No plagiat 🚫
" Di bawah naungan gerbang kuno Lembah Sunyi, He Xueyi berdiri tegak. Jemarinya yang dingin mencengkeram gagang lentera emas yang berpijar redup.
Angin malam menerpa jubah merahnya, namun ia tak bergeming. Baginya, raungan arwah penuh dendam di depannya hanyalah musik pengantar tidur.
Dengan tatapan setajam sembilu, ia bergumam pelan, 'Dendammu adalah bebanku. Masuklah ke dalam lentera, atau hancur menjadi debu tanpa jejak.'"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Benang Merah yang Terputus
Udara di depan Paviliun Nyawa terasa membeku, bukan karena salju, melainkan karena aura kebencian yang memancar dari ribuan kelopak bunga persik yang melayang di udara. Di tengah pusaran itu, seorang wanita berdiri dengan anggun, mengenakan gaun sutra merah yang terlalu mencolok untuk suasana malam.
"Mei Lin," suara Bian Zhi terdengar seperti gesekan es, dingin dan tanpa ampun.
Wanita itu tersenyum, senyuman yang dulu pernah membuat Bian Zhi luluh, namun kini hanya terlihat seperti racun yang dipoles gula. "Zhi, kau terlihat jauh lebih tampan daripada terakhir kali Lu Feng menusukmu. Apakah hidup sebagai mayat peliharaan terasa begitu menyenangkan?"
He Xueyi turun dari keretanya, langkahnya begitu ringan hingga tidak meninggalkan jejak di atas salju. Ia mengibaskan kipas hitamnya, menatap Mei Lin dengan tatapan yang biasa ia gunakan untuk melihat tumpukan sampah.
"Secara logika," He Xueyi memulai, suaranya sangat tenang namun merayap seperti bisa ular, "seorang wanita yang meninggalkan tunangannya demi posisi di istana seharusnya memiliki selera yang lebih baik. Tapi melihatmu berdiri di sini, membawa aroma persik busuk yang sama dengan Lu Feng... ah, kalian benar-benar pasangan yang serasi dalam hal mempermalukan estetika Chang'an."
"Tutup mulutmu, Mayat Tua!" Mei Lin berteriak, wajah cantiknya mendadak berubah mengerikan saat energi hitam terpancar dari telapak tangannya.
"Bian Zhi," He Xueyi melirik asistennya lewat sudut mata. "Secara logika, aku sudah membayar cukup banyak untuk memperbaiki jantungmu yang hancur sepuluh tahun lalu. Hari ini, aku ingin melihat bunga-bunga ini layu selamanya. Habisin."
Tanpa satu patah kata pun, Bian Zhi melesat.
Kali ini, gerakannya tidak memiliki ragu. Pedang barunya yang berwarna perak gelap membelah udara, menciptakan garis hitam yang langsung memutus aliran energi Mei Lin.
"Kau berani menyerangku, Zhi?!" Mei Lin terkejut, ia mencoba menghilang ke dalam kabut persik, namun Bian Zhi jauh lebih cepat.
SLASH!
Bukan dada yang ditebas, melainkan ikatan jubah sutra Mei Lin, membuatnya terjerembap ke atas salju dalam posisi yang sangat tidak terhormat.
"Secara logika, Mei Lin," Bian Zhi berdiri di atasnya, ujung pedangnya menekan leher wanita itu hingga mengeluarkan setitik darah, "orang yang kau khianati sepuluh tahun lalu sudah mati. Yang berdiri di depanmu sekarang hanyalah bayangan yang bertugas membersihkan kotoran di depan Paviliun Tuanku."
Tiba-tiba, sebuah serangan mendadak datang dari arah samping. Lu Feng muncul dengan pedang kembarnya, mencoba menebas kepala Bian Zhi. Namun, He Xueyi lebih dulu mengangkat Lenteranya.
"Logika Penjaga: Dinding Tanpa Cermin!"
Sebuah perisai transparan ungu menahan serangan Lu Feng dengan mudah. He Xueyi berjalan mendekat, menatap Lu Feng dan Mei Lin yang kini terpojok.
"Kalian berdua benar-benar merusak suasana malamku," desis He Xueyi. "Bian Zhi, ikat mereka dengan benang pengikat jiwa. Kita tidak akan membunuh mereka di sini. Secara logika, mereka akan jauh lebih berguna jika kita jadikan 'pajangan' hidup di ruang bawah tanah paviliun sampai Pangeran Li Wei datang memohon-mohon."
Lu Feng mencoba berontak, namun benang perak Bian Zhi sudah melilit nadinya, mengunci aliran energinya sepenuhnya. Mei Lin hanya bisa menangis sesenggukan, namun air matanya tidak lagi mempan bagi Bian Zhi.
"Tuan," ucap Bian Zhi sambil menarik rantai energi yang mengikat kedua pengkhianat itu. "Area sudah bersih secara logistik."
He Xueyi merapikan rambutnya, lalu menoleh ke arah Paviliun yang pintunya terbuka lebar secara otomatis. "Bagus. Masukkan mereka ke dalam sel paling lembap. Dan Bian Zhi... secara logika, kau berhak mendapatkan bebek panggang porsi ganda malam ini."
Bian Zhi membungkuk dalam. "Terima kasih, Tuan."
Saat mereka masuk ke dalam Paviliun, He Xueyi sempat melirik ke arah langit Chang'an yang mulai memerah. "Pertunjukan yang sesungguhnya baru saja dimulai, Bian Zhi. Dan secara logika, aku tidak akan membiarkan siapa pun merusak akhir cerita yang sudah kususun dengan begitu mahal ini."