Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang terusik
Cuaca cerah menyapu pandangan, menyinari barisan meja dan kursi yang tertata rapi di atas pelataran. Di tepi jalan, seorang gadis duduk terdiam. Penampilannya sederhana namun memikat, rok hitam selutut dipadukan dengan kaos crop oversize berwarna violet yang membungkus tubuh rampingnya dengan pas.
Jari lentiknya sigap menyibakkan helai rambut yang terbang tertiup angin. Manik matanya menyapu setiap sudut kafe yang mulai dipenuhi pengunjung. Sudah setengah jam Myra menunggu dalam lamunan. Berulang kali ia mengecek layar ponsel, berharap ada pesan yang masuk, sembari memperhatikan setiap pejalan kaki yang melintas.
Penantian itu berakhir saat seorang wanita berhenti tepat di depannya.
"Hah... maaf, saya terlambat. Tadi ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan," ucap wanita itu terengah-engah.
Rambut pendeknya mengekspos leher jenjang yang kini berkeringat. Mengenakan kaos rajut tanpa lengan dan celana jins, wanita berkacamata itu menunduk, mencoba mengatur napas. Myra bisa menebak seberapa keras wanita ini berlari, ada gurat rasa bersalah yang jelas di wajahnya.
"Tidak apa-apa, jangan sungkan. Seharusnya saya yang minta maaf karena membatalkan janji kemarin," sahut Myra lembut.
"Saya paham, kamu pasti punya kesibukan lain," balas wanita itu sembari tersenyum lega.
"Terima kasih atas pengertiannya. Silakan duduk."
Wanita itu mengangguk, lalu mendaratkan dirinya di bangku kayu. Dengan meja bundar sebagai pemisah, keduanya saling bertukar tatap sebelum salah satu mengulurkan tangan.
"Anes," sapanya ramah.
"Rada," jawab Myra, menyambut jabatan tangan itu dengan senyum tipis. Seperti biasa, ia menggunakan nama samaran, Myra enggan dikenal oleh orang-orang yang tidak memiliki kepentingan mendalam di hidupnya.
Saat tautan tangan itu terlepas, Myra tak sengaja menangkap noda lebam kebiruan di lengan Anes. "Lengan Anda kenapa? Sepertinya sakit sekali."
Anes tampak canggung. Ia segera menarik lengannya. "Oh, ini... semalam di rumah mati lampu. Saya tidak sengaja menabrak laci," ujarnya pendek.
"Lukanya terlihat cukup parah," gumam Myra, suaranya merendah penuh selidik.
"Hanya memar biasa. Sudah saya oleskan salep, kok."
Myra hanya mengangguk kecil, meski sorot matanya masih menyimpan tanya. "Baiklah kalau begitu. Bagaimana kalau kita pesan minuman dulu?"
"Loh, kamu belum pesan apa pun?" Anes mengangkat alis, heran melihat meja Myra yang masih kosong setelah menunggu lama.
Myra menggeleng pelan sembari menggigit bibir bawahnya.
"Ya sudah, kita pesan sekarang. Dan sebagai penebus kesalahan... biar saya yang bayar!"
"Jangan, itu berlebihan. Saya hanya menunggu sebentar," tolak Myra halus. Ia paling anti merasa berhutang budi pada orang asing.
"Sudahlah, tidak apa-apa. Kalau kamu menolak, saya malah semakin merasa bersalah," desak Anes dengan bibir ditekuk.
Myra menghela napas pasrah. "Baiklah, jika Anda memaksa. Saya tidak bisa menolak."
Tap. Tap. Tap.
Sepasang sneakers melangkah di tepi trotoar, membawa kantong plastik besar yang menggantung di lengan. Rafan, pria tinggi dengan sweater rajut putih, menatap sekeliling dengan raut bingung. Rambut pendek yang menutupi keningnya benar-benar menyamarkan imejnya sebagai seorang polisi.
"Ck, padahal aku hanya berputar sebentar. Kenapa malah tersesat?" gerutu Rafan kesal pada diri sendiri. Kota ini masih terasa asing baginya.
"Toko ini lagi? Bukankah aku baru saja lewat sini?" Ia mengernyit, menyadari dirinya hanya berjalan memutar.
Langkah Rafan terhenti saat matanya menangkap sebuah kafe klasik dengan dekorasi retro. Ia menyipitkan mata, mengamati salah satu pengunjung yang duduk di area outdoor.
"Manik cokelat itu... titik hitam itu... tidak salah lagi! Wanita kemarin!" bisik Rafan. Senyum lebar seketika terbit di bibirnya. Hatinya berdesir, tanpa ragu ia melangkah menghampiri.
Di sisi lain, Myra masih sibuk berbicara, tak menyadari "badai" yang sedang mendekat.
"Karena kontrak sudah disetujui, saya akan menyelesaikannya paling lambat tiga hari," tegas Myra serius.
"Baiklah. Kalau begitu, saya pamit dulu," ucap Anes sembari beranjak bangun.
"Oke, hati-hati di jalan." Myra melambaikan tangan dengan ramah.
Namun, saat Myra hendak berbalik, tubuhnya membeku. Ia mendapati Rafan berdiri tak jauh darinya, menatapnya dengan sorot intens yang seolah sedang menguliti rahasianya.
Sial! Bagaimana dia bisa menemukanku di sini? batin Myra panik.
Tanpa membuang waktu, Myra segera mempercepat langkah, berbaur di antara kerumunan pejalan kaki. Beruntung ia sudah menghafal seluk-beluk daerah ini. Ia berbelok ke gang sepi, sesekali melirik ke belakang untuk memastikan jarak.
"Eh? Kenapa dia malah kabur!" seru Rafan yang langsung mengejar.
Drap! Drap! Drap!
"Polisi itu masih mengejarku!" cicit Myra. Ia meraba pinggangnya yang kosong. "Sial, aku lupa membawa senjata!"
Myra menggertakkan gigi, memacu kecepatannya hingga menerjang kerumunan ibu-ibu yang sedang berjalan santai.
"Larinya cepat sekali, tapi aku tidak akan menyerah," gumam Rafan merasa tertantang. Ia tidak peduli lagi ke mana kakinya akan membawa, yang penting wanita misterius itu tidak lepas dari pandangannya.
Karena terlalu fokus menoleh ke belakang, Myra tidak menyadari sekelompok anak kecil tengah melaju kencang dengan sepeda dari arah berlawanan.
"Ayo! Yang menang dapat nasi pecel gratis!" teriak salah satu bocah yang asyik menoleh ke belakang, menertawakan teman-temannya yang tertinggal.
Bocah itu terus mengayuh tanpa melihat jalan, hingga...
Brak!
Sepeda gunung itu menghantam trotoar, dan si bocah terpelanting ke aspal. Benturan keras itu membuat Myra tersentak. Seketika, ia melupakan ancaman Rafan dan refleks berlari merangkul bocah tersebut.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Myra cemas.
"I-iya, Kak," sahut si bocah dengan kepala tertunduk.
Meski mulutnya berkata baik-baik saja, luka lecet dan wajah yang memerah menahan tangis tidak bisa membohongi Myra. Ia tahu anak ini hanya malu.
"Loh, Tomo? Kamu kenapa bisa jatuh begini?" sebuah suara familiar tiba-tiba terdengar di dekat mereka.