Aruna tidak pernah menyangka pekerjaannya sebagai editor akan membawanya masuk ke dalam kengerian zaman kuno. Setelah kecelakaan fatal, ia terbangun sebagai Lady Ratri, wanita bangsawan yang namanya identik dengan kekejaman. Tubuhnya rongsok, tenggorokannya terbakar racun. Arel, yang selama ini ia siksa memusuhinya.
Di dunia barunya, Aruna tidak punya kawan. Suami jenderalnya menganggapnya sampah. Namun, sebuah layar transparan muncul Sistem Karma Ibu. Setiap tindakan baiknya pada Arel memberikan poin untuk bertahan hidup, sementara kekejaman akan mempercepat kematiannya.
Aruna harus memutar otak. Ia harus menjinakkan Arel yang sudah terlanjur trauma, menghadapi Lady Selina yang manipulatif, dan bertahan dari degradasi fisik.
Ini bukan sekadar cerita tentang tobat, tapi tentang perjuangan berdarah seorang wanita yang mencoba mencintai di tempat yang hanya mengenal benci. Bisakah Aruna mengubah takdir Ibu Jahat menjadi pelindung tangguh sebelum rahasia identitas aslinya terbongkar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Ledakan dalam Sunyi
Bau gas hijau yang keluar dari celah dinding kuil itu mulai mencekik paru-paru Aruna. Rasanya seperti menghirup ribuan jarum panas yang membakar tenggorokan. Penglihatannya mulai berbayang, tapi fokusnya hanya satu... Arel. Anak itu sudah mulai lemas dalam dekapannya, matanya sayu, dan napasnya pendek-pendek.
"Jangan tutup matamu, Arel! Tetap bersamaku!" bisik Aruna sambil menekan kain basah ke wajah anak itu.
Di depannya, Jenderal Arvand mencoba bangkit. Otot-otot lengannya menegang hebat, urat lehernya menonjol saat ia berusaha melawan efek bius gas tersebut. Ia melihat ke atas, ke arah langit-langit kuil di mana gentong minyak bergantungan. Si pemanah bertopeng di sudut ruangan sudah menarik tali busurnya sampai maksimal.
"Kaelan! Bangun!" teriak Arvand dengan suara parau.
Pangeran Kaelan, yang tadi sedang menyalurkan energi ke tubuh Aruna, tersentak. Wajahnya yang biasanya tenang kini terlihat sangat pucat. Ia melihat ke arah pemanah itu dan segera menyadari bahwa mereka tidak punya waktu untuk mendobrak pintu besi.
Wush!
Anak panah api melesat. Bukan ke arah mereka, tapi tepat ke arah sumbu yang terhubung dengan gentong-gentong minyak di langit-langit.
"Tiarap!" Arvand menerjang, menarik Aruna dan Arel ke bawah meja batu medis yang tebal.
BOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang seluruh kuil. Langit-langit kayu yang tua hancur seketika, menyemburkan api dan minyak panas ke seluruh ruangan. Suara ledakan itu memekakkan telinga, membuat dunia Aruna seolah sunyi sesaat sebelum digantikan oleh gemuruh reruntuhan batu.
Api mulai melahap segalanya. Gas hijau tadi terbakar habis oleh ledakan, tapi kini digantikan oleh asap hitam yang pekat. Aruna merasakan beban berat menindih meja batu di atas mereka. Reruntuhan bangunan mulai mengubur mereka hidup-hidup.
"Arvand... kamu tidak apa-apa?" Aruna bertanya di kegelapan bawah meja.
"Jangan bergerak," suara Arvand terdengar sangat dekat di samping telinganya. Aruna bisa merasakan detak jantung suaminya yang sangat cepat. Arvand menggunakan punggungnya sendiri untuk menyangga bagian meja yang mulai retak akibat beban reruntuhan.
"Ayah... Ibu..." Arel terisak pelan di tengah mereka. Bocah itu gemetar hebat, tangannya mencengkeram baju Aruna seolah itu adalah satu-satunya pegangan hidupnya.
Tiba-tiba, suara gesekan pedang terdengar dari balik reruntuhan di sisi lain. Kaelan ternyata berhasil selamat dengan berlindung di balik pilar besar. Ia mulai memindahkan bongkahan batu dengan tangan kosong, mengabaikan panas api yang menjilat-jilat di sekitarnya.
"Arvand! Keluar dari sana sebelum seluruh atap ini runtuh!" teriak Kaelan.
Arvand mendorong bongkahan batu besar dengan bahunya. Suara tulang yang berderak terdengar mengerikan di telinga Aruna. Dengan satu teriakan penuh amarah, Arvand berhasil menciptakan celah.
"Ambil Arel!" perintah Arvand pada Aruna.
Aruna merangkak keluar sambil menarik Arel. Kakinya yang terluka karena panah semalam berdenyut hebat, tapi ia mengabaikannya. Begitu mereka keluar, Kaelan segera menarik Arel ke pelukannya, sementara Aruna berbalik untuk membantu Arvand.
Namun, pemandangan di luar jauh lebih buruk. Di tengah puing-puing kuil yang terbakar, Selina berdiri dengan jubah merah menyala, dikelilingi oleh belasan prajurit bayaran yang masih segar. Ia tidak lagi memakai topeng kepolosan. Wajahnya penuh dengan kegilaan dan dendam.
"Kalian benar-benar ulet, ya?" Selina tertawa nyaring, suaranya bersaing dengan deru api. "Tapi Kakak Jenderal, lihatlah istrimu. Dia sudah sekarat. Kenapa tidak kau biarkan saja dia mati di sini?"
Arvand berdiri tegak di samping Aruna, pedangnya sudah kembali di tangan. "Selina, kau telah mengkhianati darahmu sendiri. Kau membebaskan Barka dan bekerja sama dengan pembunuh bayaran asing."
"Darah?" Selina meludah ke tanah. "Keluarga ini tidak pernah menganggapku ada! Kau hanya peduli pada perang, dan jalang ini hanya peduli pada kecantikannya sendiri. Hanya Barka yang mengerti aku!"
Selina memberi isyarat tangan. Para prajurit bayaran itu mulai mengepung mereka lagi. Aruna melihat sekeliling. Mereka terjebak di area terbuka yang dikelilingi api. Kaelan sedang melindungi Arel di belakang, sementara ia dan Arvand berada di garis depan.
"Aku yang akan menahan mereka. Kau bawa Arel lari lewat jalur sumur belakang," bisik Arvand tanpa menoleh pada Aruna.
"Tidak! Aku tidak akan meninggalkanmu lagi," jawab Aruna tegas. Ia meraih sepotong kayu yang masih menyala dari reruntuhan sebagai senjata darurat.
"Ratri, ini bukan waktunya untuk jadi pahlawan!" bentak Arvand.
"Aku bukan pahlawan, Arvand. Aku hanya tidak ingin Arel kehilangan ayahnya setelah dia mulai belajar mencintai ibunya!" Aruna membalas dengan tatapan yang membuat Arvand tertegun sejenak.
Pertempuran pecah kembali. Arvand menerjang seperti harimau lapar, menebas setiap musuh yang berani mendekat. Aruna menggunakan kayu apinya untuk menghalau siapa pun yang mencoba mendekati Arel.
Kaelan, yang biasanya bertarung dengan elegan, kini terlihat lebih brutal. Ia menggunakan belati-belati kecilnya untuk mengincar titik-titik saraf para penyerang. Namun, jumlah musuh terlalu banyak, dan kondisi fisik mereka semua sudah mencapai batas.
Di tengah kekacauan, Selina mengeluarkan sebuah busur kecil dari balik jubahnya. Ia membidik tepat ke arah jantung Aruna saat Aruna sedang sibuk menghalau seorang musuh.
"Mati kau, jalang!"
Anak panah melesat. Aruna tidak sempat menghindar. Tapi kali ini, ia tidak merasakan sakit.
Bruk!
Seorang pelayan tua, Master Daryan, tiba-tiba melompat di depan Aruna. Anak panah itu menembus dadanya. Aruna terbelalak. "Master!"
Master Daryan jatuh berlutut, darah merembes dari mulutnya. "Lari... Madam... cari... rahasia... di kotak perak..." bisiknya sebelum akhirnya ambruk.
Melihat Master Daryan tewas, amarah Aruna meledak. Ia merasakan energi dari Sistem Karma mengalir deras ke seluruh tubuhnya, bukan sebagai penyembuh, tapi sebagai bahan bakar emosi.
"Selina!" Aruna berlari menerobos kobaran api. Ia tidak peduli jika gaunnya mulai terbakar. Ia melompat ke arah Selina, menjatuhkan wanita itu ke tanah.
Mereka berguling di atas tanah yang panas. Aruna mencengkeram leher Selina, sementara Selina mencoba mencakar wajah Aruna.
"Kau pikir kau bisa menang?" desis Selina sambil mencekik Aruna kembali. "Barka sudah menuju ke perbatasan untuk membawa pasukan pemberontak! Kau dan suamimu akan hancur!"
Aruna menatap mata Selina yang penuh kebencian. "Mungkin. Tapi kau tidak akan hidup untuk melihatnya."
Aruna mengambil batu tajam di dekatnya dan menghantamkannya ke arah pelipis Selina. Selina mengerang kesakitan dan pegangannya mengendur. Sebelum Aruna bisa melakukan serangan final, sebuah ledakan kedua terjadi di bagian bawah kuil. Ruang rahasia yang berisi bubuk mesiu tambahan.
Guncangan itu melempar mereka berdua ke arah yang berlawanan. Aruna terjatuh ke arah jurang kecil di belakang kuil, sementara Selina tertimbun reruntuhan tembok.
"Ibu!" teriak Arel.
Aruna tergantung di pinggiran jurang, tangannya hanya memegang akar pohon yang rapuh. Di bawahnya adalah sungai berbatu yang sangat deras.
Arvand berlari menuju pinggiran jurang, tangannya terulur. "Ratri! Pegang tanganku!"
Aruna mencoba meraih tangan Arvand, tapi tiba-tiba ia melihat sesuatu di balik pepohonan di seberang jurang. Sosok pria bertopeng yang tadi memicu ledakan sedang membidikkan busurnya lagi. Kali ini, sasarannya bukan Aruna, bukan Arel, tapi tali pengikat jembatan kayu yang menjadi satu-satunya jalan keluar bagi pasukan Arvand.
"Arvand, biarkan aku! Jembatannya! Mereka akan memutus jalan kalian!" teriak Aruna.
"Aku tidak peduli pada jembatan itu! Berikan tanganmu!" Arvand berteriak frustrasi, air mata kemarahan mengalir di wajahnya yang penuh abu.
Aruna melihat ke arah Arel yang menangis di pelukan Kaelan, lalu ke arah Arvand yang terlihat sangat putus asa. Ia tahu, jika Arvand tetap di sini menyelamatkannya, pemanah itu akan menghancurkan jembatan dan mereka semua akan terjebak di hutan ini untuk dibantai oleh pasukan bantuan musuh yang mulai terlihat di kejauhan.
"Jaga Arel untukku," bisik Aruna.
Aruna melepaskan pegangannya pada akar pohon.
"TIDAAAAKKK!" Raungan Arvand membelah langit malam saat tubuh Aruna jatuh bebas ke arah kegelapan sungai di bawah sana.
Tepat saat tubuh Aruna menghantam air yang dingin, sistem di depan matanya memberikan pesan terakhir sebelum semuanya menjadi gelap total.
Misi Pengorbanan Besar Selesai.
Hadiah: Membuka babak "Identitas yang Hilang."
Status: Kematian Tubuh 95%... Mencari Inang Baru atau Pemulihan Darurat?
Apakah Aruna benar-benar tewas dalam arus sungai yang deras? Ataukah jatuh ke jurang adalah bagian dari rencana sistem untuk mengungkap rahasia yang lebih besar tentang siapa Lady Ratri sebenarnya? Dan apa yang akan dilakukan Jenderal Arvand setelah kehilangan istrinya di depan matanya sendiri?
tp kalo ak sih kurang sama cerita yg dr awal sampe akhir intens kaya gini. bukannya seru dan penasaran, malah kesel dr awal sampe akhir. maaf ya author kesabaranku setipis tissu bagi 4. semangat terus 👍🏻
Mohon bantuannya, supaya Novel ini lolos bab terbaik.
Terima kasih.