Di balik kemewahan dunia gelap, sebuah pelelangan rahasia mempertemukan para elit dengan satu “barang” paling berharga—seorang gadis tak bersalah yang menjadi pusat perhatian.
Semua menginginkannya, namun hanya satu nama yang mampu menghentikan segalanya dalam sekejap.
Rayga Alessandro Virelli, mafia bengis yang dikenal tanpa hati, membelinya tanpa ragu. Baginya, itu hanyalah transaksi biasa—hingga kehadiran gadis yang bernama Aurellia Valensi mulai mengusik sesuatu dalam dirinya yang telah lama mati.
Di dunia Rayga, kelemahan adalah kehancuran.
Namun saat perasaan mulai tumbuh, ia harus memilih—tetap menjadi monster yang ditakuti semua orang, atau mempertaruhkan segalanya demi satu orang yang seharusnya tak berarti apa-apa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhamad Julianto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bersiap Nikah
Dua jam telah berlalu.
Xander menuju rumah Rayga bersama seorang penghulu dan beberapa anggota klan Rayga yang menjadi saksi akan menikahkan Aurellia dan Rayga.
Sedangkan Rayga begitu santai senderan di kamarnya, sementara itu Aurellia berada di kamar berbeda, dia termenung dengan segala beban pikiran yang begitu berat untuk dipikulnya.
"Non ...," panggil pelayan dari balik pintu kamar bersamaan dengan suara ketukan pintu.
"Masuk," jawab Aurellia menoleh ke arah sumber suara.
Hanya hitungan detik dari balik pintu muncul seorang pelayan berumur kisaran 50 tahun.
"Non Aurellia dipanggil sama Tuan Rayga," ujar pelayan itu menyampaikan perintah majikannya.
"Di mana dia, Bi?" tanya Aurellia menegakkan badannya yang semula membungkuk memeluk kedua lututnya.
"Tuan ada di kamarnya, Non. Tadi Tuan berpesan agar Non Aurellia menemui Tuan di sana," jawab wanita paruh baya itu.
Aurellia diam sejenak, menatap pelayan di depannya dengan sorot mata berkabut lara.
Kedua sudut bibirnya membentuk garis lengkung senyum yang dipaksakan.
"Boleh Aurel memeluk Bibi?" tanya Aurellia penuh harap.
Pelayan yang mendapat pertanyaan tak disangka, tentu dia terkejut mendengarnya.
Apalagi yang meminta dipeluk adalah calon istri majikannya, itu artinya sebentar lagi Aurellia akan menjadi nyonya di rumah ini.
Mana mungkin dia seberani itu untuk melakukan hal yang tak mungkin rasanya dilakukan seorang pelayan pada calon nyonya di tempat dia bekerja.
"Kalau Bibi keberatan, tidak apa-apa, kok, Aurellia hanya ingin merasakan gimana hangatnya pelukan orang tua sebelum Aurellia melepas masa lajang," ujar Aurellia dengan suara serak menahan tangis.
Mata Aurellia memerah, embun bening memenuhi pelupuk matanya.
Melihat itu, pelayan yang bernama Nery merasa tidak tega, kalo boleh jujur Bi Nery mirip sekali dengan pelayan bernama Mina yang memiliki sifat keibuan yang tinggi sehingga ia bisa merasa seperti melihat ibunya sendiri, walaupun pelayan yang bernama Mina itu hanya akan membantu di mansion Xander.
Apalagi ketika mendengar kalimat yang keluar dari mulut Aurellia, kalimat itu mampu mengusik hatinya.
Kalimat singkat, tapi maknanya sungguh dalam mencolek hati kecil
Bi Nery.
"Maaf, Non." Bi Nery merentangkan tangannya dan Aurellia langsung menghambur memeluk wanita yang berstatus pelayan di rumah Rayga.
Bi Nery merasakan tubuh Aurellia bergetar dengan isak tangis yang tersedu.
Bi Nery memeluk erat tubuh yang rapuh itu sambil menepuk dan mengusap pelan punggungnya.
"Bibi tidak tahu masalah apa yang tengah kamu hadapi, Non. Bibi juga tidak bisa membayangkan seberat apa cobaan yang sedang kamu lalui. Bibi hanya bisa berdoa, semoga urusanmu dipermudah dan segala masalahmu cepat selesai."
"Terima kasih, Bi," jawab Aurellia dengan suara serak dan berat bersama isakan tangisnya.
Aurellia mengurai pelukan nya dari Bi Nery. "Terima kasih telabh mau memberikan pelukan hangatnya pengganti pelukan orang tuaku, Bi."
Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Aurellia, tak terasa bulir bening ikut jatuh dari sudut mata Bi Nery.
Entah kenapa, hatinya begitu terenyuh mendengar kalimat itu.
"Cucilah mukanya dulu, Non. Jangan sampai Tuan Rayga marah karena lama menunggumu," ujar Bi Nery teringat apa tujuannya masuk ke dalam kamar yang di tempati Aurellia.
Aurellia mengangguk, menghapus sisa air mata di pipi dengan jemarinya.
"Baik, Bi. Aku akan segera menemuinya." Bi Nery keluar dari kamar Aurellia dengan perasaan campur aduk.
Walaupun Aurellia tidak bercerita tentang masalah yang dihadapinya dan alasan kenapa wanita itu berada di rumah Rayga, tetapi lewat tangisannya Bi Nery seolah sudah paham bagaimana suasana hati Aurellia saat ini.
Apalagi Bi Nery yang sudah lama bekerja di rumah itu, bahkan sejak orang tua Rayga masih hidup dan sampai saat ini, tentu dia sangat paham bagaimana sifat Rayga yang sebenarnya.
Rayga sangat arogan.
Tidak bisa menghargai orang lain, suka berbicara kasar dan meremeh kan orang lain.
Seperti yang disarankan oleh Bi Nery padanya, Aurellia mencuci mukanya terlebih dahulu.
Setelah selesai mencuci muka, dia gegas menemui Rayga di kamar pria itu.
"Permisi, Tuan." Aurellia mengetuk pintu kamar Rayga beberapa kali.
"Masuk!" sahut Rayga dari dalam sana.
Aurellia memutar handle pintu dengan ragu, berjalan masuk mendekati Rayga yang berada di tempat tidurnya.
"Saya disuruh Bibi ke sini, apa benar Tuan memanggil saya?" tanya Aurellia saat telah berdiri di dekat Rayga.
Rayga menoleh pada Aurellia, menatap dengan sorot mata tajam dan membuat suasana di dalam kamar itu terasa mencekam.
"Sebentar lagi asisten saya sampai di sini bersama dengan penghulu dan berbagai saksi dari anak buahku,Saya tekankan padamu, jangan pernah berpikir setelah pernikahan itu terjadi kamu akan benar-benar menjadi seorang istri! Seorang pe*la'cuur tetaplah pela"churr selamanya, jangan berharap lebih. Di sini kamu hanya akan menjadi tempat singgah untuk calon anakku. Ingat itu ...!"
Aurellia menunduk dalam.
Ucapan Rayga begitu dahsyat menghantam jiwanya.
Sangat tajam memporak-porandakan yang di dalam sana.
"Paham, Tuan," jawab Aurellia terpaksa agar Rayga tidak marah padanya.
Rayga kembali bersandar di tempat tidur dan memainkan ponselnya, sedangkan Aurellia masih berdiri di tempat sampai merasakan kakinya kesemutan karena pegal.
Dia berdiri di sana sudah 15 menit lamanya.
"Maaf, Tuan. Apa saya sudah boleh keluar?" Aurellia memberanikan diri angkat bicarakan, karena memang sudah tidak tahan untuk lanjut berdiri mematung seperti itu.
Rayga mendengar pertanyaan Aurellia dengan jelas, tetapi tidak ada niatnya untuk menoleh pada perempuan itu.
Dia juga tidak bersuara untuk menjawabnya, melainkan hanya mengibaskan tangan seolah mengusir Aurellia dari dalamn kamarnya.
"Terima kasih, Tuan," ucap Aurellia, setelah itu berlalu pergi meninggalkan Rayga yang tidak peduli padanya.
Aurellia Kembali menuju kamar yang dia tempati semalam.
Baru saja dia hendak memutar handle pintu, terdengar suara Xander memanggil Rayga sembari mengetuk pintu kamar pria itu.
Sepintas Aurellia menoleh ke arah sumber suara, setelah itu kembali mendorong daun pintu dan masuk ke dalam kamar.
"Penghulu sudah datang." Baru saja Aurellia hendak duduk, dia telah dibuat kaget oleh kehadiran Aurellia membuka pintu kamar dan mengabari kalau Penghulu yang akan menikahkan mereka telah sampai begitu pun dengan saksi yang menempati altar di ruangan yang sudah di rencanakan Xander.
"Jadi .. ini beneran saya menikah hanya memakai dress ini saja?" gumam Aurellia dalam hati, tangannya meremas segenggam ujung dress.
"Ayo, turun!" Suara berat Rayga memecah lamunan Aurellia yang berpikir keras apa ini nyata atau hanya ilusi.
Aurellia melangkah lesu mendekati Rayga, masih mencoba meyakinkan dirinya kalau Rayga memang segila itu.
Di hari pernikahan mereka, Aurellia dibiarkan hanya memakai dress dan juga tanpa riasan make up sedikit pun.
Mereka berdua berjalan menuju ruang tamu, di mana Penghulu dan beberapa orang anak buah Rayga yang akan dijadikan saksi sudah menunggu di sana.
"Ayo dimulai," ujar Rayga saat baru saja dia duduk di hadapan Penghulu, bahkan duduknya saja belum pas.
Penghulu tercengang melihat penampilan Aurellia dan Rayga yang begitu santai.
Bahkan tidak terlihat ciri-ciri mereka hendak menikah seperti pengantin pada umumnya.
"Maaf, sebelumnya. Ini beneran mau dilakukan pernikahan?" tanya Penghulu meyakinkan, dia menatap Rayga dan Aurellia secara bergantian.
"Jika tidak akan ada pernikahan, buat apa Anda saya undang ke sini?" tanya Rayga dengan nada tak bersahabat.