Hidup mewah tidak menjanjikan seseorang akan bahagia, sama seperti yang di alami Ardin. Anak tunggal dari keluarga kaya, namun kurang mendapatkan kasih sayang.
Ketika ulang tahunya yang ke 23 tahun, orang tuanya malah mengatakan bahwa mereka sudah bercerai.
Setelah 6 bulan perceraian Papanya menikah lagi, sedangkan sang Mama tidak tahu di mana keberadaannya sekarang.
Banyak kejutan yang terjadi di kehidupan Ardin, hingga hari di mana dirinya dilamar oleh sahabatnya sendiri, rasa haru serta keterkejutan bercampur kala itu, moment yang sunggu tidak bisa di lupakan selama hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Harmilmil, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
"Kak, kapan nih, mau kenalin calon menantu ke kita" Mama lagi lagi menggodanya.
"Iya nih, anak Papa udah jadi bujang lapuk" Papa ikut menggodanya.
"Mana ada bujang lapuk, umur aja belum terlalu tua, belum juga kepala tiga Ma, Pa" jawab Ardan malas. Selalu saja menanyakan soal calon menantu.
"Papa dan Mama kaya gak tau aja, jangankan calon istri, pacar aja Kakak gak punya" Kevin ikut menimpali ucapan Mama dan Papanya dengan senyum ngejek.
"Alah, lo aja juga gak punya pacar, so soan ngata ngatain" Ardan semakin kesal. Selalu saja Kevin membuat suasana semakin keruh.
"Sebentar lagi gue tunjukin ke lo tunggu aja, dasar bujang lapuk" Kevin berucap sambil berdiri dari duduknya.
"Mau kemana siang siang Vin" tanya Papa. Tumben sekali Papa menanyakan biasanya hanya memberi izin tanpa menanya.
"Kerumah Ardin Pa, kemarin Raina cerita Ardin lagi terpuruk" jelasnya kepada sang Papa.
"Ada masalah apa lagi? " tanya Mama bingung.
" Sebenarnya gak masalah berat kok Ma, cuman lagi terpuruk mengingat mendiang Kak Huana dulu" ucapnya sambil mencuim punggung tangan kedua orang tuanya dan tak lupa Ardan juga.
"Gue ikut" ucapnya setelah menerima ciuman di punggung tangannya.
"Kalau lo mau ikut, ngapain nerima punggung tangan lo gue cuim" jelas saja Kevin kesal. Membuang buang waktu saja.
Tanpa basa basi Ardan bangkit dari duduknya dan menyalami kedua orang tuanya berpamitan pergi.
Kini Kaka Adik itu sudah di dalam mobil, namun mobil belum bergerak sedikit pun.
"Buru pergi, ngapain masih diem ni mobil" Kevin semakin kesal dengan tingkah laku Ardan Kakaknya.
"Lo aja deh yang nyetir males gue"
"Terus, maksud lo duduk di kursi kemudi buat apa? Pindah lo"
Dengan segera Ardan bergeser untuk pindah. Barulah mobil berjalan meninggalkan perkarangan rumah.
Beruntung hari ini minggu. Pekerjaan kantor tidak menumpuk sudah lama juga Kakak Adik itu tidak keluar bareng. Tak lupa Kevin mampir membeli makanan manis dan bakso favorit Ardin. Setelah itu mobil kembali melaju menuju apartemen Ardin.
Tok
Tok
Tok
Cklek
Pintu apartemen terbuka namun yang muncul bukan Ardin melainkan Raina.
"Lah, udah di sini aja lo" ucap Kevin yang sedikit terkejut dengan Raina.
"Gue udah 2 hari di sini, buruan masuk ngapain lo di depan pintu, mau jadi satpam? "
Mereka masuk ke apartemen yang berukuran luas itu, tampak rapi, maklum penghuni nya wanita, coba kalau pria wahh jadi gudang. Kevin celingak celinguk mencari keberadaan Ardin.
" Duduk dulu, Kak Vin, gue panggil Ardin" Raina beranjak dari tempat semula, berjalan menuju kamar.
"Di depan ada Kak Ardan sama Kevin tuh"
"Ngapain mereka kesini? " Ardin menautkan kedua abisnya bingung.
"Udah temuin aja gih"
Dengan malas Ardin keluar dari kamar menuju ruang tengah, benar saja dua laki laki itu tangah duduk membelakangi arah kamar.
"Ngapain di sini" tanpa basa basi Ardin duduk di sebelah Kevin di susul Raina yang berada di depannya.
"Astaga, lo muncul tiba tiba buat jantung gue hampir lepas dari kerangkanya" ucap Kevin sedikit memasang wajah tegang.
"Ngapain di sini" bahkan Ardin masih mempertanyakan pertanyaan yang tadi. Dia tidak memperdulikan Kevin yang masih seperti terkejut.
Dengan seksama kedua Kakak Adik itu memandang Ardin dari atas sampai bawah. Melihat penampilan Ardin yang tidak ada bagus bagusnya, hanya menggunakan celana trening dan kaos oversize rambut masih di gulung menggunakan handuk. Bahkan baju oversize itu semakin membuat tubuh Ardin tidak terlihat.
"Katanya lo lagi terpuruk Ar, nih gue liat seger seger aja muka lo" cibir Kevin.
"Lo telat, kan gue ngasih taunya semalam, malah sekarang baru dateng" Malah Raina yang menjawab, sedangkan Ardin tampak acuh.
"Terus Kak Andra ngapain? " tanya Ardin mengabaikan Kevin.
"Aku sih ngikut aja sama Kevin, udah lama juga gak keluar rumah" Andra beralasan.
"Alah, alasan lo gak logis banget, setiap hari lo keluar" Ucap Kevin tidak terima.
"Gue keluar rumah kalau mau pergi kantor doang Vin, selebihnya gue di rumah. Gak kaya lo, keluruyan mulu" Ardan ikut ngegas.
Akhirnya apartemen Ardin tidak sepi lagi berkat kedatangan dua tamu tidak di undang itu. Suasana berubah ramai ketika ketiga manusia mulai merecoki hal yang tidak terlalu penting. Siapa lagi kalau bukan Kevin, Ardan, Raina, sedangkan Ardin hanya mampu menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka. Dirinya enggan untuk berkomentar nikmat saja suasana yang riuh ini.
_
_
_
_
Hey hey readers semangat terus bacanya, jangan lupa kasi dukungan ke Authornya🤗😉
🙏🙏
Saling dukung yuk
Mampir yuk ke novel ku
"TROUBLE QUEEN"
Dia bukan mafia, bukan juga pembunuh berdarah dingin. Namun membunuh adalah hal yang selalu ia lakukan pada orang-orang yang menurutnya pantas.
Dia bukan mafia yang memiliki kekuasaan di dunia bawah. Tapi dia memiliki kekuasaan atas dunia ini. Hanya saja ia tidak tahu takdirnya.
Banyak misteri dan teka-teki yang entah kapan akan terungkap. Dia adalah sebuah misteri. Hidupnya adalah teka-teki. Jalan pikirannya tidak bisa ditebak.
Penasaran?
Cus baca☺
ditunggu feedbacknya di karyaku "emak, aku pengen kawin". terimakasih