"Aku ingin mengakhiri semua nya"
Kalimat itulah yang selalu menempel dalam fikiran Anindita. Sampai saat ini ia belum mengetahui alasan kandas nya hubungan nya dengan Vano.
Hingga disuatu tempat, ia bertemu dengan pengusaha muda tampan bernama Fernan Wiratama,tak lain adalah Kakak dari Vano Wiratama. Dan takdir berkata lain Anindita harus selalu bersama Tuan Muda Fernan. Karena apa? Penasaran? Ikuti kisah nya.
Akankah Anindita bisa melupakan sang mantan kekasih? atau malah terjerat cinta dengan tuan muda tampan?
Up : setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss Rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makanan Terlezat
Anindita melangkahkan kaki nya ke dalam Kitchen room dengan sangat terpaksa. Ia memasak sambil menggerutu kesal. Mengapa harus dia yang memasak? Dia bukan chef nya, bukan juga istri nya dia hanya lah seorang Manger dan tugas nya bukan di bagian masak? Tp kenapa harus memasak? Memikirkan nya saja membuat Anindita pusing 10 keliling. Tidak membutuhkan waktu yang lama hanya membutuhkan waktu 20 menit untuk menyelesaikan masakan nya.
"Lelah sekali." Anindita mengelap keringat yang menempel di pelipis wajah nya.
" Semoga Tuan Muda yang super Aneh dan menyebalkan itu suka dengan masakan ku"
Ia berjalan menuju Ruang VVIP dengan sangat hati-hati. Membawa makanan dengan kedua tangan nya.
" Silahkan Tuan Muda" layak nya seorang pelayan terhadap Custamer nya.
Fernan hanya terdiam dengan wajah datar nya.
Ia melirik sekertaris Gin, mengartikan bahwa ada sebuah perintah disana, untuk memastikan apakah makanan ini aman dan tidak beracun. Pikir Fernan.
Sekertaris Gin yang memang mengerti itu, ia dengan cepat mengambil sendok yang terletak di meja lalu menyendok kan makanan yang ada di depan Tuan muda nya. Dengan sangat pelan ia mencoba memakan nya satu sendok.mengunyah nya dengan sangat elegan, ia melirik Tuan Muda menganggukan kepala nya. Tanda ini makanan aman tidak ada racun di dalam nya.
" Sendok! " melirik Anindita yang hanya berdiri di depan nya.
Eh.Apa-apaan ini? Maksud nya dia menyuruhku mengambil sendok? Itu kan sendok di depan matanya. Tanya Anindita dalam hati
" Sendok! " titah nya mengulangi perintah dengan tegas.
Anindita terperanjat kaget ia membungkukan tubuh nya di depan meja Fernan. Lalu mengambilkan sendok menyerahkan kepada Tuan Muda.
Diambil nya sendok dari tangan Anindita Fernan mulai memakan nya mengunyah dengan sangat rapih dan elegan. Makanan Terlezat. Pikir Fernan.
" Duduk! " melirik Anindita.
" Baik." Anindita duduk di depan Fernan
" Bagaimana masakan saya Tuan? Apakah Enak? "
" Hemm."
" Apakah Tuan suka dengan Resep masakan yang saya berikan untuk Restaurant ini? "
" Hemm."
Ga ada jawaban lain apa selain hemm?? Menyebalkan sekali.
" Apakah saya boleh keluar sekarang? "
Fernan berhenti mengunyah menatap Anindita dengan sorotan tajam.
" Ahh Tuan saya hanya bercanda " ucap Anindita tersenyum paksa.
Lihat itu dengan mata melotot saja wajah nya masih saja tampan. Eh apaan sih aku ini. Lebih tampan Vano kemana-kemana. Ahh Vano aku merindukan mu.
Fernan menghabiskan makanan nya dengan bersih tak tersisa sedikitpun. Karna ini Makanan Terlezat yang pernah ia makan selama ini. Hanya dengan campuran Tumis Toge ia sangat menikmati nya. Ia mengelap bibirnya dengan tisu.
" Minum! " Melirik Anindita
Tadi sendok sekarang minuman? Apa-apaan sih dia.. Hey tuan muda itu minuman ada di depan mata anda. Apakah kau rabun? Ya ya ya dia adalah Raja disini.
Anindita mengambil Milk Tea diserahkannya kehadapanTuan Muda. Fernan mengambil minuman tersebut, meminum nya. dirasa cukup diserahkan nya kembali ke tangan Anindita.
" Sudah berapa lama kau bekerja di sini? "
" Hampir dua tahun Tuan Muda. "
" Jawab dengan Benar! " Ucap nya tegas.
" Eh " terperanjat kaget" sudah 1 tahun 11 bulan 10 hari Tuan."
Ini hampir dua tahun kan namanya? Sama saja kan? Kesal Anindita terhadap pemilik Restaurant ini.
" Sudah berapa lama kau menjadi Manager disini? "
" 11 bulan 29 hari Tuan"
Fernan hanya mengangguk-anggukan kepala nya.
" Silahkan keluar! "
" Baik. " Anindita menarik nafas dalam Akhirnya bisa bernafas dengan bebas setelah Berada di kandang Macan.Pikir nya.
" Gin "
" Ya Tuan "
" Selidiki latar belakang nya "
" Baik Tuan Muda "
__***__
Ponsel Anindita berdering
Ia pun tersenyum satelah melihat nama kontak di ponsel nya
Sweet Heart ❤️
" Ya Hallo."
" Lagi apa sayang? " suara lembut disebrang sana.
Anindita mengubah ke panggilan Video.
Disana terlihat wajah cantik putih mulus milik gadis nya. Terlihat sedikit dua bukit gunung milik gadisnya. Karna Anindita hanya memakai tengtop.Vano yang sejak tadi melihat nya menelan saliva nya tanpa berkedip. Anindita yang menyadari itu seketika berteriak.
" Aaaaaargh.. Kau melihat nya? " tanya nya dengan tubuh yang di tutupi bantal.
" Melihat Apa? " pura-pura tidak tahu.
" Melihat itu. "
" Melihat apa sayang? "
" Ah lupakan! "
Vano terkekeh melihat wajah kekasih nya yang merah padam.
" Aku baru saja membuat laporan operasional kegiatan untuk di kirim ke atasan ku." Ucap Anindita mengalihkan.
" Kau pasti lelah sayang. Aku sudah bilang berhenti bekerja. Aku yang akan menanggung semuanya. Termasuk membayar sewaan Apartment mu. "
" Sayang aku ingin hidup mandiri. Aku tidak mau bergantung terhadap siapapun termasuk padamu Vano. Aku baik-baik saja. "
Vano menghela nafas pelan, dia tahu sifat Anindita yang keras kepala. Vano tersenyum bahagia mempunyai kekasih yang mandiri, tidak mau merepotkan siapapun termasuk dirinya sendiri orang yang sudah mencintai nya, orang yang sudah menyimpan memory indah selama hampir satu tahun ini."
" Baiklah, jaga kesehatan mu kau jangan terlalu lelah."
" Siaaaap" Ucap nya tersenyum riang. Anindita memandang lekat wajah Vano yang tampan, Seketika Senyum nya memudar ketika menyadari wajah kekasih nya yang pucat.
" Apakah kau sakit sayang? " Tanya nya khawatir.
" Ti_tidak!" Jawab nya gugup " Aku hanya kelelahan sayang."
" Kau yang bilang padaku jangan terlalu lelah, tapi kau sendiri yang kelelahan. Kau juga harus memperhatikan kesehatan mu Vano. Jangan terlalu banyak bekerja. Ketika ada panggilan untuk mendesain Rumah Hunian jangan terlalu memaksa kondisi mu jika kau sedang lelah. " Ucap Anindita kesal secara beruntun tanpa jeda.
Vano tersenyum mendengarkan omelan kekasihnya.
" Hey tenanglah. Sejak kapan kau secerewet ini hemm? "
"Aku tidak tahu " menjawab dengan cemberut memalingkan wajah nya.
" Hey jelek aku tidak apa-apa" tersenyum meledek " Kau tahu, menjadi Arsitektur adalah mimpi aku sejak kecil, dan sekarang meskipun aku baru mau lulus kuliah, banyak yang memanggilku untuk mendesain apartment mereka, dan aku tidak akan melewatkan kesempatan ini. Ini adalah peluang untuk mengembangkan karir ku sayang."
" Ya ya ya baiklah Tuan Arsitektur. Aku akan selalu mendukungmu jika itu baik untuk mu."
" Itu lebih baik" Jawab nya santai "Aku tunggu besok malam pukul 07. 00. Beristirahatlah!" klik! Telepon tertutup.
" Vano" panggil sang mama membuka pintu kamar Vano.
Vano menoleh.
" Ya ma ada apa? "
Mama menghampiri Vano yang sedang duduk bersandar di ujung kasur nya. Ia duduk disamping Vano.
" Kau habis menelpon seseorang? "
" Ya, dia kekasih ku" Ucap nya dengan senyum bahagia.
Mama yang melihat senyum bahagia Vano ikut tersenyum
" Kau mencintai nya? "
" Sangat mencintai nya. "
" Kapan kau akan mengenalkan nya dengan mama?"
Deg!
Vano terdiam. Pertanyaan mama yang sulit ia jawab. Karna dia belum berani membawa gadis nya untuk menemui orang tua nya. Karna prinsip yang dipegang kuarga nya, ketika anak dari keluarga Wiratama sudah membawa wanita kerumah nya itu Artinya ia akan serius terhadap wanita nya, serius untuk menikahi nya. Tapi saat ini Vano bimbang, ia belum siap untuk membawa gadis nya, bukan berarti ia tidak mencintai Anindita. Tapi ia takut dan khawatir ketika hubungan nya dengan Anindita semakin dalam. Ia semakin takut dengan kondisi penyakit nya yang tak kunjung sembuh, ia tidak ingin Anindita mempunyai seorang suami yang lemah seperti nya. Ia ingin selalu menjaga keselamatan gadis nya. Tapi apa daya.Vano hanya seorang lelaki yang lemah yang mempunyai penyakit serius. Kemungkinan untuk harapan hidup nya sangat kecil.
Setiap Hari ia selalu memikirkan akan hubungan nya dengan Anindita untuk kedepan nya akan seperti apa. Akan kah dia mempertahankan hubungan nya dengan Anindita dan membiarkan Anindita mempunyai suami lemah seperti nya? Atau ia malah akan melepaskan gadis nya?. Sampai saat ini dua pertanyaan yang selalu muncul di kepala nya belum bisa ia jawab.
" Aku tidak tahu mah. "
" Tidak tahu? Mengapa? "
" Ak_aku ragu mah. Aku takut. " Vano menjawab dengan tatapan sedih.
Mamah menggenggam punggung tangan Vano. Ia menatap ke dalam mata Vano untuk mencari suatu alasan.
" Apa kau takut karna penyakit mu nak? " Mamah bertanya dengan tatapan sendu. Memikirkan kondisi anak nya yang mempunyai penyakit yang membahayakan. Ia tak mau kehilangan anak nya. Ia sangat menyayangi Vano. Sejak kecil Vano tidak pernah sakit, fisik nya yang terlalu kuat. Tapi tidak untuk dua tahun ini semua berbanding terbalik. Vano bisa bertahan hidup hanya karna dengan obat-obatan dan kemoterapi.
Vano hanya menjawab dengan mengangguk samar. Seketika Air mata nya menetes. Mama yang pertama kali nya melihat Vano menangis. Ia pun memeluk Vano erat, tangis mamah pecah tak bisa di tahan. Vano membalas pelukan mama dengan erat.
" Kau harus bertahan nak, kau kau harus sembuh. Kau harus rutin mengikuti kemoterapi, itu jalan satu-satu nya agar kau sembuh nak. "
Vano menggeleng-gelengkan kepala.
" Tidak mah! " melepas pelukan mama" sudah satu tahun lebih aku mengikuti Kemoterapi secara rutin, tapi hasil nya tidak ada perubahan. Aku lelah mah aku cape. Aku hanya bisa menunggu ke ajaiban untuk kesembuhanku. Mungkin takdir baik enggan berpihak kepadaku." Ucap nya Vano tatapan nya kosong. Ia menyerah dengan hidup nya.
" Tidak nak jangan bicara seperti itu " Ucap mama serak, dada nya semakin sesak, ia tidak mau ditinggalkan oleh Vano " Kau harus percaya dengan takdir Tuhan. Kau pasti akan sembuh nak. Berjuanglah! "
" Vano ingin beristirat mah." Ucap nya mengalihkan.
Mama yang mengerti sifat Vano yang keras kepala tidak bisa berbuat apa-apa.
" Baik. Tidurlah." mengusap lembut kepala Vano.
*anin berkali berbohong tapi tidak disalahkan
*fernan berbohong langsung disalahkan dan tidak mudah dimaafkan fernan hadir mengemis dulu baru dimaafkan
*anjn tinggal dengan lelaki lain tidak disalahkan
*fernan bawah karina tinggal dirumahnya, (anin juga ada disitu) dianggap kesalahan besar tidak mudah dimaafkan dan harus mengemis maaf dulu
*anin salah paham lihat fernan pelukan dengan karina kesalahan fernan dan harus mengemis maaf dulu baru dimaafkan
*fernan lihat anin pelukan dengan devan bukan kesalahan
kesalahan anin dan fernan banyak yang sama tapi karena pemikiran yang egois dan munafik oleh authornya jadi semua yang dilakukan fernan kesalahan fatal tapi semua yang dilakukan anin bukan kesalahan dan dibenarkan
kalian bangga buat novel yang kelihatan sekali kemunafikannya kayak gini, ini sama saja kalian bangga memamerkan pola pikir dan imajinasi kemunafikan kalian sendiri
* pelakor kalian laknat tapi pebinor kalian puja2 bahkan kalian spesial kan bisa berkali kontak fisik dengan istri orang (munafik)
* karina diajak fernan tinggal dirumah kalian laknat tapi anin kabur dari rumah dan tinggal dirumah lelaki lain bahkan anak panggil anin mama mereka tingg kayak sebuah keluarga kalian benarkan (munafik)
* fernan tidak tegas pada karina kalian laknat tapi anin tidak tegas pada devan dan vano kalian benarkan (munafik dan murahan)
* intraksi fernan dengan wanita lain kalian bela tapi intraksi anin dengan pria lain kalian benarkan bahkan pelukan kalian benarkan (munafik)
*anin salah paham fernan pelukan dengan karina kalian buat anin tegas pergi dan fernan harus mengejar dan mengemis maaf tapi saat fernan melihat anin pelukan pada devan kalian buat fernan kayak orang bodoh Terima begitu saja (munafik)
*saat anin tidak percaya fernan, maka fernan salah karena tidak bisa menjaga kepercayaan tapi saat devan tidak percaya anin tetap devan salah karena harus saling percaya (munafik)
*fernan membohongi anin adalah kesalahan fatal, fernan dihukum, dan harus mengemis maaf pada anin tapi anin membohongi fernan dibenarkan
* dan masih banyak lagi kemunafikan dalam novel ini yang dibela oleh author
Thor jadi novelis wanita jangan egois benar semua kesalahan anin dibela dan dibenarkan semuanya, tapi giliran fernan buat salah, dilaknat habis2an, jadi wanita dewasa sedikit jadi bisa buat novel adil