyakinannnya. Dalam keadaan yang tak pernah ia kehendaki, Zara menjadi korban dari kesalahan seorang lelaki yang bahkan tak kenal dengan baik—Arsyad Faizandra Wiratama pewaris perusahaan besar yang hidupnya penuh kendali, kekuasaan dan kesombongan. Kesalahan itu memaksa mereka terikat dalam pernikahan tanpa cinta. Bagi Arsyad pernikahannya dengan Zara merupakan bentuk tanggung jawab bukan perasaan. Bagi Zara, pernikahannya dengan Arsyad adalah ujian terberat dalam hidupnya. Dibawah satu atap, mereka hidup sebagai suami istri yang asing. Arsyad dingin dan berjarak, sementara Zara memendam luka dan berharap dalam diam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon peony_ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Poin Satu Sama
Aku mencengkram kedua lengannya berusaha menahan tubuhnya. Wanita itu melotot menatapku, dari wajahnya terlihat sangat kesakitan. Ia berusaha untuk bangkit namun tidak bisa.
Aw… shit lututnya menekan daerah sensitifku, dia sengaja kah?.
“Shit… kamu gila ya!” Aku sedikit mendorong tubuhnya, kearah sofa.
“Aw…..ibu tolong kaki zara sakit…” wanita itu tetap meringis sambil memejamkan matanya, aku melirik kedua kakinya yang menegang mengeras memang benar kakinya keram.
Tanganku mengarah menekan jempolnya.
“Jangan sentuh!, astagfirullah ayah ibu tolong….” Tanganku tetap menekan jempol kakinya. Sampai rengekan dari wanita itu mereda.
Hening, sudah tidak ada lagi rengekan, tubuhku yang mendongak berbalik melihat wajahnya. Wanita tampak terpaku ditempat ditempat duduknya.
“Makasih,” ucapnya sambil menepis tanganku di masih berada dijempol kakinya.
“Cengeng”ucapku pelan.
“Hah… luka?” Dia menarik tanganku yang tadi dia tepis. Luka lebam bercampur dengan darah kering, bekas memukul tembok tadi.
“Selain menyakiti wanita, bapak juga emang suka ya menyakiti diri sendiri ya” Jujur, risih sekali dengan panggilan bapak dari wanita itu.
“Jangan sok tau dengan kehidupan saya, kamu tidak mengenaliku.”
Wanita bangkit dari duduknya berjalan dengan kaki yang masih terpincang-pincang. Meninggalkanku tanpa kata. Ia menuju lemari dan meraih kotak p3k. Apa yang akan dilakukan oleh wanita kecil itu. Kemudian kembali berjalan kearahku.
Wanita itu menghempaskan tubuhnya disebelahku, menarik tangan kiriku, kemudian membersihkan luka yang sudah mengering tadi.
“Begitupun bapak tidak mengenaliku.”
Perih, alkohol meresap pada kulit yang terbuka. Aku meringis mataku fokus melihat jemarinya yang cekatan membalutkan plester di tanganku.
“Imbas, kabaikanmu sudah terbalas, bapak yang menolong kaki keramku dan aku yang menolong luka ditangan bapak.”
Aku menatap manik matanya, aku menemukan binar lain diwajahnya, bukan sorotan mata yang dipaksa untuk menatap tajam, tapi sorot mata seseorang berawajah ceria, penuh warna di hidupnya.
“Aku pamit.” Ia berjalan kearah pintu kamarnya kemudian menutup pintunya.
Aku memandangi tangan kanan yang sudah terbalut rapi oleh kain kasa dan plester. Wanita itu paham juga soal seperti ini. Aku menyentuh kain itu, bayangannya saat memasang ditanganku begitu terekan jelas, manik matanya yang bulat dengan bulu mata yang lentik. Hidung kecil yang mancung, wanita itu terlihat sangat muda, berapa usia dia?, bahkan aku tidak mengetahuinya.
Suara ponsel bergetar disebelahkan, aku mencari keberadaan ponselku.
Sebentar bukan ponselku yang berbunyi, aku masih mencari keberadaannya. Dibalik bantal, tertera pada layar ponsel panggilan dari seseorang yang bernama ibu.
Ponsel wanita kecil itu.
Aku bangkit meraihnya, berjalan dan mnegetuk tegas pintu kamarnya.
“Ponselmu tertinggal.” Tidak ada jawaban. Apakah dia sudah tertidur.
“Heh Ayleen, seseorang menelponmu.”
Aku mematung cukup lama didepan kamarnya. Sampai terdengar pintu yang terbuka. Menampilkan seorang wanita yang sedang memakai mukena, dan…. Mengapa dia menangis?, ada bekas air mata yang masih mengalir dipipinya.
Dia menatapku sekilas. Kemudian tangannya menengadah tanpa kata. Aku memberikan ponselnya, panghilan ibunya tidak terjawab. Dapat disimpulkan wanita kecil didepanku ini adalah anak yang sangat manja.
“Saya lapar tolong panaskan masakan untuku!”
“Kenapa harus aku?”
“Kamu istriku, dan kamu wanita yang paham agama jadi seharusnya kamu tahu tugasmu apa?, mematuhi perkataan suami.”
Wajahnya tampak sedikit kesal. Dia mengangguk pasrah. “Istri sementara” ucapnya pelan.
“Tunggu, aku membereskan dulu ini”
Wanita itu mengikat sebagian rambutnya, mulai memanaskan kembali masakan yang mulai dingin. Tanpa banyak kata, hanya fokus dengan masakan itu. Aku mendudukan tubuh diatas kursi meja makan, menunggu masakan itu hangat.
Menu masakan masih mengepulkan asap. “selesai, aku balik ke kamar.” Ucapnya sambil melangkahkan kaki.
Aku menahannya dengan menarik lengannya. “Makan!, mbak Asih bilang kamu belum makan.”
“Aku gak laper.” Ucapnya tanpa menoleh kepadaku.
“Kalau kamu sakit saya juga yang repot, saya tidak mau terbebani dan mengurusmu yang sakit.”
“Biarkan saja, lebih baik aku pulang kerumah ada ibu yang akan mengurusku.” Benar, anak terakhir memang keras kepala.
“Makan walau hanya satu suap!”
Akhirnya wanita itu luluh, dia menarik kursi jauh disebrang tempat duduku, mulai menyantap makan malam dengn air mata yang mengalir, heran apa yang membuat dia menangis lagi. Perasaan perkataanku tidak menyakitnya.
***
Pagi hari, mood ku sudah hancur dipagi yang cerah ini, pasalnya Sabrine datang kerumahku pasti atas perintah mama. Wanita kesayangan mama ini sedang bergelayut manja dibahuku, aku hanya terdiam terlalu muak dengan kelakuan sabrine. Jika aku menepisnya bisa-bisa sabrine menelpon mama dan menyuruh mama untuk memarahiku, akan semakin ribet pagi hariku jika seperti itu.
“Wangi banget si mas.”
Aku hanya berdehem, sesekali memijat pelipis yang terasa pegal. Belum apa-apa aku sudah merasa capek. Belum lagi pekerjaan yang sedang menumpuk di kantor. Argh… sial kenapa sabrine harus datang kesini.
Suara pintu kamar terbuka, menampilkan wanita itu telah berpakaian rapi, memakai pakaian formal sepeetinya dia akan berangkat bekerja, baju batik dipadukan dengan rok hitam, serta penutup kepala yang membingkai rapi wajahnya. Wanita itu melirik kearahku dan sabrine sekilas, kemudian melanjutkan lagi langkahnya.
“Sabrine saya harus berangkat bekerja.”
“Sebentar lagi aja mas, aku masih kangen kamu sudah lama kita tidak bertemu.” Ucapnya merengek manja. Mendengarnya saja sudah membuatku jengah.
“Mbak Asih… aku berangkat dulu, dan sepertinya nanti akan pulang telat.”
“Oh… lagi lembur ya non, kalau begitu bawa candangan kunci rumah aja. Kebetulan mbak harus keluar, biasa jadwal menemui suami tercinta”
Samar aku mendengar percakapan mbak Asih dan wanita itu.
Aku bangkit tanpa memedulikan lagi keberadaan sabrine lagi.
“Oh itu ya istri paksaan itu. Tidak menarik, kenapa kamu bisa tergoda olehnya mas?”
Aku melirik tajam sabrine.
“Bukan urusanmu.” Ucapku ketus sambil melangkahkan kaki, membawa tas kerja. Dan berjalan melewati mbak Asih dan Ayleen yang masih mengobrol.
“Mas….”
Aku menghiraukan panggilan dari Sabrine.
Aku menekan pedal gas, mobil melaju dengan cepat.
*
*
Jangan lupa like, komen dan vote ya teman-teman. Dukungan kecil kalian sangat berati untuku💗