NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:12.9k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Pembantaian Dewa Sejati dan Kapal Perak Berdarah

Angin beku di atas Lautan Gletser Utara seolah berhenti berhembus, ditekan oleh aura mengerikan dari delapan ahli Dewa Sejati (True God) yang meledak secara bersamaan.

Di Alam Dewa Kuno, seorang Dewa Sejati telah memahami setidaknya satu untai Hukum Alam (Law). Saat delapan ahli tingkat ini melepaskan tekanan mereka, geladak kapal perang perak yang terbuat dari baja ilahi itu mulai mengerang dan melengkung ke dalam.

"Bentuk formasi! Jangan meremehkannya!" raung Tetua Xing Kuang, urat-urat di lehernya menonjol saat ia mengangkat tongkat besinya tinggi-tinggi.

Tujuh tetua lainnya melompat ke posisi yang telah ditentukan, mengelilingi Ye Chen dalam pola oktagon.

Teknik Gabungan Sekte: Formasi Bintang Sembilan Penghancur Jiwa!

Meskipun satu anggota mereka telah menjadi patung es dan hancur, delapan tetua yang tersisa memaksakan pembentukan formasi ini dengan membakar esensi darah mereka. Langit yang gelap tertutup badai salju tiba-tiba tertembus oleh delapan pilar cahaya bintang yang turun langsung menyelimuti tubuh para tetua tersebut.

Di dalam formasi itu, hukum gravitasi, ruang, dan elemen es dikunci mati. Udara menjadi seberat cairan timah, mencoba meremukkan Ye Chen dari segala arah.

"Mati kau, Asura!"

Kedelapan tetua itu menyodorkan senjata mereka ke depan. Cahaya bintang memadat membentuk ribuan pedang cahaya raksasa yang meluncur seperti hujan meteor langsung ke titik pusat di mana Ye Chen berdiri.

Serangan ini cukup untuk menenggelamkan sebuah pulau ke dasar laut!

Namun, di pusat badai energi penghancur itu, Ye Chen hanya berdiri diam. Dia menyandarkan Pedang Naga Langit di bahunya, matanya yang memancarkan kilau perak dan emas menatap formasi itu dengan tatapan bosan.

"Formasi Sembilan Bintang yang dijalankan oleh delapan orang?" Ye Chen mendengus meremehkan. "Cacat."

Saat hujan pedang bintang itu berjarak kurang dari satu meter dari kepalanya, Ye Chen menghentakkan kaki kanannya.

Tubuh Guntur Asura: Medan Penolakan Mutlak!

BOOOOOOM!

Bukan Qi yang meledak, melainkan gelombang kejut murni dari kontraksi otot dan Tulang Emas Gelap yang diperkuat oleh Jantung Gravitasi. Kekuatan fisik murni itu merobek hukum alam yang membelenggu ruang.

Pedang-pedang cahaya bintang itu menabrak gelombang kejut fisik Ye Chen dan hancur berkeping-keping menjadi serpihan cahaya, tidak mampu bahkan menyentuh ujung jubah hitamnya.

"A-Apa?!" Mata Xing Kuang hampir melompat dari rongganya. "Serangan gabungan delapan Dewa Sejati... ditahan dengan tubuh fisik?!"

"Sekarang giliranku mengajari kalian matematika," kata Ye Chen dingin.

Ye Chen menghilang. Bukan terbang, melainkan ledakan kecepatan dari pijakan yang menghancurkan geladak kapal.

Langkah Naga Awan: Kecepatan Cahaya.

Dia muncul tepat di depan dua tetua di sisi kiri formasi, di titik di mana tetua kesembilan seharusnya berada. Itulah celah formasinya.

"Satu... Dua."

Ye Chen mengayunkan Pedang Naga Langit secara horizontal. Bilah pedang abu-abu metalik itu tidak menyala dengan api ungu, melainkan memancarkan hawa Es Absolut yang dia serap dari dasar Palung Es Biru.

Teknik Pedang Asura: Tebasan Bulan Beku!

SHIIING!

Dua tetua itu mencoba mengangkat pedang mereka untuk menangkis, tapi kecepatan Ye Chen melampaui nalar mereka.

Pedang Naga Langit memotong senjata mereka, menembus zirah dada mereka, dan membelah tubuh mereka berdua dalam satu tarikan napas. Darah yang menyembur langsung membeku di udara, jatuh sebagai kristal-kristal es merah ke geladak kapal.

Dua Dewa Sejati tewas dalam satu detik.

Formasi Bintang Sembilan hancur total akibat backlash (serangan balik). Enam tetua yang tersisa memuntahkan darah, terhuyung mundur dengan meridian yang terluka parah.

"I-Iblis... Dia bukan manusia!" salah satu tetua berteriak histeris, kehilangan seluruh moral bertarungnya. Dia berbalik dan mencoba terbang melarikan diri dari kapal.

"Kau mau ke mana?"

Ye Chen melepaskan tangan kirinya dari gagang pedang. Dia mengarahkan telapak tangannya ke tetua yang sedang mencoba terbang.

"Mutiara Penelan Surga: Tarikan Lubang Hitam!"

Pusaran hitam meledak dari telapak tangan Ye Chen. Gaya hisap kosmik yang mengerikan menarik tetua yang sedang melayang di udara itu kembali ke kapal dengan kecepatan gila.

"TIDAK! LEPASKAN A—"

JLEB!

Ye Chen menyambut tubuh tetua yang tertarik mundur itu dengan ujung pedangnya. Pedang itu menembus punggungnya dan keluar dari dadanya, menghancurkan Inti Dewa-nya seketika.

Tiga mati. Sisa lima.

Ye Chen mencabut pedangnya, membiarkan mayat ketiga jatuh berdebum. Dia memutar lehernya perlahan, menatap sisa lima tetua yang kini berkumpul di dekat haluan kapal, gemetar hebat.

"Dewa Sejati?" Ye Chen terkekeh sinis. "Di dunia bawah, kalian mungkin disembah sebagai dewa. Tapi di mataku, kalian hanyalah babi yang digiring ke rumah jagal."

"YE CHEN!" raung Xing Kuang, matanya merah karena keputusasaan dan kemarahan. Dia tahu dia tidak bisa lari. Kapal ini berada di tengah lautan gletser; tanpa kapal, mereka akan membeku.

Xing Kuang menggigit ujung lidahnya dan menyemburkan esensi darahnya ke sebuah jimat emas di tangannya.

"Jika aku harus mati, aku akan menyeretmu ke neraka bersamaku! Pemanggilan Jiwa Bintang: Penghancuran Bersama!"

Jimat emas itu meledak, menciptakan pusaran energi bintang yang sangat tidak stabil. Keempat tetua di sekelilingnya menjerit saat Xing Kuang secara paksa menyedot sisa Qi Dewa dan jiwa mereka untuk memberi makan teknik terlarang itu.

"Xing Kuang! Kau gila! Lepaskan kami!" jerit para tetua yang dikhianati rekan mereka sendiri.

Dalam hitungan detik, empat tetua itu mengering menjadi mumi, mati di tangan kapten mereka sendiri.

Tubuh Xing Kuang membengkak, memancarkan cahaya yang menyilaukan. Dia telah menyerap kekuatan empat Dewa Sejati, mendorong sisa kekuatannya mendekati ranah Raja Dewa (God King) setengah langkah secara paksa.

"MATILAH BERSAMAKU, ASURA!"

Xing Kuang menerjang seperti meteor yang terbakar, berniat meledakkan dirinya tepat di depan Ye Chen untuk menghancurkan kapal dan menenggelamkan mereka ke Palung Es Biru.

Melihat ledakan bunuh diri yang datang, mata Ye Chen tidak menunjukkan kepanikan sedikit pun.

"Kau mengorbankan bawahanmu untuk kekuatan palsu?" Ye Chen menyarungkan Pedang Naga Langit kembali ke sarung putih di pinggangnya.

Tangan kanannya tetap menggenggam gagang pedang di dalam sarungnya. Energi Asura, Petir, Api Ungu, dan Es Absolut dipadatkan secara ekstrem di dalam Sarung Penahan Jiwa.

Ye Chen membungkuk sedikit, mengambil kuda-kuda Iaido (Cabut Pedang).

"Sayang sekali. Kau bahkan tidak layak mati bersama pedangku."

Saat Xing Kuang yang bersinar terang berjarak kurang dari dua meter, berniat meledak...

Ye Chen mendorong tsuba (pelindung tangan) pedangnya dengan ibu jari.

Klik.

"Teknik Pedang Asura: Cabut Kilat - Garis Kematian Mutlak."

SHIIIIING!

Suara itu begitu sunyi, namun memekakkan telinga.

Kilatan cahaya hitam-perak melesat horizontal. Waktu seakan berhenti.

Xing Kuang yang sedang melesat di udara tiba-tiba membeku. Cahaya bintang yang menyilaukan dari tubuhnya mendadak padam seperti lilin yang ditiup.

Ye Chen telah menyarungkan pedangnya kembali ke pinggang. Berdiri membelakangi Xing Kuang.

Hening.

Satu detik berlalu.

SRET!

Sebuah garis tipis muncul di pertengahan pinggang Xing Kuang.

Ledakan Jiwa Bintang yang telah dia kumpulkan di Dantiannya... terbelah dua. Energi yang seharusnya meledak itu dipotong di tingkat konseptual oleh Niat Pedang Kehampaan, membuatnya bocor dengan mulus ke alam bebas tanpa menimbulkan ledakan.

Tubuh bagian atas Xing Kuang tergeser dan jatuh ke geladak, terpisah dari bagian bawahnya.

Mata Xing Kuang masih terbuka, memandangi separuh tubuhnya sendiri dengan horor dan kebingungan yang absolut sebelum kesadarannya memudar selamanya.

Pertarungan selesai. Sembilan Dewa Sejati dari Sekte Bintang Jatuh tewas di atas kapal perang mereka sendiri.

Ye Chen berdiri di tengah geladak yang dipenuhi darah beku dan mayat. Dia tidak terlihat kelelahan, hanya sedikit bosan.

Dia berjalan menghampiri mayat Xing Kuang dan mengambil Cincin Penyimpanan miliknya. Dari dalam cincin itu, Ye Chen menemukan sebuah token giok biru yang bersinar terang—Kunci Kendali Kapal.

Ye Chen tersenyum tipis.

Dia meneteskan darahnya ke token itu dan menggunakan Niat Asura-nya untuk menghapus jejak jiwa Xing Kuang secara paksa.

Wuuung!

Kapal perang perak raksasa itu berdengung, mengakui Ye Chen sebagai tuan barunya.

Ye Chen berjalan menuju ruang kemudi di anjungan kapal. Dia mengaktifkan formasi energi kapal. Mesin-mesin sihir menyala dengan deru yang kuat.

"Sekte Bintang Jatuh mengirim armada untuk menguburku di laut," gumam Ye Chen, menatap ke arah selatan, ke arah daratan Benua Pinggiran.

Dia memutar kemudi kapal 180 derajat.

"Karena mereka sangat peduli padaku... sudah sepantasnya aku mengembalikan kapal ini langsung ke halaman rumah mereka."

Ye Chen mengaktifkan kecepatan maksimal. Kapal perang perak itu melesat membelah badai salju, bukan lari dari musuh, melainkan berbalik menuju markas besar Sekte Bintang Jatuh.

Di dadanya, Inti Roh Bulan beresonansi selaras dengan kultivasinya. Dengan energi ini, ditambah kapal perang ini, Ye Chen tidak akan menyusup lagi.

Dia akan menabrak gerbang depan mereka dan menghancurkan siapapun yang menghalangi jalannya menuju formasi teleportasi Domain Pusat.

Sang Asura kembali, dan kali ini, dia membawa kiamat.

(Akhir Bab 35)

1
Nanang Jamu
gas nya tambah kendor ya thorr
Nanang Jamu
wahhh kok cm 1 bab thor.. kok tambah menurun
Sutono jijien 1976 Sugeng
semoga semakin banyak membantai , tidak tunduk pada hukum dewa
Mamat Stone
/Tongue/👻/Tongue/
Mamat Stone
🤣🤣🤣
Mamat Stone
/Casual/💥
Mamat Stone
/CoolGuy/💥
Mamat Stone
😍💥🤩
Mamat Stone
🤩💥😍
Mamat Stone
😍😍
Mamat Stone
🤩🤩
Mamat Stone
/Cleaver/💥/Skull/
Mamat Stone
👊💥/Skull/
Nanang Jamu
lanjut thorrr
bantai para dewa yg munafik itu ye chen
Nanang Jamu
bukannya ini susah di bantai thor.. di jun sudah mati.. tian dao sudah mati
Mamat Stone
👻👻👻
Mamat Stone
🤣🤣🤣
Mamat Stone
buktikan merah mu jagoan Neon /Casual//Determined/💥
Mamat Stone
waktunya jagoan Neon beraksi /CoolGuy//Angry/💥
Mamat Stone
/Determined/💥💥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!