yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 6. Kepergian Baba
Seperti biasa, setelah sholat shubuh berjamaah dimasjid, Abang tidak langsung pulang karena setelah masuk sekolah, baba meminta Abang untuk tidak lagi berjualan kunafa, tapi digantikan dengan ikut mengaji seperti Yaseer.
Ummi dan Haniya pun mulai menyiapkan sarapan untuk pagi mereka. Walau dengan rasa gelisah, ummi tetap berusaha tenang agar anak-anak tidak merasa terganggu akan kegelisahannya.
Prang.....
"Astaghfirullah... Ummi... Ummi kenapa?". tanya Haniya panik melihat ummi mematung setelah sebuah gelas terjatuh ke lantai.
" Ahh.... Tidak Haniya.. Astaghfirullah... Hati-hati. Ummi bereskan ini dulu.." ucap ummi sedikit gugup.
' Ya Allah.. Firasat apa ini. Semoga suami ku baik-baik saja'. Batin ummi semakin gelisah.
****
Keadaan yang sangat mencekam dan penuh keributan. Suara di dalam masjid gegap gempita penuh teriakan dan takbir. Di sudut masjid para jemaah berusaha melindungi diri mereka. Mereka saling berdesakan, hingga terjatuh dan terinjak oleh jemaah lainnya.
Para wanita, anak-anak, pemuda dan orangtua yang terbiasa sholat berjamaah, kini dalam ancaman keselamatan.
" Allahu Akbar...!!! Allahu Akbar...!!! Hasbunallah... !!Aaa.....!!".
Berbagai teriakan berseru di dalam masjid bersaut-sautan. Mereka tidak bisa keluar dari masjid. Karena pintu dan jendela yang ditutup paksa oleh para militer zionis.
Sedang para militer zionis dari luar masjid, terus melempari bom-bom kecil dan tembakan-tembakan yang membabi buta. Menyasar secara random kemanapun peluru dan bom itu mendarat.
"Aaakhh.... Allahu Akbar....!!" suara Ali setengah menahan jerit.
"Ali....!!! Allahu Akbar...!!" teriak rekan Ali panik melihat Ali yang terkapar dengan luka tembak di dada nya.
Darah mengucur menembus lapisan pakaian sholat Ali, dan merembes hingga ke telapak tangan Ali yang menahan luka nya. Mata Ali mulai terpejam, nafas tersengal dan tubuh nya pun semakin lemah.
" innalillah.. Ali bertahanlah.. Kita akan keluar dari sini dan mengobati lukamu...!!" pinta rekan Ali sambil menangis. Tak disangka Ali ikut terkena sasaran peluru.
Suasana cheos hingga 1 jam berlangsung. Ketika suara peluru berhenti, mereka berusaha mendobrak pintu masjid untuk bisa keluar dari suasana dan udara yang menyesakkan seolah meledakkan paru-paru mereka.
" Panggil ambulan... !!! Banyak korban di sini..!!" teriak salah satu jama'ah yang berlari keluar mencari bantuan.
para jemaah yang sudah segar, dan para warga sekitar mulai mengeluarkan para korban yang sekiranya masih bernafas sambil menunggu ambulan tiba.
Ali masih tergolek lemas di sudut masjid dekat mimbar. Dan rekannya yang sibuk mencari bantuan untuk membawa tubuh Ali keluar dari masjid dan membawanya ke rumah sakit terdekat.
***
" Astaghfirullah ummi... Ummi baik-baik aja kan? Ummi tadi kenapa?" tanya Haniya lembut sambil mengelus lengan umminya yang duduk di meja makan setelah membersihkan gelas yang pecah berserakan.
"ummi.... Ummi.... Ya Allah... astaghfirullah...." ummi terbata sampai menangis menjawab pertanyaan Haniya.
Ntah firasat apa yang menelusup di hati Laila. Tangannya tiba-tiba tanpa sengaja menyenggol gelas yang jelas berada di titik aman untuk jatuh. Tapi secepat kilat seperti ada yang menggerakkan nya. Fikiran Laila langsung tertuju pada suaminya.
' ya Allah.. Lindungi suami hamba..' lirih batinnya terguncang.
"Assalamualaikum.. " suara Abang dan Yaseer yang pulang dari masjid.
" Haniya ummi kenapa? kok nangis?". Tanya Abang heran sekaligus panik.
" nggak tau bang, tadi ummi ga sengaja jatuhin gelas dan pecah. Aku juga tadi nanya tapi ummi tiba-tiba jadi menangis" jelas Haniya bingung sambil terus memeluk punggung umminya yang sedang tergugu di meja makan.
"Abang tolong coba hubungi baba...!". Pinta ummi lirih.
Abang bergegas mengambil ponsel ummi yang tergeletak di atas meja bufet dekat pintu kamar ummi dan mulai menekan no baba.
Nada suara sambungan telp masih terus terdengar. Sekali dua kali bahkan sampe 5kali Abang mencoba menelpon babanya tapi tidak juga tersambung. Semua semakin panik dan gelisah.
Abia yang tadinya berdiam di kamar pun langsung terbangun keluar mendengar keributan di ruang makan. Ia melihat ummi nya yang bersandar lemas di kursi meja makan. Akaknya yang mulai menangis dalam diam, kakak Yaseer dan abangnya yang terus bergantian memegang ponsel umminya dengan wajah ketakutan.
Abia makin dibuat bingung dan akhirnya ikut menangis menghampiri ummi nya.
" Ummi kenapa nangis,... Hiks.. Hiks ." tanya Abia pelan memeluk umminya.
Ummi hanya melihat Abia dan mengelus kepalanya sambil menggelengkan kepalanya.
" Ummi ada pesan masuk dari teman baba...!!! Kata Abang sambil berlari ke umminya.
Umminya pun membuka pesan tersebut dan semakin menangis lah ummi. Setelah membaca pesan singkat itu. Ponsel di letakkan di meja makan, tak sanggup berkata-kata ummi hanya menutup wajahnya dengan tangan nya sambil tergugu.
Abang yang melihat itu langsung membaca pesan singkat itu.
" innalilahi... Baba... Ya Allah selamatkan baba kami..." seru Abang sambil meneteskan air mata.
Yaseer, Haniya dan Abia ikut menangis walau belum tau apa yang sebenarnya terjadi dengan babanya.
" Ada.. Kerusuhan....di masjid al- Aqsho. Ba..baba..tertembak di bagian dada...". Jelas Abang lirih dengan terbata-bata menahan Isak tangis.
" innalillah... Baba... ". Racau Haniya terduduk lemas di samping kursi umminya. Makin terisak.
Suasana pagi itu penuh airmata dan ketakutan mendalam. Baba yang kemarin berpamitan berencana pergi sebentar, dan ternyata sampai pagi ini belum pulang. Dengan beberapa kali berkabar singkat saja. Pagi ini serasa dunia menghempaskan harapan baba untuk kembali pulang dengan selamat.
Tembakan di dada.. Besar kemungkinan sangat parah pikir Abbas.
" Kita hanya bisa pasrah pada Allah atas ketentuan-Nya. Kita berharap Allah masih memberikan rezeki agar kita masih bisa bertemu baba kembali..". Kata ummi menenangkan setelah bisa menguasai dirinya.
*****
Sementara di rumah sakit...
" Bagaimana dok, apa teman saya bisa selamat?". Desak Yusran, rekan Ali.
"Tenang lah. peluru sudah di keluarkan. Kita tunggu perkembangan berikutnya. berdoalah pada Allah..." kata dokter menenangkan.
" Ya Allah apa yang harus ku katakan pada keluarga nya. Selamatkan Ali ya Allah... Ku mohon..." pintanya lirih di depan pintu ruang operasi Ali.
****
Waktu berjalan lambat seolah ikut merasakan kesedihan yang di alami keluarga korban kerusuhan tadi shubuh di masjid. Suara tangisan, teriakan, desakan permintaan dari keluarga korban bersahut-sahutan di sepanjang lorong rumah sakit.
Banyak korban jiwa dan luka-luka parah. Kejadian ini seolah di sengaja oleh militer zionis untuk menghabisi warga sipil. Dengan mereka menahan di area masjid. Dan mengunci pintu keluar saat kejadian. Itu sudah jadi bukti bahwa mereka memang sengaja melakukannya.
Sungguh para militer zionis itu ada saja ide untuk menghabisi warga sipil. Terbuat dari apa hati dan otak mereka. Dengan santai dan mudahnya mereka berbuat kedzoliman hingga berjatuhan korban nyawa yang tak bersalah.
Kini waktu sudah melewati waktu dhuhur. Belum ada perkembangan apapun dari Ali.
bruk....bruk..
"Menepi.. Darurat..!!!" teriak dokter dan perawat yang berlarian ke arah pintu ruang operasi.
Yusran yang baru kembali dari mencari makan terkejut seketika melihat keributan itu. Ia pun berlari menghampiri dokter itu. Namun mereka terlalu cepat hingga Yusran tak dapat mencegah meraka masuk guna meminta penjelasan. Ia pun hanya bisa menunggu dengan shobar di luar ruang operasi.
" Keluarga pasien tuan Ali...?". Tanya dokter saat keluar dari ruang operasi.
" Saya dok... Saya rekan kerjanya yang membawanya ke sini". Jawab cepat Yusran.
" Bershobar lah.... mohon keikhlasan bagi pasien. Tuan Ali telah berpulang kembali pada Allah... " kata dokter tegas menenangkan.
Yusran berdiri terpaku. Terkejut dan linglung.. "Ya Allah inikah bentuk kasih sayangMu. Engkau mengambilnya dengan cepat." lirihnya terisak
" Baik dok.. Saya akan hubungi keluarganya. Terimakasih banyak atas bantuannya...." jawab Yusran pelan menganggukkan kepalanya.
Dokter hanya mengangguk dan tersenyum sendu.
" Kami akan usahakan ambulans untuk mengantar jenazah ke rumah duka. Bersiaplah.. perawat kami akan menginfokan kembali". jelas dokter.
" Terimakasih dokter. Semoga Allah selalu melindungi kalian dari bahaya dan selalu di berikan kesehatan." doa Yusran tulus.
Dokter berpamitan dengan menepuk bahu Yusran seolah memberi kekuatan.
Sore hari ambulans sudah siap dan mereka bergegas mengantar jenazah ke Nablus. Walau perjalanan yang sedikit merepotkan karena banyaknya post-post pemerikasaan. Tapi dengan izin Allah mereka sampai dalam 3 jam saja.
Ambulans disambut isakan dan tangisan dari keluarga Ali dan tetangga sekitar rumah Ali.
"Baba......!!" teriak Abia, Haniya dan Yaseer ketika jenazah diturunkan dari mobil ambulans.
Ummi sesenggukan dan bruukkk.... ia pingsan.
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.