Di kantor, Arkananta Dewangga adalah CEO dingin yang bicara seformal mungkin. Namun saat malam tiba, ia adalah "Nightshade", penulis novel dewasa populer dengan imajinasi paling liar.
Rahasia besar itu runtuh saat sekretarisnya, Saffiya "Sia" Adhisti, menemukan draf novelnya dan memberi kritik pedas: "Adegan ini kaku banget, Pak. Kurang rasa!"
Terpojok karena writer's block, Arkan memaksa Sia menjadi "Konsultan Riset". Sia harus membantu Arkan memahami sensasi nyata demi kelanjutan bab novelnya. Dari diskusi di ruang rapat hingga eksperimen rasa di apartemen pribadi, batasan profesional mulai kabur.
Di hadapan publik, Arkan tetaplah CEO yang tak tersentuh. Namun di balik pintu tertutup, Sia menyadari bahwa bosnya jauh lebih panas dari semua karakter yang pernah ia tulis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wie Arpie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Baru di Atas Dek Kayu
Siang itu, cahaya matahari menembus jendela besar butik pengantin yang terletak di salah satu sudut premium Jakarta Selatan. Sinarnya menciptakan pantulan berkilau pada deretan gaun yang tergantung rapi di sepanjang dinding bernuansa pastel. Keheningan butik yang tenang berpadu apik dengan denting musik klasik ber-volume rendah, menciptakan atmosfer yang sangat privat dan intim.
Sia berdiri di depan cermin besar setinggi langit-langit, mematung menatap bayangannya sendiri. Ia mengenakan gaun putih dengan potongan A-line yang sangat minimalis namun terlihat mewah karena kualitas bahannya. Sutra satin premium yang membungkus tubuhnya jatuh dengan begitu anggun, mengikuti lekuk tubuhnya tanpa terkesan berlebihan. Tidak ada payet yang berlebihan atau batuan kristal yang mencolok. Hanya detail renda rajutan tangan halus di bagian bahu hingga garis leher yang memberikan kesan klasik, anggun, sekaligus abadi. Sia menyentuh kain gaun itu dengan ujung jarinya, masih merasa sedikit tidak percaya bahwa kain inilah yang akan ia kenakan untuk berjalan menuju fase baru hidupnya.
"Sempurna," bisik Ratna yang duduk di sofa beludru di belakangnya. Wanita paruh baya itu meletakkan cangkir teh hangatnya, matanya berbinar menatap calon menantunya. "Gaun ini seperti memang diciptakan khusus untukmu, Sia. Begitu pas, semua orang yang melihat pasti tahu kalau ini gaun yang istimewa."
Sia berbalik perlahan, memegangi pinggiran kainnya yang menjuntai lembut di lantai kayu butik. Ada gurat keraguan yang mendadak melintas di wajahnya. "Apa tidak terlalu sederhana, Ma? Sia takut nanti tidak terlihat menonjol seperti pengantin pada umumnya. Maksud Sia, ini pernikahan sekali seumur hidup."
Ratna bangkit dari sofa, langkahnya anggun saat menghampiri calon menantunya itu. Dengan penuh kasih sayang, ia merapikan sedikit bagian pinggang gaun tersebut agar jatuh lebih sempurna.
"Kesederhanaan itu yang buat kamu cantik, sayang. Kamu tidak butuh ribuan payet untuk berkilau," kata Ratna, menatap mata Sia lewat pantulan cermin dengan senyum keibuan yang menenangkan. "Arkan itu orangnya tidak suka sesuatu yang berisik atau terlalu dipamerkan. Dia akan sangat suka melihatmu seperti ini. Bersih, anggun, dan apa adanya. Percayalah pada pilihanmu."
Ratna kemudian menepuk pelan bahu Sia, mengalihkan pembicaraan ke agenda berikutnya. "Oh ya, soal resepsi kedua di hotel nanti, kamu sudah bicara lagi dengan Arkan? Dia sempat bilang ke Mama kalau dia ingin tema yang jauh lebih formal untuk menyambut kolega bisnis dan jajaran direksi dari Dewangga Group."
Sia mengangguk kecil, senyumnya kembali terkembang mengingat bagaimana Arkan membahas hal itu dengan wajah seriusnya yang khas. "Sudah, Ma. Arkan bilang resepsi kedua itu murni untuk relasi kantor, jadi dia serahkan semua konsep dan detail teknisnya ke vendor saja. Dia enggak mau ambil pusing soal dekorasi atau susunan acara di sana. Tapi, untuk acara intimate kita yang di akhir pekan ini, dia bersikeras ingin tetap sesuai rencana awal. Benar-benar hanya keluarga inti dan tidak ada media. Arkan ingin suasana di mana dia bisa melepas jas formalnya dan menjadi dirinya sendiri."
"Baguslah kalau begitu," sahut Ratna lega, napasnya berembus pelan penuh kesyukuran. "Mama sempat khawatir dia akan membawa atmosfer rapat kerja ke dalam pernikahan kalian. Lalu, bagaimana dengan rencana bulan madu? Arkan masih tutup mulut saat Mama tanya kemarin malam di rumah utama. Dia cuma melirik Mama, lalu bilang kalau itu kejutan yang tidak boleh diketahui oleh siapa pun."
Sia terkekeh pelan, kepalanya menggeleng mengingat kelakuan calon suaminya yang kadang sok misterius itu. "Dia memang begitu, Ma. Misterius sekali. Dia cuma meminta Sia menyiapkan paspor yang masih aktif dan beberapa potong baju hangat yang tebal. Katanya, kita akan pergi ke tempat yang udaranya bisa membuat kita malas bangun pagi."
Ratna ikut tertawa, sebuah tawa yang penuh dengan rasa lega karena tahu putranya kini berada di tangan wanita yang tepat. Wanita yang bisa menertawakan kekakuan Arkan alih-alih merasa terintimidasi olehnya.
Hari yang ditunggu pun tiba.
Suasana di area perbukitan terbuka itu terasa sangat tenang, jauh dari kebisingan kota yang biasa mengepung mereka setiap hari kerja. Harum aroma tanah basah dan pucuk-pucuk pohon pinus menyeruak kuat, sisa hujan deras semalam yang untungnya kini telah reda, meninggalkan kesan segar dan udara yang begitu bersih. Kabut tipis sisa semalam bahkan masih menggantung rendah di kejauhan, menambah kesan magis pada tempat itu.
Sebuah dek kayu luas yang menjorok ke arah lembah hijau telah disulap menjadi area utama acara. Sesuai permintaan mereka, tidak ada panggung tinggi atau dekorasi mewah yang masif. Hanya ada hamparan bunga-bunga putih segar—mawar, lili, dan beberapa bunga liar kecil—yang ditata sedemikian rupa mengelilingi kursi-kursi kayu yang disediakan untuk para tamu. Semuanya tampak menyatu dengan alam sekitarnya, seolah-olah pernikahan ini adalah bagian dari hutan pinus itu sendiri.
Arkan berdiri di ujung dek kayu, tepat di depan meja akad yang sederhana. Pria itu tampak sangat tampan dan gagah dengan setelan jas putih tulang yang pas di tubuh tegapnya. Potongan jas itu modern namun tetap santun. Tangannya terus bergerak membenahi letak kancing lengan kemejanya, lalu merapikan ujung jasnya, sebuah gestur kecil yang terus ia ulangi selama lima menit terakhir. Bagi orang awam, Arkan tampak sangat tenang, namun bagi orang-orang terdekatnya, itu adalah tanda jelas bahwa pria setenang dan sedingin dia pun bisa merasa gugup luar biasa menghadapi detik-detik ini. Sesekali matanya melirik tajam ke arah pintu masuk, menunggu dengan debaran yang belum pernah ia rasakan sepanjang hidupnya.
Saat musik petikan harpa dan biola yang lembut mulai mengalun, memecah kesunyian hutan pinus, perhatian semua orang langsung tersedot ke satu titik. Sia muncul dari balik tirai kelambu putih. Ia berjalan pelan, tanpa didampingi siapapun di sisinya. Itu adalah permintaan khusus Sia sebelum acara dimulai—ia ingin melangkah menuju Arkan dengan kakinya sendiri, di atas kekuatannya sendiri, sebagai simbol kemandirian dan kesiapan penuh yang ia bawa ke dalam mahligai pernikahan ini. Gaun putih A-line yang tempo hari ia coba kini melekat sempurna di tubuhnya, bergerak indah melambai seiring langkah kakinya yang mantap meski di dalam dada, jantungnya berdegup kencang seperti genderang perang.
Arkan seketika mematung di tempatnya berdiri. Tangannya yang tadinya sibuk merapikan kancing kini tergantung kaku di sisi tubuhnya. Matanya melebar, terkunci sepenuhnya pada sosok Sia yang sedang berjalan ke arahnya. Detik itu, dunia di sekitar Arkan seolah melambat. Baginya, wanita yang sedang tersenyum manis di bawah sinar matahari pagi itu bukan lagi sekretaris yang selalu menyiapkan kopinya dengan suhu presisi, bukan lagi wanita yang sering mengkritik draf novelnya dengan pedas. Sia adalah dunianya yang baru. Satu-satunya manusia yang berhasil meruntuhkan dinding es dan menemukan hati yang selama ini ia kunci rapat di balik setelan jas mahalnya.
Langkah Sia akhirnya berhenti tepat di hadapan Arkan. Mereka saling bertatapan selama beberapa detik dalam keheningan yang magis, bertukar senyum kecil yang hanya dipahami oleh mereka berdua sebelum akhirnya duduk berhadapan.
Prosesi janji suci berlangsung dengan sangat khidmat di bawah langit yang kini bersih dari awan hitam. Suara Arkan saat mengucapkan kalimat kabul terdengar berat, dalam, namun penuh dengan keyakinan yang mutlak. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam nadanya. Ia mengucapkan janji untuk menjaga, melindungi, dan menghargai Sia seumur hidupnya dengan satu tarikan napas yang mantap.
Saat kata "Sah" menggema dari mulut para saksi, sebuah helaan napas lega yang sangat panjang berembus dari paru-paru Arkan. Bahunya yang tegang perlahan rileks, dan seulas senyum tipis—namun sangat tulus—akhirnya terbit di wajah tegasnya.
Sia merasakan jemari Arkan yang hangat dan sedikit lembab karena gugup langsung menggenggam erat tangannya saat mereka beralih ke sesi bertukar cincin. Ketika logam mulia itu meluncur di jari manis masing-masing, ikatan mereka bukan lagi sekadar kontrak kerja. Mereka kini satu.
Tidak ada keriuhan tepuk tangan yang berlebihan, hanya suara tepuk tangan pelan penuh haru dari keluarga inti yang hadir di sana. Gunawan, yang duduk di barisan paling depan di samping istrinya, tampak sibuk menyeka sudut matanya yang basah menggunakan sapu tangan katunnya. Pria paruh baya itu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya melihat Sia mendapatkan kebahagiaan yang layak. Di sisi lain, Ratna dan Hardi tersenyum sangat lebar, saling menggenggam tangan menyaksikan putra sulung mereka akhirnya bertransformasi menjadi seorang pria yang utuh dengan cinta di hatinya.
Setelah seluruh rangkaian acara inti selesai, tidak ada pesta berdiri yang melelahkan. Mereka semua langsung diarahkan menuju meja kayu panjang yang telah disiapkan di bawah kanopi daun pinus untuk makan siang bersama. Makanan yang disajikan hangat, percakapan mengalir santai tanpa ada sekat formalitas, membuat suasana sore itu menjadi begitu hangat dan akrab. Ini adalah jenis pernikahan yang tidak akan pernah ditemukan dalam majalah bisnis, namun menjadi akhir bab yang paling sempurna untuk mereka berdua.
"Jadi," Arkan berbisik sangat pelan di samping telinga Sia, memanfaatkan momen ketika Gunawan dan Hardi sedang asyik tertawa membahas masa lalu mereka di ujung meja. Aroma sandalwood dari tubuh Arkan menguar lembut, kini terasa menenangkan bagi Sia. "Siap untuk pergi ke tempat yang udaranya dingin itu?"
Sia menoleh, menatap wajah suaminya dari jarak dekat. Ia menaikkan satu alisnya, memberikan senyuman nakal yang biasa ia tunjukkan saat mereka sedang berdebat di apartemen. "Tergantung, Pak Arkananta. Apa di sana ada akses internet yang kencang? Aku enggak mau ya, saat kita sudah sampai di sana, kamu diam-diam malah membuka email dan mengerjakan laporan keuangan kantor saat aku ingin jalan-jalan menikmati pemandangan."
Arkan tertawa kecil—sebuah tawa lepas, renyah, dan tanpa beban yang sangat jarang ia perlihatkan pada dunia luar. Tawa yang hanya disimpan khusus untuk Sia. Ia mengulurkan tangannya, merangkul bahu Sia dengan lembut namun posesif, menarik tubuh wanita itu agar duduk lebih dekat dengannya.
"Tidak ada laporan, tidak ada laptop, Saffiya. Semuanya sudah saya delegasikan ke Gibran untuk dua minggu ke depan," kata Arkan dengan nada suara yang melembut, menatap mata Sia dengan binar yang begitu hangat. "Hanya ada aku dan kamu."
Sia tersenyum mendengarnya. Ia menyandarkan kepalanya dengan nyaman di bahu kokoh Arkan, menikmati kehangatan tubuh pria itu di tengah embusan angin perbukitan yang mulai mendingin. Matanya menatap hamparan pohon pinus di depan mereka yang bergoyang pelan ditiup angin. Perjalanan panjang dan melelahkan dari lantai gedung Dewangga Group, dari kopi bersuhu 85 derajat Celsius yang kaku, hingga ke atas dek kayu hari ini terasa sangat layak untuk diperjuangkan. Hari ini, mereka telah meninggalkan status atasan dan bawahan. Mereka kini adalah dua manusia biasa yang saling mencintai, siap melangkah bersama untuk menulis bab-bab baru dalam hidup mereka yang jauh lebih hidup, bermakna, dan berwarna.