NovelToon NovelToon
Takdir Cinta

Takdir Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:659
Nilai: 5
Nama Author: BintangFRY

Nikah? itu adalah hal yang paling dihindari oleh Yiwa saat ini, nanti atau sampai kapanpun itu. Bahkan di kamus hidupnya pun kayaknya gak ada tuh yang namanya 'nikah'.

Tapi balik lagi, kalau takdir udah ditentukan, mau jungkir balik salto pun akan tetap gak bisa dihindari lagi.

Satu hal yang disesali Yiwa, harusnya dia gak usah ikut mbahnya lihat acara desa malam itu atau justru seharusnya ia gak usah pulang ke desa sekalian. Tapi kalau gitu malah kasihan mbahnya gak ketemu cucu satu-satunya ini.

namun setelah kejadian itu justru cucunya ini yang harus dikasihani.

Karena apa? karena Yiwa, cucu satu-satunya Mbah ini harus dinikahkan dengan pemuda desa yang cukup disegani disana.

Yiwa sampai bingung, gimana bisa orang sekaku ini bisa punya jabatan penting di desa. Dan sialnya, dialah yang akan jadi istrinya.

Tapi mau bagaimana lagi, Yiwa cuma bisa pasrah sambil misuh-misuh tentunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BintangFRY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Capekkk

Dannn disinilah Yiwa berada. berdiri di tengah-tengah pelaminan bersama si kaku Nara disampingnya. Menyalami satu-persatu tamu yang hendak pulang.

Yiwa menghela napas lelah saat tamu sudah pulang semua dan menyisakan keluarga inti. Ia langsung duduk di kursi khusus pengantin, sedikit bersandar dan memejamkan matanya. Setelah melewati prosesi pernikahan yang ruwet dari pagi sampai malam ini. Dari kepala, pundak, pinggang, lutut, dan kakinya pegal bukan main. Bahkan telapak kakinya panas banget.

Nara menoleh. "Ayo, istirahat didalam rumah saja."

Yiwa langsung membuka matanya. "Tamunya udah pulang semua?"

Nara mengangguk. "Sudah. Tinggal keluarga inti sama orang yang bantu acara saja."

"Akhirnya!" Yiwa langsung berdiri dari duduknya. Melepas sepasang sandal pengantin yang sudah menyiksanya seharian ini. Ia sudah tidak peduli lagi. Dengan telanjang kaki, Yiwa langsung berjalan masuk ke dalam rumah Nara.

Nara hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Yiwa itu. Kemudian menyusul dibelakangnya. Tapi saat melewati dapur, ia berbelok sebentar.

"Bu, tolong siapkan dua porsi makan nggeh."

Sementara itu, di ruang tamu. Yiwa rebahan dan menjadikan pangkuan Tante Ida sebagai bantalan.

"Kamu yang nurut sama suami, jangan ngelawan."

Yiwa cuma diam.

"Dengar tidak?" tanya Tante Ida.

"Iya-iya!"

Tante Ida langsung menoleh saat melihat kedatangan Nara membawa dua piring nasi dengan lauk sate.

"Bangun, Wa! Itu loh suami mu datang."

Nara meletakkan dua porsi nasi itu di meja, lalu ikut duduk di kursi seberangnya.

"Makan dulu, Yiwa."

Yiwa pun duduk dan mengambil sepiring nasi yang sudah di bawakan Nara. Sebenarnya ia juga sudah lapar sejak siang. Bila di ingat-ingat, ia hanya makan saat di make-up pagi tadi, lalu sesuap nasi saat Nara menyuapinya siang tadi. Terpaksa ya, karena salah satu prosesinya ya saling menyuapi makanan.

Tante Ida berdiri. "Tante tinggal kebelakang dulu ya. Mau nyari Mbahmu dulu, Wa."

Setelah menghabiskan makanannya, Nara membawa kedua piring kotor itu ke dapur. Meninggalkan Yiwa yang sudah bersandar pada sofa sambil memejamkan matanya.

Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Halaman depan rumah Nara sudah sepi. Kursi-kursi sudah di tumpuk jadi satu di ujung teras. Dan tenda juga sudah mulai di bongkar.

"Kamu istirahat aja, Ra. Biar bapak yang awasi. Kamu pasti juga sudah capek." Kata Pak Suseno.

Nara mengangguk. "Nara masuk dulu, Pak."

Suseno hanya mengangguk. Kemudian kembali melanjutkan beres-beres barang.

Nara tertegun di ambang pintu. Ia melihat Yiwa yang memeluk mbah Sekar.

"Sudahlah, Wa. Kan rumah Mbah Sekar juga masih satu desa. kalau kangen tinggal jalan. Tante juga pulangnya masih lusa. besok tante kesini lagi deh." bujuk Tante Ida.

"Yiwa." panggil Om Bagus.

Yiwa melepas pelukannya, lalu menoleh ke arah Om Bagus.

"Kamu itu sudah besar. Sudah menikah pula. Sekarang sudah ada Nara yang akan jadi teman hidup kamu. Apapun yang terjadi, kamu punya Nara untuk bercerita." Om Bagus mengelus kepala Yiwa dengan penuh kasih sayang.

Yiwa mengangguk. Om Bagus langsung memeluk erat keponakannya itu. "Jaga diri baik-baik ya. nurut sama suami."

Om Bagus melepas pelukannya, kemudian berdiri.

"Ya sudah, Om sama yang lainnya pulang dulu ya?"

Yiwa mengangguk. "Iya, hati-hati."

Sebelum benar-benar pergi, Yiwa memeluk mereka satu persatu, mulai dari mbah Sekar, tante Ida, dan terakhir Sandi.

"Lo kenapa diam aja sih, dek? marah sama kakak?"

Sandi menggelengkan kepalanya. "Aku cuma masih kaget aja kakak cantikku yang nakal ini udah nikah."

Yiwa langsung menyentil kening Sandi. "Sembarangan! Besok siang kesini lagi ya, kita jalan-jalan."

"Iya, kak."

Yiwa pun mengantarkan mereka ke depan rumah.

"Nak Nara, kami pamit dulu ya? Tante titip Yiwa ya? Anaknya emang agak susah di atur tapi baik kok." kata Tante Ida.

Yiwa merengek, "Tanteee."

Nara tersenyum. "Iya, Tante. Saya akan menjaga Yiwa."

"Eh? mau pulang ya? barengan aja?" tanya Widyawati.

Tante Ida langsung antusias. "Iya, bu! Ayo!"

"Nduk Yiwa, ibu pamit dulu ya. besok pagi kesini lagi kok." pamit Bu Widyawati.

Yiwa membalas pelukan Ibu Widyawati. "Iya, Bu."

Nara dan Yiwa berdiri di teras melihat kedua keluarga mereka yang berjalan beriringan meninggalkan rumah Nara. Menyisakan keheningan diantara keduanya.

"Ayo, masuk. Sudah hampir tengah malam."

Yiwa diam. Ia masih melihat-lihat halaman rumah Nara yang sudah beres, menyisakan tumpukan kursi di sudut teras.

"Yiwa?"

Yiwa mengabaikan panggilan Nara. "Di mana kamar gue?" Ia berjalan lebih dulu masuk ke dalam rumah.

Sebelum menyusul masuk ke dalam rumah, Nara menoleh sebentar ke arah pohon rambutan.

"Jangan ganggu kami."

Kemudian masuk ke dalam rumah, mengunci pintu dan jendelanya rapat-rapat.

"Ikut saya." Nara berjalan lebih dulu melewati ruang tamu, lalu berhenti di depan pintu berwarna coklat tua. "Kamar yang bisa ditempati cuma ini. malam ini saya akan tidur di ruang tamu. besok saya akan menyiapkan kamar tambahan."

Yiwa tidak menjawab. Ia masuk lebih dulu ke dalam kamar. "Ini kamar lo? kamar tamu nggak ada?"

"Saya tidak pernah kedatangan tamu yang menginap jadi kamar tamu saya biarkan kosong. Kamu tidur di kamar saya dulu."

"Gue gak papa kalo kita tinggal sekamar. Gue percaya kalo lo bukan tipe orang yang suka ambil kesempatan sembarangan. Tapi kalo lo maunya tidur di ruang tamu, ya silahkan." Yiwa tidak menunggu jawaban dari Nara.

Ia memperhatikan kamar Nara. Benar-benar tertata rapi dan ringkas? Bahkan tidak ada tv. seingatnya di ruang tamu tadi juga tidak ada tv. "Lo nggak punya televisi?"

Nara menggeleng. "Belum sempat beli."

Yiwa menghela napas. "Kata tante tadi koper gue udah di bawa ke sini, dimana?"

"Di samping lemari. Nanti kamu masukkan saja ke dalam lemari itu. pakaian saya tidak banyak. Jadi mungkin masih muat."

Yiwa berjalan ke tempat dimana kopernya berada. "Baju gue yang banyak, jadi mungkin gak muat."

Ia berjongkok membongkar isi kopernya. "Siapa yang mandi duluan?"

"Kamu saja. Saya masih harus mengecek sesuatu dulu." Lalu ia pergi keluar kamar, meninggalkan Yiwa yang sibuk memilih bajunya. Setelah mendapatkan sepasang baju tidur, Yiwa segera ke kamar mandi yang berada di dalam kamar itu.

Sementara itu di ruangan lain, tepatnya di kamar tamu yang masih kosong. Nara tengah duduk bersila di tengah ruangan dengan cahaya lilin di depannya.

"Mregapati." panggilnya.

Tak lama setelah panggilan itu. Kepulan asap putih mulai terlihat di depan Nara. Lalu sosok dengan wujud manusia berambut putih panjang dengan jubah panjang bermotif macan putih muncul, duduk bersila di depan Nara.

"Ada apa, den?" tanya Mregapati.

Nara diam sesaat, lalu bertanya. "Saat itu kau juga melihatnya kan?"

"Iya, den. Lalu apa rencanamu? Dan juga Sepertinya perempuan yang kau nikahi ini sangat sulit di atur."

Nara diam. Dan diamnya itu membuat Mregapati terkekeh. "Akhirnya kau menemukan lawan yang seimbang, den. Baru kali ini kau terlihat putus asa."

"Dia bukan lawan. Melainkan istriku."

Mregapati semakin tertawa dibuatnya. "Memangnya perempuan itu mau menganggap kau suaminya."

"Mregapati."

Mregapati langsung menghentikan tawanya dan berusaha memasang wajah serius. Ia baru menyadari bahwa kata-katanya tadi sudah menyinggung tuannya. "Maafkan saya, Raden."

Nara menghembuskan napas. "Sudahlah. Aku memanggilmu itu untuk menjaga kami malam ini. Diluar banyak yang mengawasi. Dan sejak ritual hari itu, tubuhku melemah."

"Apa mungkin karena perempuan itu tidak menerima kehadiran Raden? Bahkan hampir menolak."

"Mungkin iya mungkin tidak. Dan perlu kau ingat, namanya Yiwa."

Mregapati menatap tak percaya pada tuannya. "Raden benar-benar mencintainya?"

Nara menggeleng. "Aku tidak tahu."

Mregapati menatap heran. Tapi ia juga tidak berkomentar. Karena ia sendiri juga tidak memahami apa itu cinta.

"Saya masih penasaran satu hal. Kenapa saat itu Raden begitu yakin untuk melakukan Sawiji ing Ludira, padahal raden tidak mengenalnya sama sekali."

"Saat itu, aku seperti mendengar bisikan bahwa aku harus menyelamatkan Yiwa. Dan satu-satunya cara yang terlintas hanya Sawiji ing Ludira. " Nara menatap cahaya lilin, tapi pikirannya berkelana ke saat dimana ia menyelamatkan Yiwa.

Mregapati mengernyitkan dahinya. "Suara? Tapi saat saya datang, saya Tidak merasakan ada energi lain, selain milik Nyi Menuh?"

"Itu suara anak kecil. Aku juga tidak melihatnya, hanya suaranya. Dan saat pernikahan, suara itu muncul lagi mengucapkan terima kasih."

"Saat pernikahan ya? saat itu saya melihat satu atma gentayangan. wajahnya asing."

"Kenapa saya tidak melihatnya? Apa mereka ada hubungannya?"

"Jangan-jangan anak kecil itu penjaganya. Dan atma gentayangan itu bagian dari masa lalu Yiwa?"

Nara tidak menjawab, tapi setiap kata-kata Mregapati membuat otaknya berpikir keras. Biasanya ia bisa memanggil makhluk gaib, tapi setelah ritual itu, ia tidak bisa melakukan banyak hal. Fisik dan batinnya melemah.

Tapi ia menyadari satu hal, bahwa pertemuannya dengan Yiwa itu sudah ditakdirkan. Dan semakin ia masuk kedalam hidup Yiwa, akan ada semakin banyak cerita yang ia ketahui nantinya.

Tidak sekarang, tapi ia yakin bahwa lambat laun Yiwa dan dirinya akan berakhir berbeda. Karena hari itu, saat ritual Sawiji ing Ludira berlangsung, ia melihat satu kilasan hidup.

Masa depan mereka.

...♡Bersambung ♡...

1
Ana Dww
maaf yiwa, aku adalah Nara yang setiap pulang dari pergi agak jauh harus mandi
Ana Dww
Lanjuttt kakk
Ana Dww
Aku suka karena emang ada horor, romantis dan komedinyaaa
Ana Dww
🤣🤣🤣
Ana Dww
🤣🤣🤣🤣
Ana Dww
heeeyy siapa lagi ini
Ana Dww
Woy, kram kamar mandi kosku sering bocir dikit malam hari 😭😭😭😭
seren_dpty: positif thinking aja, mungkin lagi di buat mainan🤭
total 1 replies
Ana Dww
Yiwa, kita sama tidur terlalu hening bikin pikiran berisik
Ana Dww: 🤣 biar nanti tidurnya sambil mimpi kicau mania
total 2 replies
Ana Dww
waittt
Ana Dww
Kak, ini cerita horor romantiskah?
seren_dpty: iyaps betull
total 1 replies
Ana Dww
Waaahhh , suka sama ceritanya
seren_dpty: makasih ya kakkk
total 1 replies
Ana Dww
Waaah keren kak 😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!