"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"
Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.
Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TIBA-TIBA RESTU
Setelah ketegangan tadi, Arnold merebahkan tubuhnya di ranjang empuk pondok penginapan. Pikirannya terus tertuju pada Anjani yang baru saja ia antarkan pulang.
"Kompres luka mu itu,"
Arnold menoleh, mendapatkan Kelavin yang sudah berdiri di ambang pintu kamarnya dengan menyilangkan kedua tangannya. "Ck, pergilah." usir Arnold tanpa menghiraukan Kelvin.
Pria berkacamata itu memutar matanya malas, ia terkejut karena wajah Arnold babak belur. Arnold adalah orang gila, itu yang bisa ia cap pada sang atasan. Pak Harto memberitahu kepadanya, kalau ada orang pria yang di hajar habis-habis, saat dirinya akan pergi ke warung terdekat.
Ternyata dan ternyata pria itu adalah Arnold. Arnold adalah juara nomor satu kalau perihal bertengkar, tapi entah mengapa sekarang ia yang babak belur. Kelvin melempar handuk kecil, dan meninggalkan pria itu seorang diri.
Kamar mereka terpisah, kamar cukup luas bila hanya di tempati oleh satu orang saja, tapi Kelvin maupun Arnold enggan untuk tidur satu kamar, karena hanya memiliki satu kasur berukuran besar.
"Kelvin,"
Kelvin menoleh malas dan kembali memasuki kamar Arnold, ia penasaran apa yang akan pria itu perintahkan kepadanya. "Katakanlah,"
"Bukankah Anjani sangat cantik dan cocok bila bersanding dengan ku di pelaminan nanti?" tanya Arnold dengan terduduk di pinggiran ranjang.
Kelvin mengangguk, ia tidak munafik menyebut Anjani sangat cantik alami terlebih fresh face nya sungguh menyejukkan hati siapapun termasuk dirinya.
"Tuan Besar menelpon,"
Mendengar nama sang Ayah di sebut, Arnold berdecih pelan. Arnold dan sang Ayah bukan seperti kebanyakan orang tua dan anaknya, mereka berdua tidak akur dan lebih sering beradu mulut bila sudah berkumpul di rumah. Maka dari itu Fero malas bertanya kapan putranya untuk pulang, begitu juga dengan Arnold yang malas pulang.
Jasmine sampai pusing mengurus kedua pria itu secara bergantian, Fero yang manja dan Arnold yang keras kepala. Suatu watak manusia yang sangat terbalik.
"Aku malas, pasti dia mengomel lagi."
"Tidak," Kelvin mendekat dan menatap wajah Arnold yang banyak bekas luka. "Tuan berencana untuk melamar Anjani dengan segera,"
Ternyata pria itu sudah tidak sabar untuk memiliki Jasmine seorang diri. Arnold terkekeh geli dan mengeluarkan ponselnya.
"Dasar pria tua pelit itu," gumam Arnold kesal.
"Tuan takut kalau dirimu akan kehilangan kesempatan lagi," ucap Kelvin kembali. Arnold tak mengindahkan pria di hadapannya.
"Katakan kepada Mama, kalau kita akan cukup lama di desa. Karena aku harus meyakinkan seseorang terlebih dahulu,"
Kelvin mengangguk, meninggalkan Arnold yang seperti sedang menelpon seseorang.
"Selamat petang, Tuan Arnold. Ada yang bisa saya bantu?"
"Segera datang ke Desa Asri. Aku memiliki pekerjaan untuk mu," kata Arnold yang terdengar serius.
"Baik, Tuan,"
Arnold membersihkan dirinya setelah itu dah mengobati luka di wajahnya. Walaupun tidak membuat wajah tampannya benar-benar hancur, tapi bagi Arnold itu adalah pukulan pertama yang ia dapat dari seseorang.
"Anjani," gumam Arnold dengan memejamkan matanya, "aku pasti akan mendapatkan kamu."
...****************...
Desas-desus tentang Anjani di jembatan kemarin mulai menyebar, tak sedikit yang datang ke rumah reog gadis itu untuk melontarkan kata-kata tak pantas. Tak banyak yang iri, karena pria kota datang hanya untuk bertemu dengan Anjani seorang.
Anjani menjadi takut keluar rumah, ia hanya terduduk sendirian di dalam kamarnya. Terlebih lagi Fika datang untuk menagih uang Ayahnya yang ia pinjam. setelah kejadian kemarin, Arya juga tak menampakkan diri ataupun mengajaknya berbicara.
TOK ....
"Anjani,"
Wajah gadis itu di penuhi air mata, ia mengenal suara itu, suara Arya. Dengan cepat, ia membuka matanya dan menatap Arya yang berdiri dengan menenteng kantong kresek.
"Makan lah, jangan menyiksa diri mu."
"Kakak?"
Arya bergeming, pergi setelah itu. Anjani meneteskan air matanya, seharusnya dia tidak mendorong Arya untuk membantu Arnold. Tapi ia juga tidak akan membenarkan sikap Arya yang tiba-tiba menyerang tanpa alasan.
"Kak, aku serius tidak melakukan hal yang buruk." ucap Anjani membuat Arya menoleh sebentar. Gadis itu meremas kresek putih berisi makanan itu.
"Duduk lah," arus menepuk tempat di sebelahnya. Anjani bergegas duduk di sebelah kakaknya.
"Dari mana kamu mengenal pria itu?" tanya Arya. Anjani terdiam sebentar, kenapa tiba-tiba Arya menanyakan tentang Arnold?
"Di rumah sakit, aku di minta untuk menjadi relawan untuk Arnold." Arya mengangguk dan tak menanyakan hal itu lagi.
"Kamu serius ingin menikah dengan Arnold?"
DEG ....
"Kak, aku ...."
Arya mengelus kepala sang adik. "Maafkan aku karena sudah kasar dengan mu beberapa hari belakang ini, Anjani."
tak terasa air mata itu kembali terjatuh, Anjani memeluk tubuh Arya dari samping dah kembali menangis. Arya tak membalas, ia hanya menepuk pundak sang adik mencoba menenangkannya.
"Kak, aku sudah meminjam uang kepada pak kades, dan aku juga berhenti sekolah bukan untuk ini. Aku benar-benar melakukan itu agar kamu tidak perlu memikirkan uang sekolah ku lagi," jelas Anjani dengan gemetar.
"Aku sudah tahu," kata Arya yang nyaris seperti bisikan. "Aku percaya kepada kamu, Anjani."
Mereka berdua larut dalam kesedihan masing-masing. Walaupun Arya sangat menyayangkan keputusan Anjani, namun ia tidak bisa melakukan apapun bahkan memaksa sang Adik.
"Menikahlah dengan Arnold."
"Kak? Maafkan aku, aku tidak akan ...."
Arya meletakkan jarinya di bibir sang Adik, meminta Anjani untuk tidak banyak berbicara. "Tak perlu menyesal atau meminta maaf, Anjani."
Ia memiliki alasan kuat mengapa ia menyetujui Anjani menikah dengan Arnold. Namun, lidahnya terasanya kelu untuk mengatakan hal yang sebenarnya.
"Aku memberi restu ku," Arya mengecup jari-jari halus itu dengan penuh kasih. "Bila kamu yakin dengan Arnold, menikahlah."
"Maafkan aku, Kak."
"Kakak akan selalu memaafkan kamu, bawalah Arnold menemui Kakak nanti, ada hal yang ingin Kakak bicarakan dengan pria itu berdua saja."
Anjani mengangguk dan memeluk erat-erat pria itu. Mereka berdua sangat menyayangi satu sama lain, bahkan Arya akan selalu menjadi garda terdepan bila ada yang menganggu Anjani walaupun berakhir babak belur.
"Kenapa Kakak tiba-tiba menghajar nya? Dia tidak melakukan apapun kepada ku," ucap Anjani tertunduk. Arya mengulas senyuman tipisnya.
"Siapa yang akan tau, kalian berduaan saat hati akan petang. Ya, Pak Harto ngasih tau kamu di jembatan sama cowok katanya,"
Anjani menghela napas lega, tapi ia sedikit kesal kepada pria tua yang menjadi tetangganya. Walaupun Pak Harto terbilang baik kepada mereka berdua, terkadang pria tua itu sedikit menyebalkan.
"Pipi kamu masih sakit?" tanyanya dengan mengelus pipi chubby sang Adik. Ia teringat saat sedang marah, ia menampar Anjani saat masih di rumah sakit.
Anjani menggeleng, "Tidak. Kakak sudah minum obat?"
"Semuanya aman, karena ada kamu." Anjani terkekeh geli mendengarnya. Arya adalah pria yang sangat romantis, peka, dan mengerti tentang perasaan seorang wanita, tapi karena selalu di pandang sebelah mata, membuat pria itu tidak di lihat secara tanggungjawab.
Kenapa perasaan ku tiba-tiba tidak enak begini? batin Anjani menatap sang Kakak dengan lekat.