NovelToon NovelToon
Urus Saja Mantanmu Dan Anaknya Itu

Urus Saja Mantanmu Dan Anaknya Itu

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Anak Genius / Penyesalan Suami
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Byiaaps

“Iya, jadi aku dengar Karina baru saja bercerai belum lama ini. Dia sibuk jadi ibu dan pemilik toko roti Aura Bakery sekarang. Usia anaknya sepertinya hampir sama dengan usia anakku, kira-kira 1 tahunan lah,” ujar Beni, seorang lelaki berusia 33 tahun.
“Jujur saja, kamu masih ada rasa ‘kan dengan Karina? 9 tahun loh, tidak mungkin selesai begitu saja. Aku tahu, lelaki memang hanya jatuh cinta sekali saja, setelahnya hanya melanjutkan hidup,” lanjut Beni, teman baik Khale.
Diam-diam dari luar ruangan, Syafira yang tengah mengandung mendengar ucapan sang suami dengan temannya itu.
Bahkan, Syafira pun tahu suaminya langsung menuju ke toko kue milik Karina tak lama setelah itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Byiaaps, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Selama dalam perjalanan selesai meeting, Khale masih memikirkan partner kerjasamanya itu yang tak lain adalah pria yang pernah ia temui saat di playground. Ia mencocokkan informasi dari Sania terkait status pria tersebut yang diduga masih perjaka, dengan anak kembar yang saat itu bersamanya.

“Putra Widjaya. Bukankah Sania bilang dia masih perjaka, artinya belum menikah. Lalu, si kembar yang bersamanya kala itu siapanya? Apakah anak sambung, atau memang dia sudah menikah lagi tapi memang sengaja tak dipublikasikan? Atau hanya anak dari adik atau kakaknya? Atau bisa jadi anak dari hasil fair dengan karyawatinya? Ah, lagi pula kenapa aku jadi mengurus kehidupan pribadinya, gara-gara Sania jadi ketularan kepo. Hah, aku hanya iri karena dia punya anak kembar yang seharusnya aku juga punya,” pikirnya.

“Jadi bagaimana, Pak, kita sudah deal, ya?” Sania membuyarkan lamunannya.

Mengangguk, Khale merasa proyek ini merupakan proyek besar dan akan memberikan keuntungan bagi perusahaannya, apalagi retail milik Putra sudah memiliki nama besar. Ia begitu antusias karena kali ini perusahaannya ikut terlibat dalam pembukaan cabang retail milik Putra yang baru. Apalagi, cabang baru ini diklaim akan berbeda dengan cabang-cabang sebelumnya, karena akan menggabungkan lokasi minimarket sekaligus dengan pendirian kafe dan restoran yang produknya juga diambil dari produk-produk yang dijual di minimarket itu sendiri.

Sementara itu, Putra dan sang sekretaris juga kini telah kembali ke kantornya. Ia lalu meminta Agnes untuk memanggilkan salah satu karyawati untuk menghadapnya. “Panggilkan Syafira ke ruangan saya.”

Menganggukkan kepalanya, Agnes bergegas mendatangi meja Syafira untuk menyampaikan perintah si bos.

Hingga tak lama, Syafira pun menemui bosnya di ruangan. “Bapak panggil saya?”

Mempersilakan duduk, wajah Putra begitu sumringah. Tanpa basa-basi, ia mengutarakan maksud dan tujuannya memanggil ibu dua anak itu. Menjelaskannya dengan hati-hati, Putra memberikan sebuah amanat baru untuk karyawatinya itu.

***

Saat sedang makan malam, Syafira tak henti melamun memikirkan tugas baru yang Putra berikan, hingga hal ini membuat kembar menegurnya karena makanan sang bunda menjadi dingin.

“Bunda sedang memikirkan Om Bos, ya? Kasihan makanannya sudah dingin,” celetuk Khanza.

Gelagapan, Syafira tak menyangka balitanya bisa berpikiran demikian.

“Khayra mau punya ayah seperti Om Bos, Bunda. Biar ke sekolahnya naik mobil terus. Kalau naik motor, kita kepanasan, belum lagi harus berteduh kalau sedang hujan,” celetuk Khayra.

“Hus, Khayra tidak boleh bicara begitu. Bunda tidak pernah mengajari untuk melihat orang dari apa yang mereka punya. Bunda tidak suka Khayra bicara begitu, baik sama Bunda atau saat ada Om Bos. Itu lancang namanya. Khayra harus bersyukur masih bisa sekolah, meskipun hanya dengan naik motor. Banyak anak-anak seusia kalian yang tak bisa sekolah, makan saja juga tidak bisa. Apa kalian tidak pernah melihat keadaan mereka yang tidur di kolong jembatan dan di setiap lampu merah? Doakan saja rejeki Bunda lancar biar suatu saat nanti kita bisa beli mobil,” tegas Syafira dengan nada agak tinggi.

Kembar pun terdiam dan seketika suasana menjadi hening.

“Khayra cuma mau punya ayah saja kok!” ujar Khayra dengan gaya ngambeknya berlalu menuju kamarnya meninggalkan meja makan.

Menghela nafas, Syafira kelepasan berbicara pada anak perempuannya itu dengan nada yang agak tinggi, padahal sudah ia tahu bahwa karakter Khayra memang sedikit lebih sensitif dari pada Khanza.

Di saat seperti ini, ia pun menyedihkan kehidupannya, andai ia masih bersama Khale, tentu anak-anaknya bisa hidup lebih layak dan mendapatkan peran seorang ayah.

“Bunda, maafkan Khayra, ya. Tadi, ada teman kita di kelas yang ditemani ayahnya. Mungkin, Khayra juga mau punya ayah,” ucap Khanza dengan nada bak pria dewasa.

Mengusap lembut kepala sang anak, Syafira juga meminta maaf atas ucapannya yang keras.

Sementara itu di apartemennya, Khale kembali melakoni aktivitasnya jika sedang sendirian. Melamun memikirkan anak-anaknya juga sang mantan istri, meskipun dalam benaknya begitu yakin Syafira kini telah menikah lagi. Semenjak perpisahannya kala itu, ia memutuskan untuk pindah ke apartemen karena hatinya akan kembali sesak saat melihat setiap sudut rumahnya yang penuh kenangan antara dirinya dan Syafira.

“Kenapa harus begini, Syaf? Kenapa kalau memang kamu marah dan tak terima, kamu tak menanyakannya baik-baik padaku lebih dulu? Aku tahu aku juga salah, tapi kenapa hanya karena itu kamu meninggalkanku?” Khale menyesali kehidupan rumah tangganya.

Lagi-lagi saat melamun, Karina selalu datang entah itu dengan pesannya, atau seperti malam ini yang tiba-tiba ia bertamu ke apartemen Khale membawakannya masakan untuk makan malam.

“Kamu pasti habis melamun lagi, ya. Kenapa sih, Khal, bukannya malah memikirkan rencana pernikahan kita? Sudah 4 tahun loh dia meninggalkanmu, kenapa masih memikirkannya? Dia pasti sudah bahagia bersama suami barunya. Anak-anakmu bahkan tak akan mengenalimu sebagai ayah kandungnya dan lebih memilih bersama ayah tirinya yang bisa jadi sudah mereka lihat sejak lahir ke dunia. Atau malah sebenarnya anak yang dia kandung bukan lah anakmu, makanya dia meninggalkanmu demi kembali bersama pria yang menghamilinya,” tegur Karina.

“Diam, Karina. Syafira bukan wanita seperti itu. Ini semua gara-gara kamu! Kalau saja waktu itu kamu tidak meminta bantuanku, aku mungkin masih bisa melihat anak-anakku! Aku menemuimu saat itu hanya ingin tahu kabarmu karena bagaimanapun aku yang memutuskan hubungan kita dan meninggalkanmu demi perjodohanku. Tapi setelah pertemuan kembali kita saat itu, kamu malah seolah merasa aku mendekatimu lagi dan meminta waktuku untuk kamu dan anakmu, padahal kamu tahu aku sudah berkeluarga!” sahut Khale geram.

Tak terima dengan ucapan Khale, Karina mengungkapkan dengan tegas permintaan maafnya yang telah merepotkan Khale saat itu, yang ia mintai tolong untuk bolak-balik mengantar Aura ke rumah sakit yang memiliki riwayat penyakit kejang. “Kamu tahu aku single mom. Aku kerepotan mengurus bakery dan Aura meskipun sudah ada pengasuh. Kalau tahu begini, kenapa dulu kamu tak menolak saja permintaanku? Sekali lagi, maaf sudah mengacaukan pernikahanmu!”

Meninggalkan masakannya di meja makan begitu saja, Karina pergi dari apartemen Khale membanting pintu.

***

Keesokan paginya, seperti biasa Ria dan kembar berangkat sekolah pagi ini. Tapi, pagi ini Khayra tampak masih marah pada bundanya dan ingin tak masuk sekolah hari ini. Dengan wajah cemberut yang menggemaskan, ia tak mau salim pada Syafira.

“Ya sudah, Mbak Ria, berangkat saja nanti keburu telat,” ujar Syafira menahan gemas melihat raut wajah Khayra.

Hingga sesampainya mereka di parkiran sekolah, Ria tak henti membujuk Khayra untuk tak lagi cemberut. Sayangnya, anak gadis mungil itu masih saja manyun dan menyilangkan tangannya di depan dada. Hal itu membuat Khanza turun tangan.

“Khayra, dosa tahu marah sama Bunda,” ujar Khanza datar.

Percakapan lucu mereka pun tak sadar diperhatikan oleh Khale yang baru saja turun dari mobil mengantar Aura. Ya, meskipun Karina masih marah padanya, tapi ia sudah berjanji jauh-jauh hari akan mengantar Aura hari ini karena bocah itu akan tampil di depan kelas. Apalagi hari ini Karina sedang banyak pesanan kue, ia tentu tak bisa mendampinginya sebagai wali murid Aura.

Khale yang hafal betul dengan kembar karena sudah dua kali bertemu sebelumnya, tiba-tiba ikut nimbrung. “Kenapa, Mbak?”

“Oh ini, Pak, dia sedang ngambek sama bundanya,” jawab Ria malu-malu.

“Khayra sudah ah, malu tahu. Kasihan bunda sudah cari uang untuk kita sekolah, tapi kamu malah tidak mau masuk!” Khanza menarik tangan Khayra mengajaknya masuk ke dalam, meskipun kembarannya itu masih enggan masuk.

Menjongkokkan tubuhnya, Khale menatap lembut wajah Khayra dan Khanza secara bergantian. Entah mengapa, hatinya ikut menatap kembar dan ingin sekali tangannya mengusap lembut kepala Khayra yang masih manyun. Tapi ia tahan karena hanyalah orang asing, dan hanya ikut membujuk Khayra agar mau masuk kelas.

“Khayra, ya, namanya? Khayra cantik, benar kata Abang. Bunda sudah susah-susah cari uang, masak Khayra tidak mau sekolah? Padahal banyak loh yang tidak bisa sekolah. Memang Khayra mau seperti mereka? Tidak punya teman, tidak bisa belajar, tidak bisa bermain di sekolah? Hem? Masuk ya, ini sudah mau telat, nanti dimarahi miss lho,” ucap Khale bak seorang ayah.

Khayra yang awalnya masih bersikeras, seketika melembut setelah mendengar ucapan Khale biarpun merupakan orang asing baginya. Ia lalu mengangguk dan bersedia digandeng Khanza juga Ria menuju kelas. Setelahnya, sebelum berjalan menuju kelas, Ria mengucapkan terima kasihnya pada Khale yang sudah mau membujuk Khayra.

Saat berjalan beberapa langkah, Khayra menoleh ke arah Khale tanpa senyum, tapi tidak dengan Khale yang justru tersenyum lebar memandangi wajah lucu nan cantik Khayra. Meskipun senyumnya menjadi tameng kegundahan hatinya saat ini. Ia reflek membayangkan anak kembarnya yang kini mungkin seusia mereka. Ada rasa sesak tapi juga bahagia saat melihat kembar.

...****************...

1
Maemanah
lanjut thor ❤️❤️❤️
Maemanah
seru thor...
Nur Laila Mufidah
harus sama khale dong
kan dia mau berubah dan bertanggung jawab🤭
Daulat Pasaribu
dua duanya gak pantas bersanding sama syafira.mending syafira cari laki laki yg memang cinta dan bertanggung jawab ama syafira dan anaknya
Anto D Cotto
menarik
Anto D Cotto
lanjut crazy up Thor
Eva Wahyuni
Thor, jangan smp Syafira menikah SM putra ya.. aku tak setuju 😤..
KLO pun nggak BS balikan SM khale biar aja Syafira menjanda selama nya, tp hub anak² SM khale bagus..
kayaknya ada sesuatu antara putra dan Karina 🤔
Daulat Pasaribu
memang pantas kau di tinggalkan khale,laki laki paok,bodohnya gak ketulungan...bisan bisanya kau berzina ama pelakor.harusnya syafira jgn sama putra thor.harus ada pria baru yg setia dan gk tukang jajan seperti si khale
Daulat Pasaribu
rasaku si putra jahat sama seperti si karina,apa hak mereka untuk memisahkan keluarga syafira....
ekhh khale bodoh harusnya kau jgn percaya sama perempuan siluman itu...suami paling bodoh
Daulat Pasaribu
suami paling bodoh sedunia ya si khale.cinta ama syafira tapi hidup berdampingan ama pelakor....klo cinta cari anak anak kandungmu bukan malah antar jemput anak org lain🤣
Daulat Pasaribu
lanjut thor
Daulat Pasaribu
skarang aja baru salah salahan
Daulat Pasaribu
ya kan betul si khale suami bodoh sedunia,dan penghianat bisa bisanya nikahi selingkuhannya.smoga aja kau menyesal
Daulat Pasaribu
makanya jadi suami jgn bego hanya karena nafsu
Daulat Pasaribu
suami bodoh....bisa bisanya mentingin anak org lain ketimbang anak kandungnya yg masih di dalam kandungan syafira
Daulat Pasaribu
cari penyakit bisa bisanya nyamperin mantan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!