NovelToon NovelToon
The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

The Nerdy Couple [Jisung NCT X Karina Aespa]

Status: sedang berlangsung
Genre:Murid Genius / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi
Popularitas:525
Nilai: 5
Nama Author: Lallunna

Bima Arkana Adikhara Wijaya dan Senara Zafira Atmaja pertama kali saling mengenal sebagai rival. Bukan rival biasa, mereka adalah dua nama yang selalu muncul di papan peringkat olimpiade, dua siswa jenius dari sekolah berbeda yang bertemu berulang kali di medan kompetisi sejak SMP. Tidak pernah akrab. Tidak pernah ramah. Hanya tatapan dingin, strategi, dan ambisi untuk menang.

Tak ada yang menyangka, saat SMA, takdir mempertemukan mereka di sekolah yang sama.
Dari rival menjadi partner.
Dari partner menjadi pasangan.

Di mata orang lain, mereka adalah ikon sekolah, cerdas, berprestasi, populer, dengan penggemar di media sosial meski hampir tak pernah menampilkan kehidupan pribadi. Mereka dikenal sebagai pasangan sempurna, pintar, tenang, dan sulit didekati. Namun di balik citra itu, Bima dan Senara sama-sama menjalani kehidupan ganda yang tak diketahui siapa pun.



Disclaimer: Ini hanya cerita fiksi, hasil karangan dan imajinasiku sebagai penulis. Terimakasih.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lallunna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35: Perubahan Sang Pangeran Teknologi

Pagi itu, atmosfer di koridor kelas XI-A terasa berbeda. Biasanya, Bima berjalan dengan langkah angkuh, pandangan lurus ke depan, dan aura dingin yang membuat siswa lain segan untuk menyapa. Namun hari ini, Bima berdiri di dekat loker asrama putri, wilayah yang jarang ia injaki sambil memegang dua kotak susu cokelat organik dan sebuah roti gandum hangat.

Siswa-siswa yang melintas mulai melambatkan langkah, berbisik-bisik sambil menutupi mulut dengan tangan atau pura-pura sibuk dengan tablet mereka.

"Itu Bima, kan? Benar-benar Bima Wijaya?" bisik seorang siswa tingkat satu. "Sedang menunggu siapa dia? Tidak mungkin Clarissa, kan? Dia biasanya yang mendatangi Bima."

"Jebakan apa lagi ini? Apakah dia memasang sensor baru di kotak susu itu? Atau ini taktik untuk mempermalukanku di depan umum?" batin Senara penuh selidik. Ia menyesuaikan letak kacamatanya yang sedikit melorot, mencoba menutupi kilatan curiga di matanya dengan wajah bingung yang polos.

"Pagi," sapa Bima. Suaranya tidak lagi ketus atau penuh nada meremehkan. Suara itu rendah, sedikit serak, dan terdengar... sangat canggung.

Senara mengerutkan kening, menatap Bima dari bawah bingkai kacamatanya yang tebal. "Pagi, Bima. Ada perlu apa?"

Bima berdehem, lalu menyodorkan kotak susu dan roti itu ke arah Senara dengan gerakan yang agak kaku. "Tadi aku ke kantin pusat, dan aku ingat kamu tidak sempat sarapan kemarin karena insiden jus itu. Ini... hanya sisa dari pesananku. Kebetulan pelayan kantin memberikan ekstra, bukan karena aku sengaja memesan khusus untukmu."

Senara menatap benda-benda di tangan Bima. Ia tahu harga satu kotak susu organik itu setara dengan lima bungkus mi instan di warung Bang Jaka. "Ini terlihat sangat mahal, Bima. Aku tidak bisa menerimanya. Kamu tenang saja, aku sudah bawa bekal nasi goreng dari sisa makan malam tadi."

Bima menghela napas, sedikit tidak sabar tapi tetap berusaha lembut. "Ambil saja, jangan biarkan perutmu kosong saat pelajaran Sejarah nanti. Guru itu sangat membosankan, kamu butuh energi lebih agar tidak tertidur."

Senara akhirnya mengambilnya dengan ujung jari, tampak sangat berhati-hati seolah susu itu bisa meledak. "Terima kasih. Aku akan menggantinya nanti kalau aku sudah punya uang saku lebih."

"Tidak perlu," potong Bima cepat, bahkan sebelum Senara menyelesaikan kalimatnya. "Anggap saja itu bunga dari buku catatanmu yang kemarin disiram jus. Anggap kita impas."

Perubahan Bima tidak berhenti di sana. Saat pelajaran dimulai, Clarissa dan kelompoknya mencoba melakukan permainan kecil lagi. Saat Senara hendak duduk, salah satu teman Clarissa sengaja menarik kursi Senara ke belakang.

Namun, sebelum Senara terjatuh, tangan Bima yang duduk di belakangnya sudah lebih dulu menahan kursi itu dengan kakinya, lalu mendorongnya kembali ke posisi semula.

"Hati-hati, Senara. Lantai di sini licin," ujar Bima tenang, sambil menatap tajam ke arah teman Clarissa.

Gadis-gadis itu langsung membuang muka, nyali mereka menciut melihat tatapan peringatan dari Bima. Senara duduk dengan bingung, ia bisa merasakan tatapan seluruh kelas tertuju padanya. Perhatian Bima yang terang-terangan ini justru membuatnya merasa tidak nyaman karena perannya sebagai gadis yang tidak terlihat kini hancur total.

"Dia benar-benar menganggapku korban yang harus dilindungi, rasa bersalahnya jauh lebih besar dari yang kukira," batin Senara.

Puncak dari keanehan hari itu terjadi saat Dr. Aris mengumumkan proyek besar semester ini.

"Proyek ini akan menentukan empat puluh persen nilai akhir kalian. Saya tidak akan membiarkan kalian memilih teman sendiri. Saya sudah membagi kalian ke dalam pasangan berdasarkan peringkat akademik tertinggi dan terendah untuk saling melengkapi," ujar Dr. Aris tegas. "Namun, ada satu pengecualian. Untuk peringkat satu dan dua, saya akan menyatukan kalian dalam satu tim khusus untuk mengerjakan kasus tingkat lanjut. Bima dan Senara, kalian satu tim."

Satu kelas riuh. Clarissa tampak sangat merah padam karena marah, sementara Rika menyenggol bahu Senara dengan semangat.

"Kalian harus menciptakan solusi teknologi yang aplikatif untuk masalah nyata di lapangan. Silakan diskusi sekarang," tutup Dr. Aris.

Bima segera menggeser mejanya mendekati meja Senara. Ia tidak lagi memamerkan perangkat holografisnya, ia justru mengeluarkan buku catatan dan juga sebuah pulpen.

"Jadi, apa idemu?" tanya Bima tulus. "Aku tidak ingin mendominasi. Kali ini, aku ingin mendengar perspektifmu."

Senara terdiam sejenak. "Aku... aku terpikir soal orang-orang di Blok 4, Bima," ujar Senara pelan. "Masalah terbesar kami bukan soal satelit atau internet cepat. Masalah kami adalah air bersih, pompa di sana sering rusak karena listrik yang tidak stabil."

Bima mengangguk-angguk, menuliskan kata 'AIR' di kertasnya. "Kita bisa membuat filter berbasis IoT?"

"Itu terlalu mahal," bantah Senara cepat. "Masyarakat di sana tidak akan tahu cara memperbaiki sensornya jika rusak. Bagaimana kalau kita buat sistem filter gravitasi yang menggunakan tekanan air alami, tapi kita tambahkan katup otomatis sederhana yang bisa mendeteksi kekeruhan air tanpa butuh listrik besar?"

Bima menatap Senara dengan binar kagum yang tidak bisa ia sembunyikan. "Logika mekanik yang sangat murni. Kamu benar, teknologi paling canggih adalah teknologi yang bisa digunakan oleh mereka yang tidak punya apa-apa."

Bima kemudian tersenyum. Itu bukan senyum tipis yang mengejek, tapi senyum yang benar-benar ramah. "Aku suka idemu. Kita akan kerjakan ini bersama-sama di laboratorium sore ini, aku akan menjemputmu di perpustakaan."

Sore harinya, saat Senara sedang menunggu Bima di perpustakaan, ia melihat Bima sedang berbicara dengan seorang pelayan kantin di kejauhan. Bima memberikan sejumlah uang dan menunjuk ke arah Senara.

Ternyata, Bima sedang meminta pelayan itu untuk memastikan Senara selalu mendapatkan porsi makan siang yang paling segar setiap hari, tanpa Senara perlu tahu.

Senara yang melihat itu dari balik rak buku, merasakan dadanya sedikit berdenyut. Bukan karena jatuh cinta, tapi karena ia merasa terasing. Untuk pertama kalinya, ia merasa berbohong kepada seseorang yang berniat baik padanya itu terasa berat.

"Dia bukan lagi musuh yang ingin menjatuhkanku," bisik Senara pada diri sendiri. "Dia sekarang adalah pelindung yang ingin membantuku."

Senara menyadari bahwa situasi ini jauh lebih berbahaya daripada saat Bima memusuhinya. Jika Bima ramah, Senara akan sulit untuk tetap menjaga jarak. Ia takut jika ia mulai merasa nyaman, ia akan tanpa sadar bicara dalam bahasa teknis atau menunjukkan keahliannya yang sebenarnya.

"Aku harus tetap pada jalanku," tegas Senara, kembali memasang wajah polosnya saat melihat Bima berjalan mendekat ke arahnya. "Ingat ibumu, Nara. Ingat Blok 4 yang kumuh itu."

Bima sampai di depan mejanya dengan wajah ceria. "Ayo ke lab. Aku sudah memesan beberapa komponen manual yang kamu minta tadi."

Senara berdiri, mengikuti langkah Bima yang kini terasa lebih hangat. Di mata semua orang, mereka adalah pasangan jenius yang serasi. Namun di mata Senara, ini adalah babak baru dalam persembunyiannya yang paling melelahkan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!